Showing posts with label historical. Show all posts
Showing posts with label historical. Show all posts

Tuesday, September 11, 2007

Gadis Serigala


Judul : Gadis Serigala (Wolf Girl)
Pengarang : Theresa Tomlinson, 2006
Penerjemah : Ferry Halim
Penerbit : Penerbit Atria (Serambi), Juli 2007
Tebal : 486 halaman; 13 x 20,5 cm

Ini cerita tentang Wulfrun, seorang gadis berusia 11 tahun, anak seorang janda penenun bernama Cwen, yang tinggal di dekat Biara Whitby. Kehidupannya berjalan biasa-biasa saja, kecuali, ada satu rahasia yang disimpannya. Dia tak sengaja menemukan bilik rahasia dalam sebuah peti milik ibunya, dan di situ tersimpan seuntai kalung mewah. Diam-diam Wulfrun suka mengenakan kalung tersebut dan berkhayal.

Sayang sekali, suatu hari, saat sedang mematut-matut diri mengenakan kalung tersebut, adiknya, Gode, lari bersama angsa-angsa mereka. Karena hendak mengejar Gode, Wulfrun tak sempat melepaskan kalung itu, dan di sinilah awal bencana itu. Irminburgh, seorang kerabat raja yang saat itu dijadikan pengawas Elfled, putri sang raja yang diserahkan ke biara, menangkap basah Wulfrun dan kalung itu. Akibatnya, Cwen, ibu Wulfrun, yang dituduh telah melakukan pencurian.

Ternyata, bantuan datang dari orang yang tak terduga. Awalnya, Fridgyth si ahli ramuan dan tanaman obat datang menemani Wulfrun, dan memberinya nasihat yang menguatkannya. Dan ramalan runes yang dilakukan Fridgyth terbukti.

Elfled-lah yang menyelamatkan ibu Wulfrun, karena entah mengapa, Irminburgh begitu ingin segera menghukum Cwen. Wulfrun pun harus berusaha mencari tahu, dari mana asal kalung itu. Perkenalannya dengan Elfled yang sedikit aneh itu akhirnya memberi akses yang tak terduga bagi Wulfrun. Dia pun bisa menikmati pelajaran membaca dan menulis, bahkan berkuda. Dan berkat itu juga, dengan bantuan Elfled dan Adfrith, si calon biarawan yang ditugaskan mengajar Elfled, Wulfrun sedikit demi sedikit menemukan jejak-jejak yang membantunya mencari tahu dari mana kalung itu berasal.

Bersama seorang teman lagi, Cadmon, mereka bahkan akhirnya menempuh perjalanan luar biasa, untuk mencapai Barmburgh, istana tempat ayah dan ibu Elfled, dan juga Ibu Hild, si kepala biara, yang berhak mengambil keputusan atas nasib Cwen. Juga, ada sebuah rencana pemberontakan yang tak sengaja diketahui oleh Elfled dan Wulfrun. Dalam perjalanan itu pun, banyak lagi kejutan yang mereka dapatkan.

Pertama yang pasti akan kita perhatikan di buku ini adalah nama-nama para tokoh yang agak tidak familiar didengar, seperti Wulfrun, Fridgyth, Cwen, Elfled, ratu Ianfleda, dan lainnya. Ini karena memang kisah ini berlatarbelakang era Anglo-Saxon (sekitar abad ke 5-9). Sebagian tokoh dalam cerita ini memang ada tercatat dalam sejarah.

Yang aku sukai adalah karakter-karakter di cerita ini. Anak-anaknya menarik, apalagi Wulfrun dan Elfled. Dua anak yang sebaya, tapi berbeda latar belakang. Keberanian Wulfrun, yang mungkin juga karena kepolosannya, justru tampak sangat menarik bagi Elfled, si gadis kecil yang kesepian itu.

Bagian yang paling aku sukai adalah, sewaktu Wulfrun pertama kali membantu Elfled dalam pelajaran menulisnya. Ternyata, kondisi Wulfrun yang hidup tak terlalu berkecukupan itu, sehingga dia harus banyak membantu ibunya, malah menjadikannya lebih dewasa, bahkan akhirnya dia yang bisa membantu menemukan cara agar Elfled mau belajar dan tidak terlalu memberontak seperti sebelumnya.

Sebuah kisah yang indah, dengan akhir yang menyenangkan.

Friday, August 24, 2007

GLONGGONG



Judul : Glonggong
Pengarang : Junaedi Setiyono
Penerbit : Penerbit Serambi, 2007
Tebal : 293 halaman; 20,5 x 13 cm


Dia dilahirkan sebagai seorang anak bangsawan, seorang bungsu. Kedua kakaknya dibesarkan oleh kerabat mereka. Ayahnya tak kembali lagi setelah sebuah usaha menentang Belanda. Waktu itu dia masih sangat kecil. Lalu ibunya menikah lagi dengan seorang bangsawan.

Walau berasal dari keluarga bangsawan, namun dia lebih sering bermain dengan anak-anak kampung. Glonggong adalah permainan yang sangat disukai, bermain pedang-pedangan menggunakan tangkai pepaya. Awalnya memang dia bukan pemain yang bagus, namun sejalan waktu dan seringnya bermain, dia menjadi semakin tangguh. Lama-lama dia dipanggil Glonggong.

Sementara itu, ibunya semakin hari semakin aneh. Sering mengurung diri di kamar dan menembang. Dari ibunyalah, Glonggong pertama kali mengenal aksara Jawa. Lalu, persahabatannya dengan Suta dan keluarganya, juga memperkenalkan Glonggong dengan AlQuran dan aksara Arab.

Namun ayah tirinya, Raden Suwanda, lama kelamaan tak tahan melihat ibu Glonggong yang semakin lama semakin parah kondisinya, kawin lagi dan mengusir Glonggong dan ibunya. Sendirian dia harus merawat ibunya, dari mulai memberi makan, bahkan memandikan ibunya. Hingga suatu hari dia terpikir membawa ibunya ke sebuah sendang yang dia tahu disukai ibunya. Dan disitulah dia berkenalan dengan Endang, yang ternyata anak tiri Raden Suwanda. Dia juga bertemu kembali dengan Surya, musuh masa kanak-kanaknya.

Tapi ternyata penderitaan Glonggong masih terus berlanjut. Suatu hari, rumah tempatnya tinggal bersama ibunya terbakar. Di sinilah sang ibu tak tahan lagi dan meninggal. Glonggong kini sebatang kara.

Dia lalu bekerja di Puri Pringgawinatan, menjadi tukang kebun, dan disinilah dia mulai belajar bahasa Belanda dan huruf Latin. Dalam hatinya, Glonggong ingin membantu laskar Dipanegaran. Pada awalnya, Den Mas Pringgan yang dilayaninya memang berpihak pada pasukan tersebut. Namun ternyata hal tersebut tak berlangsung lama.

Cerita terus berlanjut, Glonggong pun akhirnya benar-benar bergabung dengan pasukan Dipanegaran, dan di dari sinilah dia akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kedua kakaknya dan ayahnya.

Ini adalah sebuah novel tentang kisah seorang pemuda yang besar di masa perang Diponegoro. Yah, aku sih gak terlalu mengerti detil-detil sejarah seputar masa-masa tersebut. Namun hal itu tak menggangguku untuk menikmati kisah Glonggong ini. Yang pasti, aku suka dengan karakter Glonggong, seorang pemuda yang sederhana dengan rasa keadilan yang tinggi. Ceritanya juga gak rumit. Walau di sana sini terdapat kata-kata dalam bahasa Jawa halus, namun dengan bantuan glosari di bagian belakang buku, tak mengganggu kelancaran jalan cerita.

Tuesday, June 19, 2007

Memoar Hadrianus


Judul : Memoar Hadrianus (Memoires d'Hadrien)
Pengarang : Marguerite Yourcenar (1958)
Penerjemah : Apsanti Djokosujatno
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia (Januari 2007)
Tebal : xii + 385 halaman; 20 x 13,5 cm

Hadrianus adalah kaisar Romawi, yang memerintah di abad kedua (117-138). Dilahirkan di Italica, di wilayah Spanyol, mempunyai hubungan kekerabatan dengan Trayanus, Kaisar Romawi sebelumnya, yang membawanya ke tampuk pemerintahan kekaisaran Romawi.

Buku ini membawa kita mengenal siapa Hadrianus, yang terus terang saja, bagiku pribadi sih, sebuah nama yang sebelum ini tak pernah kudengar. Dia tak setenar Julius Caesar, Kaisar Agustus ataupun Nero. Hadrianus, memang tak melakukan tindakan-tindakan ekstrim sebagaimana kebanyakan para kaisar-kaisar Romawi dikenal.

Berbagai cerita sepanjang kehidupannya kita temukan di sini. Pandangan-pandangan Hadrianus terhadap berbagai kepercayaan, juga kebiasaan-kebiasaan di masa itu. Kisah cintanya dengan Antinoos, seorang pemuda Yunani. Trik-trik politik. Strategi-strategi militer. Pembangunan kota-kota di berbagai wilayah kekaisaran. Juga kesukaan Hadrianus tinggal di Yunani, tempat asal kekasihnya.

Kisah cintanya sendiri dengan Antinoos berakhir menyedihkan. Antinoos, meninggal di usia yang masih sangat muda, duapuluh tahun, tenggelam di sungai, menyerahkan dirinya sendiri sebagai persembahan, yang dipercayanya akan memperpanjang umur Hadrianus yang sangat dicintainya. Kematian Antinoos membuat Hadrianus sangat sedih. Untuk mengenang kekasihnya itu, Hadrianus bahkan membangun sebuah kota yang dinamai seperti sang kekasih, Antinopolis. Selain itu, dia juga memerintahkan membuat berbagai patung Antinoos, patung-patung yang sampai sekarang masih dapat kita temukan di berbagai museum.

Terus terang saja, baca buku ini, bagiku agak sedikit sulit. Bukan buku yang bisa dengan gampang di'kunyah'. Tapi kisah hidup Hadrianus, yang disampaikan Marguerite Yourcernar dengan sudut pandang Hadrianus sendiri. Buku ini disajikan sebagai sebuah surat yang ditulis oleh Hadrianus kepada Marcus Aurelius, calon penerusnya. Surat yang ditulisnya di akhir hidupnya, saat penyakit sudah menggerogoti tubuhnya.

Begitu pun, dengan segala kesulitan, eksotisme kehidupan sang kaisar, membuatku tak sanggup menahan diri untuk terus membacanya.

Kisah sejarah yang sangat memukau. Tak sia-sia dua puluh empat tahun dihabiskan Yourcernar untuk menyelesaikan novel ini, yang membawanya menjadi anggota wanita pertama dari Academie Francaise yang bergengsi.

Wednesday, May 30, 2007

Kisah 47 Ronin


Judul : Kisah 47 Ronin (The 47 Ronin Story)
Pengarang : John Allyn (c) 1970
Penerjemah : Theresa Dewi
Penerbit : Penerbit Matahati, Maret 2007
Tebal : 311 halaman; 19 xz 12,5 cm

Kisah tentang 47 Ronin yang menjadi salah satu kisah legendaris dalam sejarah Jepang. Kisah pembalasan dendam yang sangat terkenal, tentang kesetiaan para samurai pada daimyo mereka.

Lord Asano, seorang daimyo muda dari Ako, menyerang Kira, pejabat istana, pemimpin upacara Shogun Tsunayoshi. Kira seorang yang korup, sering meminta uang suap dari para daimyo, tapi Lord Asano seorang yang sangat idealis, tak mau memenuhi permintaan Kira. Hal ini membuat Kira kesal, dan puncaknya pada suatu hari di istana Shogun di Edo, Kira mengatakan sesuatu yang membuat Lord Asano sangat marah, dan mengeluarkan pedangnya, sesuatu yang sangat tabu dilakukan di dalam istana Shogun.

Akibatnya, Kira tergeletak tak berdaya, Lord Asano ditangkap, dan dihukum mati. Seluruh wilayah kekuasaannya disita, dan keluarganya diasingkan. Karena kematian tuannya, para samurai dibawah naungan Lord Asano kehilangan status mereka sebagai samurai. Kini mereka menjadi Ronin, samurai tanpa tuan. Sebuah posisi yang sangat memalukan bagi para samurai.

Oishi, pemimpin para samurai Lord Asano, tak bisa menerima keputusan Shogun. Apalagi setelah mendengar bahwa Kira selamat dari serangan Lord Asano. Oishi pun menyusun siasat pembalasan dendam. Taktik yang sulit, karena dia juga menghadapi resiko ditinggalkan anak buahnya, dan dianggap pengecut.

Seperti dicatat dalam sejarah Jepang, ke-47 Ronin dibawah pimpinan Oishi tersebut akhirnya berhasil membalaskan dendam tuan mereka.

Walau dibilang merupakan salah satu cerita paling legendaris, terus terang saja, aku baru kali ini kog membaca tentang kisah 47 Ronin ini. (Tapi setelah baca, aku memang nanya oom google, hehehehe, dan memang dari beberapa website yang dibuka, cerita itu hampir sama).

Yang menarik di sini adalah cerita tentang siasat yang dibuat oleh Oishi untuk membalaskan dendam pada Kira. Betapa dia dengan teliti mengatur keuangan, menempatkan putri Lord Asano di istana Kaisar, dan juga berbulan-bulan dengan sabar menahan diri dan berpura-pura menjadi mantan samurai yang putus asa, berusaha mengelabui mata-mata yang dikirim oleh Kira. Seru!

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP