Showing posts with label Novel Anak/Remaja. Show all posts
Showing posts with label Novel Anak/Remaja. Show all posts

Saturday, May 14, 2011

The Mediator, 3 Buku Terakhir :D


Judul : The Darkest Hour (Masa Terkelam), Haunted (Dihantui), Twilight (Senja Berlalu)
Pengarang : Meg Cabot, (c) 2001, (c) 2003, (c) 2003
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Desain dan ilustrasi cover : Rizki Arnosa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011 & April 2011
Tebal : 288 halaman, 248 halaman; 288 halaman; 13,5 x 20 cm

Ya ya ya, kali ini pemalasan lagi, daripada harus menuliskan satu per satu tentang buku-buku ini, jadi aku tulis saja sekaligus dalam satu entri hua ha ha ha ha

Nah, ini masih novel serial tentang cewek umur 16 tahun yang bisa berkomunikasi dengan para hantu, namanya Sussanah Simon.

Di jilid ke empat, yang judulnya The Darkest Hour, Suze terancam bahaya, karena cewek yang dulunya hantu Maria, calon istri Jesse, mengincar nyawanya. Jesse ini cowok hantu yang keren, yang tinggal di kamar Suze, yang sudah mati kira-kira 150 tahun . Sepertinya ini diawali dengan kegiatan ayah tiri Suze yang membongkar halaman belakang mereka untuk membangun dek untuk hot tub. Sesuatu ternyata terkubur di sana, yang membuat hantu Maria dan Diego gelisah, takut reputasi mereka sebagai orang terhormat akan ternodai. Diego itu suami Maria, orang yang jadi selingkuhan Maria waktu Maria sudah dijodohkan dengan Jesse, dan juga orang yang membunuh Jesse.

Sementara itu, Suze sedang bekerja sepanjang musim panas, di sebuah resort mewah, menjaga anak-anak orang kaya yang berlibur di sana. Suze jadi favorit sebuah keluarga, karena dia berhasil membuat Jack, anak paling kecil keluarga Slater, menjadi lebih normal, mau bermain di luar, dan tidak lagi hanya mengurung diri di kamar. Ternyata, Jack juga seperti Suze, bisa melihat hantu, dan bisa berbicara dengan mereka. Lalu, ada abang Jack yang sangat ganteng mengiurkan, Paul.

Jadi begitulah, akhirnya Suze selamat, walau Jesse sempat terancam bahaya dieksorsis, dan Suze akhirnya mengetahui, bahwa bukan hanya Jack, tapi Paul juga seorang mediator seperti mereka. Bahkan ternyata, Paul bukan sekedar mediator yang hanya bisa berbicara dengan hantu, tapi bahkan bisa masuk ke dimensi antara, tempat antara dunia orang hidup dan orang mati.

Lalu, di buku ke lima, Haunted, Paul ternyata pindah ke Carmel, masuk ke sekolah yang sama dengan Suze. Apa sebenarnya maksud Paul dengan melakukan itu? Suze sangat khawatir Paul akan mengeksorsis Jesse lagi seperti yang pernah dilakukannya. Paul memang memiliki pengetahuan lebih tentang kemampuan yang dimilikinya dan Suze. Paul memiliki dokumen-dokumen tentang orang-orang seperti mereka, yang ditulis oleh seseorang bernama Slaski. Paul tinggal bersama kakeknya yang sakit parah.

Dan di buku ke enam, Suze dan Paul melakukan perjalanan waktu, kembali ke masa 150 tahun yang lalu. Kemampuan berkelana menembus waktu ini sebenarnya berbahaya, dan kakek Paul, yang ternyata adalah Mr. Slaski yang menulis tentang keberadaan para pengelana itu, sudah memperingatkan mereka bahwa hal tersebut sangat berbahaya. Tapi, Paul ingin menyelamatkan Jesse, agar tidak menjadi hantu, dan Suze berusaha mencegah itu terjadi.

Tapi yang terjadi tidaklah seperti yang disangka oleh Suze.

Yah, serial ini sepertinya berakhir di jilid 6, karena hampir semuanya akhirnya selesai, Jesse gak jadi hantu lagi, Paul akhirnya mau menerima bahwa Suze tidak mencintainya, dan hantu ayah Suze akhirnya bisa melanjutkan perjalanan.

Hm komentarku yah, terus terang, aku lebih menikmati serial ini dari yang pertama sampai ke empat. Lebih seru aja. Di buku ke lima dan ke enam, buatku yah, rasanya sangat membosankan. Terlalu banyak cerita mengenai konflik emosi abege tentang cinta, dan justru tak seperti 4 buku sebelumnya, yang ceritanya lebih mengenai para hantu yang ditemui Suze dan pastor Dom. Dan, akhir ceritanya juga yah agak terpaksa sepertinya, supaya berakhir bahagia untuk semua orang *sigh*. Tapi yah gimana lagi, serial ini kan buat konsumsi remaja, hihihi, jadi yah mungkin wajar aja kali yah, kalau diset seperti itu hehehe.

O ya, buat yang suka nanya, "ada suka-sukaannya gak" kali ini bisa dijawab : adaaaaa... apalagi di buku lima dan enam, wakakakkaka, cuma yah sekedar cium-ciuman doang loh, wakakakak, namanya juga novel remaja hihihihi.

Tuesday, March 01, 2011

The Mediator #3 - Reunion


Judul : The Mediator #3 - Reunion
Penulis : Meg Cabot (c) 2001
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Januari 2011
Tebal : 259 halaman; 13,5 cm x 20 cm

Susanna adalah mediator, remaja yang bisa melihat hantu dan `mengusir` mereka dengan membantu mereka menyelesaikan 'tugas' yang belum selesai di dunia ini. Buku ini buku ketiga yang terbit dalam seri Mediator karya Meg Cabot.

Kali ini, Suze menghadapi segerombolan remaja yang masuk kelompok paling populer di sekolah saingan sekolahnya, gerombolan yang dijuluki Malaikat RLS oleh kepala sekolah mereka. Yah, keempat remaja itu memang anak-anak yang populer dan berpenampilan sangat menarik, sayangnya mereka sudah mati. Mati karena kecelakaan dan terjatuh ke jurang, suatu malam sepulang dari bersenang-senang.

Tapi benarkah penyebabnya karena kecelakaan, karena mereka masih gentayangan, dan menghantui seorang siswa teman sekelas Suze, Michael. Padahal penyelidikan polisi sudah membuktikan kalau Michael tidak bersalah dalam kecelakaan itu, kejadian itu murni kecelakaan.

Tetap saja, keempat hantu remaja itu terus menerus berusaha mencelakai Michael, yang kalau bukan karena pertolongan Suze, mungkin sudah sejak awal berhasil dibunuh mereka. Berbagai kejadian mulai dari jatuhnya boneka raksasa di mall, sampai terbelit ganggang di laut hampir merengut nyawa Michael.

Berkat bantuan Jess, Suze berhasil berkomunikasi dengan para hantu itu, yang begitu marahnya sehingga tak bisa didekati oleh Suze dan pastor Dome -- yaaa.. si pastor yang juga mediator dong huehehe --

Jadi seperti biasanya, sukses! hahahaha

Yah, gitu aja, banyak sih sebenarnya detil-detil seru yang bikin cerita ini menarik. Dan bahasanya yang juga ringan (dibantu terjemahan yang enak juga), jadi baca buku ini sih sangat menghibur, apalagi kalau lagi capek dan gak pengen baca yang berat-berat. Dan aku juga memang suka sama karakter Suze yang agak penyendiri, cenderung antisosial itu hihihihi :D

Hm, pengen komen covernya jg sih, hihihi, karena rada gak suka juga, kayaknya cewek di cover ini gak menggambarkan Suze yang cool dan antisosial itu, ekspresi wajahnya gak suka ih :P huehehehe


Sunday, February 27, 2011


Judul : Ulysses Moore #3 - Pulau Topeng
Penulis : Pierdomenico Baccalario (c) 2006
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Erlangga for Kids, Jakarta, 2010
Tebal : 213 halaman ; 14,5 x 21,5 cm

Buku tentang petualangan si kembar Jason dan Julia dan teman baru mereka, Rick sudah masuk buku ke empat.

Aduh, karena udah banyak lupa cerita-cerita sebelumnya, hihihihi, aku juga bacanya agak meraba-raba sih. Mungkin nanti kapan-kapan pengen baca lagi dari buku satu deh, wekekekekek.

Yah singkatnya yah, kali ini mereka bertiga lagi-lagi menggunakan Metis, kapal ajaib di dalam gua di bawah Argo Manor, rumah baru Jason dan Julia. Mereka pergi ke Venesia mencari Peter Dedalus (jangan tanya, aku juga lupa kenapa mereka mencari Peter Dedalus, hihihi, yang pasti tentu ada hubungannya dengan mencari tahu lebih banyak tentang Ulysses Moore, pemilik asli Argo Manor).

Ternyata di Venesia, mereka bertemu dengan sepasang suami istri, yang ternyata anggota Illuminati. Yah, ini sih di buku ini, kurang jelas juga apa hubungannya dengan cerita, apa cuma gaya-gayaan aja, atau nanti di buku berikutnya masih ada hubungannya yah?

Nah, tentu saja, dengan memecahkan berbagai teka-teki, seperti di buku-buku sebelumnya, mereka berhasil menemukan di mana Peter Dedalus bersembunyi (kalau pola ini sih aku masih ingat, hehehe, karena salah satu keasikan serial ini yah cerita tentang ketiga anak itu memecahkan berbagai potongan petunjuk yang seperti teka-teki itu).

Dan, lagi-lagi, pas ketemu, eeeeh.... ada si Oblivia yang licik itu, hahahahahhaha.....

Yah gitu deh yang bisa diceritain, soalnya karena sudah lupa dengan detil-detil cerita sebelumnya, jadi bingung juga bacanya hehehehe, bukan jenis buku yang bisa dibaca terpisah-pisah sih.

Tapi tetap aja, aku suka buku ini karena kemasannya yang cantik, covernya itu keren banget, dan karena dikemas pakai hard-cover gitu, jadi tambah bagus. Dan di dalam juga, ilustrasi-ilustrasinya bagus-bagus dan banyak. Di tiap awal bab, ada kolase-kolase cantik dari petunjuk-petunjuk atau pun hal-hal yang berhubungan dengan tempat-tempat atau benda yang diceritakan. Dan juga huruf-hurufnya yang besar, jadi biar pun 200-an halaman, bacanya jadi sebentar, hihihihi :D :D

Sunday, January 23, 2011

A Wrinkle in Time


Judul : Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)
Pengarang : Madelaine L'Engle
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : Penerbit Atria, Jakarta, Agustus 2010
Tebal : 267 halaman; 13 x 20.5 cm

Margaret Murry, yang biasa disapa Meg, punya sepasang adik kembar, dan seorang adik laki-laki yang masih kecil. Ibu mereka seorang ilmuan, sama seperti ayahnya. Tetapi sang ayah sudah lebih setahun tidak terdengar kabarnya. Orang-orang di kota kecil mereka mulai membicarakan, gosip tersebar, ayah mereka melarikan diri. Tapi Meg dan adik-adiknya tahu, ayah mereka tidak melarikan diri. Sesuatu terjadi, tapi tak seorang pun yang tahu apa, bahkan ibu mereka.

Meg sendiri sering mengalami masalah di sekolah. Dimarahin guru, bertengkar dengan teman. Ditambah dengan menghilangnya ayah mereka, Meg semakin tampak aneh bagi anak-anak lain. Adiknya yang paling kecil, Charles Wallace pun sering dianggap orang idiot, karena dia selalu diam di depan orang lain. Hanya mereka sekeluarga, terutama Meg dan ibunya, yang tahu betapa cerdasnya Charles Wallace. Bahkan kadang-kadang terasa seolah-olah Charles Wallace yang kecil itu bisa membaca pikiran mereka.

Lalu suatu hari, setelah malam yang berbadai, Charles Wallace mengajak Meg untuk mengunjungi rumah yang terkenal berhantu, yang menurut anak kecil itu dihuni oleh tiga orang nenek. Dalam perjalanan, mereka bertemu Calvin O'Keefe, anak laki-laki yang dua kelas di atas Meg, yang selama ini terkenal sebagai atlet basket, anak yang lumayan populer di sekolah mereka. Tapi ternyata, Calvin pun merasakan kalau dia berbeda dari anak-anak lain, hanya saja dia berusaha tampil sama seperti mereka. Bersama Calvin, mereka menemui ketiga nyonya tua itu, Mrs Who, Mrs Whatsit, dan Mrs Which.

Ketiga nenek yang ternyata makhluk dari planet lain, yang mengetahui di mana Mr Murry berada. Dan ternyata, hilangnya Mr Murry berhubungan dengan sesuatu yang mengerikan, kuasa kegelapan yang terus menerus diperangi oleh banyak mahluk di berbagai planet. Bersama para makhluk yang tampil seperti nenek-nenek itu, mereka pun melakukan tesser, proses perpindahan dengan prinsip seperti mengerutkan ruang dan waktu, dan mereka bisa tiba di planet asal ketiga nenek itu dalam waktu sekejap.

Ketiga anak itu pun diantarkan ke planet Camazotz, tempat ayah mereka ditawan, dan mereka harus berjuang melawan ITU, sang penguasa yang menguasai kegelapan. Sayangnya, walau berhasil membebaskan sang ayah, Charles Wallace malah dikuasai oleh ITU. Dan Meg pun harus kembali sendirian ke Camazotz, untuk membawa kembali Charles Wallace, dengan kekuatan yang ada dalam dirinya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh ITU, yaitu cinta.

Buku ini sih sebenarnya sudah lama pengen aku baca, kayaknya sejak masih sekolah sih. Kalau gak salah pernah baca tentang buku ini di salah satu novel remaja lain, tapi udah gak ingat di mana hehehe. Waktu itu juga pernah ketemu buku lain karangan Madelaine L'Engle, yang memang menceritakan juga tentang keluarga Murry, tapi karena tahu buku pertamanya itu Wrinkle in Time, jadi gak jadi dibaca, hehehehehhehe.

Yah, kalau mau dipahami tentang teori-teori bidang dan waktunya sih, mungkin capek juga, hihihi, jadinya aku bacanya yah santai aja, menikmati petualangan Meg, Charles Wallace, dan Calvin. Menikmati karakter ketiga anak yang "bukan produk massal" itu :D

Trus, edisi terbitan Atria ini, covernya cantik.... lucu banget, imut :D suka deh hehehe

Monday, September 20, 2010

Emmy and the Incredible Shrinking Rat


Judul : Emmy and the Incredible Shrinking Rat (Emmy dan Tikus Penciut yang Menakjubkan)
Penulis : Lynne Jonell, 2007
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : Penerbit Atria, an imprint ofPT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Juni 2010
Tebal : 341 halaman, 13 x 20,5 cm

Emmy adalah seorang gadis kecil yang baik. Setidaknya , dia berusaha sangat keras untuk bersikap baik.

Begitulah buku ini dimulai. Terdengar sangat membosankan. Cerita tentang seorang gadis kecil yang baik, ih, apanya yang asik, begitu yang terlintas pada awalnya. Tapi ternyata gak seperti itu kog. Buku ini ternyata ceritanya asik banget, kocak dan penuh petualangan yang seru loh.

Jadi, ceritanya begini. Emmy itu memang gadis kecil yang baik. Nah, tapi kenapa dia mau jadi gadis kecil yang baik? Karena dia berharap, dengan begitu dia punya teman. Orangtuanya selalu bepergian, dan dia tinggal di rumahnya yang mewah dan besar hanya ditemani oleh para pelayan dan pengasuhnya yang aneh, namanya Miss Barmy. Di sekolah pun, nilai-nilainya selalu bagus sekali, dia belajar super keras untuk itu. Tujuannya sih supaya kalau orangtuanya pulang, mereka akan bangga padanya, dan ingin tinggal lebih lama di rumah, tidak cepat-cepat untuk bepergian lagi. Tapi anehnya, sebaik apa pun Emmy, sepintar apa pun dia, rasanya tak pernah ada yg memedulikan dirinya. Di sekolah, teman-temannya tak pernah mengajaknya mengobrol atau bermain. Gurunya saja sering tidak ingat bahwa Emmy ada di kelasnya, hanya psikolog sekolah yang sekali-sekali memanggilnya untuk diberi nasihat. Benar-benar aneh.

Lalu suatu hari, tikus peliharaan kelasnya mengubah segalanya. Ternyata tikus itu adalah tikus ajaib, dia bisa berbicara. Dan dengan satu gigitan, Emmy jadi punya teman. Nah, sejak kejadian itu, kehidupan Emmy yang membosankan berubah menjadi petualangan seru, membongkar rencana jahat Miss Barmy yang ternyata melibatkan hewan-hewan pengerat berkekuatan ajaib, kisah cinta lama dan perebutan harta.

Yang paling aku sukai di buku ini adalah cerita bagaimana Emmy perlahan-lahan mulai menemukan teman di tempat-tempat yang tidak diduganya. Selain itu, aku juga terkekeh-kekeh di cerita yang ada Ratty si tikus penciut dan teman Emmy, Joe, yang menciut, benar-benar kocak membayangkan seekor tikus dan seorang anak laki-laki yang mengecil bertengkar. Karakter Ratty juga lucu banget, agak sok tapi sebenarnya keahliannya itu cukup aneh.

Aku merasa senang baca buku ini, karena ceritanya itu fantasi ringan dan sangat menghibur.

Monday, March 22, 2010

Ink Exchange


Judul : Ink Exchange (Jalinan Yang Memikat)
Pengarang : Melissa Marr (c) 2008
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, September 2009
Tebal : 352 halaman; 13,5 x 20 cm


Di dunia peri, terjadi perubahan. Sejak Aislinn membuktikan dirinya sebagai ratu peri kerajaan musim panas, dan matinya Beira si ratu musim dingin yang lalu digantikan Donia, keseimbangan kerajaan-kerajaan para peri mulai terganggu. Kekejaman Beira selama ini membuat para peri kerajaan kegelapan tak pernah kelaparan, ketakutan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh Beira cukup untuk membuat mereka kenyang. Tapi Donia tak seperti Beira, persahabatannya dengan Keenan si raja musim panas, membuat ketakutan yang selama ini menguasai para peri berkurang. Peri-peri kerajaan kegelapan melemah. Irial sebagai raja kegelapan perlu melakukan sesuatu.

Leslie adalah teman Aislinn, sang ratu musim panas. Dan sebagai ratu, Aislinn sudah meminta agar teman-teman dekatnya, termasuk Leslie, dijaga dari gangguan peri-peri kerajaan lain. Salah satu penjaganya adalah Niall, penasihat Keenan. Diam-diam Leslie menyukai sosok Niall yang misterius itu, tapi Leslie tak mengerti mengapa Aislinn sepertinya menghalangi. Memang tak ada manusia yang tahu tentang para peri selain Seth dan nenek Aislinn.

Leslie sudah lama mengidam-idamkan membuat tato, tapi belum juga menemukan desain yang dirasanya sesuai untuk dirinya. Cukup lama dia mengamati berbagai desain yang ada di toko milik Rabbit, sang seniman tato, tapi tak ada yang cocok di hatinya. Hingga suatu hari, Rabbit mengajaknya ke bagian belakang toko, dan menunjukkan kepadanya kumpulan desain-desain tato yang istimewa, yang tidak dipajangnya seperti desain biasa. Gambar sepasang mata yang memandang dari balik sayap membuat Leslie berdebar, dan saat itu juga Leslie tahu, tato itu yang diinginkan, tato yang akan merubah hidupnya.

Tanpa disadarinya, Leslie memang memilih tato yang akan merubah hidupnya, menjalani kehidupan yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Leslie pun terseret ke dunia para peri, menjadi alat Irial untuk menyedot rasa sakit dan takut dari manusia mortal, sesuatu yang tak dapat dilakukan Irial tanpa perantara. Pembuatan tato itu ternyata merupakan pertukaran tinta dengan darah Irial, yang membuat Leslie terhubung dengan sang raja kegelapan. Leslie pun kebas terhadap rasa sakit, dan perasaan ini dinikmatinya untuk beberapa lama. Sampai dia mulai merasa gelisah, karena merasa kehilangan sesuatu. Ternyata hilangnya rasa sakit itu bukan sesuatu yang dia inginkan, seperti selama ini dikiranya. Hidupnya sebelum ini, yang penuh rasa sakit itu, ternyata dirindukannya.

Buku ini lanjutan dari buku sebelumnya yang judulnya Wicked Lovely itu. Sebenarnya yang bikin aku jadi pengen baca seri ini sih waktu lihat sinopsis buku kedua ini, karena sinopsis buku pertama terkesan lebih ke kisah cinta-cintaan hehehe, tapi ternyata yah, setelah dibaca dua-dua, aku lebih suka buku pertama sih, hihihi.

Emang buku kedua ini lebih kelam dari buku pertama, karena yah ceritanya tentang Irial dan kerajaan kegelapannya, ada sekelumit cerita-cerita sadis berdarah-darah, tapi yah gak banyak, dan gak terlalu detail. Terus banyak juga cerita kebingungan Leslie sebagai remaja korban pemerkosaan yang keluarganya juga berantakan. Dan mungkin karena Irial itu gak sekejam Beira, jadi kurang serem, he he he he.

Seri ini sih masih berlanjut, sekarang sudah terbit empat judul yah, dan katanya buku kelima juga sedang ditulis *gak jelas juga bakal jadi berapa seri, dan sedang agak malas cari tahu hahahaha*

Wicked Lovely


Judul : Wicked Lovely (Pesona Yang Menawan)
Pengarang : Melissa Marr (c) 2007
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2009
Tebal : 368 halaman ; 20 x 13,5 cm


Aislinn menyukai kehidupan di Huntsdale yang kecil, bukan karena dia tidak menyukai kehidupan kota besar yang dinamis, tapi karena hal-hal yang hanya dia yang dapat melihatnya. Terlahir dengan kondisi seperti nenek dan ibunya, Aislinn dapat melihat para peri, dan tingkah laku mereka. Kengerian melihat berbagai kekerasan yang dilakukan para peri itu, baik terhadap manusia mau pun di antara kaum peri itu membuat Aislinn ketakutan. Sang nenek telah mengajarinya dengan baik sejak dia kecil, jangan pernah memperlihatkan kalau dirinya mampu melihat mereka. Jangan pandang wajah mereka, jangan berbicara dengan mereka dan jangan menarik perhatian mereka.

Hingga remaja, Aislinn berhasil menjalankan semua ajaran neneknya itu. Sampai waktu sang raja peri kerajaan musim panas, Keenan, menemukannya. Keenan terikat perjanjian mengerikan yang dibuat ibunya yang ratu kerajaan musim dingin, dirinya tidak akan menjadi raja peri kerajaan musim panas secara penuh sampai dia menemukan ratunya. Ratunya akan berasal dari kaum manusia biasa, para mortal, dan gadis itu adalah orang yang berhasil memegang tongkat sang ratu kerajaan musim dingin tanpa terpengaruh. Selama berabad-abad, sudah banyak gadis yang jatuh cinta pada Keenan dan rela mengorbankan diri untuk mencoba memegang tongkat itu, tapi hingga gadis terakhir yang bernama Donia, semuanya gagal, dan akhirnya menjadi peri dengan hawa dingin di dalam tubuhnya, mengalami kedinginan abadi yang mengerikan. Donia, seperti juga gadis-gadis lain sebelumnya, memiliki tugas untuk menghasut para calon ratu musim panas agar tidak mau memegang tongkat ratu musim dingin.

Keenan pun menyamar sebagai seorang murid di sekolah Aislinn, berusaha sekuat tenaga untuk membuat Aislinn jatuh cinta kepadanya. Tapi sedikit janggal, karena kali ini gadis yang satu ini tak terlalu tertarik padanya, tak seperti gadis-gadis sebelumnya. Aislinn ternyata sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada seorang manusia lain, Seth, yang urakan dan tinggal di gerbong kereta api yang dimodifikasinya menjadi tempat tinggal. Bagi Aislinn, selain rumahnya yang memang sudah dirancang sehingga tidak nyaman bagi kaum peri, tempat Seth yang seluruhnya terbuat dari baja merupakan tempat kedua teraman. Memang, kecuali para bangsawan kerajaan peri seperti Keenan, tempat-tempat yang banyak besinya membuat para peri kesakitan dan tak tahan berlama-lama.

Kemampuan Aislinn melihat peri awalnya tak diketahui oleh siapa pun, sampai akhirnya dia membuka rahasianya pada Seth. Dan Aislinn pun menceritakan bahwa dia sedang dikuntit oleh Keenan dan kaumnya.

Tapi Aislinn memang ditakdirkan menjadi ratu kaum peri musim panas. Apa pun yang dilakukannya, dan apa pun yang diusahakan oleh sang ratu peri musim dingin untuk menghalangi Aislinn memegang tongkatnya, gagal.

Sebenarnya, buku ini sudah cukup lama juga dilirik-lirik waktu terlihat dipajang di toko buku, tapi entah kenapa, gak jadi-jadi diangkut dan dibawa pulang hehehehe. Tapi akhirnya kemaren pas pesan ke toko buku online kira-kira dua bulan yang lalu, tergoda juga deh untuk beli, hahhaha. Yah, ternyata emang lumayan kog, gak garing-garing banget hehehe (sebenarnya ini alasan yang membuatku gak langsung mengangkut buku ini dan buku keduanya sebelumnya, takut ceritanya garing hehehe). Ceritanya sih biasa aja, ada cinta-cintaannya juga dikit, untung gak banyak. Yang asik karena kisah si ratu peri musim dingin yang licik itu, bikin seru hehehe, kalau gak ada si ratu jahat, pasti bosen bangetlah huahahahaha.

Sunday, January 24, 2010

Magic or Madness


Judul : Magic or Madness (Rahasia Sihir)

Pengarang : Justine Larbakestier (c) 2005
Penerjemah : Meilia Kusumadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Januari 2010
Tebal : 320 halaman ; 13,5 x 20 cm


Baru dua hari Reason tiba di rumah neneknya, Esmeralda Cansino. Ibunya, Sarafina, kini harus dirawat di pusat perawatan, karena kondisi jiwanya terganggu, dengan kata lain, ibunya gila. Sejak lahir sampai berumur lima belas tahun, Reason baru sekali bertemu dengan neneknya itu. Bersama ibunya, mereka selalu berpindah-pindah, untuk menghindar dari kejaran sang nenek yang menurut ibunya adalah seorang penyihir jahat. Reason diajari berbagai hal untuk mengenali tanda-tanda dilakukannya sihir, seperti buku-bulu, atau bunga-bunga kering yang diletakkan dengan cara-cara khusus. Tapi sang ibu juga selalu menegaskan bahwa sihir tidak ada. Sihir hanya sesuatu yang sangat dipercaya oleh sang nenek, yang membuatnya menjadi perempuan yang mengerikan. Satu keistimewaan Reason adalah keahliannya dalam matematika, terutama kecintaannya terhadap angka Fibonacci, dan sebuah fosil amonite yang selalu tersimpan di sakunya.

Tapi tiba di rumah sang nenek, rumah itu tak seperti yang selalu digambarkan Sarafina. Dan Reason pun berkenalan dengan Tom, anak tetangga yang suka menjahit. Tom sangat mengagumi Mere, panggilan akrab Esmeralda. Tapi Reason masih tetap takut pada neneknya itu, sampai-sampai dia tak mau memakan apa pun yang disediakan neneknya. Dan dia terus menerus merencanakan untuk melarikan diri dari rumah itu.

Hanya saja, kali ini rencana pelariannya tak berjalan seperti biasa. Dengan sebuah kunci yang ditemukannya di kamar sang nenek, dia pun tiba di sebuah tempat tak terduga. Hanya dengan memutar anak kunci, mendorong pintu, dan Reason Cansino pun pindah dari panasnya sore hari di Sidney ke dinginnya salju yang membekukan di sore hari musim dingin di New York. Itulah yang ditemukan Reason di balik pintu belakang rumah neneknya.

Tanpa diduga olehnya, ternyata seorang remaja lain sudah menunggunya di tempat itu. Jay-tee menemuinya, karena telah ditugaskan oleh seorang laki-laki yang selama ini memberikan perlindungan pada gadis itu. Bersama Jay-Tee, pelan-pelan Reason mengetahui lebih banyak hal tentang sihir. Namun, laki-laki itu ternyata menginginkan sesuatu dari Reason, sesuatu yang selama ini sudah diberikan Jay-Tee kepadanya. Kekuatan sihirnya!

Ceritanya agak gelap yah, sihir dengan konsekuensi mengerikan. Di awal-awal sih memang belum terlalu terasa nuansa kekuatan sihir yang digunakan oleh karakter-karakternya, hanya sekilas-sekilas terselip di sana sini. Mungkin karena disampaikan dengan Reason, Tom, dan Jay-tee sebagai narator, dan di buku pertama dari trilogi Magic or Madness ini, memang lebih banyak disampaikan dari sudut pandang Reason. Digambarkan di sini, Reason sebagai seorang anak yang terlahir dengan memiliki kekuatan sihir, tetapi tidak sepenuhnya sadar akan kekuatannya itu. Sedangkan Tom dan Jay-Tee, keduanya memang sudah mengetahui kekuatan sihir mereka, dan justru merasa heran melihat kepolosan Reason.

Sihir dalam buku ini digambarkan sebagai sebuah kekuatan yang memiliki dampak negatif bagi yang menggunakannya. Jika digunakan terlalu banyak, bisa mengurangi umur sang pengguna sihir. Tapi ini pun gak secara jelas digambarkan. Dan ritual-ritual sihir itu sendiri juga gak secara gamblang diceritakan. Terus terang, di bagian pertengahan, ceritanya terasa agak lambat, lumayan bikin ngantuk, tapi sebenarnya gak membosankan. Mungkin agak sedikit sulit diikuti karena memang "rumusan" sihir yang tidak terlalu umum itu. Secara keseluruhan sih ceritanya asik kog. Dan penasaran juga sih, siapa sih yang sebenarnya penyihir yang baiknya.

Saturday, January 23, 2010

Keluarga Flood - Liburan Seru


Judul : Keluarga Flood #6 - Liburan Seru

Pengarang : Colin Thompson (c) 2008
Penerjemah : Ferry Halim
Penerbit : Penerbit Atria, an imprint of PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Desember 2009
Tebal : 193 halaman; 13 x 20 cm

Keluarga penyihir pun butuh berlibur. Keluarga Flood memilih untuk berlibur di tepi laut, bersama tetangga mereka, keluarga Hulbert yang seratus persen manusia biasa. Sayangnya, keluarga Flood belum pernah berlibur, sehingga mereka tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan waktu pergi berlibur, dan tadinya mengharapkan keluarga Hulbert bisa memberitahu mereka. Ternyata, keluarga Hulbert pun berasal dari keluarga-keluarga yang kaku dan tak pernah bersenang-senang sebelumnya. Dan kedua keluarga itu pun kebingungan, sampai akhirnya Mordonna yang mengambil keputusan, mereka akan menginap di hotel paling mahal dan paling mewah yang ada di pantai. Sebagai penyihir, tentu saja uang bukan menjadi masalah, dan kemewahan pun menjadi milik kedua keluarga itu.

Di pantai, masing-masing anggota keluarga Flood menikmati pantai dengan caranya sendiri-sendiri. Betty dan temannya Ffiona Hulbert ikut lomba membuat istana pasir. Dengan bantuan penemuan Winchflat si jenius, istana pasir yang mereka buat menjadi pemenang, sebuah istana yang sangat menakjubkan, dan tak bisa hancur. Sementara itu, Satanella mendapatkan dua teman baru, Ruby dan Rosie, di tempat penampungan anjing. Dan, anak keluarga Flood yang paling tua, Valla, akhirnya mendapatkan pasangannya di sebuah kuburan di kota itu.

Sayangnya, liburan itu dirusak oleh sebuah berita buruk. Parsnip, si burung gagak Transylvania yang menjaga rumah keluarga Flood, tiba di hotel tempat mereka berlibur dalam keadaan mengenaskan. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Dan keputusan yang berat harus diambil, keluarga Hulbert harus berpisah dari keluarga Flood, agar tak terkena akibat mengerikan dari sesuatu yang harus dihadapi oleh keluarga Flood.

Ini sudah buku keenam dari seri Keluarga Flood. Seperti biasa, ceritanya sih kacau, seenak perutnya si pengarang aja, hahaha, tapi emang beneran jadi lucu. Ilustrasinya juga keren, dan catatan-catatan kaki yang penting gak penting dari si pengarang membuat buku ini jadi tambah hancur hahahaha... Belum lagi sisipan di bagian belakang buku, tentang obat-obatan dan ramuan aneh yang digunakan oleh para penyihir itu, bikin ngakak-ngakak kalau dibaca. (entahlah emang aku yang emang seleranya doyan yang aneh-aneh begini yah? huahahahaha)

Mungkin gak semua orang bisa menikmati kelucuan cerita keluarga Flood, karena banyak yang agak menjijikkan, melibatkan berbagai serangga, lendir dan bahan-bahan memualkan lainnya, belum lagi, sentimen tak terjelaskan kepada orang Belgia. Tapi yah gak usah takut, menurut penulis, gak ada hewan yang disakiti dalam penulisan buku ini, kecuali si Parsnip mungkin yah?


Tuesday, January 12, 2010

Fairest


Judul : Fairest

Pengarang : Gail Carson Levine (c) 2006
Penerbit : Harper Trophy, 2008, paperback edition
Tebal : 326 halaman ; 13 x 19 cm


Cermin, cermin di dinding, siapa yang paling cantik di negeri ini? Begitulah kata-kata yang diucapkan sang ratu ibu tiri Snow White pada cermin ajaib dalam dongeng terkenal itu. Tapi ini bukan cerita tentang si putri yang seputih salju dan ibu tirinya yang punya cermin ajaib.

Kisah ini terjadi di negeri Ayortha, tempat di mana para penduduknya memiliki suara indah dan karenanya senang sekali bernyanyi. Hampir sepanjang waktu mereka bernyanyi, dan dengan bernyanyi jugalah mereka merayakan berbagai hal, dan memanjatkan doa-doa.

Di sebuah penginapan di wilayah negeri Ayortha, tinggal Aza yang tak cantik, tak seperti umumnya penduduk Ayortha. Perawakannya lebih besar dari rata-rata gadis-gadis Ayortha, termasuk adiknya, Areida. Tapi, Aza punya suara yang luar biasa bagus, yang membuat semua orang kagum. Dan selain itu, ternyata Aza punya kemampuan lain, bisa membuat suaranya terdengar dari tempat lain, dan menirukan suara orang lain. Hal ini hanya diketahui oleh keluarganya, pemilik penginapan Featherbed.

Namun bagi beberapa tamu yang sering menginap di Featherbed, Aza bukan sekedar gadis berwajah sederhana yang tak menarik untuk dilihat. Bagi zhamM, seorang gnome, Aza justru manusia yang tampaknya lebih menarik daripada manusia-manusia lain, dan rambut Aza memiliki warna yang luar biasa cantik, htun. Dan bagi Dame Ethele yang cerewet, Aza gadis yang mampu membuatnya sedikit melunak.

Nasib Aza berubah, saat sang raja Ayortha mengumumkan pernikahannya dengan seorang gadis dari negeri Kyrrian. Dame Ethele sedang dalam perjalanan menuju istana untuk menghadiri acara tersebut, saat dayangnya jatuh sakit. Dame Ethele meminta agar Aza menggantikan dayangnya untuk mendampinginya ke istana.

Di istana, Aza dengan kemampuannya melemparkan suara, menarik perhatian sang ratu, Ivy. Aza pun dimintanya menjadi dayang pribadi Ivy, diiming-imingi kekayaan dan berbagai fasilitas, agar Aza mau menggunakan kemampuannya mengeluarkan suara dari tempat lain untuk membuat Ivy agar tampak seolah-olah dapat menyanyi dengan baik. Dan pada saat itu, Ratu Ivy harus tampil memimpin acara menyanyi untuk kesembuhan sang raja, yang tertimpa kesialan saat menghadiri sebuah pertunjukan.

Sebagai dayang, Aza pun akhirnya menemukan cermin misterius milik sang ratu, yang dapat membuatnya menjadi cantik. Dan Aza yang sejak dulu ingin sekali menjadi cantik, akhirnya terjebak oleh kelicikan si cermin ajaib. Sang ratu akhirnya menjadi benci kepada Aza, dan nyawa Aza pun terancam. Kisah cinta yang mulai bersemi antara Aza dengan sang pangeran, keponakan raja, ikut mengalami musibah, dengan tergodanya Aza oleh sang cermin.

Seperti beberapa buku hasil karya Gail Carson Levine sebelumnya, buku ini bisa dibilang sebuah dongeng tentang gadis remaja yang bertemu dengan sang pangerannya. Mungkin memang temanya klise sekali, tapi jangan mengira ceritanya hanya sekedar kisah cinta seorang gadis yang membosankan. Cerita ini memang seperti layaknya dongeng, dengan tokoh si jahat dan si baik, tapi karakter-karakter dalam cerita ini tak bisa kita katakan hitam putih. Semua tokoh digambarkan cukup manusiawi, sang ratu yang tampaknya jahat, memiliki cinta yang tulus pada sang raja, dan sang gadis yang malang pun bukan seorang yang tak lepas dari kesalahan dan keserakahan.

Bagi yang suka cerita dongeng, yah buku ini emang pasti akan menarik untuk dibaca ;)

Wednesday, January 06, 2010

Rahasia Embusan Angin


Judul : Rahasia Embusan Angin (Belle Prater's Boy)

Pengarang : Ruth White (c) 1996
Penerjemah : Miriasti
Penerbit : Penerbit Kaifa, Bandung, Mei 2003
Tebal : 206 halaman; 13 x 20 cm

Di Coal Station, sebuah kota kecil di negara bagian Virginia, terjadi kehebohan. Belle Prater, ibu dari seorang anak laki-laki itu menghilang tanpa jejak dari rumahnya. Tak ada tanda-tanda terjadi kekerasan di rumahnya, dan tak ada satu pun bajunya yang hilang. Suaminya pun tak punya ide sama sekali, kemana istrinya itu pergi.

Si anak yang baru akan berusia dua belas tahun bernama Woodrow. Beberapa bulan setelah ibunya menghilang, neneknya meminta agar Woodrow tinggal bersamanya, karena sang ayah mulai sering mabuk-mabukan. Woodrow punya seorang sepupu perempuan yang sebaya dengannya, bernama Gypsi. Kedua anak ini segera menjadi akrab. Gypsy yang cantik terkenal karena keindahan rambut panjangnya. Sedari kecil Gypsy hidup tanpa kekurangan apa pun secara materi, hanya saja, dia kehilangan ayahnya saat dia masih berusia lima tahun. Belakangan, ibu Gypsy, kakak dari ibu Woodrow, menikah lagi dengan seorang wartawan, namun Gypsy tak menyukai ayah tirinya itu.

Kedatangan Woodrow ternyata membawa banyak perubahan pada Gypsy dan keluarga Prater. Keceriaan Woodrow sungguh tak disangka-sangka, anak yang datang dengan pakaian bekas yang serba kebesaran itu sungguh pandai bercerita. Dan kepergiaan ibunya tampaknya tak membuatnya menjadi anak pemurung sama sekali. Bersama Woodrow, Gypsy pun akhirnya mengetahui banyak hal mengenai masa lalu ibunya, ayahnya, dan ibu Woodrow.

Buku ini sebenarnya sudah terbit cukup lama, pertama kali aku menemukannya itu kira-kira di awal tahun 2004 kayaknya. Kemarin itu, ntah kenapa aku kog ingin membaca lagi beberapa buku lama yang sudah ada di rak buku, walau sebenarnya ada beberapa buku yang lebih baru tapi belum dibaca, hehehehe....

Nah, salah satu yang terlihat yah buku ini. Covernya sih sederhana, tapi lumayan kog, sayang kemasannya memang lusuh, kertas sampulnya juga tipis. Tapi kalau dilihat gambar cover belakangnya sih aku suka kog :) cantik hehehe

Ceritanya sih sederhana, cuma ternyata konflik yang dialami Gypsy, yang di buku ini menceritakan semuanya sebagai tokoh aku, lumayan rumit, tapi gak berlebihan kayak sinetron. Dan yang aku suka itu, cara penyampaiannya itu halus, pelan-pelan kita bisa menebak-nebak, apa yang terjadi pada ibu Woodrow, dan apa yang sebenarnya menjadi trauma bagi Gypsy sehubungan dengan kematian ayahnya.

Sunday, December 07, 2008

Cringe!


Judul : Cringe! (Ih, Capek Deh!)
Pengarang : Caroline Plaisted, 2003
Illustrator : Cherry Whytock
Penerjemah : Weny Jessica Orvalo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, September 2008
Tebal : 224 halaman ; 13,5 x 20 cm

Amaryllis merasa dirinya satu-satunya orang normal di rumahnya. Abangnya sudah drop-out dari SMA dan sekarang tinggal di ruang bawah tanah rumah mereka, tempatnya berkumpul dan latihan dengan bandnya. Ibunya juga bekerja di rumah, sebagai seorang konsultan untuk orang-orang yang punya masalah kepribadian. Ayahnya seharian menjaga toko makanan sehat miliknya, dan pada waktu luangnya menghabiskan waktu dengan melukis. Lalu ada Hugo, adiknya yang selalu menjilat orang dewasa dengan tampil sebagai anak manis dan penurut.

Amaryllis ingin sekali punya orangtua seperti ayah dan ibu teman akrabnya, Xanthe yang cantik. Ibunya langsing, cantik dan berpakaian sangat menarik, sehari-harinya bekerja sebagai perancang asesoris etnik. Dan ayah Xanthe seorang pengacara sukses yang selalu tampil keren dengan pakaian kerjanya. Dan rumah Xanthe juga sangat rapi dan bersih, diisi dengan barang-barang yang seharusnya mengisi sebuah rumah. Bukan seperti rumah Amaryllis, yang dindingnya dilukisi oleh ayahnya dengan sebuah mural seorang perempuan dengan tubuh bergelombang dan tampak mirip ibunya.

Tapi tak seluruh fakta tentang rumahnya jelek. Salah seorang teman abangnya, Jake, sangat keren! Dan Amaryllis sangat berharap kalau diam-diam Jake jatuh cinta padanya. Dan ada juga Nono, neneknya. Nono tidak tinggal bersama mereka. Karena itu, rumah Nono adalah tempat pelarian Amaryllis sepulang sekolah. Di rumah Nono, selalu ada makanan enak, dan anjing Nono, Brian, juga keren, tidak seperti Giggles, anjing rumah Amaryllis yang punya masalah dengan bau badannya.

Amaryllis juga mungkin satu-satunya anak disekolahnya yang tidak punya ponsel, dan bahkan tidak punya televisi di rumah. Sungguh hidup yang aneh, begitulah menurut Amaryllis.

Lalu keanehan itu pun bertambah, saat lukisan ayah Amaryllis dipajang di sebuah pameran dan mendapat perhatian besar. Sepertinya ayahnya akan jadi terkenal. Bahkan diundang ke Amerika! Dan tak hanya itu, ayahnya diminta untuk membuat lukisan presiden Amerika. Wah, semua orang tampaknya mengira Amaryllis menyukai itu.

Tapi Amaryllis tetap mengira keluarganya aneh. Hingga akhirnya dia mengetahui apa yang terjadi pada ayah dan ibu Xanthe.

Buku ini lucu banget. Amaryllis adalah narator cerita ini, yang menceritakan tentang keluarga dan temannya dari sudut pandangnya, seorang anak remaja tanggung. Kayaknya sih gak ada yang terlalu spesial, karena memang yah yang diceritakan juga tentang seorang anak dengan keluarga yang sebenarnya baik-baik saja, hanya sedikit eksentrik. Mungkin sebagai seorang remaja, apalagi dia anak perempuan, dia ingin bisa tampil sama dengan teman-temannya, sehingga merasa keluarganya cukup memalukan.

Yang bikin buku ini jadi menarik sih bagiku adalah ilustrasi di dalamnya. Hampir di setiap halaman ada gambar-gambar yang menunjukkan tokoh-tokoh cerita, dan juga komentar-komentar Amaryllis terhadap para tokoh ataupun kejadian tersebut. Lucu-lucu, kayak waktu dia mengomentari pakaian fotografer yang meliput acara pernikahan bibinya, dan juga gambar dia dalam pakaian yang dirancang bibinya untuk dipakai pada saat pesta tersebut. Kocak banget!

Oh yah, ada satu yang lucu banget, waktu dia gak menyadari kalau bibinya itu sedang hamil, aduh aku ketawa ngakak, karena lama banget dia baru sadar kalau bibinya bukan gemuk, tapi sedang hamil, hi hi hi hi hi

Yah buku ini emang asik kog dibaca buat hiburan, ringan dan lucu ^.^

The Worry Tree


Judul : THE WORRY TREE (Pohon Cemas)
Pengarang :
Marianne Musgrove, 2007
Penerjemah :
Dini Andarnuswari
Penerbit :
Penerbit Atria, an imprint of PT Serambi Ilmu Semesta, November 2008
Tebal : 110 halaman ; 13 x 20,5 cm

Juliet Jennifer Jones punya inisial JJJ, seperti tiga kail ikan berjajar. Hobinya mengoleksi berbagai benda. Sudah banyak koleksinya, dari mulai koleksi penghapus berbagai bentuk, kulit jangkring yang dikeringkan, tiket bis bekas, sampai sebuah tanaman Venus Flytrap yang makan serangga, yang diberi nama Piranha.

Adiknya, Oaf, nama lengkap : Ophelia. Oaf anak yang sangat jahil, dan sering membuat Juliet jengkel dengan ulahnya. Setelah bertengkar berkali-kali, ibu mereka memutuskan, Juliet dan Ophelia harus pisah kamar. Wow, ini berita hebat bagi Juliet, tapi tidak bagi ayahnya. Karena Juliet akan menggunakan kamar yang selama ini dijadikan ayahnya sebagai tempat 'riset', kegiatan yang artinya di sini menggunakan segala alat untuk menjadikan sesuatu yang aneh dan tak jelas fungsinya.

Selain ayah, ibu dan adiknya, ada juga Nana, nenek Juliet, tinggal di sebuah bangunan khusus di kebun belakang. Nana dulunya seorang kepala jurusan kimia di universitas, namun sekarang hanya pergi ke perkumpulan orang tua.

Saat pindah kamar, Juliet menemukan sesuatu. Sewaktu membuka kertas pelapis dinding, ternyata ada sebuah lukisan besar ditemukan terlukis di dinding. Sebuah pohon dengan enam ekor binatang. Nana yang melihat lukisan itu langsung teringat masa kecilnya. Menurut Nana, pohon itu digambar oleh ibu Nana, untuk menghibur Nana. Keenam binatang itu punya nama, dan setiap malam, masing-masing binatang akan mengurus semua jenis kecemasan Nana, mulai kecemasan akan teman-teman, sekolah, keluarga, kesehatan, perubahan dan bahkan barang-barang yang hilang. Karena itulah, pohon itu dinamai Pohon Cemas. Dan ada sebuah lubang di pohon itu, tempat meletakkan kecemasan yang tak dimengerti.

Sejak itu, setiap malam, Juliet menggantungkan kecemasannya di pohon itu. Mulai dari kecemasannya menghadapi seorang anak laki-laki yang selalu mengganggunya di sekolah, lalu teman baiknya yang merasa perlu memperebutkan dirinya dengan seorang teman baru. Dan juga kesehatan Nana yang membuat Juliet selalu khawatir. Lalu ditambah lagi, pertengkaran antara ayah dan ibunya, yang sering terjadi sejak Juliet pindah kamar.

Ceritanya sederhana dan singkat. Buku ini tadinya aku minta karena gambar sampulnya yang bener-bener imut. Dan ceritanya juga imut. Tidak terlalu berbelit-belit, pas banget buat anak-anak. Aku berusaha mengingat waktu kecil, apa dulu aku sampai segitu khawatir yah? Kayaknya sih gak, hahahaha. Mungkin aku lebih mirip adiknya, Oaf, yang lebih mikirin main dan mengusilin adik-adik, hehehehe.

Terasanya sih, buku ini emang bawa pesan, terutama buat orang tua, karena di bagian-bagian akhir, diceritakan kalau Juliet khawatir dengan pertengkaran orangtuanya, dan merasa dia menjadi penyebab pertengkaran itu. Yah, pesannya mungkin kalau orangtua itu harus ingat, kalau bertengkar, anak-anak pasti memperhatikan juga. Dan juga harus memikirkan bagaimana sih perasaan si anak.

Yah, yang paling aku suka di buku ini sih gambar-gambarnya hehehehe, emang imut banget...

Wednesday, July 02, 2008

COUNT KARLSTEIN



Judul : Count Karlstein
Pengarang : Philip Pullman, 1982
Penerbit : Yearling, an imprint of Random House Children's Books (2001)
Tebal : 243 halaman ; 13 x 19 cm


Desa Karlstein adalah sebuah desa kecil yang tenang. Sekali-sekali ada saja orang asing yang lewat dan menginap di tempat tersebut, membuat penginapan Frau Kelmar, ibu dari Peter dan Hildi, tetap saja dikunjungi tamu.

Di desa itu juga ada Kastil Karlstein, tempat tinggal Count Karlstein, gelar yang sekarang dipegang seorang pria aneh pewaris kastil tersebut. Bersama sang Count, tinggal juga dua orang keponakannya, Lucy dan Charlotte, yang sudah yatim piatu. Hildi, anak sang pemilik penginapan juga bekerja sebagai pelayan di kastil itu.

Count Karlstein ternyata memiliki rahasia-rahasia aneh. Diam-diam dia mengadakan perjanjian dengan setan, Zamiel, si Pemburu. Zamiel yang melakukan perburuannya setiap All Soul Eve, mencari mangsa. Zamiel memberi kepada sang Count kedudukan dan harta, tapi dia juga menuntut bayaran. Dan sang Count sudah merencanakan, akan memberikan kedua keponakannya yang malang itu sebagai korban untuk menyenangkan Zamiel.

Untungnya, saat merencanakan kejahatannya itu, Hildi tak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Dan Hildi yang menyayangi kedua anak kecil itu pun membawa lari mereka, agar tak dijadikan mangsa. Sayangnya pelarian itu tak berhasil. Tak tahan bersembunyi, Charlotte pun tertangkap.

Tapi Lucy masih berhasil bersembunyi. Dan sang Count pun masih berusaha mencarinya. Cerita licik dikarangnya untuk mengelabui orang-orang dari rencananya yang sebenarnya. Tapi Lucy beruntung. Berbagai bantuan datang menolong dia dan adiknya. Rencana pun disusun untuk menghindari Zamiel, dan membuat sang Count mendapat pelajaran.

Dongeng ini berakhir bahagia bagi Lucy dan Charlotte, dan tentu Hildi yang pemberani, tapi sang Count yang ternyata palsu itu mendapat ganjaran yang sangat tragis. Dia harus kehilangan nyawa!

Para tokoh dalam cerita ini berganti-ganti menceritakan kejadian selama hari-hari menjelang malam mengerikan itu, tapi yang paling dominan adalah Hildi sang pelayan. Aku sih baru saja ketemu buku ini waktu iseng mengubek-ubek rak toko buku waktu transit pesawat, har har har... Ternyata ini buku yang udah cukup lama kog, jauh sebelum trilogi His Dark Materialnya yang sangat populer itu. Tapi, yah ciri Pullman itu yang suka cerita-cerita sedikit 'gelap' terasa sekali di sini. Akhir yang tragis sah-sah saja baginya, untuk menyeimbangkan kebahagian tokoh-tokoh protagonisnya.

Lalu yang aku suka di sini adalah salah satu tokoh yang muncul belakangan dalam cerita, mantan guru kedua anak tersebut, Miss Davenport. Wah, dia ini keren banget, petualang gitu, dan ingin mengajarkan pada anak-anak perempuan kalau mereka juga perlu belajar banyak hal selain sekedar mengikuti fashion.

Dan ada satu bagian, yang isinya adalah laporan polisi desa Karlstein, yang pasti akan bikin kita ngakak-ngakak ngebayangin si polisi berusaha menjelaskan peristiwa konyol yang terjadi saat penangkapan buronan.

Yah, pokoknya aku sih sukaaaaaa buku ini........

Sunday, October 07, 2007

The Invention of Hugo Cabret

Judul : The Invention of Hugo Cabret
Pengarang dan Illustrator : Brian Selznick (c) 2007
Penerbit : Scholastic Press, an imprint of Scholastic Inc.
Tebal : 533 halaman ; 14,5 x 22 cm

Hugo Cabret yang malang, ayahnya meninggal dalam sebuah kebakaran di museum tempatnya bekerja. Hugo Cabret masih berusia dua belas tahun, tapi dia punya keahlian memperbaiki jam, keahlian yang didapatnya dari sang ayah, yang juga punya toko reparasi jam. Sejak sangat kecil, Hugo sudah terbiasa mengutak-utik berbagai benda mekanis.

Sejak kematian ayahnya, Hugo tinggal dengan pamannya, yang bekerja sebagai pengurus jam-jam di stasiun kereta api di Paris. Sejak ada Hugo, hampir semua pekerjaan merawat jam-jam tersebut dikerjakan Hugo, sementara sang paman lebih sering mabuk-mabukan, hingga akhirnya suatu hari sang paman tak kembali sama sekali ke tempat tinggal mereka. Sejak itu, Hugo sendirian yang berkeliling stasiun memeriksa jam-jam tersebut. Cek gaji pamannya tetap datang, namun Hugo tak mengerti bagaimana mencairkannya. Hugo bertahan hidup dengan mencuri makanan di stasiun yang ramai itu.

Di salah satu sudut stasiun, ada sebuah toko mainan yang dijaga oleh seorang lelaki tua. Dari toko itu, Hugo juga sering mencuri mainan mekanis yang dijual pak tua itu. Suatu hari, Hugo tertangkap basah oleh pak tua itu sewaktu mau mengambil seekor tikus mainan. Dari Hugo, pak tua itu juga mendapatkan sebuah buku kecil berisi gambar-gambar. Buku yang sangat disayangi Hugo, karena itu adalah buku yang berisi gambar-gambar yang dibuat ayahnya. Isinya gambar-gambar sebuah automata yang mereka temukan di gudang di loteng museum tempat ayahnya bekerja sebelum meninggal.

Ternyata, gambar-gambar itu memiliki arti yang sama sekali tak terduga oleh Hugo. Setelah tertangkap basah, Hugo malah dipekerjakan oleh Mr Georges, sang pemilik toko mainan. Selama itu juga, buku kecil itu ditahan oleh Mr Georges. Diam-diam Hugo tetap mencuri bagian-bagian mekanis dari toko itu. Dia ternyata menyimpan automata dari museum tersebut di kamar tinggalnya di stasiun itu. Sebuah automaton yang sangat rumit, berupa seorang pria dengan posisi siap menulis. Pelan-pelan, Hugo berhasil memperbaikinya, walau tanpa bantuan buku catatan ayahnya. Hugo berharap, mungkin nanti dia bisa mendapatkan pesan dari ayahnya dari tulisan yang dihasilkan automata itu.

Sementara itu, Isabelle, seorang gadis kecil yang tinggal bersama keluarga Mr Georges, akhirnya berteman dengan Hugo, dan mencuri buku catatan itu dari Mr Georges untuk diserahkan pada Hugo. Namun, ternyata pencurian itu segera diketahui Mr Georges, yang menuduh Hugo yang melakukannya. Tapi berkat kunci yang dicuri Hugo dari Isabelle, dia berhasil juga menjalankan automata itu, yang ternyata menghasilkan sebuah gambar aneh. Gambar yang langsung mengingatkan Hugo pada cerita ayahnya tentang film pertama yang ditonton sang ayah sewaktu masih muda, tentang sebuah roket yang mendarat tepat di mata manusia bulan. Sebuah tulisan mengejutkan kedua anak itu, Georges Méliès. Itu adalah nama si pemilik toko mainan, bapak baptis Isabelle.

Dari situ mereka akhirnya mengetahui siapa orang tua aneh itu. Georges Méliès, ternyata adalah seorang sineas pionir dalam dunia perfilman di Prancis. Dia juga seorang ahli sulap, dan dia jugalah yang menciptakan automata yang ditemukan Hugo dan mendiang ayahnya di loteng museum itu. Namun kebangkrutan setelah Perang Dunia I membuat Georges Méliès patah semangat, bahkan dia disangka telah meninggal dunia. Georges Méliès yang frustrasi harus menghabiskan hari-hari membosankan dengan menjaga toko mainan di stasiun kereta itu.

Tapi akhirnya, berkat Hugo dan Isabelle, keberadaannya diketahui lagi oleh para sineas Prancis. Film-filmnya ditemukan kembali, dan Georges Méliès tak lagi harus menjaga toko mainan itu. Jasa-jasanya pada dunia perfilman kini dihargai.

Yah, ini adalah sebuah buku yang sangat menarik. Bukan hanya dari ceritanya, tapi juga ilustrasi-ilustrasi luar biasa ikut menghiasi buku ini. Setiap halaman diberi border kehitaman, dan ilustrasi-ilustrasinya memenuhi hingga lebih 240 halaman dari buku setebal 530 halaman ini. Di antara gambar-gambar tersebut, kita juga akan menemukan beberapa karya asli dari Georges Méliès sendiri. Ilustrasi karya Brian Selznick sendiri berupa gambar-gambar goresan pensil.

Cerita berjalan dalam tulisan dan gambar. Kadang cerita itu tidak disampaikan dengan kata-kata, tapi hanya berupa urut-urutan gambar, seperti mengikuti cerita komik bisu. Lalu aku juga sangat menyukai kesan yang ditimbulkan gambar-gambar tersebut. Rasanya seperti gambar-gambar itu digambar langsung oleh Brian Selznick di buku tersebut, sehingga kita seperti takut menyentuhnya, karena takut akan kelunturan pensilnya.

Satu lagi yang menarik, di bagian paling akhir buku ini, kita juga diberi informasi tentang jenis huruf cetakan yang digunakan, beserta sejarah jenis font tersebut. Very nice!

Kisah hidup Georges Méliès sendiri yang memang memberi inspirasi pada Brian Selznick untuk menulis buku ini. Kisah tentang automata karya sang sineas yang terbengkalai di loteng museum itu benar-benar ada. Demikian juga dengan masa-masa di mana Georges Méliès harus menjaga toko mainan untuk mempertahankan hidup sebelum hasil karyanya dihargai kembali. Kisah hidup Georges Méliès juga akan kita temukan dalam buku yang ditujukan bagi anak-anak ini.

Brian Selznick sendiri sudah menghasilkan beberapa novel dan selama ini juga dikenal sebagai ilustrator yang karya-karyanya juga sudah mendapatkan beberapa penghargaan.

Mau mengintip beberapa ilustrasi pembukaan buku ini? Silahkan klik saja ke website-nya :


Sunday, September 23, 2007

The Mysterious Benedict Society

Judul : The Mysterious Benedict Society
Pengarang : Trenton Lee Stewart, 2007
Illustrasi : Carson Ellis
Penerbit : Little, Brown and Company - Hachette Book Group USA, March 2007
Tebal : 490 halaman ; 14,5 x 21,5 cm (hardcover)


"Apakah kau seorang anak berbakat yang mencari kesempatan istimewa?"

Itulah kata-kata yang tertera di iklan aneh di sebuah surat kabar. Iklan itu juga yang dibaca Reynie Muldoon, seorang anak yatim piatu di Panti Asuhan Stonetown. Dia langsung merasa tertarik, apalagi dia sudah sangat bosan, direktur Panti Asuhan tak pernah mengijinkannya untuk masuk sekolah anak berbakat, padahal dia juga tidak masuk sekolah biasa. Hanya ada Miss Perumal yang menjadi tutornya, yang selalu berbahasa Tamil dengannya. Miss Perumal juga yang membantunya mendapatkan ijin ikut tes tersebut.

Ternyata iklan tersebut menarik perhatian banyak anak, namun pada akhirnya hanya sedikit sekali yang berhasil melalui berbagai tes aneh tersebut. Tes-tes tersebut selain menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tak lazim seperti apakah kau suka nonton televisi dan mendengar radio, apakah kau berani, juga meminta mereka untuk melewati sebuah ruangan tanpa menginjak pola-pola tertentu, dan yang terakhir adalah tes melewati labirin. Empat orang tepatnya : Reynie Muldoon, Sticky Washington yang kurus dan berkacamata, Kate Wetherall yang selalu membawa ember berisi berbagai peralatan, dan seorang anak bertubuh sangat mungil bernama Constance Contraire yang sangat keras kepala.

Ternyata mereka direkrut oleh seorang lelaki tua untuk menjalankan misi rahasia. Mr Benedict yang merekrut mereka, mencurigai bahwa sebuah rencana mengerikan sedang berjalan. Seseorang, yang disebutnya The Sender, sedang merencanakan sesuatu yang sangat jahat. Mr Benedict, menggunakan peralatannya, menangkap pesan-pesan tersembunyi yang disampaikan dalam siaran televisi dan radio, dari sebuah tempat di Pulau Nomansan, di dekat kota Stonetown.

Di tempat itu hanya ada sebuah sekolah untuk anak-anak berbakat, Learning Institution for the Very Enlightened (L.I.V.E), dan tempat itu didirikan oleh Ledroptha Curtain. Tempat itu juga sangat tertutup, sulit untuk dimasuki. Untuk itulah, Mr Benedict meminta bantuan anak-anak tersebut untuk menyusup, menjadi tim agen rahasia untuk menyelidiki sumber pesan-pesan misterius tersebut.

Untuk menjalankan misi itu, yang tentu saja sangat berbahaya bagi keempat anak tersebut, Mr Benedict meminta mereka mempelajari kode Morse, sesuatu yang sangat sederhana dan kuno, sampai-sampai tak lagi digunakan orang. Sticky yang sangat jenius dengan cepat mampu menghafal kode tersebut. Mereka sepakat akan mengirimkan berita kepada tim Mr Benedict yang terdiri dari Rhonda Kazembe dan Number Two yang dulunya adalah anak-anak yang juga pernah lolos tes Mr Benedict, dan Milligan, seorang laki-laki misterius yang bertugas menjaga keselamatan mereka. Mr Benedict sendiri punya keanehan sendiri, dia mengidap Narcolepsy, sebuah penyakit yang membuatnya bisa jatuh tertidur kapan saja tanpa aba-aba.

Setelah berhasil masuk ke sekolah tersebut dengan menyamar menjadi siswa baru, keempat anak tersebut memulai penyelidikan. Untuk itu mereka menyebut diri mereka sebagai The Mysterious Benedict Society. Di L.I.V.E mereka menemukan berbagai hal baru. Di sana terdapat para Executive, yang bertugas mengajar dan mengawasi para siswa. Di antara para siswa juga ada yang mendapat kedudukan khusus sebagai Messenger. Para Executive dan Messenger memiliki seragam khusus yang membuat mereka terlihat berbeda dari para siswa biasa, selain itu mereka juga dikatakan memiliki akses ke fasilitas khusus, yang sepertinya pasti sangat hebat, sehingga semua siswa ingin menjadi Messenger.

Keempat anak itu pun berjuang untuk menjadi Messenger, sambil mengamati lingkungan sekolah. Hampir setiap malam mereka berkumpul diam-diam di kamar Reynie dan Sticky, karena Kate yang sangat atletis itu berhasil menemukan jalan melewati saluran pemanas untuk bisa menyelinap ke kamar mereka. Dari kamar tersebut, yang kebetulan posisinya berhadapan dengan hutan di seberang pulau Nomansan - tempat Rhonda, Number Two, dan Milligan bergantian menjaga pos pengawasan - Sticky dan Reynie mengirimkan berita tentang temuan-temuan mereka. Balasan yang diterima seringkali membingungkan, namun kecerdikan Reynie selalu berhasil memecahkan teka-teki tersebut. Sebuah fakta mengejutkan mereka di hari pertama mereka, Mr Curtain terlihat sama persis seperti Mr Benedict. Dan ternyata Mr Curtain adalah saudara kembar Mr Benedict yang tak diketahuinya sebelumnya. Nantinya, Reynie berhasil mengetahui bahwa Mr Curtain juga lahir di Belanda, sama seperti Mr Benedict, yang menegaskan fakta bahwa mereka kembar.

Pelajaran-pelajaran yang disampaikan di sekolah itu sangat aneh. Begitu pun, kejeniusan Sticky dan kecerdasan Reynie yang diatas rata-rata, membuat mereka mampu mendapatkan nilai-nilai yang sangat cemerlang, membuat mereka menjadi kandidat Messenger dengan peluang besar. Selain itu, banyak keanehan mereka amati di sekolah tersebut. Ada murid-murid yang direkrut, tapi sepertinya menunjukkan perilaku seolah-olah mereka kehilangan sebagian ingatan. Lalu ada juga para Helper, orang-orang yang melayani di sekolah tersebut, yang tampaknya tak punya emosi dan ingatan sama sekali.

Kecerdasan Reynie akhirnya menarik perhatian Mr Curtain, dan membuatnya menjadi Messenger, dan akhirnya mengetahui rahasia pesan-pesan tersebut. Ternyata Mr Curtain punya rencana untuk menguasai dunia. Dan rencananya itu sudah hampir selesai, dan siap untuk dijalankan. Sekarang The Mysterious Benedict Society harus berjuang untuk menggagalkan rencana tersebut. Begitu banyak rintangan harus mereka lalui. Mereka harus bisa merusak peralatan Mr Curtain, agar pesan-pesan itu tak bisa disampaikan langsung, dan akan mempengaruhi lebih banyak orang dari sebelumnya.

Masing-masing anak memiliki keistimewaan mereka masing-masing. Dan juga memiliki kesedihan sendiri-sendiri. Reynie Muldoon, 11 tahun, kesepian dan selalu diejek oleh teman-temannya karena kecerdasannya membuatnya sering tampak berbeda. Hanya Miss Perumal tutornya yang dia sayangi dan mengerti tentang dirinya. Sedangkan Sticky Washington, juga 11 tahun, adalah anak yang sangat jenius dan mampu mengingat banyak hal. Kejeniusannya ini membuatnya terpisah dari orangtuanya. Dia selalu menyimpan ketakutan bahwa dirinya tak diinginkan. Lalu ada Kate Wetherall, seorang gadis berusia 12 tahun dengan tubuh kekar dan sangat bersemangat, yang kemana-mana selalu membawa ember penuh peralatan. Kate juga pernah bergabung dengan rombongan sirkus, setelah ayahnya pergi tiba-tiba dan tak kembali. Hanya satu ingatan yang tak terlupakan olehnya, sewaktu dia dibawa ayahnya ke sebuah danau kecil di dekat kincir, dan janji ayahnya untuk membawanya kembali ke sana, janji yang tak berhasil ditepati sang ayah. Constance Contraire sendiri tak kalah aneh, dia bertubuh sangat kecil, sempat tinggal diam-diam di perpustakaan umum di sebuah kota di dekat Stonetown. Dia sangat keras kepala, dan tampaknya tak tahu aturan, juga sepertinya tak terlalu pintar, sangat gampang mengantuk dan tubuhnya sangat kecil.

Buku ini adalah novel perdananya untuk anak-anak. Sebelumnya, dia sudah menulis sebuah novel fiksi berjudul Flood Summer. Ide untuk buku ini sendiri katanya didapatnya karena dia percaya kalau anak-anak itu lebih sering hanya dilihat dan tidak didengarkan, selalu dianggap remeh.

Cerita ini ternyata sangat asik, seru dan sering membuat kita berdebar-debar menanti apa yang akan dialami keempat anak anggota perkumpulan rahasia tersebut. Di tiap bab, dihiasi juga dengan ilustrasi-ilustrasi cantik karya Carson Ellis. Kita juga diajak untuk memecahkan berbagai teka-teki bersama-sama keempat anak tersebut, dan bertualang melewati lorong-lorong rahasia, berlari dari kejaran musuh. Dan tentu saja.... yang paling aku sukai adalah akhir yang menyenangkan, dengan sebuah rahasia penting yang tak terduga di akhir cerita.

Saturday, September 22, 2007

The Sea of Trolls


Judul : Sea of Trolls
Pengarang : Nancy Farmer, 2006
Penerjemah : Febry E.S
Penerbit : Penerbit Matahati, Juli 2007
Tebal : 543 halaman ; 13,5 x 20 cm

Di sebuah desa, tinggallah Jack bersama ayah, ibu dan adiknya Lucy. Desa kecil itu sangat sederhana. Ayah Jack kakinya cacat, selalu keras pada Jack, namum sangat memanjakan Lucy. Ayah mereka membuai Lucy dengan dongengan bahwa dirinya adalah seorang putri yang hilang. Ibu Jack sendiri wanita yang cerdas, dan diam-diam sepertinya menguasai sedikit ilmu sihir.

Di desa itu juga tinggal Bard, seorang lelaki tua yang suatu hari terdampar di dekat desa mereka. Entah mengapa, seluruh warga desa itu sangat menghormati Bard. Dia tampaknya menguasai sesuatu yang tak bisa dijelaskan mereka.

Suatu hari, sewaktu Jack mengantarkan makanan, Bard memperhatikan bahwa Jack memiliki sesuatu yang berbeda dari anak-anak lain di desa itu. Bard akhirnya mengangkat Jack menjadi anak didiknya, dan bersama Bard, Jack mempelajari banyak hal-hal baru. Jack bisa menguasai kekuatan alam, dan mampu memanggil kabut. Ternyata ada sebuah rahasia yang disimpan oleh Bard. Frith, sang Ratu para beserker, seorang wanita keturunan Troll, ingin membinasakan Bard.

Lalu, sebelum Jack selesai belajar pada Bard, sebuah serangan mengacaukan segalanya. Para Beserker menyerbu desa Jack. Para penduduk semua sempat bersembunyi, karena peringatan dari Jack dan Bard, juga seorang biarawan dari Pulau Suci yang berhasil melarikan diri dari serbuan Beserker. Tapi ternyata, saat Jack dan Lucy tanpa direncanakan keluar untuk mengintai, mereka malah ditangkap.

Dalam penangkapan itu, Jack dan Lucy akhirnya dibawa ke negeri para beserker. Lucy akan dipersembahkan kepada Ratu Frith, sedangkan kemampuan Jack sebagai 'bard' juga menarik perhatian sang pemimpin beserker, Olaf. Ternyata para beserker tak seburuk yang diduga oleh Jack. Dalam pertemuannya dengan ratu Frith, Jack tak sengaja mengeluarkan sihir yang menyebabkan Frith kehilangan rambutnya, dan sosok palsunya sebagai wanita yang sangat cantik juga rusak, menampakkan sosok aslinya yang mengerikan.

Frith mengancam akan membuat Lucy menjadi persembahan pada Freya, jika Jack tak mampu mengembalikan sosok cantiknya. Jack, ditemani Olaf dan Thorgil, seorang anak perempuan yang ingin jadi beserker, harus pergi ke negeri Troll, untuk mendapatkan penangkalnya. Lagi-lagi, Jack menemukan kenyataan yang mengejutkan di negeri Troll.

Cerita ini berlatar belakang masa Anglo-Saxon, dimana orang-orang masih tercampur aduk antara kepercayaan Kristen dan kepercayaan-kepercayaan mistis. Masa-masa dimana para Viking sering melakukan penyerbuan ke Daratan Eropa dan Kepulauan Inggris.

Kisah-kisah mitologi Eropa Utara akan sangat terasa dalam cerita ini. Legenda prajurit Valkyrie yang membawa para pejuang ke Valhalla yang memotivasi Thorgil untuk menjadi Beserker. Bahkan, dalam petualangannya untuk mencari sihir yang bisa mengembalikan sosok Frith, Jack harus bertemu para Norns, penenun nasib. Bagi yang akrab dengan kisah-kisah mitologi Norse, pasti akan sangat menikmati cerita ini.

Tuesday, September 11, 2007

Gadis Serigala


Judul : Gadis Serigala (Wolf Girl)
Pengarang : Theresa Tomlinson, 2006
Penerjemah : Ferry Halim
Penerbit : Penerbit Atria (Serambi), Juli 2007
Tebal : 486 halaman; 13 x 20,5 cm

Ini cerita tentang Wulfrun, seorang gadis berusia 11 tahun, anak seorang janda penenun bernama Cwen, yang tinggal di dekat Biara Whitby. Kehidupannya berjalan biasa-biasa saja, kecuali, ada satu rahasia yang disimpannya. Dia tak sengaja menemukan bilik rahasia dalam sebuah peti milik ibunya, dan di situ tersimpan seuntai kalung mewah. Diam-diam Wulfrun suka mengenakan kalung tersebut dan berkhayal.

Sayang sekali, suatu hari, saat sedang mematut-matut diri mengenakan kalung tersebut, adiknya, Gode, lari bersama angsa-angsa mereka. Karena hendak mengejar Gode, Wulfrun tak sempat melepaskan kalung itu, dan di sinilah awal bencana itu. Irminburgh, seorang kerabat raja yang saat itu dijadikan pengawas Elfled, putri sang raja yang diserahkan ke biara, menangkap basah Wulfrun dan kalung itu. Akibatnya, Cwen, ibu Wulfrun, yang dituduh telah melakukan pencurian.

Ternyata, bantuan datang dari orang yang tak terduga. Awalnya, Fridgyth si ahli ramuan dan tanaman obat datang menemani Wulfrun, dan memberinya nasihat yang menguatkannya. Dan ramalan runes yang dilakukan Fridgyth terbukti.

Elfled-lah yang menyelamatkan ibu Wulfrun, karena entah mengapa, Irminburgh begitu ingin segera menghukum Cwen. Wulfrun pun harus berusaha mencari tahu, dari mana asal kalung itu. Perkenalannya dengan Elfled yang sedikit aneh itu akhirnya memberi akses yang tak terduga bagi Wulfrun. Dia pun bisa menikmati pelajaran membaca dan menulis, bahkan berkuda. Dan berkat itu juga, dengan bantuan Elfled dan Adfrith, si calon biarawan yang ditugaskan mengajar Elfled, Wulfrun sedikit demi sedikit menemukan jejak-jejak yang membantunya mencari tahu dari mana kalung itu berasal.

Bersama seorang teman lagi, Cadmon, mereka bahkan akhirnya menempuh perjalanan luar biasa, untuk mencapai Barmburgh, istana tempat ayah dan ibu Elfled, dan juga Ibu Hild, si kepala biara, yang berhak mengambil keputusan atas nasib Cwen. Juga, ada sebuah rencana pemberontakan yang tak sengaja diketahui oleh Elfled dan Wulfrun. Dalam perjalanan itu pun, banyak lagi kejutan yang mereka dapatkan.

Pertama yang pasti akan kita perhatikan di buku ini adalah nama-nama para tokoh yang agak tidak familiar didengar, seperti Wulfrun, Fridgyth, Cwen, Elfled, ratu Ianfleda, dan lainnya. Ini karena memang kisah ini berlatarbelakang era Anglo-Saxon (sekitar abad ke 5-9). Sebagian tokoh dalam cerita ini memang ada tercatat dalam sejarah.

Yang aku sukai adalah karakter-karakter di cerita ini. Anak-anaknya menarik, apalagi Wulfrun dan Elfled. Dua anak yang sebaya, tapi berbeda latar belakang. Keberanian Wulfrun, yang mungkin juga karena kepolosannya, justru tampak sangat menarik bagi Elfled, si gadis kecil yang kesepian itu.

Bagian yang paling aku sukai adalah, sewaktu Wulfrun pertama kali membantu Elfled dalam pelajaran menulisnya. Ternyata, kondisi Wulfrun yang hidup tak terlalu berkecukupan itu, sehingga dia harus banyak membantu ibunya, malah menjadikannya lebih dewasa, bahkan akhirnya dia yang bisa membantu menemukan cara agar Elfled mau belajar dan tidak terlalu memberontak seperti sebelumnya.

Sebuah kisah yang indah, dengan akhir yang menyenangkan.

Friday, September 07, 2007

Keluarga Flood 3 - Asal Usul Keluarga Flood


Judul : Keluarga Flood 3 - Asal Usul Keluarga Flood (The Floods, Home and Away)
Pengarang : Colin Thompson (2006)
Penerjemah : Ferry Halim
Penerbit : Atria (Penerbit Serambi), 2007
Tebal : 240 halaman; 13 x 20 cm

Dari manakah asal keluarga Flood yang tinggal di jalan Acacia nomor 13? Itulah yang akan kita ketahui dari buku ketiga ini.

Cerita diawali dari Transylvania Waters, sebuah tempat yang tak akan dapat ditemukan di peta, negeri tempat kelahiran Mordonna dan Nerlin Floods. Di sana, Mordonna adalah putri raja Quatorze (yang nama lengkapnya sebenarnya panjangnya delapan belas halaman dan terdiri dari kata-kata dari lima belas bahasa, sehingga untuk mempersingkat dipanggil raja Quatorze saja). Sedangkan Nerlin Floods adalah seorang pemuda dari golongan Manusia-Manusia Kotor yang menghuni saluran-saluran air di bawah tanah, dan punya pekerjaan yang menjijikkan. Manusia-Manusia Kotor itu tak selamanya menjadi kaum yang hina, dulunya mereka juga kaum terpandang, hanya saja nasib mereka berubah.

Raja Quatorze sendiri adalah raja yang tak menyenangkan, suka menghukum dan sangat mata duitan. Dia sangat bangga pada putrinya Mordonna yang sangat cantik, dan tak mengijinkan sembarangan orang untuk menikahi putrinya itu. Syarat utama untuk menjadi menantunya adalah kekayaan. Sementara itu Mordonna sendiri tidak bahagia dikungkung oleh ayahnya. Dia sangat bosan. Hingga suatu hari, karena kecelakaan, Mordonna terjatuh ke dalam saluran air dan menimpa Nerlin Floods.

Pertemuan itu ternyata menjadi awal kisah cinta luar biasa. Kedua orang muda tersebut jatuh cinta pada pandangan pertama. Ibunda Mordonna, sang ratu sendiri yang membantu pasangan tersebut melarikan diri. Sang ratu juga ternyata selama ini sangat menderita menjadi istri raja Quatorze. Diam-diam dia malah mencintai ajudannya yang celananya sangat pas, Vessel. Mereka berempat pun melarikan diri dari Transylvania Waters.

Kejadian ini tentu saja membuat raja Quatorze marah besar. Dia memerintahkan mata-mata (yang benar-benar hebat maupun yang bodoh) untuk mengejar para pelarian tersebut.

Pasangan Floods dan sang ibu dan ajudannya pun harus berjuang melarikan diri. Dibantu Sheman yang sakti, mereka akhirnya berhasil melarikan diri, walau sering kali mereka hampir saja tertangkap oleh si Pembisik Maut yang mengerikan, utusan sang raja.

Di buku ketiga kisah keluarga penyihir yang sangat kocak dan aneh ini, kita akan mengetahui asal-usul para tokoh dalam keluarga Flood. Ingat kan, kalau ibu Mordonna sudah dikubur di halaman rumah mereka di Jalan Akasia no. 13? Di sini kita akan mengetahui bagaimana sang ibu bisa dikubur, padahal sebenarnya dia belum mati. Lalu ada juga cerita tentang kelahiran anak-anak keluarga Flood, bagaimana sebenarnya Satanella bisa tersihir menjadi anjing, lalu mengapa Valla sangat suka darah, dan kejadian yang menyebabkan Merlinmary menjadi penuh bulu dan mengapa dinamai seperti itu. Lalu juga Winchflat yang bisa dikatakan menciptakan dirinya sendiri, dan proses pembuatan Morbid dan Silent si kembar.

Yang pasti, seru sekali mengikuti keempat orang tersebut melarikan diri dari Transylvania Waters, dan berkelana ke sana kemari, membawa seekor keledai yang dulunya adalah seorang pangeran dari Asisi dan tak pernah menyukai apapun. Banyak hal-hal kecil yang akan menambah kelucuan, seperti tingkah para penyihir sombong yang punya tongkat sihir bertabur batu hitam buatan Versace, dan juga cerita pertemuan pertama antara Nerlin dan Mordonna. Menegangkan, namun kocak luar biasa.

Saturday, August 18, 2007

Soul Eater



Judul : The Chronicles of Ancient Darkness 3 - Soul Eater
Pengarang : Michelle Paver, 2006
Penerbit : Penerbit Matahati, 2007
tebal : 376 halaman ; 20 x 13 cm

Torak meninggalkan Klan Gagak, dan Renn pun mengikutinya. Serigala sudah bergabung kembali dengan Torak. Torak bertekad untuk mencari para Pemakan Arwah yang masih hidup.

Bertiga mereka mulai perjalanan, tanpa jelas arah yang akan dituju. Namun, baru mereka memulai perjalanan, Serigala hilang! Ada yang menculiknya. Renn dan Torak kehilangan jejak serigala, namun tiba-tiba mereka bertemu dengan si Pejalan, yang memberitahu mereka sebuah ramalan yang aneh.

Berdua mereka menuju ke utara, ke tempat dimana semua tertutup es. Torak mencoba melakukan klanaroh, kemampuannya yang membuatnya istimewa. Namun dia terlalu nekat, dia mencoba memasuki tubuh burung, sesuatu yang tak seharusnya dilakukan. Alam menjadi marah, dan hampir saja mereka berdua menjadi korban keganasan padang es, kalau saja tak ada seorang dari klan Rubah Putih yang kebetulan melihat dan akhirnya menolong mereka.

Di perkemahan klan Rubah Putih, Torak juga mendapatkan informasi baru, sesuatu yang menjelaskan ramalan si Pejalan. Di situ juga, Torak mengetahui bahwa sudah ada penampakan tentang dirinya, yang membuat klan tersebut gelisah melihat dirinya. Klan Rubah Putih melepaskan kedua anak itu untuk mencari Serigala, dan menunjukkan arah dimana kira-kira mereka dapat menemukan tempat yang digambarkan oleh si Pejalan.

Ternyata, di sana Torak menemukan bahwa para Pemakan Arwahlah yang telah menculik serigala, bersama dengan berbagai hewan pemburu lainnya, hewan-hewan yang harus dihormati semua klan. Sesuatu yang sangat jahat dan berbahaya sedang direncanakan oleh para Pemakan Arwah tersebut. Untuk membebaskan Serigala, Torak harus melakukan sesuatu yang sangat keji!

Ikutnya Renn bersama Torak, terbukti sangat membantu Torak melarikan diri dari para Pemakan Arwah dan membawa Serigala. Sementara itu, di antara para Pemakan Arwah sendiri, ada sebuah ramalan yang membuat mereka bingung, sehingga menunda kematian Serigala.

Tapi, walau berhasil melarikan diri dari para Pemakan Arwah, pelarian itu tak berjalan mulus. Para Pemakan Arwah akhirnya berhasil mengejar Torak, Renn dan Serigala. Pertarungan tak terelakkan. Inilah awal pertarungan yang sebenarnya. Tugas Torak kini semakin berat. Semua Pemakan Arwah harus dimusnahkan!

Ini adalah kisah ketiga dari 6 seri yang direncanakan membentuk kisah petualangan Torak dalam seri The Chronicles of Ancient Darkness. Kali ini, Torak dan Renn akan banyak berada di wilayah es, setelah di buku pertama (Wolf Brother) berkelana di hutan, dan di buku kedua (Spirit Walker) tinggal di tepi laut. Torak, Renn, dan Serigala, ketiganya sudah bertambah besar. Kemampuan Torak semakin menonjol di sini. Juga peranan Renn semakin besar, Torak sudah mulai mau mendengarkan pertimbangan Renn.

Aku juga terharu membaca tentang Serigala. Dia begitu menyayangi Torak, dan sangat menderita dalam penculikannya. Dengan bahasanya, Serigala menggambarkan keadaannya dalam penculikan oleh para Pemakan Arwah.

Di bagian akhir buku, kali ini Michelle Paver menulis sedikit tentang Serigala, dan juga kehidupan beruang es. Seperti dijelaskan di sana, dunia Torak ini adalah dunia 6000 tahun yang lalu, masa setelah jaman es, ketika Eropa barat laut masih merupakan suatu hutan yang luas. Kita akan berpetualan bersama Torak dan Serigala, melihat bagaimana dunia di masa itu.

Satu hal yang terlintas, tentang kehidupan di padang es. Baru saja tadi ada berita tentang penurunan lapisan es di kutub selatan, aku langsung teringat buku ini, dan kebayang, betapa berbedanya dunia sekarang dengan di masa itu. Dan bagaimana yah kira-kira permukaan bumi dah suhu udara di masa 20 tahun dari sekarang, dengan proses pemanasan global sekarang?

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP