Gadis Serigala
Judul : Gadis Serigala (Wolf Girl)
Pengarang : Theresa Tomlinson, 2006
Penerjemah : Ferry Halim
Penerbit : Penerbit Atria (Serambi), Juli 2007
Tebal : 486 halaman; 13 x 20,5 cm
Ini cerita tentang Wulfrun, seorang gadis berusia 11 tahun, anak seorang janda penenun bernama Cwen, yang tinggal di dekat Biara Whitby. Kehidupannya berjalan biasa-biasa saja, kecuali, ada satu rahasia yang disimpannya. Dia tak sengaja menemukan bilik rahasia dalam sebuah peti milik ibunya, dan di situ tersimpan seuntai kalung mewah. Diam-diam Wulfrun suka mengenakan kalung tersebut dan berkhayal.
Sayang sekali, suatu hari, saat sedang mematut-matut diri mengenakan kalung tersebut, adiknya, Gode, lari bersama angsa-angsa mereka. Karena hendak mengejar Gode, Wulfrun tak sempat melepaskan kalung itu, dan di sinilah awal bencana itu. Irminburgh, seorang kerabat raja yang saat itu dijadikan pengawas Elfled, putri sang raja yang diserahkan ke biara, menangkap basah Wulfrun dan kalung itu. Akibatnya, Cwen, ibu Wulfrun, yang dituduh telah melakukan pencurian.
Ternyata, bantuan datang dari orang yang tak terduga. Awalnya, Fridgyth si ahli ramuan dan tanaman obat datang menemani Wulfrun, dan memberinya nasihat yang menguatkannya. Dan ramalan runes yang dilakukan Fridgyth terbukti.
Elfled-lah yang menyelamatkan ibu Wulfrun, karena entah mengapa, Irminburgh begitu ingin segera menghukum Cwen. Wulfrun pun harus berusaha mencari tahu, dari mana asal kalung itu. Perkenalannya dengan Elfled yang sedikit aneh itu akhirnya memberi akses yang tak terduga bagi Wulfrun. Dia pun bisa menikmati pelajaran membaca dan menulis, bahkan berkuda. Dan berkat itu juga, dengan bantuan Elfled dan Adfrith, si calon biarawan yang ditugaskan mengajar Elfled, Wulfrun sedikit demi sedikit menemukan jejak-jejak yang membantunya mencari tahu dari mana kalung itu berasal.
Bersama seorang teman lagi, Cadmon, mereka bahkan akhirnya menempuh perjalanan luar biasa, untuk mencapai Barmburgh, istana tempat ayah dan ibu Elfled, dan juga Ibu Hild, si kepala biara, yang berhak mengambil keputusan atas nasib Cwen. Juga, ada sebuah rencana pemberontakan yang tak sengaja diketahui oleh Elfled dan Wulfrun. Dalam perjalanan itu pun, banyak lagi kejutan yang mereka dapatkan.
Pertama yang pasti akan kita perhatikan di buku ini adalah nama-nama para tokoh yang agak tidak familiar didengar, seperti Wulfrun, Fridgyth, Cwen, Elfled, ratu Ianfleda, dan lainnya. Ini karena memang kisah ini berlatarbelakang era Anglo-Saxon (sekitar abad ke 5-9). Sebagian tokoh dalam cerita ini memang ada tercatat dalam sejarah.
Yang aku sukai adalah karakter-karakter di cerita ini. Anak-anaknya menarik, apalagi Wulfrun dan Elfled. Dua anak yang sebaya, tapi berbeda latar belakang. Keberanian Wulfrun, yang mungkin juga karena kepolosannya, justru tampak sangat menarik bagi Elfled, si gadis kecil yang kesepian itu.
Bagian yang paling aku sukai adalah, sewaktu Wulfrun pertama kali membantu Elfled dalam pelajaran menulisnya. Ternyata, kondisi Wulfrun yang hidup tak terlalu berkecukupan itu, sehingga dia harus banyak membantu ibunya, malah menjadikannya lebih dewasa, bahkan akhirnya dia yang bisa membantu menemukan cara agar Elfled mau belajar dan tidak terlalu memberontak seperti sebelumnya.
Sebuah kisah yang indah, dengan akhir yang menyenangkan.

