Showing posts with label non-fiction. Show all posts
Showing posts with label non-fiction. Show all posts

Monday, March 07, 2011

Kartun Riwayat Peradaban Modern



Kartun Riwayat Peradaban Modern
Jilid 1 dan 2

Oleh

Larry Gonick

Diterjemahkan oleh Damaring Tyas Wulandari Palar

Jilid I terbit Agustus 2010 (cetakan 2) dan Jilid II terbit Agustus 2010
Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tebal Jilid I : 259 halaman, Jilid II : 260 halaman

Setelah mengeluarkan tiga jilid seri Kartun Riwayat Peradaban, yang membahas sejarah peradaban dunia sejak jaman dinosaurus sampai perang dunia I dan II, dalam bentuk komik (atau lewat yah, udah lupa wekekeke), belakangan Larry Gonick kembali dengan dua jilid komik yang membahas tentang sejarah peradaban modern.

Mengapa disebut modern? Entahlah, aku gak tau kenapa hehehee

Dalam dua jilid ini, Larry Gonick membuka dengan membahas peradaban di Amerika Selatan, suku-suku Maya, Inca dan Aztec, dengan segala kekejaman yang mewarnai kehidupan ritual, yang digambarkan dengan gaya komik dan diselingi dengan komentar-komentar jahil yang membuat kita geli. Kita akan diajak mengikuti perjalanan suku-suku Indian tersebut, mulai dari masa-masa kejayaan sampai hancurnya peradaban tersebut dengan kedatangan para penakluk Spanyol.

Sementara itu, Larry Gonick juga bercerita tentang apa yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya, seperti Jepang, China, India, dan tentunya Eropa. Kejadian-kejadian penting seperti drama politik yang terjadi di Eropa, juga isolasi diri yang dilakukan Jepang, dan persaingan menguasai dunia oleh Spanyol, Inggris dan Perancis. Perang tak henti-hentinya antara Eropa dan Turki, pokoknya bikin pusing hihihihihi

Beberapa bagian rasanya sudah pernah dibahas di tiga jilid Kartun Riwayat Peradaban sebelumnya, tapi memang namanya juga sejarah dunia yah, antara satu kejadian dengan kejadian lain sering ada kaitannya. Pergolakan politik di Eropa tentunya juga akan terasa dampaknya di Asia dan Amerika. Aktifitas militer Jepang di Asia Pasifik tentunya membuat Eropa juga bergolak.

Yang pasti sih, aku tetap menikmati cara Larry Gonick menyajikan sejarah dalam bentuk komik. Dan yang aku suka itu, sering ada catatan kaki, tetap dalam bentuk komik, yang kadang-kadang gak terlalu ada hubungannya dengan sejarah dunia, tapi malah cenderung kayak gosip hihihi. Yang kayak begini memang yang membuat baca komik sejarah satu ini jadi gak ngantuk :D Dan juga detil-detil gambarnya itu keren, pas di bagian suku-suku Indian Amerika Selatan, waduh, itu gambar kota-kota kunonya cukup detil, demikian juga dengan kostum-kostum yang digunakan orang-orang di masa itu. Sama halnya dengan kostum dan detil-detil bangunan dan interior di Eropa, Jepang, Cina dan India. Wajah-wajah para tokoh sejarah itu juga bisa terlihat sangat khas, sehingga kita bisa mengenali dengan cepat, siapa tokoh yang sedang dibahasnya. Dan yang bagus juga, kadang, kita bisa mendapatkan kesimpulan satu kejadian penting hanya dalam SATU kotak! ha ha ha ha......

Satu lagi yang aku suka, yaitu bagian Bibliografi, karena Larry Gonick suka menambahkan komentar-komentar pribadinya tentang buku-buku yang dijadikannya referensi dalam membuat kartunnya ini.

Monday, June 14, 2010

Angela's Ashes


Judul : Angela's Ashes : A Memoir
Penulis : Frank McCourt (c)1996
Penerbit : Touchstone Book - Simon & Schuster New York
Paperback edition, 1999
Tebal : 363 halaman ; 14 x 21,5 cm

Memoir ini berkisah tentang masa kanak-kanak Frank McCourt yang sebagian besar dijalaninya di Limerick, sebuah kota kecil di Irlandia. Frank McCourt dilahirkan di Amerika Serikat, kedua orangtuanya menikah karena ibunya telah hamil. Ayahnya sendiri berasal dari Irlandia Utara yang melarikan diri ke Amerika Serikat. Ibunya sendiri, Angela Sheehan, baru saja tiba di Amerika, waktu bertemu dengan Malachy McCourt. Pernikahan yang dipaksakan itu berlangsung menyedihkan. Malachy McCourt seorang pemabuk, yang gemar menghabiskan semua uangnya di bar, sementara istri dan anaknya tidak memiliki cukup makanan dan pakaian. Selama beberapa lama mereka tinggal di Amerika, adik-adik Frank pun lahir. Malachy yang dinamai sama dengan nama ayahnya lahir setahun setelah Frank, lalu menyusul si kembar Oliver dan Eugene. Kemudian lahirlah adik perempuan mereka, Margaret. Kelahiran Margaret seperti membawa perubahan dalam hidup keluarga McCourt. Ayahnya tidak lagi mabuk-mabukan, dan pekerjaannya pun bertahan. Tapi kebahagiaan ini tak bertahan lama, Margaret meninggal waktu baru berusia beberapa bulan. Keluarga McCourt kembali terpuruk, bahkan sampai tahap yang mengenaskan, sampai kedua bibi Angela menulis surat kepada nenek Sheehan untuk mengirimkan uang agar keluarga McCourt bisa kembali ke Irlandia.

Setibanya di Irlandia, kehidupan mereka tidak berubah sama sekali. Sebagai pria yang berasal dari Utara, Malachy McCourt kesulitan mendapat pekerjaan. Ditambah lagi kebiasaannya mabuk dan menghabiskan uang tunjangan membuat Frank dan adik-adiknya terus kelaparan dan kedinginan. Si kembar Oliver dan Eugene pun meninggal dalam waktu yang tidak berselang terlalu lama. Bertahun-tahun keluarga itu di tempat yang lembab dan bau dari toilet. Penyakit pun silih berganti mendatangi Frank, mulai dari demam tipus yang menyebabkan dia harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit, radang mata akut yang membuat matanya terus menerus merah dan mengeluarkan cairan kekuningan. Kemiskinan itu membuat Frank bertekad untuk kembali ke Amerika, yang dibayangkannya sebagai tempat di mana kehidupan pasti akan lebih baik daripada di Limerick.

Sekilas, terlihat memoar ini terkesan menyedihkan, gelap penuh kesengsaraan. Tapi dengan gaya bercerita yang unik, memoar ini ternyata mampu membuat kita terharu tanpa perlu menguras air mata berember-ember :D Frank bercerita tentang masa kecilnya dengan gaya polos, membuat kita bisa menikmati cara pandang dan pikiran-pikiran seorang anak kecil di tengah-tengah penderitaan akibat kemiskinan yang dialaminya. Di sana sini, kepolosan pikiran Frank kecil akan membuat kita tersenyum geli sambil merasa getir mengetahui situasi yang dialami keluarga miskin di Irlandia pada masa-masa menjelang Perang Dunia II tersebut.

Satu yang sempat jadi pertanyaan adalah judul memoar ini, Angela's Ashes (abu Angela). Setelah mencari ke beberapa situs, sepertinya judul ini ada hubungannya dengan akhir hidup Angela, ibu Frank, yang dikremasikan dan abunya disimpan oleh Frank. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa judul ini adalah penggambaran saat-saat Angela menatap abu sisa pembakaran di perapian, saat mereka tak lagi punya apa-apa untuk mengusir rasa dingin dan lembab di kota Limerick.


Saturday, August 30, 2008

A Year in Provence


Judul : A Year in Provence
Pengarang : Peter Mayle
Penerbit : Vintage Books, a division of Random House, Inc., NY
Tebal : 207 halaman ; 13,5 x 20 cm

Tinggal di Provence, sebelumnya hanya merupakan kegiatan liburan musim panas bagi Peter Mayle dan istrinya. Namun sebuah rumah pertanian yang terbuat dari batu di kaki pegunungan Luberon berhasil memikat hati mereka, dan akhirnya memutuskan untuk pindah dari London yang lembab dan dingin ke Provence yang selalu disinari matahari.

Tapi benarkah kehidupan akan menjadi seperti liburan sepanjang tahun? Awal tahun, bulan Januari yang cerah memberi kesan positif pada keluarga Mayle. Namun ternyata tak diduga, angin mistral dan badai salju juga menghiasi bulan-bulan awal tahun di daerah tenggara Prancis tersebut.

Banyak hal yang terjadi dalam setahun pertama mereka tingal di Luberon. Perbaikan rumah yang terjadi sepanjang tahun, dengan kebiasaan para pekerja di sana yang tak terlalu memperhatikan ketepatan waktu. Belum lagi membeli meja batu yang beratnya lebih dari 300 kilogram dan memikirkan bagaimana cara untuk menggesernya 15 yard. Lalu ada tetangga aneh yang benci orang Jerman.

Tapi mereka juga menemukan betapa makanan menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat di Provence. Bagaimana menghadapi teman-teman yang mengira mereka hidup dalam liburan sepanjang tahun. Belum lagi serbuan turis, dan yang tak kalah heboh adalah serangan hujan badai yang merusak halaman. Tapi panen anggur di musim gugur memberikan hasil yang tak bisa diremehkan.

Begitu sekilas hal-hal yang diceritakan oleh Peter Mayle dalam buku kroniknya tentang tahun pertamanya tinggal di tenggara Prancis, bukan sebagai turis, tetapi mejadi salah seorang penduduk. Perubahan kehidupan yang terbiasa dengan ketepatan waktu, menjadi orang yang tak lagi melihat sesuatu dengan jam tapi lebih merujuk kepada musim menjadi sesuatu yang pada akhirnya disadari oleh Mayle dalam kisahnya ini.

Selain itu, detil-detil kebiasaan makan, dan juga makanan-makanan yang begitu beragam menghiasi keseluruhan buku ini. Jenis-jenis makanan yang berbeda dimakan dalam musim yang berbeda. Juga tak luput menjadi perhatian Mayle bahwa orang Provence punya penghargaan yang luar biasa terhadap makanan, sampai rela berkendaraan hingga berjam-jam untuk mendatangi restoran atau pun kafe yang disukai. Yah... apa yang bisa diharapkan dari sebuah buku yang kalimat pertamanya adalah: Tahun itu dimulai dengan makan siang.

Friday, September 21, 2007

Enrique's Journey


Judul : Enrique's Journey - Petualangan Seorang Anak di Atas Kereta Api Maut Demi Bersatu Kembali Dengan Ibunya
Penulis : Sonia Nazario, 2006
Penerjemah : Widi Nugroho
Penerbit : Penerbit Bentang, Agustus 2007
Tebal : 395 halaman

Buku ini memang diberi judul Enrique's Journey, Perjalanan Enrique. Tentu saja, pada awalnya, aku beranggapan, kalau ini adalah sebuah kisah tentang seorang anak bernama Enrique, yang seperti pada sub judulnya menempuh petualangan di atas kereta api untuk masuk ke Amerika Serikat, untuk menemukan ibunya yang bekerja di sana.

Ternyata, aku tak hanya menemukan kisah Enrique seorang. Dalam perjalanannya mengikuti jalur yang diceritakan oleh Enrique, Sonya menemui banyak lagi manusia-manusia yang berada di sekitar jalur tersebut, baik yang membantu para imigran seperti Enrique, maupun yang tak ragu-ragu menjadikan imigran-imigran itu sebagai objek kekerasan, bahkan pembunuhan.

Kondisi perekonomian di negara-negara Amerika Tengah yang morat-marit membuat banyak orang yang memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, meninggalkan anak-anak mereka. Meningkatnya perceraian juga memicu kenaikan jumlah ibu-ibu yang harus pergi bekerja ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat, dan meninggalkan anak-anak mereka untuk diurus oleh kakek-neneknya, atau pun saudara yang lain.

Sonia sendiri memutuskan menulis kisah ini, setelah suatu hari, pengurus rumahnya, seorang wanita yang berasal dari Guatemala bercerita tentang anaknya yang menyusul ke AS untuk menemuinya. Dari situ, Sonia mendengar kisah Kereta Api Maut, El Tren de la Muerte.

Untuk menuliskan kisah ini, yang pada awalnya merupakan artikel bersambung di LA Times. Sonia sendiri membutuhkan 5 tahun untuk menyelesaikan tulisan ini. Dimulai dari dia mencari anak yang akan dijadikan bahan tulisannya, termasuk mengikuti sendiri jalur perjalanan Enrique dari Honduras hingga bertemu ibunya, Lourdes.

Ibu Enrique ditinggal oleh suaminya, harus menghidupi Enrique dan kakaknya Belky. Setelah memutuskan pergi ke Amerika Serikat, janjinya pada Enrique untuk segera pulang tak kunjung ditepati. Enrique masih berumur 5 tahun sewaktu ibunya meninggalkannya untuk bekerja. Sejak itu dia tinggal bersama neneknya. Bertahun-tahun, hati Enrique dipenuhi kemarahan pada sang ibu, yang dianggap menelantarkannya. Kiriman uang dan hadiah-hadiah tak mampu meredam rasa kecewa pada sang ibu yang dianggap tak mencintainya.

Kemarahannya itu membuat Enrique menjadi seorang anak yang bermasalah, menjadi penghirup lem, pecandu alkohol, putus sekolah. Hingga akhirnya, di usianya yang ke enam belas, dia memutuskan untuk pergi mencari ibunya. Dia meninggalkan Honduras, berbekal nomor telepon sang ibu.

Perjalanan Enrique tak mulus sama sekali. Karena tak punya uang, Enrique tak bisa membayar penyelundup yang bisa membantunya menyeberang ke utara, masuk ke wilayah AS. Dia harus berusaha sendiri, karena itulah dia mengambil jalur Kereta Api Maut. Berkali-kali dia gagal dan dideportasi, namun Enrique tak menyerah.

Dia baru berhasil di usahanya yang ke 8. Selama perjalanan, berbagai tantangan yang mengancam nyawa harus dihadapi. Para gangster yang tak segan-segan membunuh, juga berpacu untuk naik dan memilih tempat di atap kereta api yang menuju ke Mexico. Dia juga harus mengenal cara-cara bertahan hidup. Di wilayah-wilayah mana saja para gangster yang paling berbahaya. Juga kejaran para petugas imigrasi yang kadang tak segan menggunakan senjata (walau hal ini sering tak diakui oleh mereka).

Namun, ternyata di sepanjang jalur, ada juga manusia-manusia berhati mulia yang membantu para migran tersebut. Mereka melemparkan makanan, pakaian, dan air minum ke atas kereta. Yang paling mengharukan adalah, orang-orang ini bukanlah orang-orang yang berkecukupan. Mereka juga hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan. Rasa simpati merekadilatarbelakangi oleh kesamaan situasi yang mereka alami, anggota keluarga yang harus pergi ke AS untuk bekerja untuk menolong meningkatkan kondisi ekonomi.

Selain itu, ada juga para pastor dan orang-orang lain yang mendirikan tempat-tempat penampungan bagi para migran tersebut. Kebanyakan mereka berusaha sendiri untuk menyediakan makanan dan tempat beristirahat bagi para migran. Kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya anggota tubuh juga tak jarang terjadi. Para relawan tersebut juga bahkan membantu pengobatan para migran tersebut. Kisah-kisah ketulusan hati yang sangat mengharukan.

Monday, September 03, 2007

Kartun (Non) Komunikasi


Judul : Kartun (Non) Komunikasi (The Cartoon Guide to (Non) Communication)
Penulis/Illustrasi : Larry Gonick, 1993
Penerjemah : Rizadini Manoppo, Andya Primanda
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2007
Tebal : viii + 188 halaman; 17,5 x 22 cm

Kartun ini diberi sub judul : Guna dan Salah Guna Informasi Dalam Dunia Modern.

Di dalam buku ini, yang disajikan dalam format gambar kartun, Larry Gonick membahas tentang bahasa dan komunikasi. Pembukaan kartun membahas tentang kisah legendaris menara Babel, yang konon merupakan asal muasal manusia memiliki berbagai bahasa yang berbeda. Namun, kemudian Larry Gonick juga menunjukkan betapa hingga kini, kita masih hidup dalam menara Babel yang jauh lebih parah dari kisah tersebut.

Pembahasan mengenai komunikasi ini dilakukan dalam 2 bagian. Di bagian pertama yang dibahas adalah Bahasa, dan bagian kedua membahas Citra.

Yah, kalau disuruh menceritakan isinya, aku juga bingung, karena banyak sekali penjelasan-penjelasan yang teoritis, tapi karena cara penyampaian Larry Gonick yang lucu dan sederhana, membuat kartun panduan ini jadi terasa menyenangkan.

Salah satu pembahasan yang sangat lucu itu adalah tentang struktur otak manusia yang mempengaruhi komunikasi. Dikatakan bahwa pada intinya, manusia dan reptil itu sama, yang disebut sistem limbik, hanya saja pada otak manusia sudah dilapisi oleh 'segundukan otak tingkat tinggi' yang menyebabkan kita mampu menyembunyikan makna yang sebenarnya ingin disampaikan. Akibatnya, seringkali kata-kata yang digunakan justru menyembunyikan makna. Aku suka sekali gambar-gambar yang menunjukkan orang-orang berkomunikasi lalu ada gambar dinosaurus dikepalanya, lucu banget!

Di bagian akhir, ada juga pembahasan mengenai peranan televisi pada komunikasi. Dan tentunya tak mungkin kita membicarakan komunikasi di masa sekarang tanpa melibatkan pembicaraan tentang komputer dan internet.

Nah, ini juga yang aku sukai, karena mengingat Larry Gonick membuat buku ini di tahun 1993 (atau sudah 14 tahun yang lalu), tapi pembahasan yang dilakukannya di sini tidak terasa ketinggalan (kecuali yah bagian si Gonick ini kog cuma ngomongin Mac yah? hihihihihi, tapi yah sudahlah, gak penting kog).

Sebuah kartun yang asik, terutama bagi yang menyukai bahasa.

Sunday, September 02, 2007

Pencuri Anggrek

Judul : Pencuri Anggrek (The Orchid Thief)
Penulis : Susan Orleans, 1998
Penerjemah : Arief Ash Shiddiq
Penerbit : Banana, Jakarta (2007)
Tebal : 368 halaman; 13 x 19 cm

Berawal dari sebuah artikel koran yang menyebutkan bahwa ada satu orang kulit putih, John Laroche, dan tiga orang Seminole yang ditangkap dengan tuduhan mencoba mencuri anggrek langka dari Cagar Alam Galur Fakahatchee, Susan Orlean tertarik untuk tahu lebih banyak seputar insiden itu.

Ternyata, keingintahuannya membawanya ke sebuah dunia yang sama sekali tak terbayangkan olehnya, dan oleh siapa saja yang tak bergelut di seputar dunia para pecinta anggrek dan tanaman eksotis lainnya. Berangkatlah Susan Orlean dari New York menuju Florida, tempat insiden itu terjadi. Susan berkenalan dengan John Laroche, dan mulai tertarik pada karakter John Laroche yang sangat tidak biasa.

John Laroche, adalah seorang pria yang memiliki sifat-sifat yang aneh. Dia bisa sangat terfokus dalam melakukan satu hal, tetapi setelah bosan, dia akan tinggalkan kegemarannya itu 100% dan beralih pada hobi aneh lain lagi. Dari kecil dia sudah berganti-ganti kegemaran, dari mengumpulkan kura-kura, beralih menjadi mengumpulkan batu fosil, hingga akhirnya dia menjadi penggila tanaman khususnya anggrek.

Kegemaran Laroche pada anggrek, yang sudah menjurus ke arah kegilaan, awalnya disangka Susan Orlean sudah cukup menarik. Tapi ternyata, sejak mengerjakan artikel tentang Laroche, Susan Orlean akhirnya mendapatkan berbagai fakta yang selama ini tak diketahuinya seputar kegilaan pada anggrek. Kegilaan pada anggrek sudah dimulai dari abad ke 19, di mana para penggemar anggrek yang kaya raya di Inggris mulai mencari berbagai jenis anggrek ke seluruh dunia. Para pemburu anggrek itu tak kalah gilanya dengan para pencari harta karun. Memasuki berbagai wilayah yang sebelumnya tak terjamah manusia, saling bersaing memperebutkan anggrek-anggrek eksotis, bahkan pertarungan yang mengakibatkan pertumpahan darah juga bukan tak mungkin terjadi.

Yah, ini memang bukan hanya buku yang bercerita tentang John Laroche si pencuri anggrek. Susan Orlean akan mengenalkan kita pada dunia anggrek yang eksotis. Kisah-kisah perburuan anggrek tak kalah menariknya dengan petualangan para pemburu harta karun. Penemuan-penemuan berbagai jenis anggrek, persaingan antar para pengembang anggrek, saling sikut dan menyebar isu.

Di buku ini juga kita akan menemukan cerita tentang negara bagian Florida, sebuah wilayah yang juga tak kalah unik, yang menyimpan banyak cerita, seperti anggrek, kisah-kisah penipuan tanah, wilayah-wilayah bekas rawa yang tak kunjung berhenti berubah.

Satu kisah yang menarik, bahkan cenderung kocak adalah waktu ada cerita tentang tuntutan teror telepon yang melibatkan dua orang pengembang anggrek di Florida. Pengadilan akhirnya malah menjadi ajang gosip seputar kehidupan pribadi kedua orang tersebut.

Aku senang sekali akhirnya bisa menyelesaikan buku ini. Terus terang saja, bagiku sih, ini bukan jenis buku yang bisa dibaca sekali duduk. Anggrek tak begitu familiar bagiku. Berbagai jenis anggrek yang digambarkan di sini juga tak kukenal, sehingga seringkali aku harus minta bantuan 'om google' untuk mendapatkan gambaran jenis-jenis anggrek tersebut. Tapi selain itu sih, cerita-cerita seputar anggrek, sejarahnya, bisnis tanaman dan binatang langka, dan tak ketinggalan juga kegilaan John Laroche sendiri, adalah serangkaian cerita yang sangat menarik.

Tuesday, February 20, 2007

Aku dan Marley

Judul : Aku dan Marley (Marley and Me)
Penulis : John Grogan
Alih bahasa : Gandi Faisal
Penerbit : PT TransMedia - Jakarta, 2006
Tebal : xii + 300 halaman ; 23 x 13 cm

Anjing Labrador Retriever adalah jenis anjing yang berukuran besar, sekitar setengah meter tingginya, dan lumayan berat juga, kira-kira 30-40 kg.

John Grogan kecil pernah punya anjing luar biasa. Seekor anjing bukan keturunan ras murni, tapi anjing yang pintar dan menyenangkan, seorang teman yang menemaninya sejak dia masih seorang anak berumur sepuluh tahun hingga dia sudah bekerja empat belas tahun kemudian.

Kemudian, setelah menikah, istrinya Jenny juga ternyata punya pengalaman masa kecil yang menyenangkan dengan anjing. Mereka berdua memutuskan untuk memelihara anjing. Itulah awal pertemuan mereka dengan Marley, anjing labrador retriever yang ternyata mengalami 'attention deficit hyperactivity disorder' - wow : anjing besar dan hiperaktif ! Benar-benar suatu tantangan hidup.

Kehidupan pasangan Grogan pun tak pernah sama lagi. Marley mengisi hari-hari mereka dengan segala kekacauan yang ditimbulkannya. Sofa dan karpet robek-robek, pintu hancur, air liur dimana-mana.

Tapi semua kenakalan Marley, tak membuat pasangan Grogan jera, mereka tetap menyayangi Marley. Marley menjadi bagian keluarga mereka, mengikuti semua kejadian yang dialami, baik susah maupun senang. Marley yang setia menemani Jenny sewaktu dia keguguran. Marley yang penakut, panik luar biasa mendengar suara guntur. Marley begini, Marley begitu....

Sebagai seorang yang juga mengidap 'anjing-holic', aku sangat menyukai buku ini. Semua kisah yang diceritakan John Grogran terasa akrab. Aku juga paham bagaimana kita waktu menceritakan tentang anjing kesayangan kita, si teman terbaik manusia, tak akan pernah ada habisnya. Jadi ingat, waktu kuliah dulu, aku dan teman-temanku para penyayang anjing bisa menghabiskan waktu berjam-jam bercerita tentang anjing masing-masing.

Sebenarnya sudah beberapa kali aku melirik buku ini di toko buku, dengan sampul gambar anak anjing dengan matanya yang memelas... astaga.... aku langsung jatuh cinta. Tapi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kisah tentang anjing (buku maupun film), selalu akan mengakibatkan aku menangis tersedu-sedu, maka aku terus menunda-nunda untuk membawa buku ini pulang. Namun suatu sore, aku yang sedang berkelana sendirian di toko buku (kegiatan berbahaya) akhirnya tak mampu juga menahan diri, dan beli deh! Dan!!! Benar!!!! Setelah membaca tentang kisah Marley dari seekor anak anjing menjadi anjing dewasa....

Maka perasaan sayang yang dirasakan keluarga Grogan pada Marley, ikut-ikutan merasuki diriku, dan.... tiba lah pada bagian akhir, kisah masa tua Marley...

Aliran air mata tak mampu lagi ditahan. Sambil baca, aku langsung teringat anjingku Miko yang 2 tahun yang lalu mati. Ingat bagaimana aku khawatir berbulan-bulan waktu menyadari bahwa Miko sudah semakin tua, semakin lemah, berat badannya mulai turun drastis. Dan waktu hari terakhirnya, aku gak ada di dekatnya. Perasaan optimis gak masuk akal kalau Miko nanti akan sehat lagi, semuanya persis seperti yang diceritakan John Grogan. (duh, jadi curhat deh, hehehe).

Wednesday, February 14, 2007

The Professor and The Madman


Judul : THE PROFESSOR AND THE MADMAN
Sebuah dongeng tentang pembunuhan, kegilaan, dan pembuatan
OXFORD ENGLISH DICTIONARY
Penulis : Simon Winchester (c) 1998
Penerjemah : Bern Hidayat
Penerbit : PT SERAMBI ILMU SEMESTA, Januari 2007
Tebal : 341 halaman ; 20 x13 cm

Oxford English Dictionary, kamus bahasa Inggris yang dipandang sebagai 'sang kamus', memuat panduan pada makna, sejarah dan pelafalan dari lebih lima ratus ribu kata, baik yang sampai sekarang masih dipergunakan maupun yang sudah tidak dipakai lagi. Kamus ini juga menelusuri penggunaan kata-kata itu melalui 2,5 juta kutipan dari berbagai sumber bahasa Inggris di dunia, dari mulai literatur klasik hingga naskah film dan buku resep masakan. Hingga sekarang, kamus ini sudah terbit dalam Edisi Kedua, sebanyak 20 jilid edisi tercetaknya, juga dalam bentuk CD-ROM (yang lebih praktis, mengingat perlu tempat cukup lumayan untuk menyimpan ke-20 jilid kamus tersebut), dan juga edisi on-line.

Simon Winchester tertarik pada sebuah kisah dalam sejarah penyusunan kamus luar biasa itu. Kisah persahabatan yang terjalin antara seorang editor kamus dan seorang dokter penghuni rumah sakit jiwa.

James Murray, seorang anak keluarga miskin, yang bahkan harus putus sekolah karena orangtuanya tak mampu membiayai, ternyata berkat kemauannya untuk mengetahui begitu banyak hal, akhirnya berhasil menembus pergaulan para ilmuan elit di Inggris. Sejak kecil, Sir James (karena di kemudian hari dia menerima gelar bangsawan kehormatan itu dari Ratu Inggris) seorang anak yang sangat suka belajar. Dia mampu menguasai berbagai bahasa sejak usia belasan tahun.

Dr William Minor, terlahir dari keluarga yang cukup terhormat di Amerika, lahir dan tumbuh hingga remaja di Ceylon bersama orangtuanya yang menjadi misionaris disana. William Minor kemudian sekolah kedokteran di Universitas Yale, dan setelah lulus, ikut bergabung dengan angkatan bersenjata, turun ke medan perang. Di sanalah, diasumsikan, kegilaannya mulai terstimulasi.

Di tahun 1872, Minor yang saat itu sudah tinggal di London menembak seorang pekerja yang sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Perbuatannya itu ternyata didorong oleh halusinasinya. Keputusan pengadilan membawanya ke Boardmoor, di Crowthorne, rumah sakit jiwa untuk para pelaku kejahatan, yang menjadi tempat tinggalnya selama lebih duapuluh tahun. Dari sel di rumah sakit itu jugalah, kemudian Minor menghasilkan begitu banyak kutipan (lebih dari sepuluhribu) yang kemudian banyak membantu tim penyusun KAMUS.

Menarik sekali membaca kisah dibalik penyusunan kamus besar itu. Yah, ini memang pertama kalinya aku baca tentang sejarah kamus bahasa Inggris itu. Kalau sejarah kamus itu sendiri, bisa kita baca di berbagai sumber.
Di setiap awal bab, akan diawali dengan kutipan sebuah entri dari Oxford English Dictionary (OED), lengkap dengan pelafalan, sejarah dan kutipan-kutipannya.

Yang menarik dari buku ini adalah kisah pertemuan antara Minor dan Murray. Sebelumnya, pertemuan itu didramatisir, dimana Murray dikatakan tidak mengetahui keadaan Minor sebagai penghuni rumahsakit jiwa sampai dia pertama kali mengunjungi Minor. Namun, Simon Winchester akhirnya berhasil mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP