Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Sunday, December 25, 2011

The Count of Monte Cristo - Akhirnya Selesai


Judul : The Count of Monte Cristo
Penulis : Alexandre Dumas
Edisi Wordsworth Edition Limited, 1997
(tambahan notes dan kata pengantar oleh Keith Wren 2002)
Tebal : xix + 894 halaman; 12,5 x 20 cm


Jadi, ahirnya perjuangan menaklukkan buku ini pun berakhir. Seperti pernah diceritakan di sini, buku ini menjadi tantanganku tahun 2011 ini. Syukurlah, aku berhasil menyelesaikannya, walau harus memakan waktu setahun hahahahahahaha.....

Yah, dulu sekali, waktu masih SD, aku pertama kali berkenalan dengan tokoh bangsawan Monte Cristo ini di rumah tanteku. Bukunya sih waktu itu terbitan Pustaka Jaya kalau tidak salah, yang warnanya hitam, untuk ukuranku yang waktu itu masih SD sih udah cukup tebal huahahaha. Tapi sekarang kalau kuliat sih, yah biasa aja, yang pasti ternyata buku itu yah edisi abridged, yang sudah dibuat lebih ringkas dari buku aslinya.

Belakangan juga terbit lagi, oleh Penerbit Bentang, tapi kayaknya ini juga edisi abridged ya? Gak tau sih karena gak baca hihihihi, cuma kalau melihat jumlah halamannya, sepertinya gak mungkin ini versi utuh, mengingat buku aslinya dalam bahasa Prancis pun setelah dicari-cari, sekitar 900-an halaman, gak mungkin diterjemahkan jadi 568 halaman seperti yg diterbitkan Bentang itu :D. Oh yah, waktu menulis ini juga, sempat masuk ke beberapa website, danwaktu lihat ada audio booknya, ternyata dibacakan dalam bahasa Prancis, memakan waktu 51 jam 24 menit gitu... woooow, berarti kalau diikuti non-stop, perlu dua hari lebih untuk menyelesaikan mendengarnya ya hi hi hi

Jadi.... yang aku beli sih terjemahan bahasa Inggris, keluaran Wordsworth Classics, dan ada kata pengantar dari seseorang bernama Keith Wren dari University of Kent, dan di bagian belakang buku juga ada banyaaaak sekali catatan-catatan kecil yang beberapa menjelaskan kesalahan penerjemahan. Yah edisi ini memang menggunakan versi terjemahan bahasa Inggris yang tidak diketahui siapa penerjemahnya, tetapi memang sudah ditemukan terbit sejak abad ke sembilan belas.

Oke, sekarang kayaknya udah bisa nih, masuk ke cerita singkat buku ini. Jadi, pada tahun 1815, cerita ini dimulai, waktu Edmond Dantes, seorang pemuda bermasa depan cerah, kembali ke Marsailles dari perjalanannya membawa kapal barang milik seorang saudagar kapal, M. Morrel. Dan karena rasa iri hati seorang koleganya, dan seorang pria yang menjadi saingannya merebut hati seorang gadis, dan tetangganya yang juga punya sifat jelek, Dantes pun dijebak dengan tuduhan pengkhianatan kepada raja Prancis, karena membawa surat untuk seseorang di Paris, dari Napoleon Bonaparte, yang waktu itu sedang diasingkan. Karena itu, Dantes pun akhirnya dipenjara. Belasan tahun dia terjebak dalam penjara di Chateu D'If, di mana dia bertemu seorang rahib bernama Faria. Rahib yang ternyata memiliki rahasia tentang harta yang luar biasa banyaknya, yang tersimpan di sebuah gua di pulau Monte Cristo.

Rahib Faria juga yang banyak mendidik Dantes selama di penjara tersebut. Dan kesempatan Dantes keluar dari penjara datang pada saat Faria akhirnya meninggal akibat serangan penyakitnya. Cerita terus berlangsung, setelah 10 tahun sejak dia berhasil lari dari penjara, Dantes yang kemudian mengubah namanya menjadi Count of Monte Cristo, datang ke Paris. Paris, kota tempat semua orang-orang yang membuat Dantes harus menghabiskan 14 tahun di penjara, membuatnya kehilangan tunangannya, dan tak lagi bisa menemukan kubur ayahnya.

Selama beberapa bulan di Paris, dengan kekayaan dan kecerdasannya, Dantes berhasil membalaskan dendamnya kepada semua orang yang membuatnya menderita.

Yaaa... kalau mau diceritakan sih, panjang banget dong, bayangin saja, itu buku dengan tulisan kayak semut gitu tebalnya 875 halaman (yg 20-an halaman sisanya isinya itu catatan-catatan tentang kesalahan penerjemahan atau pun beberapa keterangan tentang istilah atau tokoh yang disebutkan dalam novel ini).

Buku ini sih banyak sekali detil-detil yang bisa dibahas, dari mulai mata uang, latar belakang sejarah pada masa kejadian, lalu juga sistem peradilan, gaya hidup kaum elit di Paris, yah hal-hal seperti itu. Kayaknya memang kalau mau dibahas, bisa gak habis-habis hehehehe. Lalu juga asik banget kog menikmati intrik-intrik terselubung yang dibuat oleh sang Count untuk membuka kesalahan-kesalahan masa lalu orang-orang yang menjeremuskannya ke penjara itu. Yang keren itu, di buku ini gak diceritakan secara langsung bagaimana sang Count mengatur seluruh skenario, sehingga dendamnya terbalas. Kita diajak juga berimajinasi, apa saja yang dilakukan sang Count untuk mendapatkan keinginannya. Keren dah pokoknya. Rasanya emang sayang banget kalau cerita sebagus ini terlewatkan :)

Yah kalau masih sanggup, suatu saat aku masih mau mengulangi lagi baca buku ini :D Cuma mungkin terpaksa beli buku baru, karena yang ini udah jelek banget, karena udah kelamaan dibaca, sampe sampulnya udah lecek, dan bagian depannya jg jilidannya udah mulai ada yg terbuka hi hi hi, gak tahu bisa bertahan dibaca sekali lagi gak yah? :D

Tuesday, May 10, 2011

Senyum Abadi


Judul : Senyum Abadi (The Eternal Smile)
Oleh : Gene Luen Yang & Derek Kirk Kim (c) 2009
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2010
Tebal : 176 halaman; 15 x 21.5 cm

Buku ini berisi 3 komik pendek, dan Senyum Abadi yang dijadikan judul jilid ini diambil dari komik kedua yang bercerita tentang sebuah negeri yang dihuni para kodok, dan ada satu kodok kaya nan serakah, mirip sekali dengan karakter Paman Gober di komik Donal Bebek. Luar biasa pelit, pegawainya digaji sangat kecil dan sering dipotong pula gajinya, punya tiga ekor keponakan yang selalu mendampingi ke mana pun sang paman pergi. Kodok tua nan kaya itu bernama Kakek Greenbax. Lalu suatu hari, pegawainya menunjukkan pada Kakek Greenbax sebuah bentuk di langit yang berbentuk senyuman, dan si orang kaya itu pun punya ide untuk membentuk sekte keagamaan dan menamai aliran itu dengan Senyum Abadi.

Dua cerita lagi disajikan dengan gaya yang berbeda. Komik pertama di jilid ini berjudul Kerajaan Duncan, yang bercerita tentang Duncan, seorang pemuda yang tampan. Setelah raja di tempat tinggalnya dibunuh oleh para kodok, Duncan berhasil membalaskan dendam kepada kaum kodok tersebut, dan menikahi putri kerajaan itu. Tetapi kehidupannya menjadi aneh, karena dia terobsesi pada sebuah botol yang ditemukannya sewaktu mendatangi wilayah kaum kodok.

Cerita ketiga, tentang seorang gadis yang bekerja di sebuah perusahaan yang mengelola jaringan internet. Setelah menerima sebuah surat elektronik dari seseorang yang mengaku pangeran Nigeria, hidup Janet pun berubah. Uangnya habis untuk memenuhi permintaan sang Pangeran, yang selalu mengiming-iminginya dengan janji akan memberi imbalan yang sangat menggiurkan. Tapi benarkah?

Ketiga cerita ini disajikan dengan gaya komik yang berbeda-beda. Komik pertama lebih mirip apa yah, kalau pernah lihat serial Bone, yaaa, kira-kira begitulah bentuk-bentuknya. Sementara komik kedua, lebih mirip komik Disney emang. Nah, komik ketiga, beda lagi, lebih sepi gitu, apalagi, kotak-kotak komiknya gak dibuat kayak dua komik sebelumnya, yang mengikuti format kotak-kotak komik yang sudah biasa kita lihat di komik-komik Eropa. Di komik ketiga ini, gambar-gambarnya diletakkan agak jarang-jarang, bahkan bisa dalam satu halaman hanya ada dua kotak kecil, sisanya putih kosong.

Aku sih bukan ahli komik, baca komik juga cuma sekedar menikmati cerita saja, dan gambarnya tentu (karena kalau gambarnya gak suka, aku sih malas bacanya hehehe). Nah, jadi kalau ditanya, keistimewaan kumpulan komik ini, bingung gimana jawabnya. Yang pasti, aku suka ketiga ceritanya, terutama cerita ketiga. Terus gambar yang paling aku suka sih yah gambar-gambar di cerita ketiga :)


Saturday, April 23, 2011

Gadis dengan Kaki dari Kaca


Judul : Gadis dengan Kaki dari Kaca (The Girl with Glass Feet)
Pengarang : Ali Shaw (c) 2009
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Maret 2011
Tebal : 428 halaman ; 13 x 20 cm

Jadi yah, buku ini memang ceritanya tentang seorang gadis yang kakinya dari kaca. Ida Maclaird namanya, entah bagaimana, tiba-tiba kakinya berubah menjadi kaca.

Saat pertama bertemu dengan Ida, Midas Crook sedang berjalan-jalan mencari objek foto. Tapi saat itu Midas belum tahu tentang kaki Ida tersebut. Dia hanya merasa heran melihat sepatu kebesaran yang dipakai Ida, dan cara berjalan Ida yang tertatih-tatih menggunakan tongkat. Tetapi Midas merasakan sesuatu yang aneh dari diri Ida. Perkenalan mereka yang singkat itu, ternyata berlanjut menjadi hubungan pertemanan yang tidak biasa, terutama bagi Midas yang penyendiri itu.

Midas dan Ida pun jatuh cinta, tapi karakter Midas yang dingin membuat hubungan mereka menjadi sulit pada awalnya, sampai akhirnya Ida berhasil membuat Midas mengakui perasaannya tersebut. Mengubah Midas dari pria penyendiri menjadi seorang kekasih.

Yah alur cerita utamanya sih begitu. Tapi, yang membuat novel ini istimewa, kisah pasangan Ida dan Midas ini berlangsung di sebuah daerah terpencil, pulau yang tidak menarik, tetapi memiliki rahasia mistisnya. Pulau tempat hidupnya lembu-lembu bersayap ngengat, mahkluk aneh yang bisa membuat mahkluk lain yang dipandangnya berubah menjadi putih. Pulau di mana ada orang-orang yang berubah menjadi kaca. Pulau tempat terjadinya kisah cinta terlarang dan cinta yang tak tersampaikan, hubungan anak dan orangtua yang tidak harmonis. Pulau kecil, di mana kehidupan orang-orangnya saling terkait.

Jadi, kalau suka cerita yang bernuansa mistis, buku ini sangat asik buat dinikmati, dan juga karena karakternya gak banyak, jadi gak capek untuk mengikuti ceritanya :)

Monday, September 20, 2010

Emmy and the Incredible Shrinking Rat


Judul : Emmy and the Incredible Shrinking Rat (Emmy dan Tikus Penciut yang Menakjubkan)
Penulis : Lynne Jonell, 2007
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : Penerbit Atria, an imprint ofPT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Juni 2010
Tebal : 341 halaman, 13 x 20,5 cm

Emmy adalah seorang gadis kecil yang baik. Setidaknya , dia berusaha sangat keras untuk bersikap baik.

Begitulah buku ini dimulai. Terdengar sangat membosankan. Cerita tentang seorang gadis kecil yang baik, ih, apanya yang asik, begitu yang terlintas pada awalnya. Tapi ternyata gak seperti itu kog. Buku ini ternyata ceritanya asik banget, kocak dan penuh petualangan yang seru loh.

Jadi, ceritanya begini. Emmy itu memang gadis kecil yang baik. Nah, tapi kenapa dia mau jadi gadis kecil yang baik? Karena dia berharap, dengan begitu dia punya teman. Orangtuanya selalu bepergian, dan dia tinggal di rumahnya yang mewah dan besar hanya ditemani oleh para pelayan dan pengasuhnya yang aneh, namanya Miss Barmy. Di sekolah pun, nilai-nilainya selalu bagus sekali, dia belajar super keras untuk itu. Tujuannya sih supaya kalau orangtuanya pulang, mereka akan bangga padanya, dan ingin tinggal lebih lama di rumah, tidak cepat-cepat untuk bepergian lagi. Tapi anehnya, sebaik apa pun Emmy, sepintar apa pun dia, rasanya tak pernah ada yg memedulikan dirinya. Di sekolah, teman-temannya tak pernah mengajaknya mengobrol atau bermain. Gurunya saja sering tidak ingat bahwa Emmy ada di kelasnya, hanya psikolog sekolah yang sekali-sekali memanggilnya untuk diberi nasihat. Benar-benar aneh.

Lalu suatu hari, tikus peliharaan kelasnya mengubah segalanya. Ternyata tikus itu adalah tikus ajaib, dia bisa berbicara. Dan dengan satu gigitan, Emmy jadi punya teman. Nah, sejak kejadian itu, kehidupan Emmy yang membosankan berubah menjadi petualangan seru, membongkar rencana jahat Miss Barmy yang ternyata melibatkan hewan-hewan pengerat berkekuatan ajaib, kisah cinta lama dan perebutan harta.

Yang paling aku sukai di buku ini adalah cerita bagaimana Emmy perlahan-lahan mulai menemukan teman di tempat-tempat yang tidak diduganya. Selain itu, aku juga terkekeh-kekeh di cerita yang ada Ratty si tikus penciut dan teman Emmy, Joe, yang menciut, benar-benar kocak membayangkan seekor tikus dan seorang anak laki-laki yang mengecil bertengkar. Karakter Ratty juga lucu banget, agak sok tapi sebenarnya keahliannya itu cukup aneh.

Aku merasa senang baca buku ini, karena ceritanya itu fantasi ringan dan sangat menghibur.

Saturday, January 09, 2010

Kelas Memasak Lilian


Judul : Kelas Memasak Lilian (The School of Essential Ingredients)

Pengarang : Erica Bauermeister (c)2009
Penerjemah : Word++ Translation Service
Penerbit : Bentang Pustaka, September 2009

Lillian kecil yang masih berusia empat tahun tinggal hanya bersama ibunya, ayahnya meninggalkan mereka. Sejak itu, ibunya seperti tenggelam, menghabiskan hari-harinya dengan membaca, membaca dan membaca. Lillian yang kesepian akhirnya menemukan kesenangan dalam memasak. Dan dengan memasak pula dia berhasil menarik ibunya dari dunia tempatnya menyembunyikan diri selama ini.

Lillian dewasa pun membuka restauran dan kelas memasak, yang disebutnya Sekolah Bahan-Bahan Pokok. Kelas ini diadakannya di dapur restaurannya, Senin malam, sebulan sekali. Dan saat itu restaurannya ditutup.

Cerita ini mengenai satu angkatan kelas memasak Lillian. Ada Claire, ibu rumah tangga biasa, pasangan suami istri Carl dan Helen, Antonia desainer interior yang cantik, lalu Tom, Chloe, Isabelle dan Ian, setiap orang membawa kisah masa lalu mereka masing-masing.

Di kelas Lillian, mereka berkenalan dengan bahan-bahan dan cara memasak, dan juga berkenalan satu sama lain. Masa lalu masing-masing perlahan-lahan diurai bersamaan dengan bahan-bahan yang mereka masak. Dan dengan itu pula setiap orang perlahan-lahan mulai mengenali diri mereka sendiri, kepingan-kepingan masa lalu yang mereka bawa diungkapkan diam-diam. Bahan-bahan masakan membantu mereka melihat akar permasalahan yang membayangi setiap peserta kelas memasak. Kepiting segar, rempah-rempah, pasta, oven, semua bersatu padu, membentuk masakan yang menggoda selera, seperti potongan-potongan kehidupan membentuk suatu cerita. Kisah cinta lama terungkap dan cerita cinta baru terbentuk, sampai akhirnya kelas berakhir.

Judul buku yang menyebut-nyebut kelas memasaklah yang membuatku tertarik untuk membaca buku ini. Dari dulu aku memang senang membaca buku-buku yang ada cerita tentang masak-memasak, dan sebenarnya jenis buku seperti ini berbahaya, karena sering bikin lapar, hahahaha...

Dan bener juga sih, waktu membaca buku ini, seperti biasa, lumayan bikin ngiler, karena selain cerita tentang kehidupan setiap peserta kelas memasak, acara belajar memasak di kelas yang diajar Lillian itu pun cukup detail digambarkan. Setiap kali membayangkan asap mengepul-ngepul dari masakan yang sudah jadi, warna-warni makanan yang disajikan di piring, tentu saja membuat kelenjar-kelenjar liur di dalam mulut bereaksi, hehehehe (dan akhirnya bongkar-bongkar kulkas dan lemari mencari sesuatu yang bisa dimakan, ha ha ha ha).

Secara keseluruhan, alurnya sih sederhana, di setiap bab, bercerita tentang salah seorang peserta kelas memasak, maju mundur ke kisah masa lalunya, dan kembali ke kelas memasak. Mendekati bagian akhir, Lillian juga sedikit turun tangan untuk membantu 'mengaduk' sehingga menjadikannya akhir yang menyenangkan :)

Wednesday, July 02, 2008

I AM MESSENGER



Judul : I Am The Messenger
Pengarang : Markus Zusak
Penerbit : Borzoi Book Published by Alfred A. Knopf, 2006
Tebal : 357 halaman ; 13 x 20,5 cm

Suatu siang di sebuah bank, Ed Kennedy yang selalu sial, terjebak dalam peristiwa perampokan. Tapi si perampok bernasib sial juga. Saat berusaha melarikan diri, ternyata dia sudah ditinggalkan temannya yang membawa mobil. Lalu dia berusaha kabur dengan menggunakan mobil butut milik teman Ed, Marv, yang diparkir di depan bank.
Waktu hendak masuk ke mobil, pistolnya terjatuh.

Entah apa yang mendorong Ed melakukan perbuatan itu. Saat si perampok berusaha menghidupkan mobil jelek itu, Ed bangkit keluar dari bank menuju si perampok, mengambil pistol yang terjatuh di trotoar, dan menodongkannya ke perampok itu. Lalu polisi datang, dan selesailah drama perampokan itu.

Tapi bagi Ed, peristiwa itu ternyata adalah awal dari perubahan atas kehidupannya yang selama ini sangat datar dan membosankan. Ed seorang supir taxi yang sebenarnya belum cukup umur untuk pekerjaan itu, yang didapatkannya dengan memalsukan tahun kelahirannya. Di keluarganya, Ed seperti kambing hitam. Adiknya Tommy seorang calon pengacara. Kedua saudara perempuannya hidup baik-baik saja. Ayahnya baru meninggal enam bulan yang lalu, dan itu membuatnya mendapatkan The Doorman, anjing tua milik keluarga mereka.

Saat ini Ed tinggal sendiri di rumah petak kecil, sekarang bersama The Doorman yang selalu berbau busuk tak peduli seberapa sering dia dimandikan. The Doorman juga seekor anjing pecandu kopi, dan tak pernah mau bergerak dari tempatnya tidur seharian di depan pintu, yang membuatnya mendapatkan namanya.

Itulah Ed selama ini, hingga hari perampokan itu terjadi.

Tak lama setelah hari aneh itu, di kotak posnya, Ed menemukan selembar kartu remi, bergambar As Wajik, berisi tiga alamat, dan tiga waktu di tiap alamat. Entah apa maksudnya. Itu adalah kartu pertama yang diterimanya. Apa maksudnya kartu itu dikirimkan kepadanya. Tak jelas siapa pengirimnya. Mulanya dia mengira salah seorang rekannya sedang menggodanya. Tapi tak mungkin, tak seorang pun diantara mereka cukup cerdas untuk melakukan sesuatu seperti itu. Yang paling cerdas, juga tak punya modus untuk melakukannya, dan dia adalah seorang wanita, yang diam-diam dicintai oleh Ed.

Beberapa hari Ed bingung memandangi kartu tersebut, namun sesuatu membuatnya yakin, ada yang harus dia lakukan. Mulailah dia mendatangi alamat-alamat tersebut pada waktu-waktu yang dituliskan di kartu itu. Apa yang ditemukannya ternyata membuatnya memahami, apa yang diinginkan oleh si pengirim kartu. Ada pesan yang harus dia sampaikan kepada orang-orang di rumah itu. Dia adalah si pembawa pesan, The Messenger.

Kartu-kartu berikutnya datang, setelah ntah bagaimana, si pengirim pesan berhasil mengetahui bahwa tugas Ed sudah berhasil dilaksanakan, pesan sudah disampaikan.

Siapa sebenarnya pengirim kartu itu, dan mengapa Ed yang dipilih?

Terus terang, buku ini aku pilih waktu membelinya, karena si pengarang Markus Zusak. The Book Thief yang berhasil membuatku merasa ikut depresi selama membacanya itu membuatku terkesan, dan waktu melihat buku I Am The Messenger ini, yah aku jadi pengen tahu.

Untungnya, buku ini tak membuat kita depresi, walau kali ini tokohnya adalah seorang laki-laki yang sedang beranjak dewasa, di usia 18 tahun, seorang pecundang. Tapi ternyata, seiring cerita berjalan, Ed bukanlah seorang pecundang. Dia menjadi seperti itu karena berbagai hal, yang ternyata masih bisa diperbaiki. Perlahan-lahan, kita ikut bersama Ed, menyadari, banyak hal kecil yang sebenarnya membuatnya menjadi orang yang lebih baik, orang yang berguna, dan orang yang layak mencintai dan dicintai.

Hal-hal kecil juga akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri, geli, terutama saat Ed menggambarkan kehidupannya yang sederhana, anjingnya yang konyol, dan kelakuan teman-temannya yang tampaknya aneh. Tapi di balik semua itu, masing-masing menyimpan rahasia, dan Ed harus membawa pesan kepada mereka, sama seperti kepada orang-orang yang tak dikenalnya.


Saturday, September 22, 2007

The Sea of Trolls


Judul : Sea of Trolls
Pengarang : Nancy Farmer, 2006
Penerjemah : Febry E.S
Penerbit : Penerbit Matahati, Juli 2007
Tebal : 543 halaman ; 13,5 x 20 cm

Di sebuah desa, tinggallah Jack bersama ayah, ibu dan adiknya Lucy. Desa kecil itu sangat sederhana. Ayah Jack kakinya cacat, selalu keras pada Jack, namum sangat memanjakan Lucy. Ayah mereka membuai Lucy dengan dongengan bahwa dirinya adalah seorang putri yang hilang. Ibu Jack sendiri wanita yang cerdas, dan diam-diam sepertinya menguasai sedikit ilmu sihir.

Di desa itu juga tinggal Bard, seorang lelaki tua yang suatu hari terdampar di dekat desa mereka. Entah mengapa, seluruh warga desa itu sangat menghormati Bard. Dia tampaknya menguasai sesuatu yang tak bisa dijelaskan mereka.

Suatu hari, sewaktu Jack mengantarkan makanan, Bard memperhatikan bahwa Jack memiliki sesuatu yang berbeda dari anak-anak lain di desa itu. Bard akhirnya mengangkat Jack menjadi anak didiknya, dan bersama Bard, Jack mempelajari banyak hal-hal baru. Jack bisa menguasai kekuatan alam, dan mampu memanggil kabut. Ternyata ada sebuah rahasia yang disimpan oleh Bard. Frith, sang Ratu para beserker, seorang wanita keturunan Troll, ingin membinasakan Bard.

Lalu, sebelum Jack selesai belajar pada Bard, sebuah serangan mengacaukan segalanya. Para Beserker menyerbu desa Jack. Para penduduk semua sempat bersembunyi, karena peringatan dari Jack dan Bard, juga seorang biarawan dari Pulau Suci yang berhasil melarikan diri dari serbuan Beserker. Tapi ternyata, saat Jack dan Lucy tanpa direncanakan keluar untuk mengintai, mereka malah ditangkap.

Dalam penangkapan itu, Jack dan Lucy akhirnya dibawa ke negeri para beserker. Lucy akan dipersembahkan kepada Ratu Frith, sedangkan kemampuan Jack sebagai 'bard' juga menarik perhatian sang pemimpin beserker, Olaf. Ternyata para beserker tak seburuk yang diduga oleh Jack. Dalam pertemuannya dengan ratu Frith, Jack tak sengaja mengeluarkan sihir yang menyebabkan Frith kehilangan rambutnya, dan sosok palsunya sebagai wanita yang sangat cantik juga rusak, menampakkan sosok aslinya yang mengerikan.

Frith mengancam akan membuat Lucy menjadi persembahan pada Freya, jika Jack tak mampu mengembalikan sosok cantiknya. Jack, ditemani Olaf dan Thorgil, seorang anak perempuan yang ingin jadi beserker, harus pergi ke negeri Troll, untuk mendapatkan penangkalnya. Lagi-lagi, Jack menemukan kenyataan yang mengejutkan di negeri Troll.

Cerita ini berlatar belakang masa Anglo-Saxon, dimana orang-orang masih tercampur aduk antara kepercayaan Kristen dan kepercayaan-kepercayaan mistis. Masa-masa dimana para Viking sering melakukan penyerbuan ke Daratan Eropa dan Kepulauan Inggris.

Kisah-kisah mitologi Eropa Utara akan sangat terasa dalam cerita ini. Legenda prajurit Valkyrie yang membawa para pejuang ke Valhalla yang memotivasi Thorgil untuk menjadi Beserker. Bahkan, dalam petualangannya untuk mencari sihir yang bisa mengembalikan sosok Frith, Jack harus bertemu para Norns, penenun nasib. Bagi yang akrab dengan kisah-kisah mitologi Norse, pasti akan sangat menikmati cerita ini.

Sunday, September 09, 2007

Hostage

Judul : Hostage
Pengarang : Robert Crais, 2001
Penerjemah : Maria Lubis
Penerbit : Rajut Publishing, 2007
Tebal : 533 halaman; 13 x 20 cm

Sebuah kasus penyanderaan yang berakhir tragis menimbulkan trauma yang sangat mempengaruhi kehidupan Jeff Talley. Trauma itu diam-diam disimpannya, tak ada yang pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hanya saja, setelah kejadian itu, sikap Jeff Talley berubah. Ia pun akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai negosiator SWAT dan malah bekerja di sebuah wilayah pemukiman yang tenang di California.

Hingga suatu hari, seorang penjahat kelas teri yang baru dibebaskan dari penjara melakukan sebuah kekacauan. Dennis Roney, bersama adiknya Kevin, serta seorang temannya yang dipanggil Mars, seorang lelaki pendiam. Dennis mengusulkan untuk merampok sebuah toko kecil, namun ternyata berakhir dengan tertembaknya si pemilik toko. Mereka pun melarikan diri. Dalam pelarian itu, mereka akhirnya tak sengaja masuk ke sebuah rumah dan menyandera pemilik rumah, Mr Smith dan kedua anaknya.

Jeff Talley yang bertugas di wilayah itu, kini harus kembali menghadapi situasi yang sudah lama ditinggalkannya. Kemampuannya sebagai negosiator ternyata sangat berguna dalam keadaan gawat tersebut. Namun ternyata, situasi tak sesederhana yang disangka. Orang yang disandera, Mr Smith, ternyata terlibat dalam bisnis mafia. Dia adalah akuntan yang bertugas untuk membuat pembukuan dan mengatur agar pencucian uang yang dilakukan sang mafia terlihat bersih.

Sang mafia pun mengikuti peristiwa penyanderaan itu, lalu melakukan berbagai usaha untuk menghalangi polisi agar nantinya tidak melakukan penggeledahan di rumah Smith, karena pasti akan ditemukan berbagai bukti yang akan menyulitkan mereka. Talley akhirnya bukan hanya harus membebaskan keluarga Smith, namun juga dia harus memikirkan keselamatan anak dan istrinya yang dijadikan sandera oleh sang mafia.

Cerita thriller ini memang sebuah cerita yang lancar. Dari awal, kita sudah diperkenalkan dengan para karakter utama. Kita akan diajak mengikuti situasi yang terjadi dari berbagai sudut pandang para tokoh yang terlibat. Di bagian akhir, kita juga akan disajikan beberapa kejutan yang membuat cerita bertambah seru.

Bagian yang paling menarik bagiku sih waktu secara tak terduga, ternyata salah satu sandera yang masih sangat muda itu menunjukkan keberanian yang luar biasa.

(Hanya saja, sebenarnya ini bukan jenis cerita yang aku sukai. Ceritanya memang lancar mengalir, gampang diikuti, tapi setelah di bagian akhir, aku gak mendapatkan kesan spesial. Yah, seperti sudah aku sebutkan di atas, yang paling aku suka itu sih di bagian si anak itu, karena tadinya dia digambarkan sebagai anak yang bengal, ternyata diam-diam dia sangat cerdas dan menyayangi kakaknya.)

Sunday, August 26, 2007

Sherlock Holmes, Misteri Tak Terpecahkan


Judul : Sherlock Holmes, Misteri Tak Terpecahkan (A Slight Trick of The Mind)
Pengarang : Mitch Cullin, 2005
Penerjemah : Rika Iffati Farihah
Penerbit : Voila Books (Penerbit Hikmah), 2007
Tebal : 511 halaman; 17 x 11 cm

Mendengar nama Sherlock Holmes, pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok seorang detektif cerdas yang legendaris, dengan topi dan pipa yang menjadi ciri khasnya.

Namun, buku ini bukan cerita si detektif memecahkan atau tak berhasil memecahkan sebuah misteri. Ini adalah kisah kehidupan masa tua sang detektif, saat dia sudah berumur 93 tahun, pensiun dan tinggal di sebuah rumah pertanian dan memelihara peternakan lebah. Holmes yang sudah tua, sudah pikun, dan terserang radang sendi, dan gampang marah.

Saat ini, di tahun 1947, dia tinggal bersama seorang pengurus rumah, Mrs Munro, dan anak lelaki Mrs Munro, Roger. Mrs Munro adalah pengurus rumah, yang ntah keberapa, sebelumnya tak pernah ada yang bisa bertahan. Awalnya, Holmes pun tak mau menerima kehadiran Roger, namun Mrs Munro memohon dan berusaha meyakinkannya bahwa Roger tak akan membuat keributan ataupun kesulitan apa-apa.

Dalam buku ini, ada beberapa cerita yang akan kita temui, disampaikan berganti-gantian. Salah satunya adalah kunjungan Holmes ke Jepang, atas undangan seorang pria kaya pengagumnya, sesama penggemar lebah dan dengan iming-iming untuk melihat tanaman Prickly Ash. Namun sesampainya di Jepang, ternyata sang pengundang mempunyai agenda tersembunyi lain, yang baru disadari Holmes kemudian.

Sementara itu, Roger sendiri sudah menemukan sebuah naskah tulisan Holmes tentang suatu kasus lamanya, kasus seorang istri yang menjadi aneh setelah kematian anaknya, yang melibatkan armonika dan buku-buku, dan taman botanikal. Sesuatu yang memancing ketertarikan Holmes akhirnya pada lebah dan dunia mereka yang eksotis.

Hubungan Holmes dan Roger juga membaik seiring dengan berlalunya waktu. Holmes pelan-pelan menyadari bahwa Roger anak yang menyenangkan. Roger memiliki banyak minat yang sama dengan Holmes, terutama dalam peternakan lebah. Roger sangat bersemangat mempelajari kehidupan lebah-lebah itu. Roger juga sangat mengagumi Holmes.

Hingga suatu hari, Holmes akhirnya patah hati lagi...

Seperti di awal sudah aku ceritakan, ini bukan cerita detektif. Di sini kita akan diajak melihat sesosok manusia di usia yang sudah sangat renta, di saat penyakit sudah mulai menyerang, hidup sendirian dan kesepian. Pikiran-pikirannya sering campur aduk, mulai sulit mengingat hal-hal sederhana ternyata sangat menyakitkan, di mana ingatan akan masa lalu entah mengapa terasa sangat dekat dan detail. Sebuah cerita yang sangat manusiawi.

Friday, August 24, 2007

GLONGGONG



Judul : Glonggong
Pengarang : Junaedi Setiyono
Penerbit : Penerbit Serambi, 2007
Tebal : 293 halaman; 20,5 x 13 cm


Dia dilahirkan sebagai seorang anak bangsawan, seorang bungsu. Kedua kakaknya dibesarkan oleh kerabat mereka. Ayahnya tak kembali lagi setelah sebuah usaha menentang Belanda. Waktu itu dia masih sangat kecil. Lalu ibunya menikah lagi dengan seorang bangsawan.

Walau berasal dari keluarga bangsawan, namun dia lebih sering bermain dengan anak-anak kampung. Glonggong adalah permainan yang sangat disukai, bermain pedang-pedangan menggunakan tangkai pepaya. Awalnya memang dia bukan pemain yang bagus, namun sejalan waktu dan seringnya bermain, dia menjadi semakin tangguh. Lama-lama dia dipanggil Glonggong.

Sementara itu, ibunya semakin hari semakin aneh. Sering mengurung diri di kamar dan menembang. Dari ibunyalah, Glonggong pertama kali mengenal aksara Jawa. Lalu, persahabatannya dengan Suta dan keluarganya, juga memperkenalkan Glonggong dengan AlQuran dan aksara Arab.

Namun ayah tirinya, Raden Suwanda, lama kelamaan tak tahan melihat ibu Glonggong yang semakin lama semakin parah kondisinya, kawin lagi dan mengusir Glonggong dan ibunya. Sendirian dia harus merawat ibunya, dari mulai memberi makan, bahkan memandikan ibunya. Hingga suatu hari dia terpikir membawa ibunya ke sebuah sendang yang dia tahu disukai ibunya. Dan disitulah dia berkenalan dengan Endang, yang ternyata anak tiri Raden Suwanda. Dia juga bertemu kembali dengan Surya, musuh masa kanak-kanaknya.

Tapi ternyata penderitaan Glonggong masih terus berlanjut. Suatu hari, rumah tempatnya tinggal bersama ibunya terbakar. Di sinilah sang ibu tak tahan lagi dan meninggal. Glonggong kini sebatang kara.

Dia lalu bekerja di Puri Pringgawinatan, menjadi tukang kebun, dan disinilah dia mulai belajar bahasa Belanda dan huruf Latin. Dalam hatinya, Glonggong ingin membantu laskar Dipanegaran. Pada awalnya, Den Mas Pringgan yang dilayaninya memang berpihak pada pasukan tersebut. Namun ternyata hal tersebut tak berlangsung lama.

Cerita terus berlanjut, Glonggong pun akhirnya benar-benar bergabung dengan pasukan Dipanegaran, dan di dari sinilah dia akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kedua kakaknya dan ayahnya.

Ini adalah sebuah novel tentang kisah seorang pemuda yang besar di masa perang Diponegoro. Yah, aku sih gak terlalu mengerti detil-detil sejarah seputar masa-masa tersebut. Namun hal itu tak menggangguku untuk menikmati kisah Glonggong ini. Yang pasti, aku suka dengan karakter Glonggong, seorang pemuda yang sederhana dengan rasa keadilan yang tinggi. Ceritanya juga gak rumit. Walau di sana sini terdapat kata-kata dalam bahasa Jawa halus, namun dengan bantuan glosari di bagian belakang buku, tak mengganggu kelancaran jalan cerita.

Sunday, August 19, 2007

Vienna Blood


Judul : Vienna Blood
Pengarang : Frank Tallis, 2006
Penerjemah : Berliani M Nugrahani
Penerbit : Qanita, 2007
Tebal : 592 halaman; 20,5 x 13 cm

Oskar Rheinhardt dipanggil ke tempat kejadian pembunuhan, diawali kasus yang sangat aneh, seekor ular kesayangan Kaisar Austria di kebun binatang mati terpotong-potong. Sedangkan pawang penjaganya dipukul hingga hilang ingatan sekitar waktu kejadian tersebut.

Tak lama setelah kasus itu, Oskar kembali harus mendatangi kasus lain lagi, yang jauh lebih mengejutkan. Kali ini telah terjadi pembunuhan berganda terhadap 4 orang perempuan. Korbannya tersebut adalah seorang wanita pemilik rumah bordil dan 3 orang wanita muda yang menjadi wanita penghibur di tempat tersebut. Kondisi keempat wanita tersebut sangat mengenaskan, kecuali satu. Lalu ditemukan juga lambang aneh di rumah tersebut, lambang yang dilukiskan dengan darah...

Seperti biasa, dalam pertemuannya dengan Max Liebermann, akhirnya Max berhasil membuat Oskar menceritakan tentang kasus yang sedang dihadapinya itu. Seorang tersangka telah ditahan, dan ada barang bukti, namun keakuratan barang bukti tersebut meragukan, karena latar belakang pekerjaan tersangka. Ide menggunakan bantuan Miss Lydgate pun tercetus. Itulah awalnya Miss Lydgate terlibat dalam penyelidikan kasus ini, yang akan diikuti bantuan lainnya.

Pembunuhan tak hanya terjadi sekali itu, beberapa pembunuhan lagi terjadi, masing-masing dengan kesadisan tersendiri. Korbannya tak terduga, yang pasti adalah dari identitas para korban, terlihat adanya kecenderungan rasialis. Tapi tak ditemukan lagi lambang aneh yang ditemukan di tempat pertama.

Lambang itu malah ditemukan di sebuah pamflet di sebuah bar, yang merujuk ke salah satu penulis di Wina. Selain itu, petunjuk juga tiba-tiba tersingkap dengan cara yang tak lazim, yang melibatkan sebuah opera, kembalinya ingatan si pawang ular, dan juga lukisan-lukisan. Semua ini harus mereka satukan bersama hasil analisa dari Miss Lydgate.

Dalam usaha mereka mencegah pembunuhan berikutnya, perkumpulan Freemason yang sangat menjaga kerahasiaan mereka terpaksa memperbolehkan Dr Max Liebermann untuk menghadiri ritual rahasia mereka.

Setelah pembunuhan seorang cenayang di buku sebelumnya yang berjudul A Death In Vienna, Max Liebermann dan Oskar Rheinhardt kembali lagi untuk bekerja sama untuk memecahkan kasus pembunuhan, yang kali ini berupa pembunuhan berantai. Peranan Miss Lydgate tak boleh diremehkan juga dalam pemecahan kasus tersebut.

Salah satu yang menarik bagiku adalah, setting cerita yang terjadi di Wina, Austria, di awal abad ke 20, dimana bahkan lampu senter pun merupakan barang baru yang buat mereka sesuatu yang sangat mengagumkan, sungguh praktis dalam membantu mereka melakukan penyelidikan di tempat gelap. Lalu ada juga teknik Miss Lydgate untuk membedakan jenis darah hewan dari darah manusia, sesuatu yang pada masa itu tampaknya bukan hal yang otomatis akan dilakukan sewaktu mendapatkan barang bukti.

Selain itu, ada juga cerita tentang makanan-makanan yang dicicipi oleh para tokoh, yang dengan lihai ditulis oleh Frank Tallis, sehingga membuat kita ngiler, hehehehehe.... Lalu, asik juga menikmati kesenangan kedua tokoh tersebut, Max dan Oskar, terhadap musik, dan bagaimana musik tersebut juga digunakan Max Liebermann untuk melakukan psikoanalisa.

Dan ada juga kisah tentang bergabungnya Max Liebermann ke dalam sebuah perkumpulan kecil yang dibentuk Freud untuk melakukan diskusi seputar bidang mereka, yang.... waktu membacanya, yah apalagi kalau tidak langsung membawa pikiranku ke sebuah perkumpulan aneh yang berisi orang-orang gila yang mungkin cocok juga jadi pasien si Max Liebermann ini, hi hi hi hi ^.^

Di sini juga, akhirnya Max Liebermann mengambil sebuah keputusan penting atas dilema cinta yang membuatnya gelisah selama beberapa lama. Lalu, apakah keputusan tersebut akan membawanya ke hubungan yang baru dengan seorang nona cerdas dan sedikit dingin dari Inggris? Yah, kita lihat saja nanti di buku ketiga, yang sampai sekarang pun belum terbit kog. Buku itu akan berjudul Fatal Lies, dan direncanakan terbit di tahun 2008 (sumber : www.franktallis.com)

Wednesday, August 08, 2007

Harry Potter and The Deathly Hallows


Judul : Harry Potter and The Deathly Hallows
Pengarang : J.K. Rowling, 2007
Penerbit : Bloomsbury, London
Tebal : 607 halaman; 20 x 13,5 cm


Di tengah masa hibernasi, biar gak bosen, aku posting dulu deh ini ringkasan cerita Harry Potter 7. Sebelumnya, ringkasan ini sudah pernah aku pajang di blog di Multiply (klik di SINI).

Yah, ini buku terakhir seri Harry Potter. Terus terang aja, bagiku sih, ntah kenapa, yang paling berkesan itu adalah buku ke 3, The Prisoner of Azkaban, dan sampai sekarang, dari seluruh seri Harry Potter, itulah yang menjadi buku favoritku.

Begitu pun, aku tetap saja bisa menikmati kisah Harry dan teman-teman, para guru Hogwarts, bahkan keluarga Dursley. Sudah bertahun-tahun mengikuti cerita ini, dan saat dibuku terakhir ini... mau tak mau, rasanya sedih juga. Jadi gak ada lagi yang ditungguin... eits... gak ada?? banyak.... hue he he he, Kobo gitu, mana pernah habis yang ditungguin, hue he he he (sekarang sedang mengintip-intip untuk menantikan Inkdeath nya mama Funke ^.^)

******************************************************

Chapter 1 : The Dark Lord Ascending
Snape memberitahukan tanggal pasti pemindahan Harry Potter dari Privet Drive kepada voldemort.

Chapter 2 : In Memoriam
Harry Potter masih di Privet Drive, siap-siap untuk pergi. Di Daily Prophet ada artikel tentang Dumbledore yang ditulis teman dekatnya, dan ada juga berita tentang biografi Dumbledore yang ditulis Rita Skeeter.

Chapter 3 : The Dursleys Departing
Keluarga Dursleys harus pergi dari Privet Drive, karena Harry sudah hampir 17 tahun, dan tepat saat ulang tahun Harry ke 17, mantra pelindung rumah itu akan hilang, jadi keluarga Dursley harus sembunyi agar tidak ditangkap oleh Death Eaters. Ternyata akhirnya Dudley berterimakasih pada Harry karena sudah menyelamatkannya dari Dementor.

Chapter 4 : The Seven Potters
Rencana pemindahan Harry melibatkan 13 penyihir, yaitu Tonks, Lupin, Fleur, Bill, Fred, George, Hermione, Ron, Mad-Eye Moody, Mundungus Fletcher, Hagrid, Kingsley, dan Mr Weasley. Enam orang menyamar jadi Harry, dengan ramuan polyjuice, dan Harry yang asli akan ikut dengan Hagrid yang menggunakan motor Sirius. Lupin dan Tonks sudah menikah.

Chapter 5 : Fallen Warrior
Ternyata pemindahan itu sudah diketahui Voldemort (Lihat Bab I), dan mereka diserang. Dalam penyerangan, Hedwig mati terkena mantra dari Death Eater. Tapi Voldemort juga yang sempat mencoba menyerang Harry, tak berhasil, karena tongkat Harry mengeluarkan sihir aneh.
Setiba di The Burrow, ternyata Mundungus Fletcher sudah ber Disaparrate waktu diserang, dan Mad-Eye mati dalam serangan itu. George kehilangan telinganya.

Chapter 6 : The Ghoul in Pyjamas
Di The Burrow, persiapan pesta pernikahan Bill dan Fleur menyita waktu, sehingga Ron, Hermione dan Harry tak sempat merencanakan tindakan mereka untuk menjalankan perintah Dumbledore. Tapi tetap saja, persiapan sudah mereka lakukan. Hermione sudah menyihir orangtuanya supaya lupa dan pindah ke Australia, Fred sudah mempersiapkan ghoul yang dibentuk menyerupai dirinya yang kena penyakit parah untuk mengelabui pemeriksaan.

Chapter 7 : The Will of Albus Dumbledore
Di Hari Ulang Tahun Harry, perdana menteri sihir yang baru, Scrimgeour, datang tiba-tiba, dan memberikan kepada Ron, Hermione dan Harry warisan Dumbledore berupa Deluminator yang mirip pemantik yang bisa mematikan cahaya, buku kuno berisi cerita anak-anak pada Hermione, dan snitch pertama yang ditangkap Harry untuk Harry. Selain itu Harry juga menjadi pewaris pedang Gryffindor, tapi Kementerian tak mau memberikannya. Ternyata kementerian sudah menyimpan barang-barang itu untuk diselidiki, dan baru diberikan karena sudah lewat batas waktu penahanan.

Chapter 8 : The Wedding
Di Hari Pernikahan Bill dan Fleur, Harry harus menyamar, agar para tamu tak tahu dia ada di The Burrow. Krum datang, juga Luna dan ayahnya. Krum kesal pada ayah Luna karena mengenakan satu lambang yang dikenalinya sebagai lambang Grindewalds, si penyihir jahat yang dikalahkan Dumbledore. Selain itu, Harry juga sempat bercakap-cakap sebentar dengan Doge, sahabat Dumbledore, sebelum Bibi Muriel, bibi Ron, datang dan menyela pembicaraan mereka dengan gosip mengenai Dumbledore.

Chapter 9 : A Place to Hide
Ternyata, di pesta pernikahan itu, Scrimgeour, si Perdana Menteri sihir, dibunuh oleh Death Eater, tapi dia tak memberitahukan rahasia tentang Harry. Harry, Ron dan Hermione sempat melarikan diri. Hermione ternyata sudah mempersiapkan diri sehingga barang-barang yang mereka butuhkan selalu berada di dekatnya dalam tasnya yang sudah dijampi-jampi. Mereka akhirnya bersembunyi di Grimmauld Place 12.

Chapter 10 : Kreacher's Tale
Di rumah Sirius itu, akhirnya mereka mengetahui siapa R.A.B, Regulus Arcturus Black, kakak kandung Sirius, salah satu kesayangan Kreacher. Dengan memanfaatkan itu, akhirnya Harry berhasil mendekati Kreacher, dan Kreacher mau melayani Harry, Ron dan Hermione. Apalagi setelah Harry memberikan loket berinisial RAB itu pada Kreacher, yang membuat Kreacher jadi memujanya. Dari Kreacher, Harry akhirnya tahu bahwa Horcrux yang asli, yang selama ini ternyata tersimpan di rumah itu, sudah diambil oleh Mundungus Fletcher. Harry menyuruh Kreacher mencari Mundungus.

Chapter 11 : The Bribe
Berhari-hari mereka harus menunggu hingga Kreacher kembali. Sementara itu rumah itu selalu diintai oleh para Death Eater. Sewaktu Kreacher akhirnya berhasil mendapatkan Mundungus, dari Mundungus mereka mengetahui kalau loket Horcrux yang asli berada di tangan seorang pegawai kementerian, yang berdasarkan deskripsi dari Mundungus, Harry dan teman-teman langsung tahu kalau yang dimaksud adalah Umbridge.


Chapter 12 : Magic is Might
Persiapan menyusup ke Kementrian pun dilakukan. Mereka berlatih berhari-hari, dan pada hari pelaksanaan, mereka berhasil mendapatkan tiga orang anggota kementrian untuk dijadikan penyamaran, dengan ramuan Polyjuice.

Chapter 13 : The Muggle-born Registration Commission
Ron, Hermione dan Harry berhasil menyusup. Hermione terjebak bersama Umbridge, ke persidangan Darah Lumpur. Sementara itu, Harry berhasil masuk ke ruang kerja Umbridge. Di pintu Umbridge, Harry menemukan mata Mad-Eye yang dipasang Umbridge di situ. Namun Harry tak menemukan Horcrux.

Chapter 14 : The Thief
Ternyata Horcrux itu dipakai oleh Umbridge. Harry berhasil merebut dari Umbridge, dan membebaskan orang-orang yang dituduh sebagai pencuri sihir, karena bukan dilahirkan dari keluarga penyihir.Mereka melarikan diri, namun ternyata ada satu pegawai kementrian yang mengikuti ke Grimmauld Place, sehingga Ron, Hermione dan Harry harus meninggalkan tempat itu dan bersembunyi di tempat lain.

Chapter 15 : The Goblin's Revenge
Dalam pelarian, ternyata Hermione sudah membawa tenda, sehingga mereka berpindah-pindah tempat. Sambil memutuskan tindakan apa selanjutnya. Pengejaran terhadap orang-orang yang dikaitkan dengan Order, juga orang-orang yang dianggap bersahabat dengan Muggle semakin hebat. Suatu hari mereka mendengarkan sekelompok orang di dekat tenda mereka, ternyata ada Goblin yang diusir dari Gringotts, dan membahas, bahwa pedang Gryffindor yang ada di Hogwarts itu palsu.

Chapter 16 : Godric's Hollow
Hermione dan Harry bertengkar dengan Ron. Penyebabnya adalah Ron yang menjadi sangat sensitif, karena mengenakan loket Horcrux. Ron meninggalkan mereka. Setelah tinggal berdua, Harry dan Hermione memutuskan mencari petunjuk ke Godric Hollows, tempat rumah Harry, desa asal Dumbledore, dan tempat Bathilda, narasumber Rita Skeeter dalam menulis buku tentang Dumbledore, tinggal

Chapter 17 : Bathilda's Secret
Di Godric Hollow, Hermione melihat tanda segitiga yang dilihatnya juga di buku yang diwariskan Dumbledore padanya, segitiga dengan garis dan lingkaran yang terlihat seperti mata, di pekuburan. Lalu mereka juga akhirnya bertemu Bathilda, yang ternyata adalah Nagini yang meniru Bathilda, yang sudah dibunuh sebelumnya. Nagini menyerang Harry, namun Hermione dan Harry berhasil lolos.

Chapter 18 : The Life and Lies of Albus Dumbledore
Tongkat Harry patah sewaktu Hermione mencoba menolongnya. Tapi mereka berhasil mendapatkan satu copy buku Rita Skeeter. Di situ diungkapkan fakta bahwa Dumbledore ternyata pernah berteman dengan Grindewald, si penyihir hitam.

Chapter 19 : The Silver Doe
Ron akhirnya kembali. Waktu Harry berjaga, dia melihat sesosok patronus berbentuk burung merpati perak, membimbingnya ke sebuah kolam, dan di dasar kolam, ada pedang Gryffindor (bisa menghancurkan Horcrux, karena ada racun basilisk yang tertinggal di situ sewaktu Harry menggunakannya membunuh Basilisk di kamar rahasia di Hogwarts. Racun basilisk bisa menghancurkan Horcrux). Tapi Harry hampir tenggelam waktu mengambil pedang, untunglah Ron yang juga melihat patronus itu, melihatnya dan menolongnya. Satu Horcrux lagi sudah dihancurkan. (Berarti sudah ada 3 horcrux : buku harian Tom Riddle, cincin di tangan voldemort, dan kini, loket slytherin)

Chapter 20 : Xenophilus Lovegood
Harry, Ron dan Hermione memutuskan untuk pergi menemui ayah Luna, untuk menanyakan tentang lambang berbentuk segitiga yang dipakainya.

Chapter 21 : The Tale of The Three Brothers
Di rumah Luna, mereka bertemu ayah Luna dan bertanya tentang lambang segitiga. Ternyata, ada di cerita dalam buku yang diberikan Dumbledore. Tentang tiga bersaudara yang mencoba menipu Kematian. Yang pertama meminta tongkat yang cocok untuk penyihir yang sudah mengalahkan kematian. Yang kedua meminta kekuatan untuk memanggil orang yang sudah mati, dan dia diberikan sebuah batu sakti. Dan yang paling bungsu meminta sesuatu yang bisa membuatnya pergi kemana-mana tanpa diikuti oleh Kematian, dan dia mendapatkan Jubah Tak Terlihat.

Chapter 22 : The Deathly Hallows
Jadi itulah arti lambang segitiga itu : The Deathly Hallows, tiga benda ajaib : garis itu melambangkan tongkat kayu Elder, bulatan adalah batu pembangkit orang mati, dan segitiga adalah Jubah Ajaib.
Ternyata ayah Luna menipu mereka, memanggil Death Eater, karena para Death Eater menyandera Luna. Tapi Harry dan kawan-kawan berhasil juga meloloskan diri. Tapi tak berumur lama. Sewaktu tiba di tenda, mereka berdiskusi, Harry tak sengaja mengucapkan nama Voldemort, yang sudah dimantrai untuk melacak orang-orang Ordo Phoenix.

Chapter 23 : Malfoy Manor
Akibatnya, keberadaan mereka terlacak, dan walaupun sudah mencoba menyamar, tetap saja ketahuan. Mereka dibawa ke Malfoy Manor, dan di sana bertemu dengan Bellatrix, dan keluarga Malfoy. Namun voldemort masih di luar negeri. Lalu Bellatrix mencoba menyiksa Hermione untuk mendapatkan informasi.Sementara itu, Harry dan Ron, yang tertangkap bersama-sama dengan Dean dan si goblin Griphook, dimasukkan ke penjara. Di sana ternyata sudah ada Luna dan Mr Ollivander. Harry lalu melihat potongan cermin Sirius, dan melihat mata biru Dumbledore di situ, lalu dia meminta tolong. Yang muncul adalah Dobby, yang membantu mereka berdisaparrate ke rumah Bill. Pertama dia membawa Luna, Dean dan Mr Olivander, sementara Harry dan Ron berusaha membebaskan Hermione. Peter Pettigrew mencoba menyerang Harry, tapi justru gagal karena tangan palsu pemberian Voldemort malah berbalik menyerang dirinya sendiri sewaktu dia mencoba menyerang Harry.

Chapter 24 : The Wandmaker
Mereka berhasil melarikan diri dari Malfoy Manor berkat bantuan Dobby, namun ternyata Dobby terkena lemparan pisau Bellatrix dan tak terselamatkan. Harry pun menguburkan Dobby di dekat rumah Bill. Lalu Harry mencoba menanyai Griphook tentang ruang penyimpanan harta keluarga Bellatrix Lestrange, karena menduga Bellatrix menyembunyikan satu Horcrux di situ, cangkir Hupplepuff. Lalu setelah itu dia menanyai Ollivander tentang tongkat kayu elder yang legendaris itu. Di situ, Harry mengetahui, bahwa itu adalah tongkat Dumbledore, dan saat itu juga, Voldemort sedang dalam perjalanan mencari tongkat itu.

Chapter 25 : Shell Cottage
Tiga sekawan itu membahas tentang semua ini. Mereka menyimpulkan, kalau Voldemort tak mengetahui tentang Deathly Hallows, tiga benda sakti yang bisa mengalahkan kematian itu. Dia hanya menyimpulkan kalau tongkat kayu elder itu akan bisa mengalahkan Harry, karena tongkatnya sendiri menolak menyerang Harry dan bahkan tongkat pinjaman dari ayah Malfoy pun tak bisa mengalahkan tongkat Harry. Mereka juga menyusun rencana menyusup ke Gringotts. Griphook mau membantu dengan imbalan pedang Gryffindor.

Chapter 26 : Gringotts
Anak Lupin lahir. Ted namanya. Harry dan kawan-kawan menyusup ke Gringotts. Hermione menyamar jadi Bellatrix, lalu berhasil masuk ke ruang penyimpanan, dan berhasil juga dapat cangkir Hupplepuff itu. Walau ketahuan, mereka berhasil melarikan diri dengan menggunakan naga penjaga Gringotts. Namun kini pedang Gryffindor tak ada, untuk menghancurkan Horcrux keempat ini.

Chapter 27 : The Final Hiding Place
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi ke Hogwarts, karena yakin bahwa Horcrux terakhir, selain Nagini, disimpan di situ. Sampai saat itu, Voldemort belum tahu kalau Horcrux-Horcrux nya sudah separuh dihancurkan.,

Chapter 28 : The Missing Mirror
Ternyata di desa Hogsmeade, si penjaga Hog's Head adalah adik Dumbledore, Aberforth. Dialah yang dilihat Harry di cermin ajaib, yang mengirimkan Dobby membantu mereka. Dari Aberforth, mereka mengetahui kebenaran tentang kisah masa lalu keluarga Dumbledore. Lalu Aberforth juga menunjukkan jalan masuk ke Hogwarts, satu-satunya jalan yang tak dijaga karena tak ada yang tahu. Lalu disini, ternyata Neville sudah menunggu, dan demikian juga puluhan murid Hogwarts lainnya, ada di Ruang Perlengkapan, yang menjadi markas mereka. Semua menyambut kedatangan Harry.

Chapter 29 : The Lost Diadem
Harry akhirnya tahu, Horcrux yang digunakan Voldemort dari Ravenclkaw, tiara yang digunakan Rowena Ravenclaw. Namun tiba-tiba di diserang oleh salah satu guru baru yang Death Eater, Alecto Carrow.

Chapter 30 : The Sacking of Severus Snape
Tapi ternyata serangan itu mengundang keributan, dan akhirnya para guru datang, termasuk Professor McGonagall. Dan guru-guru itu pun merencanakan menjatuhkan Snape. McGonagall berhasil mengalahkan Snape dalam duel, dan Snape melarikan diri. Harry akhirnya berhasil mendapatkan sumber informasi di mana tiara itu berada. Dari hantu Grey Lady yang ternyata mati dibunuh oleh Baron Berdarah, kekasihnya, yang diutus ibunya, Rowena Ravenclaw untuk mengejarnya karena dia mencuri tiara Rowena.
Persiapan perang pun dilakukan. Para anggota Order, dan simpatisan lain berdatangan ke Hogwarts.

Chapter 31 : The Battle of Hogwarts
Sementara itu, ternyata Ron dan Hermione pergi ke ruang rahasia, dan mengambil taring basilisk, dan menghancurkan Horcrux yang mereka pegang. Ron yang membuka pintunya, karena dia belajar sedikit parseltongue sehingga bisa membuka pintu di kamar mandi itu.
Lalu mereka bertiga menuju ruang perengkapan, untuk mencari horcrux tiara Ravenclaw. Ternyata Malfoy, Crabbe dan Goyle sudah ada di situ. Harry berhasil memnemukan tiara tua itu, tapi serangan Crabbe, mengeluarkan mantra Fiendfyre untuk menyerang, namun akhirnya malah mencelakakan dirinya sendiri. Crabbe tewas, namun ternyata mantra terlarang itu berhasil menghancurkan tiara Horcrux. Harry malah menyelamatkan Draco Malfoy dan Goyle.
Sementara itu, Voldemort sudah mengetahui bahwa Horcruxnya sudah pada dihancurkan. Dia sudah tiba di luar Hogwarts, demikian juga para Death Eater. Perang dimulai. Ternyata Percy pun bergabung kembali. Tapi dalam perang ini, Fred terkena serangan dan mati.

Chapter 32 : The Elder Wand
Di Hogwarts, mereka sudah mengumpulkan para korban. Tonks dan Lupin pun berada di antara yang tewas.
Sementara itu, Voldemort sedang berbicara dengan Snape. Dan Harry yang berhasil mengetahui kalau Voldemort ada di Shrieking Shack, menyusup lewat jalur rahasia. Di situ dia melihat bagaimana akhirnya Voldemort menyerang Snape, karena merasa bahwa tongkat yang diambilnya dari kuburan Dumbledore tidak seistimewa seharusnya. Snape dibunuh oleh Voldemort. Namun di akhir hidupnya, Snape berhasil mengeluarkan cairan Pensieve, yang diambil oleh Harry.

Chapter 33 : The Prince's Tale
Kisah Severus Snape. Dari kecil ternyata sudah suka pada Lily. Membelot dari Voldermort setelah Dark Lord itu mengincar Lily. Pada Dumbledore, Snape berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungi Lily, dan setelah Lily mati, dia harus melindungi Harry. Ternyata kematian Dumbledore juga atas permintaan Dumbledore, jadi dia minta agar Snape yang membunuhnya, karena ternyata memang Dumbledore saat itu sudah sekarat, akibat Horcrux cincin yang dipakainya.
Selain itu, kini Harry tahu, kalau dirinya adalah Horcrux ketujuh Voldemort. Dan dia harus mati untuk bisa menghancurkan Horcrux itu. Di situlah dia memutuskan untuk mendatangi Voldemort

Chapter 34 : The Forest Again
Harry datang ke Hutan Terlarang. Sebelumnya, dia sempat memberi pesan terakhir pada Neville, untuk membunuh Nagini. Harry juga akhirnya berhasil membuka Snitch yang diberikan Dumbledore, dan menemukan batu pemanggil orang mati itu. Dia menghadapi Voldemort, didampingi oleh Sirius, Ayah dan Ibunya, dan juga Lupin. Voldemort pun membunuh Harry

Chapter 35 : King's Cross
Harry tiba di suatu tempat yang aneh. Dia bertemu Dumbledore, yang menjelaskan tentang banyak hal. Dumbledore mengatakan, kalau Harry belum mati.

Chapter 36 : The Flaw in the Plan
Harry sadar kembali. Tapi Voldemort dan para Death Eater belum tahu. Sewaktu membunuh Harry, Voldemort kesakitan. Mengira Harry mati, dia menyuruh Hagrid, yang ditawannya, untuk menggendong Harry untuk ditunjukkan pada orang-orang di Hogwarts. Sempat terjadi kepanikan, sewaktu mereka melihat Hagrid berjalan menggendong tubuh Harry. Namun ternyata, Neville masih ingat pesan Harry. Dia mencoba menyerang Nagini yang berada di dekat voldemort, tapi Voldemort menangkapnya, dan mencoba menyuruh Topi Seleksi untuk menyeleksi Neville, namun ternyata yang muncul adalah pedang Gryffindor, yang akhirnya digunakan Neville untuk menghancurkan Nagini. Harry berhasil merebut tongkat Elder, dan mengalahkan Voldemort.
Setelah Voldemort kalah, akhirnya Harry, Hermione dan Ron masuk ke kamar kepala sekolah, bercakap-cakap dengan lukisan Dumbledore. Harry memutuskan tidak menggunakan tongkat Elder, hanya digunakannya untuk memperbaiki tongkat bulu phoenixnya. Dan batu pemanggil orang mati juga sudah dibuangnya di tepi hutan terlarang. Hanya Jubah Ajaib saja yang masih disimpannya.

Nineteen Years Later :

Harry menikah dengan Ginny. Punya 3 anak, James, Albus Severus, dan Lily. Hermione dan Ron juga menikah dan punya dua anak, Rose dan Hugo. Anak Lupin, Ted, pacaran dengan anak Bill & Fleur, Victoire. Draco juga sudah punya anak, Scorpius.

Tuesday, July 31, 2007

Pemakaman Langit



Judul : Pemakaman Langit - Sebuah Kisah Cinta Heroik dari Tibet (Sky Burial)
Pengarang : Xinran, 2004
Penerjemah : Ken Nadya Irawardhani Kartakusuma
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Agustus 2007
Tebal : 284 halaman; 17 x 11 cm


Pemakaman Langit, adalah sebuah ritual pemakaman di Tibet. Saat seseorang meninggal dunia, penduduk Tibet tidak menguburkan jenazah ke dalam tanah, tapi memberikannya kepada para burung pemakan bangkai. Terdengar mengerikan?

Kisah ini sebenarnya adalah kisah Shu Wen, seorang wanita Cina yang mencari suaminya yang hilang dalam tugasnya ke Tibet. Kejun adalah seorang dokter, sama dengan Shu Wen. Bahkan, mereka bertemu di kampus fakultas kedokteran tempat mereka menuntut ilmu.

Baru menikah beberapa minggu, Kejun harus meninggalkan pengantinnya itu dan berangkat ke Tibet. Tak sampai seratus hari sejak hari pernikahan mereka, Shu Wen menerima berita, suaminya sudah tiada. Tak mau mempercayai berita itu begitu saja, ditambah lagi tak ada bukti yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi pada sang suami, Shu Wen membulatkan tekad. Dia bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat, dan berangkat ke Tibet.

Namun di Tibet, baru saja tiba, Shu Wen terpisah dari pasukan. Ditemani seorang wanita Tibet yang bisa berbahasa Cina, yang juga sedang dalam perjalanan mencari seseorang yang dicintainya, mereka akhirnya bertemu dengan sekeluarga nomad Tibet. Keluarga Gela menampung mereka. Di sinilah, Shu Wen mengenal kehidupan nomad Tibet.

Tapi penculikan, kematian, terjadi di masa-masa Shu Wen tinggal bersama mereka. Setelah cukup lama, Shu Wen akhirnya berhasil berkomunikasi dengan orang-orang Tibet itu, dan perjalanan mencari suaminya kembali dimulai. Perjalanan ke kuil-kuil, ke gunung-gunung tertinggi, semua harus dijalani.

Dengan formatnya yang kecil mungil, ternyata kisah yang ada di dalamnya, tak kecil mungil seperti bukunya. Perjuangan Shu Wen mencari cintanya cukup melelahkan, namun tak membuat terengah-engah, walau kita harus mendaki gunung-gunung yang tinggi di wilayah Tibet.

Sama seperti yang dikatakan Q, aku juga baru kali ini membaca tentang Tibet (karena Tintin di Tibet yah gak dihitunglah, hehehehe). Banyak sekali hal-hal unik yang akan kita temukan di sini seperti di kehidupan nomad mereka, cara-cara mereka berkomunikasi, belum lagi besarnya pengaruh religius dalam kehidupan para nomad tersebut, dan juga kebiasaan poliandri.

Pemaparan tentang ritual pemakaman langit juga cukup membuat kita merinding, namun filosofi yang terkandung dalam ritual tersebut, sungguh bukan sesuatu yang kejam. Konsepnya adalah memberi kembali semuanya kepada alam.

Yah, ini memang bukan kisah cinta biasa.

Friday, July 20, 2007

The Boy in The Striped Pyjamas


Judul : Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis (The Boy in The Striped Pyjamas)
Pengarang : John Boyne, 2006
Penerjemah : Rosemary Kesauli
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007
Tebal : 240 halaman; 20 x 13,5 cm

Bruno yang berumur 9 tahun, tinggal di Berlin. Dia sangat menyukai rumahnya di Berlin, bertingkat lima, termasuk lantai bawah tanah dan sebuah ruang kecil di atap. Dia punya tiga orang teman akrab di sekolah, dan mereka telah menyusun banyak rencana untuk liburan mendatang. Akhir-akhir ini keadaan memang semakin menjengkelkan Bruno, tiap malam, semua lampu harus dimatikan, gelap gulita, sungguh membosankan.

Ternyata keadaan semakin buruk. Tiba-tiba mereka harus meninggalkan rumah besar mereka di Berlin, untuk pindah ke sebuah tempat yang namanya pun tak bisa diucapkan Bruno dengan benar. Dan ternyata di sana memang benar-benar membosankan. Bruno harus kehilangan teman-temannya, dan di tempat baru tak ada anak lain yang bisa diajak bermain.

Di hari pertama mereka di tempat itu, Bruno melihat keluar jendela kamarnya. Ternyata dia bisa melihat banyak orang, tapi mereka semua berada di balik pagar. Yang paling aneh, semua orang itu mengenakan piama bergaris-garis. Dan, ada anak-anak juga!

Hanya saja, rumah itu benar-benar membosankan. Hanya tiga tingkat, tak banyak yang bisa dilakukan, tak bisa dijadikan tempat melakukan penjelajahan. Bahkan ke sekolah pun tidak lagi, justru orangtuanya mendatangkan seorang guru untuk mengajari Bruno dan kakaknya.

Hingga suatu hari, saat berjalan-jalan menyusuri pagar, Bruno menemukan sesuatu dalam penjelajahannya itu. Seorang anak laki-laki yang berpakaian piama garis-garis sedang duduk di dekat pagar, merenung sendirian.

Kesepian, tanpa teman, penemuan ini tentu saja sebuah kejutan yang sangat menyenangkan bagi Bruno. Persahabatan keduanya terjalin. Nama anak itu Shmuel, dan ternyata, mereka ulangtahun di tanggal yang sama. Teman seumur! Benar-benar luar biasa. Tapi Bruno masih sulit memahami, mengapa Shmuel selalu terlihat sedih, padahal katanya, di balik pagar, di rumah-rumah beratap rendah yang terlihat dari jendela kamarnya itu, banyak anak-anak lain. Shmuel pasti tak pernah kesepian, tak seperti dirinya yang tak punya teman.

Itu sekelumit cerita tentang Bruno, seorang anak yang terdampar di sisi lain kamp Auschwitz, salah satu kamp konsentrasi paling terkenal di jaman kekuasaan Hitler. Dipandang dari sisi Bruno, kita diajak mengikuti kebingungan seorang anak salah satu pejabat tinggi dalam ketentraan Hitler. Betapa semua hal berubah, dan tak semua dapat dipahaminya dengan baik.
Bersama Bruno, kita juga diajak melihat, dari mata anak-anak, bahkan sebuah pagar yang tinggi dan dingin, tak bisa menghalangi persahabatan. Seorang anak selalu menginginkan teman.

Tuesday, July 17, 2007

The Bartimaeus Trilogy : The Golem's Eye


Judul : Bartimaeus Trilogy - Buku Dua : Mata Golem (The Golem's Eye)
Pengarang : Jonathan Stroud, 2004
Penerjemah : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal : 624 halaman; 20 x 13,5 cm

Di Praha, tahun 1868, pasukan Inggris yang dipimpin oleh Gladstone menyerang Ceko. Bartimaeus ditugaskan oleh masternya, penyihir kerajaan, untuk melindungi Raja dan burung-burung nurinya. Di situlah Bartimaeus menyaksikan kedahsyatan kekuatan yang dimiliki Gladstone, kibasan tongkatnya mampu meluluhlantakkan tembok-tembok kota.

London, 150 tahun kemudian. Nathaniel, si penyihir muda kini sudah berusia 14 tahun. Sudah dua tahun berlalu sejak peristiwa percobaan pengkhianatan oleh Lovelace yang berhasil digagalkannya. Kini Nathaniel tinggal bersama masternya yang baru, Mrs Whitwell, kepala Departemen Pertahanan. Dia juga kini bekerja di Departemen Urusan Dalam Negeri, dan karirnya sungguh luar biasa. Bukan hanya karena perhatian khusus dari Mrs Whitwell dan Perdana Menteri Deveraux, namun juga memang Nathaniel sendiri sangat maju dalam ilmu sihirnya.

Keberhasilannya mengundang rasa iri juga dari banyak pihak. Dia yang begitu muda sudah berhasil mendapatkan begitu banyak perhatian, bahkan atasannya sendiri, dan juga masternya, semua menyimpan rasa tak suka padanya.

Sementara itu, Resistance, sekelompok Commoner yang berusaha menjatuhkan para penyihir, sedang melakukan berbagai aksi mereka. Pencurian benda-benda sihir, grafiti yang menghina pemerintahan penyihir, itulah aksi mereka.

Kitty, seorang gadis remaja yang tergabung dengan Resistance, pada awalnya hanyalah seorang gadis commoner biasa. Namun ternyata dia punya keistimewaan, yang suatu hari dikenali oleh Mr Pennyfeather, sang pemilik toko seni yang menjadi pemimpin Resistance.

Saat itu, ditengah berbagai aksi Resistance, tiba-tiba muncul suatu aksi pengerusakan yang cukup luar biasa. Para Menteri menyalahkan Resistance, namun Nathaniel tak yakin itu dilakukan oleh mereka.

Kecurigaaannya akhirnya dibuktikan oleh Bartimaeus, yang dipanggilnya untuk membantu. Ada golem, mahkluk ciptaan penyihir, yang sudah tak pernah ada lagi sejak penyerbuan Inggris ke Praha. Banyak yang tak percaya dan mencemooh analisa Nathaniel. Bahkan kunjungannya ke Praha pun tak mampu meyakinkan mereka. Malah dia dituduh berkhianat.

Kisah Nathaniel dan si jin super sombong dan tinggi hati, Bartimaeus berlanjut kembali. Dua tahun sudah berlalu sejak Nathaniel membebaskan Bartimaeus sebelum dia memanggilnya kembali. Banyak perubahan terjadi, termasuk karakter Nathaniel.

Di sini juga kita akan mengenal lebih jauh pihak Resistance. Beberapa tokoh kecil di buku pertama juga akan muncul disini. Walau latar belakang beberapa tokoh kecil di buku pertama sudah diungkapkan disini, hingga akhir, masih akan kita temui beberapa misteri yang mungkin baru akan kita dapatkan jawabannya di buku ketiga (walau sebenarnya sih.... aku sudah bisa menduga-duga... hehehehe).

Bartimaeus sendiri, tetap memiliki karakter yang sangat tinggi hati, selalu menganggap rendah jenis demon lain dari tingkat yang lebih rendah, dan juga hubungan penyihir-demon, dan penyihir-manusia. Tapi sebenarnya, walau dia berusaha menyangkalnya, dia tertarik sekali pada beberapa penyihir dan manusia, seperti Nathaniel dan Kitty. Lucu banget kog, membaca bagaimana si Bartimaeus berusaha meyakinkan dirinya kalau dia tak perduli sama sekali pada masternya. Namun tak urung dia tak bisa menahan diri untuk menasihati Kitty.

Satu adegan yang paling aku suka adalah sewaktu Bartimaeus harus mengejar afrid penjaga kuburan Gladstone. Waktu dia mendatangi dua imp ketakutan, dan kedua imp itu berusaha sembunyi di balik yang lain, aduh, benar-benar lucu. Komentar-komentar Bartimaeus, ditambah percakapan dengan para imp dan si afrid, benar-benar akan membuat kita terpingkal-pingkal.

Selain kocak, jangan salah! Di sini kita juga akan diajak berpacu mengikuti intrik-intrik politis yang terjadi di baik di dalam pemerintahan Inggris versi penyihir maupun intrik-intrik hubungan internasional. Juga kisah-kisah pembalasan dendam yang berakhir dengan kematian. Juga ada kisah ketidakadilan, si lemah melawan si kuat, walau yang kuat yang bersalah, namun yang lemah tetap kalah. Yah, ramuan fantasi yang sangat meriah!

Monday, July 09, 2007

Middlesex


Judul : Middlesex (Pencarian Jati Diri Seorang Manusia Berkelamin Ganda)
Pengarang : Jeffrey Eugenides, 2002
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Serambi, Juni 2007
Tebal : 810 halaman; 23 x 15 cm

Ini cerita tentang seorang manusia, terlahir sebagai Calliope Stephanides, seorang bayi perempuan yang manis, dan menjadi dewasa sebagai Cal Stephanides, seorang pria. Hermaphrodite, itu istilah yang sering dipergunakan, manusia berkelamin ganda.

Cal, menceritakan kisah hidupnya, dan asal-usul kelainan genetis yang dialaminya. Mutasi resesif kromosom kelima. Mutasi gen yang menyebabkan alat kelaminnya yang sejati tidak terbentuk sempurna. Kisah yang dilatari oleh pelarian kakek dan neneknya, Lefty dan Desdemona Stephanides. Kekisruhan akibat serangan pasukan Turki ke wilayah Yunani, menyebabkan mereka harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, dan bermigrasi ke Amerika.

Di Amerika, mereka ditampung oleh sepupu mereka, Sourmelina Zizmo, si lesbian yang dinikahkan orangtuanya dengan pria asing di Amerika, karena tak ada pemuda di kampung mereka yang mau menikahinya karena reputasinya itu. Lefty, awalnya bekerja sebagai pegawai di pabrik mobil di Detroit, namun karena reputasi Jimmy Zizmo, iparnya, yang tak terlalu bersih, dia tak bisa bertahan lama. Akhirnya Lefty malah ikut Jimmy melakukan bisnisnya. Di masa-masa itulah, kedua keluarga ini akhirnya punya anak. Namun anehnya, Jimmy meninggal dalam kecelakaan, stress karena curiga dengan masa lalu istrinya, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung. Namun mayatnya tak pernah ditemukan. Lefty dan Desdemona sendiri punya dua orang anak, Milton dan Zoe.

Sepeninggal Jimmy, Lefty membuka Zebra Room, tempat minum-minum. Anak-anaknya semakin dewasa, dan menikah. Dari Milton, lahirlah Calliope. Sewaktu Tessie, ibu Calliope, mengandung, Desdemona membuat ramalan bahwa bayinya laki-laki. Ramalan Desdemona, menggunakan sendok perak yang disimpannya di Kotak Ulat Sutra, selama ini terbukti akurat, kecuali pada kasus Calliope. Dia terlahir sebagai perempuan! Karena sang dokter yang sudah tua dan mulai rabun, tak terlalu teliti sewaktu memeriksa jenis kelaminnya pada waktu kelahirannya.

Dibesarkan sebagai perempuan, awalnya Calliope tak merasa ada yang salah dengan dirinya. Ayahnya, Milton, melanjutkan mengelola Zebra Room, mengubahnya menjadi restoran franchise hot dog, yang punya outlet di berbagai tempat. Perbaikan ekonomi keluarga membawa mereka pindah ke Middlesex, sebuah rumah berbentuk tak lazim, tempat Calliope tumbuh hingga remaja.

Sebagai remaja, keanehan mulai terlihat, tubuhnya tetap kurus, dan dia tak kunjung mendapat haid. Tapi dia berhasil menutupinya. Hanya saja, dia sendiri sudah mulai merasa ketertarikan pada teman sekelasnya. Hingga pada suatu liburan musim panas, saat berlibur bersama keluarga temannya ini, sebuah kecelakaan akhirnya mengungkapkan jati diri Calliope, yang selama ini tak diketahui siapa pun, bahkan dirinya sendiri.

Bersama ayah dan ibunya, dia harus terbang ke New York, bertemu dokter spesialis, dimana dia diputuskan harus menjalani operasi agar bisa hidup sebagai perempuan. Namun Calliope tak bisa menerima keputusan dokter dan orangtuanya itu.

Cerita ini disampaikan dari sudut pandang Calliope, yang saat bercerita, sudah berusia lebih 40 tahun, bekerja sebagai seorang pegawai departemen luar negeri, yang harus berpindah-pindah ke berbagai negara. Hidup sebagai seorang lelaki, namun tak pernah berani menjalani hubungan cinta yang serius, semua itu dikarenakan identitas kelaminnya yang membingungkan.

Incest, perdagangan gelap alkohol, penipuan, jatuh bangun bisnis, pengalaman-pengalaman seksual remaja, analisa medis, semua akan kita temui dalam novel setebal 800 halaman lebih ini. Tapi itu semua disajikan dengan kalimat-kalimat yang ringan dan terasa mengelitik, disana sini diselingi berbagai istilah yang sedikit ilmiah. Kita sering diajak kembali ke kisah hidup Cal Stephanides sebagai seorang dewasa, di antara kisah masa lalu keluarganya dari masa nenek dan kakeknya hingga ke ayah dan ibunya, kisahnya sendiri di masa kecil dan remaja.

Kita juga akan diajak menikmati cara hidup para migran Yunani, dimana kebiasaan-kebiasaan dari pulau asal mereka tetap mereka jalankan. Aroma kekeluargaan yang kental mewarnai kehidupan sosial mereka, juga segala mitos-mitos seputar kehidupan sehari-hari, dari kelahiran, perkawinan dan kematian. Lalu juga makanan-makanan yang beraroma minyak zaitun, sayur-sayuran dan ikan. Diet Yunani yang sehat. Mungkin inilah sebabnya orang Yunani seperti Yia-Yia berumur panjang. Sebuah cerita tiga generasi migran Yunani yang menyenangkan!

Saturday, July 07, 2007

Mitsuko

Judul : Mitsuko (Little Sister)
Pengarang : Kara Dalkey, 1996
Penerjemah : Mohammad H
Penerbit : Matahati, Juni 2007
Tebal : 245 halaman; 19 x 12,5 cm

Mitsuko, si Genangan Kecil, anak keempat keluarga bangsawan dari klan Fujiwara. Sebagai putri dari keluarga yang dekat dengan lingkungan istana Kaisar, Mitsuko juga menjalani hidup yang sangat tertutup dari dunia luar. Kehidupannya hanya berkisar menjalani hari-hari dengan membuat puisi, bermain musik, dan berdandan.

Hingga di usianya yang ke tigabelas, serangan dari para biarawan Gunung Hiei mengacaukan hidupnya. Di perjalanan mengungsi, rombongan keluarga Mitsuko diserang. Suami kakaknya terbunuh, dan kakaknya syok berat. Tiba di rumah persembunyian, ternyata yang ditemukan adalah tempat yang sangat buruk, sangat tidak sesuai bagi keluarga bangsawan seperti mereka.

Di dekat situ ada Lord Tsubushima, yang diam-diam ingin menguasai keluarga yang sedang tidak ditemani oleh kepala keluarga itu. Hingga saat kebutuhan hidup begitu mendesak, ibu Mitsuko tak bisa menolak lagi, dan harus mengungsi ke kastil Lord Tsubushima, dengan resiko harus menikahkan anak-anaknya dengan anak-anak bangsawan yang lebih rendah kedudukannya dari mereka itu. Tapi, Mitsuko tidak ikut, dia malah pergi melarikan diri bersama kakaknya yang masih syok dan tak bisa apa-apa itu. Dalam pelariannya, dia bertemu dengan tengu Gurano, dan dibawa ke desa para tengu.

Mitsuko pun pergi bersama Gurano, berusaha mencari tahu dimana roh Yugiri, suami kakak Mitsuko. Mitsuko menyangka, kalau dia menemukan roh Yugiri, dia bisa memintanya untuk membujuk roh kakaknya agar kembali ke tubuhnya. Gurano membawa Mitsuko ke raja Naga Laut, namun sang Naga tak mempunyai jawabannya. Lalu mereka harus menemui Dewa Emma-o, tempat di mana seharusnya tak ada manusia yang masih hidup boleh datang. Tapi tetap saja, semua itu sia-sia, hingga Mitsuko akhirnya bertemu Miroku, sang Buddha Masa Depan, yang memberinya nasihat yang sangat berharga.

Setelah melalui berbagai petualangan, kisah ini berakhir bahagia. Eh, bahagia? benarkah? Apakah hidup terkungkung kembali sebagai putri bangsawan, setelah mengalami petualangan luar biasa, menikmati perjalanan melihat berbagai daerah dari atas seperti burung, akan menjadi akhir yang bahagia? Atau ada pilihan lain?

Terus terang, buku ini lumayan membuat aku bingung. Bingung karena gak bisa menentukan, harus men-set mood seperti apa bacanya. Karena untuk jenis cerita fantasi, kayaknya terlalu datar. Dan juga di bagian akhirnya ada satu bagian yang sangat dipaksakan, untuk menghilangkan konflik. Selain itu, agak sulit juga awalnya untuk membayangkan bahwa ini adalah sebuah cerita fantasi, karena kalimat-kalimat puitis yang banyak kita temui di sini, tak terlalu lazim ditemui dalam sebuah cerita fantasi. Tapi setelah hampir separuh cerita, entah kenapa, kog aku jadi terbayang aura Spirited Away yah? Padahal kan ini bukan perjalanan ke dunia lain, atau perjalanan menembus waktu, tapi mungkin karena ada hubungannya dengan roh-roh dan tokoh-tokoh mistis Jepang.

Begitu pun, selain ceritanya, di sini kita juga diajak kembali ke Jepang di sekitar tahun 1100, dimana kehidupan masa itu cukup berbeda dengan Jepang yang sekarang, bahkan dengan sejarah Jepang yang umum diketahui orang. Waktu itu belum ada shogun, belum ada sushi, dan para wanita masih harus berada di balik 'shoji' dan tak boleh bercakap-cakap dengan orang di bawah kelas mereka, gadis-gadis menikah di usia 12 tahun.

Yang pasti, cover depannya cantik, warnanya lembut banget, manis!

Kara Dalkey sendiri sudah banyak menulis novel, yang umumnya bertema fantasi dengan unsur-unsur sejarah. Ini adalah salah satu novelnya yang bertema Jepang, dan ada satu novel lagi dengan tokoh Mitsuko. Salah satu bukunya, yang berjudul The Nightingale, menjadi bagian dari The Fairy Tale Series yang diedit oleh Jane Yolen (pengarang Trilogi Merlin).

Wednesday, July 04, 2007

ABARAT : Days of Magic, Nights of War


Judul : Abarat - Siang-Siang Magis, Malam-Malam Peperangan (Days of Magic, Nights of War)
Pengarang : Clive Barker, 2004
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal : 508 halaman; 23 x 14,5 cm

Setelah berhasil melarikan diri dari penyihir Wolfswinkel di pulau Ninnyhammer, Candy dan Malingo kini berjalan-jalan di kepulauan Abarat, berusaha melarikan diri dari kejaran anak buah sang penguasa tengah malam, Christopher Carrion.

Di pulau Huffaker, pulau jam 9 malam, Criss-cross Man beserta beberapa pasukan lumpur milik Carrion, berhasil menemukan Candy dan Malingo, namun keduanya berhasil juga meloloskan diri dan terjun ke laut Izabella. Di laut mereka ditolong oleh sebuah perahu penangkap ikan dari Effret.

Dalam perjalanan, mereka diserang sekelompok Zethek yang ingin mencuri ikan tangkapan para nelayan itu, dan disinilah Candy entah dari mana bisa mengeluarkan sihir yang akhirnya berhasil menolong mereka.

Dari situ, mereka ke pulau Babilonium, pulau jam enam sore yang selalu terang benderang karena karnaval yang berlangsung terus-menerus. Di sini, Candy dan Malingo menyaksikan sebuah pertunjukan komedi, yang bercerita tentang pelarian mereka dari si penyihir Wolfswinkel, yang entah bagaimana bisa tersiar ke seluruh Abarat.

Tapi, ternyata Criss-cross Man berhasil menemukan Candy, dan akhirnya membuatnya terpisah dari Malingo. Candy malah terbawa ke pulau jam tujuh sore, Scoriae. Di sini, dia menemukan bekas istana senja milik Raja Claus dari Pulau Siang. Dan disini juga, Candy berhasil mengalahkan Criss-cross Man dengan sihir yang lagi-lagi tak pernah dia tahu dimilikinya.

Sementara itu, Christopher Carrion sendiri juga punya rencana untuk menguasai kepulauan Abarat dengan kegelapan. Rencana kelam, yang hanya diganggu oleh bayang-bayang Candy yang entah bagaimana membuatnya resah. Sesuatu mengingatkannya pada kisah cinta lamanya pada Putri Boa, yang tak membalas cinta Christopher. Putri Boa yang sudah mati dimakan naga utusan Christopher Carrion pada hari pernikahannya dengan Finnegan, kekasihnya.

Keresahan Christopher ini diketahui juga oleh neneknya, Mater Motley, wanita tua yang jahat luar biasa, si pencipta pasukan lumpur. Mater Motley mencari cara sendiri untuk mengenyahkan Candy.

Malingo, setelah terpisah dari Candy, akhirnya bertemu dengan John Mischief, yang tak sengaja tergabung dengan kelompok yang sedang mencari Finnegan.

Akhirnya mereka semua dipertemukan dalam suatu pertempuran, yang membawa Laut Izabella kembali ke Hereafter, dunia nyata tempat asal Candy. Kota Chickentown diserbu gelombang pasang!

Pertempuran antara kelompok Candy dan kelompok Carrion, akhirnya dimenangkan oleh Candy, walau dia akhirnya harus meninggalkan keluarganya, dan kembali ke Abarat. Namun Mater Motley belum kalah, walau Christopher Carrion sudah berhasil dilenyapkan, namun benarkah?

Setelah menunggu cukup lama dan sabar (3 tahun), dengan perjuangan menahan godaan untuk beli edisi bahasa inggrisnya, hehehe, akhirnya terbit juga buku kedua ini. Di buku kedua ini, kita mulai mengetahui, apa yang membawa Candy ke Abarat. Juga lebih banyak cerita tentang keluarga Candy, ibunya, ayah, dan adik-adiknya.

Juga di sini kita akan mengetahui dari mana asalnya Candy bisa memiliki kekuatan sihir, dan mengapa penduduk Chickentown memang pernah mencium aroma laut, walaupun berlokasi ratusan mil dari pinggir pantai.

Seperti di buku pertama, kita juga masih akan menemukan banyak ilustrasi berwarna yang dibuat oleh Clive Barker, yang membawa kita semakin masuk ke dunia Abarat yang eksotis dan misterius.

Monday, July 02, 2007

ABARAT



Judul : Abarat
Pengarang : Clive Barker, 2002
Penerjemah : Sutanty Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2003
Tebal : 440 halaman; 23 x 14,5 cm

Candy Quackenbush tinggal Di sebuah kota kecil di negara bagian Minnesota, kota bernama Chickentown. Kota yang sangat membosankan, yang dihuni oleh lebih banyak ayam daripada manusia. Ayahnya seorang pengangguran pemabuk, hidup sungguh membosankan bagi Candy.

Suatu hari, gurunya memberi tugas untuk menulis 10 fakta tentang kota tempat tinggalnya itu. Mencoba mencari di perpustakaan, yang ditemukan Candy hanya data-data membosankan tentang jumlah penduduk dan industri peternakan ayamnya. Candy memutuskan bertanya pada ibunya, yang memberinya ide untuk bertanya lagi pada Norma, yang bekerja di sebuah hotel di kota itu.

Dari Norma, dia mengetahui ada sejarah yang tak diungkapkan, kota itu bernama kota Murkitt, dari nama pendirinya, namun beberapa puluh tahun yang lalu nama itu diganti, dan keturunan terakhir sang pendiri mati bunuh diri di hotel tersebut.

Karya tulis Candy membuat gurunya marah, dan Candy dihukum ke ruangan kepala sekolah, namun Candy malah melarikan diri dan akhirnya berjalan hingga ke sebuah padang rumput di batas kota.

Di sinilah petualangan Candy dimulai, tiba-tiba saja dia bertemu John Mischief dan ketujuh saudaranya yang tinggal di kepalanya. John Mischief sedang dikejar-kejar oleh Shape, dan minta bantuan Candy untuk menyalakan lampu suar. Candy berhasil! Walau dia sendiri terheran-heran, bagaimana dia bisa merasa begitu familiar dengan semua ini. Dan LAUT! Laut tiba-tiba muncul di padang rumput itu.

Itulah Laut Izabella, yang membawanya ke kepulauan Abarat. Kepulauan di mana setiap jam memiliki pulaunya sendiri, atau kebalikannya, setiap pulau memiliki jamnya masing-masing.

Berawal dari Pulau Yebba Dim Day, pulau Jam Delapan Malam. Sang penguasa tengah malam, Christopher Carrion, yang mengutus Shape untuk mengejar John Mischief dan saudara-saudaranya, mengetahui tentang keberadaan Candy. Dia mulai menyuruh orang-orangnya mengejar dan mengangkap Candy.

Candy pun harus melarikan diri. Selalu saja ada pertolongan menyelamatkan Candy. Hingga akhirnya dia tiba di pulau Ninnyhammer, tempat si penyihir Wolfswinker, dan bertemu Malingo, budak si penyihir yang dibantu Candy melarikan diri.

Buku ini mengawali kisah di kepulauan Abarat, yang direncanakan akan menjadi 4 buku oleh penulis. Hingga sekarang, baru buku kedua yang sudah terbit.

Di buku pertama ini, kita diajak berkenalan dengan kepulauan ajaib tersebut. Dunia di mana bahkan konstelasi bintang-bintangnya pun berbeda dengan di dunia nyata. Setiap pulau punya jam masing-masing, yang tak pernah berubah. Lalu ada lagi satu pulau istimewa, pulau jam ke dua puluh lima, pulau misterius yang selalu diselubungi kabut, tempat aneh, yang konon orang yang ke sana, kalaupun berhasil kembali, tak lagi cukup waras untuk bisa menceritakan seperti apa di sana. Berbagai jenis makhluk yang tak bisa disebutkan jenisnya menjadi penghuni kepulauan tersebut.

Pertama kali sih, memang tertarik karena gambar sampul yang begitu mencolok, yang juga akan kita temukan di dalam buku ini. Sepanjang cerita, kita akan ditemani oleh ilustrasi-ilustrasi yang dilukis sendiri oleh Clive Barker. Menurutnya, dia sudah membuat 300 ilustrasi untuk melengkapi cerita Abarat, dan 100-an lukisan tersebut akan kita nikmati dalam buku pertama ini.

Bagi yang suka cerita fantasi, buku ini tentu saja sayang sekali untuk dilewatkan.

Wednesday, June 27, 2007

Darren Shan #9 : Pembunuh Fajar

Judul : Pembunuh Fajar (Killers of the Dawn)
Pengarang : Darren Shan (c) 2003
Alih bahasa : Dharmawati
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (Juni 2007)
Tebal : 192 halaman; 20 x 13,5 cm

Darren, Mr Crepsley, dan Vancha March, tiga vampir utusan klan Vampir, bersama Harkat Mulds, terjebak! Mereka dikelabui oleh Steve Leopard, sahabat masa kecil Darren. Kini mereka sudah dikelilingi oleh para Vampaneze dan manusia Vampet yang tak mengenal kode etik vampir.

Begitu pun, di kubu Darren dan kawan-kawan, mereka sekarang menahan Steve, walau kekasih Darren, Debbie sekarang ditawan oleh Gannen Harst, adik Vancha March yang menjadi vampaneze.

Ketiga vampir, beserta Harkat Mulds akhirnya berhasil meloloskan diri dari terowongan itu, dan kembali ke apartemen untuk beristirahat. Namun, ternyata Steve yang sangat licik sudah menyediakan kejutan lain buat mereka. Gedung itu dikepung polisi! Tak ada cara lain, saat berusaha melarikan diri, kaki Mr Crepsley terkilir. Akhirnya hanya Vancha March yang berhasil meloloskan diri. Yang lain memilih menyerahkan diri, untuk kemudian melarikan diri lagi.

Akhirnya para vampir tersebut kembali bertemu dengan Penguasa Vampaneze. Pertarungan tak terelakkan. Darren hampir saja berduel dengan Penguasa Vampaneze, namun nasib memang tak bisa dipungkiri. Mr Crepsley akhirnya yang harus bertarung dengan musuh, dan berhasil mengalahkannya. Penguasa Vampeneze kalah! Benarkah?

Ini adalah buku ke 9 dari seri Darren Shan sang pangeran vampir (untuk buku-buku sebelumnya, yang pernah aku tulis hanya buku 7 dan buku 8). Fiuh, berarti tinggal 3 buku lagi buat ditunggu... (tolong... aku memang kecanduan buku-buku berseri-seri, hehehehe!) Lumayan capek juga menunggu. Dari buku 7 ke buku 8, perlu waktu 6 bulan. Lalu dari buku 8 ke buku 9 ini, hm, tak kalah lama, aku harus tunggu 7 bulan! Kalau dirata-ratakan satu buku 6 bulan, berarti..... harus tunggu 1 setengah tahun lagi baru akhirnya buku ini selesai! hiks.. hiks.. hiks.. lama.....

Di buku 9 ini, ada yang sedikit terasa berbeda dari cerita-cerita sebelumnya. Entah kenapa, di sini rasanya kog terlalu banyak ketegangan. Darren dan kelompoknya gak habis-habisnya tertangkap, lari... tertangkap lagi... melarikan diri lagi, terus bertempur tak habis-habisnya. Huh, melelahkan, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Cerita ini diakhiri oleh kejadian yang lumayan menyedihkan, hiks.. hiks... aku kehilangan salah satu tokoh kesayanganku. Tapi ternyata, dugaan di buku sebelumnya, akhirnya terbukti benar! Sialan, hehehehehehehe

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP