Sherlock Holmes, Misteri Tak Terpecahkan
Judul : Sherlock Holmes, Misteri Tak Terpecahkan (A Slight Trick of The Mind)
Pengarang : Mitch Cullin, 2005
Penerjemah : Rika Iffati Farihah
Penerbit : Voila Books (Penerbit Hikmah), 2007
Tebal : 511 halaman; 17 x 11 cm
Mendengar nama Sherlock Holmes, pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok seorang detektif cerdas yang legendaris, dengan topi dan pipa yang menjadi ciri khasnya.
Namun, buku ini bukan cerita si detektif memecahkan atau tak berhasil memecahkan sebuah misteri. Ini adalah kisah kehidupan masa tua sang detektif, saat dia sudah berumur 93 tahun, pensiun dan tinggal di sebuah rumah pertanian dan memelihara peternakan lebah. Holmes yang sudah tua, sudah pikun, dan terserang radang sendi, dan gampang marah.
Saat ini, di tahun 1947, dia tinggal bersama seorang pengurus rumah, Mrs Munro, dan anak lelaki Mrs Munro, Roger. Mrs Munro adalah pengurus rumah, yang ntah keberapa, sebelumnya tak pernah ada yang bisa bertahan. Awalnya, Holmes pun tak mau menerima kehadiran Roger, namun Mrs Munro memohon dan berusaha meyakinkannya bahwa Roger tak akan membuat keributan ataupun kesulitan apa-apa.
Dalam buku ini, ada beberapa cerita yang akan kita temui, disampaikan berganti-gantian. Salah satunya adalah kunjungan Holmes ke Jepang, atas undangan seorang pria kaya pengagumnya, sesama penggemar lebah dan dengan iming-iming untuk melihat tanaman Prickly Ash. Namun sesampainya di Jepang, ternyata sang pengundang mempunyai agenda tersembunyi lain, yang baru disadari Holmes kemudian.
Sementara itu, Roger sendiri sudah menemukan sebuah naskah tulisan Holmes tentang suatu kasus lamanya, kasus seorang istri yang menjadi aneh setelah kematian anaknya, yang melibatkan armonika dan buku-buku, dan taman botanikal. Sesuatu yang memancing ketertarikan Holmes akhirnya pada lebah dan dunia mereka yang eksotis.
Hubungan Holmes dan Roger juga membaik seiring dengan berlalunya waktu. Holmes pelan-pelan menyadari bahwa Roger anak yang menyenangkan. Roger memiliki banyak minat yang sama dengan Holmes, terutama dalam peternakan lebah. Roger sangat bersemangat mempelajari kehidupan lebah-lebah itu. Roger juga sangat mengagumi Holmes.
Hingga suatu hari, Holmes akhirnya patah hati lagi...
Seperti di awal sudah aku ceritakan, ini bukan cerita detektif. Di sini kita akan diajak melihat sesosok manusia di usia yang sudah sangat renta, di saat penyakit sudah mulai menyerang, hidup sendirian dan kesepian. Pikiran-pikirannya sering campur aduk, mulai sulit mengingat hal-hal sederhana ternyata sangat menyakitkan, di mana ingatan akan masa lalu entah mengapa terasa sangat dekat dan detail. Sebuah cerita yang sangat manusiawi.
4 comments:
patah hati lagi? patah hati sama siapa dia bo? *penasaran*
di sini si Holmes kan patah hati dua kali, aduh, kasiaaannnnn....
hiks.. hiks....
aku gak mo bilang ah sama siapa, baca aja sendiri, hue he he he eh eh^.^
ya..... pinjem sini bukunya pinjem
mo pinjem? boleh.... boleh....
silahkan ambil ke medan, hua ha ha ha
Post a Comment