Showing posts with label 2011. Show all posts
Showing posts with label 2011. Show all posts

Tuesday, December 27, 2011

Di Dalam Tas


Jadi, sama seperti kebanyakan tukang baca, ke mana-mana pasti gak ketinggalan bacaan. Di dalam tasku pun selalu ada paling tidak satu buku untuk jaga-jaga kalau harus menunggu.

Nah, belakangan, selain buku yang terbuat dari kertas, aku juga sudah mengoleksi beberapa buku di dalam telepon genggam, yang sekarang memang memungkinkan, karena punya fasilitas e-book reader. Asal gak lupa mengisi tenaganya, yah lumayan juga untuk di jalan hehehe.

Hari ini, di dalam tas ada satu buku sih, Sang Penerjemah yang ditulis oleh Leila Aboulela. Kayaknya sih buku ini udah cukup lama ikut kemana-mana tapi kog yah gak dibaca-baca juga hahahaha. Di rumah malah baca buku-buku yang lain, dan beberapa hari ini aku juga membaca buku yang udah lama. Kemarin bacanya Mr Fox yang Fantastis karangan Roald Dahl, rasanya sih emang gak pernah bosan baca buku yang ini. Lalu tadi malam juga, setelah si Mr Fox selesai, bongkar lemari lagi, dan memutuskan untuk baca ulang lagi Pangeran yang Hilang karangan Frances Hodgson Burnett. Buku yang ini sih terbitan tahun 1990, versi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat. Duh, bukunya sih jelek bentuknya, kertasnya sih bagus, putih gitu, tapi font-nya gak enak dan terlalu rapat-rapat, jilidannya juga gak bagus, mana ilustrasinya aneh begitu huahahahha. Tapi yaaaa.... ceritanya itu emang seru hihihi, apalagi waktu dulu baca juga aku masih umur belasan gitu kan. Eh tapi emang cerita-cerita karangan Frances Hodgson Burnett itu ntah kenapa ya aku suka, padahal sebenarnya sih kalau dipikir-pikir, kan ceritanya sering berlebihan gitu hahahha, kayak Little Princess, Secret Garden, eh tapi suka suka suka.. *yah udahlah gak usah dibahas, capek hihihi*

Oke, mari kita kembali ke buku yang ada di dalam tas. Jadi, sekarang pertanyaannya, kapan yah buku yang satu ini akan kubaca? Entahlah, kita lihat saja nanti ;)

Sunday, December 25, 2011

The Count of Monte Cristo - Akhirnya Selesai


Judul : The Count of Monte Cristo
Penulis : Alexandre Dumas
Edisi Wordsworth Edition Limited, 1997
(tambahan notes dan kata pengantar oleh Keith Wren 2002)
Tebal : xix + 894 halaman; 12,5 x 20 cm


Jadi, ahirnya perjuangan menaklukkan buku ini pun berakhir. Seperti pernah diceritakan di sini, buku ini menjadi tantanganku tahun 2011 ini. Syukurlah, aku berhasil menyelesaikannya, walau harus memakan waktu setahun hahahahahahaha.....

Yah, dulu sekali, waktu masih SD, aku pertama kali berkenalan dengan tokoh bangsawan Monte Cristo ini di rumah tanteku. Bukunya sih waktu itu terbitan Pustaka Jaya kalau tidak salah, yang warnanya hitam, untuk ukuranku yang waktu itu masih SD sih udah cukup tebal huahahaha. Tapi sekarang kalau kuliat sih, yah biasa aja, yang pasti ternyata buku itu yah edisi abridged, yang sudah dibuat lebih ringkas dari buku aslinya.

Belakangan juga terbit lagi, oleh Penerbit Bentang, tapi kayaknya ini juga edisi abridged ya? Gak tau sih karena gak baca hihihihi, cuma kalau melihat jumlah halamannya, sepertinya gak mungkin ini versi utuh, mengingat buku aslinya dalam bahasa Prancis pun setelah dicari-cari, sekitar 900-an halaman, gak mungkin diterjemahkan jadi 568 halaman seperti yg diterbitkan Bentang itu :D. Oh yah, waktu menulis ini juga, sempat masuk ke beberapa website, danwaktu lihat ada audio booknya, ternyata dibacakan dalam bahasa Prancis, memakan waktu 51 jam 24 menit gitu... woooow, berarti kalau diikuti non-stop, perlu dua hari lebih untuk menyelesaikan mendengarnya ya hi hi hi

Jadi.... yang aku beli sih terjemahan bahasa Inggris, keluaran Wordsworth Classics, dan ada kata pengantar dari seseorang bernama Keith Wren dari University of Kent, dan di bagian belakang buku juga ada banyaaaak sekali catatan-catatan kecil yang beberapa menjelaskan kesalahan penerjemahan. Yah edisi ini memang menggunakan versi terjemahan bahasa Inggris yang tidak diketahui siapa penerjemahnya, tetapi memang sudah ditemukan terbit sejak abad ke sembilan belas.

Oke, sekarang kayaknya udah bisa nih, masuk ke cerita singkat buku ini. Jadi, pada tahun 1815, cerita ini dimulai, waktu Edmond Dantes, seorang pemuda bermasa depan cerah, kembali ke Marsailles dari perjalanannya membawa kapal barang milik seorang saudagar kapal, M. Morrel. Dan karena rasa iri hati seorang koleganya, dan seorang pria yang menjadi saingannya merebut hati seorang gadis, dan tetangganya yang juga punya sifat jelek, Dantes pun dijebak dengan tuduhan pengkhianatan kepada raja Prancis, karena membawa surat untuk seseorang di Paris, dari Napoleon Bonaparte, yang waktu itu sedang diasingkan. Karena itu, Dantes pun akhirnya dipenjara. Belasan tahun dia terjebak dalam penjara di Chateu D'If, di mana dia bertemu seorang rahib bernama Faria. Rahib yang ternyata memiliki rahasia tentang harta yang luar biasa banyaknya, yang tersimpan di sebuah gua di pulau Monte Cristo.

Rahib Faria juga yang banyak mendidik Dantes selama di penjara tersebut. Dan kesempatan Dantes keluar dari penjara datang pada saat Faria akhirnya meninggal akibat serangan penyakitnya. Cerita terus berlangsung, setelah 10 tahun sejak dia berhasil lari dari penjara, Dantes yang kemudian mengubah namanya menjadi Count of Monte Cristo, datang ke Paris. Paris, kota tempat semua orang-orang yang membuat Dantes harus menghabiskan 14 tahun di penjara, membuatnya kehilangan tunangannya, dan tak lagi bisa menemukan kubur ayahnya.

Selama beberapa bulan di Paris, dengan kekayaan dan kecerdasannya, Dantes berhasil membalaskan dendamnya kepada semua orang yang membuatnya menderita.

Yaaa... kalau mau diceritakan sih, panjang banget dong, bayangin saja, itu buku dengan tulisan kayak semut gitu tebalnya 875 halaman (yg 20-an halaman sisanya isinya itu catatan-catatan tentang kesalahan penerjemahan atau pun beberapa keterangan tentang istilah atau tokoh yang disebutkan dalam novel ini).

Buku ini sih banyak sekali detil-detil yang bisa dibahas, dari mulai mata uang, latar belakang sejarah pada masa kejadian, lalu juga sistem peradilan, gaya hidup kaum elit di Paris, yah hal-hal seperti itu. Kayaknya memang kalau mau dibahas, bisa gak habis-habis hehehehe. Lalu juga asik banget kog menikmati intrik-intrik terselubung yang dibuat oleh sang Count untuk membuka kesalahan-kesalahan masa lalu orang-orang yang menjeremuskannya ke penjara itu. Yang keren itu, di buku ini gak diceritakan secara langsung bagaimana sang Count mengatur seluruh skenario, sehingga dendamnya terbalas. Kita diajak juga berimajinasi, apa saja yang dilakukan sang Count untuk mendapatkan keinginannya. Keren dah pokoknya. Rasanya emang sayang banget kalau cerita sebagus ini terlewatkan :)

Yah kalau masih sanggup, suatu saat aku masih mau mengulangi lagi baca buku ini :D Cuma mungkin terpaksa beli buku baru, karena yang ini udah jelek banget, karena udah kelamaan dibaca, sampe sampulnya udah lecek, dan bagian depannya jg jilidannya udah mulai ada yg terbuka hi hi hi, gak tahu bisa bertahan dibaca sekali lagi gak yah? :D

Saturday, December 17, 2011

Racauan Akhir Tahun



Tinggal 14 hari lagi yah ternyata tahun ini. Tahun yang buatku cukup heboh dong. Pasti hebohlah, kan tahun ini, aku menikah hihihi....

Yah, seperti biasa, kepinginnya sih si blog bisa diisi dengan rajin, sayangnya niat malas masih lebih kuat hua ha ha ha ha, cuma yah untuk memuji diri sendiri, tahun 2011 udah posting agak lebih banyak dari 2010, berarti udah bagus dong :D

Kalau diingat-ingat sih, yah tahun ini lumayan kog, bacaannya gak ada yang mogok, walau ada satu novel yang dibacanya lambat sekali, kadang dibaca 10-20 halaman, trus gak dibaca lagi sampai berminggu-minggu. Yah si bangsawan M
onte Cristo itu hahaha, dia benar-benar membuat kita capek kog, abisnya bukunya tebal dan tulisannya juga kecil *alasan sih*. Sampai hari ini, masih di halaman 667 dari 875 halaman. Masih ada 14 hari lagi sih untuk membuktikan bahwa buku ini bisa kuselesaikan dalam tahun ini! ayo semangaaat...!!!

Buku-buku lain, yah gak ada yang mogok, tapi ini juga ada sebabnya kog, yaitu, sekarang aku makin selektif juga untuk beli buku. Belakangan emang gak segampang dulu tergoda untuk beli buku. Salah satu sebabnya, pertimbangan tempat menyimpannya. Dan lama-lama juga kan males numpukin buku-buku yang gak selesai dibaca dan gak diniatin untuk diselesaikan juga :)

Sama juga dengan komik, belakangan juga cuma mengoleksi Shonen Star (yang walaupun sekarang udah dobel jumlahnya karena terbit dua kali sebulan hiks), dan paling sekitar 4-5 seri komik lagi tuh. Selalu sih beli Kobochan, Kariage Kun sama Section Chief Otoboke hahaha, abisnya kumpulan komik strip Masashi Ueda ini emang lucu, walau sebenarnya topiknya sederhana.

Yah itu dulu deh untuk sekarang :)


Saturday, May 14, 2011

The Mediator, 3 Buku Terakhir :D


Judul : The Darkest Hour (Masa Terkelam), Haunted (Dihantui), Twilight (Senja Berlalu)
Pengarang : Meg Cabot, (c) 2001, (c) 2003, (c) 2003
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Desain dan ilustrasi cover : Rizki Arnosa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011 & April 2011
Tebal : 288 halaman, 248 halaman; 288 halaman; 13,5 x 20 cm

Ya ya ya, kali ini pemalasan lagi, daripada harus menuliskan satu per satu tentang buku-buku ini, jadi aku tulis saja sekaligus dalam satu entri hua ha ha ha ha

Nah, ini masih novel serial tentang cewek umur 16 tahun yang bisa berkomunikasi dengan para hantu, namanya Sussanah Simon.

Di jilid ke empat, yang judulnya The Darkest Hour, Suze terancam bahaya, karena cewek yang dulunya hantu Maria, calon istri Jesse, mengincar nyawanya. Jesse ini cowok hantu yang keren, yang tinggal di kamar Suze, yang sudah mati kira-kira 150 tahun . Sepertinya ini diawali dengan kegiatan ayah tiri Suze yang membongkar halaman belakang mereka untuk membangun dek untuk hot tub. Sesuatu ternyata terkubur di sana, yang membuat hantu Maria dan Diego gelisah, takut reputasi mereka sebagai orang terhormat akan ternodai. Diego itu suami Maria, orang yang jadi selingkuhan Maria waktu Maria sudah dijodohkan dengan Jesse, dan juga orang yang membunuh Jesse.

Sementara itu, Suze sedang bekerja sepanjang musim panas, di sebuah resort mewah, menjaga anak-anak orang kaya yang berlibur di sana. Suze jadi favorit sebuah keluarga, karena dia berhasil membuat Jack, anak paling kecil keluarga Slater, menjadi lebih normal, mau bermain di luar, dan tidak lagi hanya mengurung diri di kamar. Ternyata, Jack juga seperti Suze, bisa melihat hantu, dan bisa berbicara dengan mereka. Lalu, ada abang Jack yang sangat ganteng mengiurkan, Paul.

Jadi begitulah, akhirnya Suze selamat, walau Jesse sempat terancam bahaya dieksorsis, dan Suze akhirnya mengetahui, bahwa bukan hanya Jack, tapi Paul juga seorang mediator seperti mereka. Bahkan ternyata, Paul bukan sekedar mediator yang hanya bisa berbicara dengan hantu, tapi bahkan bisa masuk ke dimensi antara, tempat antara dunia orang hidup dan orang mati.

Lalu, di buku ke lima, Haunted, Paul ternyata pindah ke Carmel, masuk ke sekolah yang sama dengan Suze. Apa sebenarnya maksud Paul dengan melakukan itu? Suze sangat khawatir Paul akan mengeksorsis Jesse lagi seperti yang pernah dilakukannya. Paul memang memiliki pengetahuan lebih tentang kemampuan yang dimilikinya dan Suze. Paul memiliki dokumen-dokumen tentang orang-orang seperti mereka, yang ditulis oleh seseorang bernama Slaski. Paul tinggal bersama kakeknya yang sakit parah.

Dan di buku ke enam, Suze dan Paul melakukan perjalanan waktu, kembali ke masa 150 tahun yang lalu. Kemampuan berkelana menembus waktu ini sebenarnya berbahaya, dan kakek Paul, yang ternyata adalah Mr. Slaski yang menulis tentang keberadaan para pengelana itu, sudah memperingatkan mereka bahwa hal tersebut sangat berbahaya. Tapi, Paul ingin menyelamatkan Jesse, agar tidak menjadi hantu, dan Suze berusaha mencegah itu terjadi.

Tapi yang terjadi tidaklah seperti yang disangka oleh Suze.

Yah, serial ini sepertinya berakhir di jilid 6, karena hampir semuanya akhirnya selesai, Jesse gak jadi hantu lagi, Paul akhirnya mau menerima bahwa Suze tidak mencintainya, dan hantu ayah Suze akhirnya bisa melanjutkan perjalanan.

Hm komentarku yah, terus terang, aku lebih menikmati serial ini dari yang pertama sampai ke empat. Lebih seru aja. Di buku ke lima dan ke enam, buatku yah, rasanya sangat membosankan. Terlalu banyak cerita mengenai konflik emosi abege tentang cinta, dan justru tak seperti 4 buku sebelumnya, yang ceritanya lebih mengenai para hantu yang ditemui Suze dan pastor Dom. Dan, akhir ceritanya juga yah agak terpaksa sepertinya, supaya berakhir bahagia untuk semua orang *sigh*. Tapi yah gimana lagi, serial ini kan buat konsumsi remaja, hihihi, jadi yah mungkin wajar aja kali yah, kalau diset seperti itu hehehe.

O ya, buat yang suka nanya, "ada suka-sukaannya gak" kali ini bisa dijawab : adaaaaa... apalagi di buku lima dan enam, wakakakkaka, cuma yah sekedar cium-ciuman doang loh, wakakakak, namanya juga novel remaja hihihihi.

Tuesday, May 10, 2011

Senyum Abadi


Judul : Senyum Abadi (The Eternal Smile)
Oleh : Gene Luen Yang & Derek Kirk Kim (c) 2009
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2010
Tebal : 176 halaman; 15 x 21.5 cm

Buku ini berisi 3 komik pendek, dan Senyum Abadi yang dijadikan judul jilid ini diambil dari komik kedua yang bercerita tentang sebuah negeri yang dihuni para kodok, dan ada satu kodok kaya nan serakah, mirip sekali dengan karakter Paman Gober di komik Donal Bebek. Luar biasa pelit, pegawainya digaji sangat kecil dan sering dipotong pula gajinya, punya tiga ekor keponakan yang selalu mendampingi ke mana pun sang paman pergi. Kodok tua nan kaya itu bernama Kakek Greenbax. Lalu suatu hari, pegawainya menunjukkan pada Kakek Greenbax sebuah bentuk di langit yang berbentuk senyuman, dan si orang kaya itu pun punya ide untuk membentuk sekte keagamaan dan menamai aliran itu dengan Senyum Abadi.

Dua cerita lagi disajikan dengan gaya yang berbeda. Komik pertama di jilid ini berjudul Kerajaan Duncan, yang bercerita tentang Duncan, seorang pemuda yang tampan. Setelah raja di tempat tinggalnya dibunuh oleh para kodok, Duncan berhasil membalaskan dendam kepada kaum kodok tersebut, dan menikahi putri kerajaan itu. Tetapi kehidupannya menjadi aneh, karena dia terobsesi pada sebuah botol yang ditemukannya sewaktu mendatangi wilayah kaum kodok.

Cerita ketiga, tentang seorang gadis yang bekerja di sebuah perusahaan yang mengelola jaringan internet. Setelah menerima sebuah surat elektronik dari seseorang yang mengaku pangeran Nigeria, hidup Janet pun berubah. Uangnya habis untuk memenuhi permintaan sang Pangeran, yang selalu mengiming-iminginya dengan janji akan memberi imbalan yang sangat menggiurkan. Tapi benarkah?

Ketiga cerita ini disajikan dengan gaya komik yang berbeda-beda. Komik pertama lebih mirip apa yah, kalau pernah lihat serial Bone, yaaa, kira-kira begitulah bentuk-bentuknya. Sementara komik kedua, lebih mirip komik Disney emang. Nah, komik ketiga, beda lagi, lebih sepi gitu, apalagi, kotak-kotak komiknya gak dibuat kayak dua komik sebelumnya, yang mengikuti format kotak-kotak komik yang sudah biasa kita lihat di komik-komik Eropa. Di komik ketiga ini, gambar-gambarnya diletakkan agak jarang-jarang, bahkan bisa dalam satu halaman hanya ada dua kotak kecil, sisanya putih kosong.

Aku sih bukan ahli komik, baca komik juga cuma sekedar menikmati cerita saja, dan gambarnya tentu (karena kalau gambarnya gak suka, aku sih malas bacanya hehehe). Nah, jadi kalau ditanya, keistimewaan kumpulan komik ini, bingung gimana jawabnya. Yang pasti, aku suka ketiga ceritanya, terutama cerita ketiga. Terus gambar yang paling aku suka sih yah gambar-gambar di cerita ketiga :)


Saturday, April 23, 2011

Gadis dengan Kaki dari Kaca


Judul : Gadis dengan Kaki dari Kaca (The Girl with Glass Feet)
Pengarang : Ali Shaw (c) 2009
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Maret 2011
Tebal : 428 halaman ; 13 x 20 cm

Jadi yah, buku ini memang ceritanya tentang seorang gadis yang kakinya dari kaca. Ida Maclaird namanya, entah bagaimana, tiba-tiba kakinya berubah menjadi kaca.

Saat pertama bertemu dengan Ida, Midas Crook sedang berjalan-jalan mencari objek foto. Tapi saat itu Midas belum tahu tentang kaki Ida tersebut. Dia hanya merasa heran melihat sepatu kebesaran yang dipakai Ida, dan cara berjalan Ida yang tertatih-tatih menggunakan tongkat. Tetapi Midas merasakan sesuatu yang aneh dari diri Ida. Perkenalan mereka yang singkat itu, ternyata berlanjut menjadi hubungan pertemanan yang tidak biasa, terutama bagi Midas yang penyendiri itu.

Midas dan Ida pun jatuh cinta, tapi karakter Midas yang dingin membuat hubungan mereka menjadi sulit pada awalnya, sampai akhirnya Ida berhasil membuat Midas mengakui perasaannya tersebut. Mengubah Midas dari pria penyendiri menjadi seorang kekasih.

Yah alur cerita utamanya sih begitu. Tapi, yang membuat novel ini istimewa, kisah pasangan Ida dan Midas ini berlangsung di sebuah daerah terpencil, pulau yang tidak menarik, tetapi memiliki rahasia mistisnya. Pulau tempat hidupnya lembu-lembu bersayap ngengat, mahkluk aneh yang bisa membuat mahkluk lain yang dipandangnya berubah menjadi putih. Pulau di mana ada orang-orang yang berubah menjadi kaca. Pulau tempat terjadinya kisah cinta terlarang dan cinta yang tak tersampaikan, hubungan anak dan orangtua yang tidak harmonis. Pulau kecil, di mana kehidupan orang-orangnya saling terkait.

Jadi, kalau suka cerita yang bernuansa mistis, buku ini sangat asik buat dinikmati, dan juga karena karakternya gak banyak, jadi gak capek untuk mengikuti ceritanya :)

Sunday, April 03, 2011

Kisah Kehidupan di Padang-padang Keemasan




KISAH KEHIDUPAN DI PADANG-PADANG KEEMASAN
(THE STORY OF LIFE ON THE GOLDEN FIELDS)
oleh Kim Dong Hwa (c) 2003)
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010

Volume 1 - Warna Tanah, 319 halaman, 17 x 24cm
Volume 2 - Warna Air, 318 halaman, 17 x 24cm
Volume 3 - Warna Langit, 322 halaman, 17 x 24cm

Kalau ke toko buku, lalu lihat ketiga novel grafis ini, pasti pengen lihat, karena memang, tampilan kemasannya itu menarik, buatku malah menggemaskan :D dengan warna-warna lembut, dan gambarnya juga gak terlalu ramai.

Dalam kata pengantarnya di awal jilid pertama, Kim Dong Hwa menuliskan kalau buku ini adalah cerita-cerita dari masa muda sang ibu.

Ceritanya ternyata tentang kisah seorang anak perempuan bernama Ehwa, yang tinggal bersama ibunya yang sudah janda, dan memiliki warung minum. Cerita dimulai dari Ehwa kecil, yang baru mulai mengenal perbedaan laki-laki dan perempuan. Di awal lumayan lucu sih, karena Ehwa masih bingung waktu temannya yang anak laki-laki mengatakan kalau dia cacat karena tidak punya 'burung'. Sang ibu dengan sabar dan lembut menjelaskan dengan caranya yang khas mengenai tubuh perempuan dan laki-laki.

Di jilid pertama yang diberi judul Warna Tanah, diceritakan tentang Ehwa yang masih kecil sampai menjelang remaja, saat dia mulai mengalami cinta pertamanya, dengan seorang biksu kecil dari kuil dekat desanya. Juga ibunya yang jatuh cinta dengan seorang pelukis keliling, yang hanya singgah sesekali ke rumah mereka. Lalu Ehwa juga bertemu dengan tuan muda anak pemilik kebun buah, dan hatinya pun tergoda juga.

Warna Air bercerita tentang Ehwa yang sudah remaja, dan bertemu dengan Duksam, pemuda yang bekerja pada seorang petani di desa tetangga. Di sini diceritakan tentang Ehwa yang mulai mengenal cinta dengan lebih serius, hubungan antara perempuan dan laki-laki yang mulai diwarnai dengan kontak fisik, bukan hanya sekedar saling lihat dan sekedar bicara malu-malu. Tetapi majikan Duksam, si petani tua yang mata keranjang, membuat hubungan mereka menjadi rumit. Duksam yang marah merusak rumah majikannya, sehingga dia harus melarikan diri karena dikejar-kejar majikan yang marah.

Warna Langit merupakan jilid terakhir dari trilogi ini, berkisah tentang Ehwa yang menunggu Duksam yang bekerja sebagai pelaut, mengumpulkan uang untuk bisa menikah dengannya. Yah, tentunya di akhir cerita, pernikahan pun berlangsung, dan juga hubungan ibunya dengan si pelukis keliling pun menjadi jelas akhirnya.

Secara keseluruhan, ceritanya sederhana tapi menarik. Gaya penceritaannya juga enak diikuti, karena mengalir terus. Hanya saja, kadang pikiran-pikiran para tokohnya dan juga beberapa dialog dituliskan dengan sangat puitis. Cantik sih, tapi aku sih kurang suka dengan gaya yang seperti itu, hehehehe. Cocok kog dengan gambar-gambar cantik yang dibuat Kim Dong Hwa dalam seri ini. Yang paling aku suka sih detil-detil pakaian dan pemandangannya. Cantiiiiiiikk...... untuk ini aku mengakui aku suka sekali. Tapi dari gambar-gambar itu, aku kurang suka gambar muka orangnya hihihihihihi, kerasa aneh aja. Tapi kalau dilihat lebih lama, bagus juga kog, hihihi, ntah gimana, bisa kerasa garis-garis wajah Korea-nya.

Di beberapa bagian sih lucu juga, hehehe, kayak di bagian awal, waktu Ehwa ketemu teman-teman cowoknya dan diajakin lomba pipis, hahahaha, trus juga main kawin-kawinan dengan teman-teman perempuannya. Dan waktu mereka remaja, temannya juga yang mengajari Ehwa banyak hal tentang seks. Oh yah, novel grafis ini memang banyak membahas tentang seks, tapi dengan cara yang manis :)

Walau cukup mahal, yah layak kog untuk dijadiin koleksi, dibaca ulang juga mau kog aku :)

Monday, March 07, 2011

Kartun Riwayat Peradaban Modern



Kartun Riwayat Peradaban Modern
Jilid 1 dan 2

Oleh

Larry Gonick

Diterjemahkan oleh Damaring Tyas Wulandari Palar

Jilid I terbit Agustus 2010 (cetakan 2) dan Jilid II terbit Agustus 2010
Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tebal Jilid I : 259 halaman, Jilid II : 260 halaman

Setelah mengeluarkan tiga jilid seri Kartun Riwayat Peradaban, yang membahas sejarah peradaban dunia sejak jaman dinosaurus sampai perang dunia I dan II, dalam bentuk komik (atau lewat yah, udah lupa wekekeke), belakangan Larry Gonick kembali dengan dua jilid komik yang membahas tentang sejarah peradaban modern.

Mengapa disebut modern? Entahlah, aku gak tau kenapa hehehee

Dalam dua jilid ini, Larry Gonick membuka dengan membahas peradaban di Amerika Selatan, suku-suku Maya, Inca dan Aztec, dengan segala kekejaman yang mewarnai kehidupan ritual, yang digambarkan dengan gaya komik dan diselingi dengan komentar-komentar jahil yang membuat kita geli. Kita akan diajak mengikuti perjalanan suku-suku Indian tersebut, mulai dari masa-masa kejayaan sampai hancurnya peradaban tersebut dengan kedatangan para penakluk Spanyol.

Sementara itu, Larry Gonick juga bercerita tentang apa yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya, seperti Jepang, China, India, dan tentunya Eropa. Kejadian-kejadian penting seperti drama politik yang terjadi di Eropa, juga isolasi diri yang dilakukan Jepang, dan persaingan menguasai dunia oleh Spanyol, Inggris dan Perancis. Perang tak henti-hentinya antara Eropa dan Turki, pokoknya bikin pusing hihihihihi

Beberapa bagian rasanya sudah pernah dibahas di tiga jilid Kartun Riwayat Peradaban sebelumnya, tapi memang namanya juga sejarah dunia yah, antara satu kejadian dengan kejadian lain sering ada kaitannya. Pergolakan politik di Eropa tentunya juga akan terasa dampaknya di Asia dan Amerika. Aktifitas militer Jepang di Asia Pasifik tentunya membuat Eropa juga bergolak.

Yang pasti sih, aku tetap menikmati cara Larry Gonick menyajikan sejarah dalam bentuk komik. Dan yang aku suka itu, sering ada catatan kaki, tetap dalam bentuk komik, yang kadang-kadang gak terlalu ada hubungannya dengan sejarah dunia, tapi malah cenderung kayak gosip hihihi. Yang kayak begini memang yang membuat baca komik sejarah satu ini jadi gak ngantuk :D Dan juga detil-detil gambarnya itu keren, pas di bagian suku-suku Indian Amerika Selatan, waduh, itu gambar kota-kota kunonya cukup detil, demikian juga dengan kostum-kostum yang digunakan orang-orang di masa itu. Sama halnya dengan kostum dan detil-detil bangunan dan interior di Eropa, Jepang, Cina dan India. Wajah-wajah para tokoh sejarah itu juga bisa terlihat sangat khas, sehingga kita bisa mengenali dengan cepat, siapa tokoh yang sedang dibahasnya. Dan yang bagus juga, kadang, kita bisa mendapatkan kesimpulan satu kejadian penting hanya dalam SATU kotak! ha ha ha ha......

Satu lagi yang aku suka, yaitu bagian Bibliografi, karena Larry Gonick suka menambahkan komentar-komentar pribadinya tentang buku-buku yang dijadikannya referensi dalam membuat kartunnya ini.

Friday, March 04, 2011

Membaca Count of Monte Cristo


Sekali ini, aku cerita tentang buku yang belum selesai-selesai kubaca ya :D

Jadi... ceritanya gini, pas akhir tahun 2010, entah kenapalah, terbersit di pikiran, ingin membaca buku-buku klasik, dan salah satunya yah si Count of Monte Cristo ini.

Dulu banget, waktu masih SMP gitu, aku pernah baca buku ini, edisi abridged terjemahan bahasa Indonesia, yang sampulnya warna hitam gitu (kalau ada yang tahu, itu terbitan siapa sih? hehehe). Buku itu dulu punya tanteku, kubaca waktu nginap di rumahnya.

Jadi, Desember lalu, pas jalan di mall, mampir di kios buku yang jual buku impor, dan kubelilah buku ini, cuma tiga puluh ribu rupiah saja, ha ha ha! murah sekali, soalnya kan buku ini lumayan tebal gitu, 800 halaman lebih, dan tulisannya juga kecil-kecil he he he. Dan awal Januari pun, buku ini mulai dibaca....

Tentunya yang dibeli terjemahan bahasa Inggris dong... mana sanggup saya baca yang bahasa aslinya, sudah dalam bahasa Perancis, yang tentunya jadul pula itu... pastilah gak mampu bacanya hi hi hi hi

Lalu, treng treng treng.... sudah jalan dua bulan lebih, aku belum juga habis separuh buku ini hihihihi, tentunya karena banyak main game *seperti biasaaaaa* dan juga aku baca buku ini kalau lagi mood saja, kadang sekali baca bisa beberapa puluh halaman sekaligus, kadang cuma 2 halaman sudah tertidur, huehehehehe

Begitu pun, aku masih ingin melanjutkan baca buku ini kog, karena memang kesan yang ditimbulkan, waktu dulu aku pertama membacanya itu, masih kudapatkan sekarang. Memang kadang-kadang ada cerita yang sepertinya agak ngalor-ngidul, tapi kemudian, detil itu akan muncul lagi setelah beberapa saat.

Oh yah, edisi yang aku baca ini, dilengkapi dengan kata pengantar dan catatan dari Keith Wren (gak tahu sih ini siapa, hehehehe, tapi yang pasti dia seseorang dari University of Kent di Canterbury :P) yang banyak bercerita tentang Alexander Dumas dan penulisan Count of Monte Cristo ini sendiri, dan juga di bagian belakang, ada kumpulan catatan kaki tentang penerjemahan buku ini dan juga detil-detil yang kadang seenaknya ditulis oleh Dumas yang kadang tidak cocok dengan kronologis sejarah yang sebenarnya. Ternyata dalam edisi ini juga, si komentator menemukan beberapa kesalahan penerjemahan tuh, hihihihihi.

Jadi, walau pun saya sekarang masih berada di halaman 324 *sigh* dari 875 total halaman buku ini, sepertinya perjuangan ini tetap akan dilanjutkan, hingga halaman penghabisan wkakakkakaka.....


Tuesday, March 01, 2011

The Mediator #3 - Reunion


Judul : The Mediator #3 - Reunion
Penulis : Meg Cabot (c) 2001
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Januari 2011
Tebal : 259 halaman; 13,5 cm x 20 cm

Susanna adalah mediator, remaja yang bisa melihat hantu dan `mengusir` mereka dengan membantu mereka menyelesaikan 'tugas' yang belum selesai di dunia ini. Buku ini buku ketiga yang terbit dalam seri Mediator karya Meg Cabot.

Kali ini, Suze menghadapi segerombolan remaja yang masuk kelompok paling populer di sekolah saingan sekolahnya, gerombolan yang dijuluki Malaikat RLS oleh kepala sekolah mereka. Yah, keempat remaja itu memang anak-anak yang populer dan berpenampilan sangat menarik, sayangnya mereka sudah mati. Mati karena kecelakaan dan terjatuh ke jurang, suatu malam sepulang dari bersenang-senang.

Tapi benarkah penyebabnya karena kecelakaan, karena mereka masih gentayangan, dan menghantui seorang siswa teman sekelas Suze, Michael. Padahal penyelidikan polisi sudah membuktikan kalau Michael tidak bersalah dalam kecelakaan itu, kejadian itu murni kecelakaan.

Tetap saja, keempat hantu remaja itu terus menerus berusaha mencelakai Michael, yang kalau bukan karena pertolongan Suze, mungkin sudah sejak awal berhasil dibunuh mereka. Berbagai kejadian mulai dari jatuhnya boneka raksasa di mall, sampai terbelit ganggang di laut hampir merengut nyawa Michael.

Berkat bantuan Jess, Suze berhasil berkomunikasi dengan para hantu itu, yang begitu marahnya sehingga tak bisa didekati oleh Suze dan pastor Dome -- yaaa.. si pastor yang juga mediator dong huehehe --

Jadi seperti biasanya, sukses! hahahaha

Yah, gitu aja, banyak sih sebenarnya detil-detil seru yang bikin cerita ini menarik. Dan bahasanya yang juga ringan (dibantu terjemahan yang enak juga), jadi baca buku ini sih sangat menghibur, apalagi kalau lagi capek dan gak pengen baca yang berat-berat. Dan aku juga memang suka sama karakter Suze yang agak penyendiri, cenderung antisosial itu hihihihi :D

Hm, pengen komen covernya jg sih, hihihi, karena rada gak suka juga, kayaknya cewek di cover ini gak menggambarkan Suze yang cool dan antisosial itu, ekspresi wajahnya gak suka ih :P huehehehe


Sunday, February 27, 2011


Judul : Ulysses Moore #3 - Pulau Topeng
Penulis : Pierdomenico Baccalario (c) 2006
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Erlangga for Kids, Jakarta, 2010
Tebal : 213 halaman ; 14,5 x 21,5 cm

Buku tentang petualangan si kembar Jason dan Julia dan teman baru mereka, Rick sudah masuk buku ke empat.

Aduh, karena udah banyak lupa cerita-cerita sebelumnya, hihihihi, aku juga bacanya agak meraba-raba sih. Mungkin nanti kapan-kapan pengen baca lagi dari buku satu deh, wekekekekek.

Yah singkatnya yah, kali ini mereka bertiga lagi-lagi menggunakan Metis, kapal ajaib di dalam gua di bawah Argo Manor, rumah baru Jason dan Julia. Mereka pergi ke Venesia mencari Peter Dedalus (jangan tanya, aku juga lupa kenapa mereka mencari Peter Dedalus, hihihi, yang pasti tentu ada hubungannya dengan mencari tahu lebih banyak tentang Ulysses Moore, pemilik asli Argo Manor).

Ternyata di Venesia, mereka bertemu dengan sepasang suami istri, yang ternyata anggota Illuminati. Yah, ini sih di buku ini, kurang jelas juga apa hubungannya dengan cerita, apa cuma gaya-gayaan aja, atau nanti di buku berikutnya masih ada hubungannya yah?

Nah, tentu saja, dengan memecahkan berbagai teka-teki, seperti di buku-buku sebelumnya, mereka berhasil menemukan di mana Peter Dedalus bersembunyi (kalau pola ini sih aku masih ingat, hehehe, karena salah satu keasikan serial ini yah cerita tentang ketiga anak itu memecahkan berbagai potongan petunjuk yang seperti teka-teki itu).

Dan, lagi-lagi, pas ketemu, eeeeh.... ada si Oblivia yang licik itu, hahahahahhaha.....

Yah gitu deh yang bisa diceritain, soalnya karena sudah lupa dengan detil-detil cerita sebelumnya, jadi bingung juga bacanya hehehehe, bukan jenis buku yang bisa dibaca terpisah-pisah sih.

Tapi tetap aja, aku suka buku ini karena kemasannya yang cantik, covernya itu keren banget, dan karena dikemas pakai hard-cover gitu, jadi tambah bagus. Dan di dalam juga, ilustrasi-ilustrasinya bagus-bagus dan banyak. Di tiap awal bab, ada kolase-kolase cantik dari petunjuk-petunjuk atau pun hal-hal yang berhubungan dengan tempat-tempat atau benda yang diceritakan. Dan juga huruf-hurufnya yang besar, jadi biar pun 200-an halaman, bacanya jadi sebentar, hihihihi :D :D

Ini Itu Ini Itu



Gak kerasa, ternyata sudah akhir bulan Februari aja (besok sih, tapi yah beda tipis ajalah).

Dan lagi-lagi blog terbengkalai, yea!!!

Ngapain aja yah sebulan ini? Hm, lumayan sibuk beneran sih, beberapa minggu harus bangun di bawah jam 8, yang sangat tidak alami bagi diriku yang normalnya bangun siang :P
Dan pulang pun, sampai di rumah paling cepat yah jam lima sore, belakangan malah kadang jam 7, karena 'kandang singa'nya lumayan jauh dan macet hehehehe.

Di jalan juga gak bisa baca, karena harus nyetir sendiri, huuuh, kalau naik angkot sih enak, bisa baca di jalan, jadi gak kerasa banget bosen di jalan. Tapi sayangnya tempat yang dituju agak sulit kalau harus naik angkot.

Yah gitu deh, akhirnya bacaan pun semakin menurun drastis (mengingat sisa waktu di rumah dipakai tentunya ngurusin ladang-ladang dan kota beserta anak-anaknya itu hehehehehehehhe).

Bulan Februari, hihihi, dihitung-hitung, cuma menyelesaikan sisa Gideon Trilogi yang buku 3 (Time Quake), dan coba lanjut lagi si Count of Monte Cristo (ya deh ngaku, bulan ini cuma maju 100 halaman huahahahha). Sisanya sih selesai, baca Skulduggery Pleasant yang ke 2 dan Mediator 3 (ya iyalah, buku gini kan asik dan gampang dibaca hauahhaha, seru aja :D). Oh yah, ada juga baca ulang Dear Mr Henshaw-nya Beverly Cleary, suka aja hehehe. Eh ternyata baca juga yang Ulysses Moore buku 4, Pulau Topeng, yang emang aku suka banget ama ilustrasi-ilustrasinya, ditambah tulisannya yang besar-besar hahahaha.....

Hm, bulan ini juga baca si Trilogi Warna Air, Tanah dan Langit. Yah, secara keseluruhan, trilogi ini oke saja. Dibilang bagus banget, yah untuk seleraku sih gak, karena kalimat-kalimatnya kan puitis, kadang bikin aku eneq, hihihihi. Tapi gambar pemandangannya, sukaaaa... tapi gak suka gambar-gambar orangnya, hihihi, cuma baju-bajunya sih lucuuuuuu.. suka juga suka juga suka juga...

Oh yah, akhirnya awal bulan selesai juga deh baca ulang Flame of Recca yang udah dimulai sejak Januari hihihi (ya iyalah, bacanya jg cuma pas di kamar mandi *blushed* hehehehe). Dan sekarang posisi bacaan kamar mandi itu digantikan dengan Kimagure Orange Road huahahaha, baru sampe jilid 4, dari total 18 jilid hehehehe. Lucu juga sih baca komik-komik lama itu :D

Nah, hari ini sih udah hampir selesai Komik Riwayat Peradaban Modern yang jilid I, hehehe, kayaknya ntar mau lanjut yang Jilid II.

Huh, lagi nunggu juga kiriman dari Book Depository, blon nyampe-nyampe, Donna bilang pesanan dia (yang waktu itu pesan pada saat yang sama) udah sampai satu buku, dan itu juga nyasar ke Australia, hahahaha.... Ntah gimana nasib pesananku yaaaa? *sigh*

Yaa... akhirnya begini dulu deh postingan kali ini, dan seperti biasa, tetap berharap ntar bisa dapat ide untuk nulis review atau sekedar komentar ke buku yang aku baca deh.. *berdoa dalam hati* :D


Thursday, February 10, 2011

Satu Lagi Ulang Tahun Yang Terlewatkan



Membaca sebuah postingan dari salah seorang penulis terkenal, membuatku teringat, kalau ternyata lagi-lagi aku melewatkan ulang tahun si blog hijau ini, hiks....

Okay, blame it on Zynga, ha ha ha!!!!

Jadi, cukuplah, sudah ada kambing hitamnya, mendingan cerita yang lain saja hehehe

Seharusnya, tanggal 1 Februari 2011 bisa dibilang ulang tahun blog ini, karena postingan pertama di sini tertanggal 1 Februari 2005, wow, sudah bisa masuk SD nih :P

Tapi sebenarnya, ini bukan blog pertama yang aku buat. Waktu itu sudah pernah bikin blog di tripod dan sebenarnya udah mulai ngutak-ngutik blogger sejak November 2004 (iya iya.. ini semua hasil korek-korek lagi kog ke profile hihihihihi, jadi ketauan, kalau disuruh ingat sendiri yah udah lupalah), tapi waktu itu aku pernah bikin blog yang udah didelete hihihihi *yah tapi masa itu sudah berlalu sih, sekarang gak pernah ngedelete blog lagi, cuma ditinggal saja -- memandang iba pada beberapa blog yang sudah diterlantarkan*

Eh, jadinya malah jalan-jalan ke blog lama, trus ketawa-ketiwi sendiri, dulu itu masih suka ngeblog hal-hal yang copy paste aja hihihi (tapi setidaknya aku tetap bikin link ke sumber aslinya looooh), yang mulainya Oktober 2004 (ada gambar Inuyasha pula hihihihi)

Yah sudahlah meracaunya sampai di sini saja, sambil berharap tahun depan gak kelewatan lagi ulang tahun si blog tersayang muah muah muah


Sunday, January 23, 2011

A Wrinkle in Time


Judul : Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)
Pengarang : Madelaine L'Engle
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : Penerbit Atria, Jakarta, Agustus 2010
Tebal : 267 halaman; 13 x 20.5 cm

Margaret Murry, yang biasa disapa Meg, punya sepasang adik kembar, dan seorang adik laki-laki yang masih kecil. Ibu mereka seorang ilmuan, sama seperti ayahnya. Tetapi sang ayah sudah lebih setahun tidak terdengar kabarnya. Orang-orang di kota kecil mereka mulai membicarakan, gosip tersebar, ayah mereka melarikan diri. Tapi Meg dan adik-adiknya tahu, ayah mereka tidak melarikan diri. Sesuatu terjadi, tapi tak seorang pun yang tahu apa, bahkan ibu mereka.

Meg sendiri sering mengalami masalah di sekolah. Dimarahin guru, bertengkar dengan teman. Ditambah dengan menghilangnya ayah mereka, Meg semakin tampak aneh bagi anak-anak lain. Adiknya yang paling kecil, Charles Wallace pun sering dianggap orang idiot, karena dia selalu diam di depan orang lain. Hanya mereka sekeluarga, terutama Meg dan ibunya, yang tahu betapa cerdasnya Charles Wallace. Bahkan kadang-kadang terasa seolah-olah Charles Wallace yang kecil itu bisa membaca pikiran mereka.

Lalu suatu hari, setelah malam yang berbadai, Charles Wallace mengajak Meg untuk mengunjungi rumah yang terkenal berhantu, yang menurut anak kecil itu dihuni oleh tiga orang nenek. Dalam perjalanan, mereka bertemu Calvin O'Keefe, anak laki-laki yang dua kelas di atas Meg, yang selama ini terkenal sebagai atlet basket, anak yang lumayan populer di sekolah mereka. Tapi ternyata, Calvin pun merasakan kalau dia berbeda dari anak-anak lain, hanya saja dia berusaha tampil sama seperti mereka. Bersama Calvin, mereka menemui ketiga nyonya tua itu, Mrs Who, Mrs Whatsit, dan Mrs Which.

Ketiga nenek yang ternyata makhluk dari planet lain, yang mengetahui di mana Mr Murry berada. Dan ternyata, hilangnya Mr Murry berhubungan dengan sesuatu yang mengerikan, kuasa kegelapan yang terus menerus diperangi oleh banyak mahluk di berbagai planet. Bersama para makhluk yang tampil seperti nenek-nenek itu, mereka pun melakukan tesser, proses perpindahan dengan prinsip seperti mengerutkan ruang dan waktu, dan mereka bisa tiba di planet asal ketiga nenek itu dalam waktu sekejap.

Ketiga anak itu pun diantarkan ke planet Camazotz, tempat ayah mereka ditawan, dan mereka harus berjuang melawan ITU, sang penguasa yang menguasai kegelapan. Sayangnya, walau berhasil membebaskan sang ayah, Charles Wallace malah dikuasai oleh ITU. Dan Meg pun harus kembali sendirian ke Camazotz, untuk membawa kembali Charles Wallace, dengan kekuatan yang ada dalam dirinya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh ITU, yaitu cinta.

Buku ini sih sebenarnya sudah lama pengen aku baca, kayaknya sejak masih sekolah sih. Kalau gak salah pernah baca tentang buku ini di salah satu novel remaja lain, tapi udah gak ingat di mana hehehe. Waktu itu juga pernah ketemu buku lain karangan Madelaine L'Engle, yang memang menceritakan juga tentang keluarga Murry, tapi karena tahu buku pertamanya itu Wrinkle in Time, jadi gak jadi dibaca, hehehehehhehe.

Yah, kalau mau dipahami tentang teori-teori bidang dan waktunya sih, mungkin capek juga, hihihi, jadinya aku bacanya yah santai aja, menikmati petualangan Meg, Charles Wallace, dan Calvin. Menikmati karakter ketiga anak yang "bukan produk massal" itu :D

Trus, edisi terbitan Atria ini, covernya cantik.... lucu banget, imut :D suka deh hehehe

Tuesday, January 04, 2011

The Cider House Rules


Judul : The Cider House Rules
Pengarang : John Irving, 1985
Penerbit : Black Swan, 1998 paperback edition reprinted
Tebal : 731 halaman; 12.5 x 19.8 cm


Ceritanya berkisar di kehidupan seorang anak yatim piatu bernama Homer Wells, dari mulai lahir di panti asuhan St Cloud's sampai besar dan dewasa di sebuah perkebunan apel bernama Ocean View.

Panti asuhan St Clouds dikepalai dokter Wilbur Larch, yang dibantu dua orang suster, Suster Edna dan Suster Angela. Seperti sebagian besar anak lainnya di panti asuhan itu, Homer Wells lahir di sana, dan ibunya langsung pergi meninggalkan tempat itu. Homer sendiri diberi nama oleh Suster Angela. Dan entah mengapa, setelah berkali-kali ditempatkan untuk adopsi, Homer selalu kembali ke panti asuhan dengan berbagai alasan. Sehingga akhirnya Dokter Larch dan kedua suster itu memutuskan, bahwa Homer Wells sudah ditakdirkan untuk menetap di panti tersebut, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Seiring waktu, dokter Larch dan kedua suster tersebut semakin menyayangi Homer. Dokter Larch bahkan mulai mendidik Homer dengan ilmu kedokteran, terutama yang berhubungan dengan kebidanan. Hingga sampai suatu waktu, kedatangan sepasang muda-mudi yang berpenampilan menarik ke panti tersebut mengubah rutinitas yang selama ini dijalani Homer.

Homer pun dibawa ke perkebunan Ocean View bersama pasangan Wally Worthington dan Candy Kendall. Bertahun-tahun di perkebunan, Homer pun mempelajari banyak hal baru, termasuk mengelola rumah pengolahan cider, minuman beralkohol dari sari buah apel.

Tapi dokter Larch dan kedua suster masih berharap, Homer akan kembali ke St Clouds, untuk meneruskan pekerjaan Dokter Larch. Pekerjaan dari Tuhan, demikian disebut oleh Dokter Larch. Yah, inilah yang membuat Homer ragu untuk mengikuti jejak dokter tua yang sudah seperti ayahnya itu. Selain menolong para perempuan untuk melahirkan, dan meninggalkan bayi mereka di panti itu, sang dokter mendukung aborsi, menjalankan praktek aborsi di panti asuhan itu bagi para perempuan yang tidak menginginkan bayinya, jika aborsi dianggapnya masih dapat dilakukan. Dan Homer menentangnya....

Tapi akhirnya waktu dan situasi membuat Homer akhirnya memilih untuk kembali ke St Clouds, dan meneruskan Pekerjaan dari Tuhan.

**Hm, spoiler yah akhirnya? hehehe :D**

Mau komen apa yaaaa? Ceritanya emang panjaaaaaang banget, soalnya semuanya diceritain. Dari mulai gimana Dokter Larch akhirnya memutuskan untuk selibat dan mendukung aborsi, dan juga kisah Homer yang mulai bayi sampai hampir remaja, berkali-kali diadopsi tapi selalu kembali. Lalu ada juga kisah cinta segitiga yang menghasilkan anak di luar nikah tapi tetap diinginkan. Ada juga masalah incest, seks remaja, kecanduan ether, duh, rame banget hehehehe

Sebenarnya, buku ini udah dibeli lumayan lama, tapi sempat terselip di balik tumpukan buku-buku lain *blush* dan baru ditemukan di bulan Desember 2010, waktu beres-beres lemari sih hehehehe. Belinya kalau gak salah sekitar 3-4 tahun yang lalu, di toko buku bekas yang pasti, tapi lupa di mana hehehe. Waktu itu beli juga cuma iseng, karena kayaknya pernah dengar deh, kalau gak salah pernah ada filmnya (tapi gak nonton juga huahahhaa). Yah akhirnya karena ditemukan kembali, mulai dibaca, eh ternyata baguuuussss..... Biarpun panjang, tapi gak bikin bosen, dan walau banyak detail, tapi saling terkait dan mengalir sampai akhir gitu.

Jadi, aku suka buku ini... di bagian akhir, aku nangis, karena ngerasa berat berpisah dengan para tokohnya :( Sepertinya termasuk buku yang suatu saat nanti akan kubaca ulang, karena aku memang menikmati cerita yang ditulis John Irving ini.

*lagi males juga untuk cari tahu tentang si penulis, cuma tahu pernah ada terjemahan bukunya dalam bahasa Indonesia, diterbitkan GPU, yang judulnya The Fourth Hand, tapi aku juga belum baca hihihihi*

Selamat Tahun Baru 2011


Ternyata gak terasa, tahu-tahu sudah masuk tahun 2011 ajah!
Dan blog ini pun sudah hampir berumur 6 tahun *woot-woot-woot*

Dalam 6 tahun ini, total ada 305 postingan, yaaa dan lumayan konsisten isinya, kadang memang ada yang sekedar ngoceh gak jelas, tapi masih ada hubungannya dengan bukulah hihihihi

Belakangan, yah tepatnya dua tahun terakhir, konsistensi mengisi blog bisa dibilang menurun drastis. Sebabnya sih karena keenakan main game hihihihihi, trus yah ditambah kebanyakan harus kesana-kemari gak jelas gitu juga huahahaha.... *psst.. ini sih sebenarnya alasan doang koog, yang bener yah cuma satu : M A L A S* wakakkakakaka

Jadiiiii

Tahun 2011 ini sih ada banyak rencana, yah mulai dari ingin mendisiplinkan diri kembali mencatat buku-buku yang dibaca (bengakuan : tahun 2010 aku gak tahu baca berapa banyak buku, kayaknya sih gak beda sih dari tahun-tahun sebelumnya, tapi rasanya emang berkurang, dan tahun 2010 banyak juga baca ulang buku lama, karena rasanya kog bosan banget, ke toko buku pun gak tertarik untuk membawa pulang banyak-banyak, palingan juga komik yang belinya banyak hihihi. Yang pasti, tahun 2010 aku gak mencatat apa pun sama sekali. Tapi kalau dilihat dari aktifitas postingan buku di blog, masih mendingan daripada tahun 2009 hi hi hi)

Tahun 2011 juga ada keinginan untuk baca buku-buku klasik, tapi pengennya sih yang bahasa Inggris aja, gak yang terjemahan dalam bahasa Indonesia, terutama buku yang emang aslinya dalam bahasa Inggris. Kalau yang dari bahasa lain sih, yah dipertimbangkan deh harganya hihihi, kalau emang lebih murah terjemahan bahasa Indonesia, yah mungkin baca yang bahasa Indonesia aja, kalau gak, yah beli terjemahan Inggris kan banyak yang murah-murah itu hehehe

Ehm, terakhir, rencana beritu.. itu sih.. nanti aja deeeh :D :D

Selamat tahun baru semuaaaa :)

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP