TAHUN 2008
Cerita sekitar buku Yang Dibaca Tahun 2008, silahkan klik di sini
Yah, males juga ngetik ulang, jadi aku bikin link-nya aja yah, hehehehhehe
Cerita sekitar buku Yang Dibaca Tahun 2008, silahkan klik di sini
Yah, males juga ngetik ulang, jadi aku bikin link-nya aja yah, hehehehhehe
Posted by Duma at 11:44 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : The Graveyard Book
Pengarang : Neil Gaiman, 2008
Penerbit : HarperCollins Publishers, 2008
Tebal : 312 halaman ; 14 x 21 cm
Sudah sering aku baca kisah anak-anak yang dibesarkan oleh binatang, mulai dari kisah klasik Romulus dan Remus yang dibesarkan oleh serigala, dan tentunya Mogwli karya Rudyard Kipling, yang hidup di hutan dan dibesarkan oleh Baloo si beruang dan Bagheera si macan kumbang. Tapi bagaimana dengan anak yang dibesarkan oleh hantu-hantu di kuburan?
Seorang bayi laki-laki mengalami nasib yang sangat menyedihkan, keluarganya dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran. Ayah, ibu dan kakak perempuannya, semuanya dibantai dengan darah dingin oleh laki-laki yang dikenal sebagai The Man Jack. Sayangnya, si bayi yang sebenarnya merupakan sasaran utama, justru entah bagaimana di malam pembunuhan itu, memilih saat itu untuk keluar dari tempat tidurnya dan berkeliaran. Dan bayi yang memang dikenal sangat aktif itu pun keluar dari rumahnya dan merangkak menuju ke pekuburan dekat rumahnya.
Malam, tentunya waktu yang tepat bagi para hantu di kuburan itu untuk gentayangan. Dan para hantu itu pun melihat bayi itu masuk merangkak ke tempat mereka. Adalah Mrs Owens yang pertama kali melihat si bayi, karena saat itu dia sedang berada dekat pagar kuburan. Dan saat Mrs dan Mr Owen kebingungan, sesosok hantu wanita datang ke tempat itu dan meminta pertolongan mereka untuk melindungi si bayi.
Kehebohan melanda komunitas hantu di kuburan itu, walau akhirnya keputusan diambil bahwa mereka akan melindungi bayi tersebut. Karena itu, The Man Jack yang mengikuti jejak si bayi sampai ke kuburan itu pun disesatkan oleh Silas, sosok aneh yang juga berada di kuburan itu. Penamaan bayi tersebut pun menjadi perdebatan di antara para hantu, hingga akhirnya nama Nobody pun disepakati, dan keluarga Owens diberi hak untuk merawat bayi tersebut, Nobody Owens. Sebagai bayi yang dilindungi oleh para hantu, Bod, demikian dia dipanggil, memiliki berbagai keahlian yang juga dimiliki oleh hantu, seperti menjadi tersamar, mampu memasuki celah-celah dan bahkan menembus dinding, dan juga bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan.
Bod terus bersama para hantu, dan juga Silas, mahkluk yang konon berada di perbatasan antara manusia hidup dan para hantu tersebut. Silas jugalah yang memastikan segala kebutuhan Bod sebagai manusia yang masih hidup, seperti pakaian dan makanan, tetap tersedia. Karena Silas memang bisa keluar dari pekuburan tersebut dan masuk ke dunia manusia yang masih hidup. Dalam statusnya yang mendapat "Perlindungan Pekuburan" itu, Bod akan tetap terlindungi, selama dia berada dalam lingkungan pekuburan tersebut. Dan di tempat itu juga Bod mendapatkan semua pengetahuannya. Silas memastikan bahwa Bod tetap mendapatkan pendidikan, bahkan di masa-masa Silas tidak berada di tempat itu, yang terjadi beberapa kali.
Dan Bod si bayi pun tumbuh menjadi seorang remaja, dengan rasa ingin tahu yang juga membesar. Bod tentu ingin tahu siapa yang membunuh keluarganya. Bod juga perlu keluar ke dunia manusia. Dunia tempat pembunuh keluarganya masih berkeliaran, dan juga masih mengincarnya.
Wuah, aku senang baca buku ini. Kesannya gelap dan seram, lihat gambar sampulnya, baca judulnya dan apalagi waktu baca sinopsisnya, tentang kuburan dan hantu-hantu. Ha ha ha! Ternyata sama sekali tidak menyeramkan. Bener-bener keren, dan asik banget. Selama bacanya, aku sering geli-geli sendiri. Eh memang ada sih bagian-bagian yang agak seram, tapi gak seperti baca cerita tentang hantu atau roh-roh gitu yang bikin kita merinding. Seram sih karena si tokohnya, Bod, sedang tidak terlindungi oleh para hantu itu.
Lalu di kuburan itu juga seru, karena para hantunya juga digambarkan dengan sangat menarik oleh Gaiman. Ada tokoh Caius Pompeius, yang katanya termasuk orang paling lama dikuburkan di situ. Lalu ada juga penulis puisi eksentrik. Dan di luar pagar, tapi masih termasuk area pekuburan, ada juga seorang wanita yang dulunya mati setelah dituduh sebagai penyihir. Pengetahuan yang didapat Bod dari orang-orang ini membuat Bod tumbuh menjadi anak yang sangat menarik. Dan lucu juga karena sering banget dalam buku ini sambil melewati satu nisan, Bod selalu berpikir bukan hanya tentang nama orang yang dikubur di situ, tapi juga kata-kata yang terukir pada nisannya, sehingga benar-benar terasa kalau Bod anak yang tumbuh di kuburan.
Dan yang aku suka, dalam banyak hal, detil-detil cerita di bagian depan akan menjadi bagian penting di bagian-bagian berikutnya dalam cerita, jadi hampir gak ada hal-hal yang diceritakan menggantung begitu saja, keren kan, mengingat buku ini gak tebal-tebal amat.
Ow yah, nama Nobody Owens sendiri, kalau diucapkan yah bunyinya seperti Nobody Owns, hm, apa emang kira-kira maksudnya anak itu tak dimiliki siapa-siapa gitu? hi hi hi hi hi
** psst, nambah lagi : buku ini pakai ilustrasi, tapi ilustrasinya itu wajah orang-orangnya jelek-jelek, hi hi hi hi, wajahnya aneh, karena mulutnya atau hidung atau matanya suka miring-miring gak keruan, hehehehe, tapi yah garis-garisnya itu bagus. Yah mungkin karena ceritanya juga sinting yah? hahahahaha
Posted by Duma at 8:46 PM 1 comments
Labels: 2008
Judul : Porcupine (Menjadi Kakak)
Pengarang : Meg Tilly, 2007
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, November 2008
Tebal : 248 halaman ; 13 x 20 cm
Seperti landak, yang menggunakan duri-durinya untuk menyerang Tom si anjing yang mengusiknya. Tapi landak sebenarnya makhluk yang lembut, saat dia merasa percaya, dia akan menurunkan duri-durinya, dan yang tertinggal adalah bulu-bulunya yang sangat halus. Jack, nama lengkapnya Jacqueline Miriam Cooper. Dan dia harus menjadi seperti landak, untuk melindungi dirinya, dan adik-adiknya. Namun sama seperti landak, Jack juga sebenarnya anak yang punya kelembutan hati yang luar biasa.
Ayahnya pergi ke Afganistan, seharusnya dia baik-baik saja, karena dia pergi ke sana untuk menjaga perdamaian, bukan untuk berperang. Tapi peluru nyasar dari seorang tentara yang sedang membersihkan senjata membunuhnya. Kematian ayahnya menghancurkan keluarga Jack. Ibunya yang sejak dulu memang pilih kasih, semakin hari semakin konyol. Dia menangis tak henti-hentinya, membiarkan Jack mengambil alih semua urusan rumah tangga, mengurusi kedua adiknya, Simon dan Tessa.
Keadaan makin buruk, listrik dan gas di rumah mereka sudah diputus. Dan akhirnya ibu mereka mengambil tindakan. Dijemputnya ketiga anak itu dari sekolah, dengan alasan mereka harus menjenguk nenek buyutnya yang sakit. Ternyata itu hanya akal-akalan si ibu. Berhari-hari mereka tinggal di jalan, sebelum akhirnya sampai di rumah Gran.
Tapi sambutan Gran sangat dingin, bahkan dia hampir saja mengusir keluarga itu. Dan hidup pun berubah. Kini Jack, Tessa dan Simon hidup di pertanian. Mereka juga harus bekerja mengurusi hewan. Dan lagi-lagi, ibu mereka meninggalkan ketiga anak itu, karena merasa tak sanggup mengurus mereka.
Lalu di pertanian pun, Jack tak bersungut-sungut saat harus melakukan pekerjaan yang sebelumnya tak terbayangkan akan dilakukannya, seperti memerah susu sapi, membersihkan kandang ayam. Dan ternyata Jack malah menemukan ketenangan tersendiri saat melakukan hal-hal tersebut. Bahkan, Jack punya ayam kesayangan, Coconut Zigzag, yang membesarkan anak bebek.
Tapi, apakah mereka bisa selamanya tinggal bersama Gran yang sudah sangat tua, dan juga sebenarnya miskin? Kapankah ibu mereka kembali dan membawa mereka untuk hidup bersamanya lagi?
Hal pertama yang membuatku tertarik dengan buku ini adalah sampulnya, warnanya itu hijau dan lembut banget, dan gambarnya juga tiga orang anak yang sedang piknik. Yah, emang cewek banget yah? hehehehehehe
Seperti disebut-sebut di bagian sinopsis pada sampul belakang buku ini, ceritanya memang sederhana, tapi indah. Kalau mau diceritain, gak ada yang yang heboh atau menegangkan di sini. Tapi mungkin karena karakter-karakter dalam buku ini emang asik. Aku suka Jack, dia itu keren banget. Dari awal kan ibunya itu digambarkan pilih kasih, tapi dia gak terlalu peduli, karena dia merasa ayahnya itu masih sayang padanya, dan bagi Jack, itu yang paling penting. Sayangnya ayahnya terlalu cepat meninggalkan mereka. Tapi mungkin kedekatannya dengan ayahnya yang berkarakter baik, membentuk Jack menjadi anak yang bisa diandalkan. Di saat ibunya tidak stabil, Jack mampu menjaga adik-adiknya.
Dan aku juga suka Jack itu bener-bener sayang sama adik-adiknya, terutama Simon. Waktu di sekolah baru, dia melihat kalau Simon sering diganggu oleh anak-anak lain, lalu Jack mulai mengajari Simon membela diri. Tapi yah karena Jack sendiri juga anak-anak, kadang memang dia bermaksud melindungi adiknya, tapi tindakannya ternyata tidak benar. Di bagian awal cerita sih, sempat sebal juga dengan tokoh Tessa itu, karena kog manja dan suka berakting cari perhatian gitu (seperti tipe *cenit* yah? hi hi hi hi), tapi setelah belakangan, jatuh kasihan juga. karena ternyata, Tessa yang selama ini selalu dicemburui oleh Jack karena dirasakan mengambil semua perhatian ibu mereka dengan gaya centilnya, sebenarnya melakukan itu karena dia cemburu yang sama terhadap Jack, yang jadi kesayangan ayah mereka. Apalagi karena ternyata Tessa sendiri sebenarnya menyadari kalau ibu mereka itu bukan orang yang bisa diandalkan.
Lagi-lagi di sini tokoh ibunya itu bikin gemes banget, jadi ingat cerita Lola Rose-nya Jacqueline Wilson. Kog ada sih ibu-ibu menyebalkan kayak gitu. Waktu mula-mula mereka sampai di tempat Gran itu, aku kirain, Gran itu orang yang keras dan kaku, makanya si ibunya itu kabur. Eh ternyata gak, Gran itu orang yang penyayang, tapi dasar si ibunya itu yang emang ngaco.
Buku yang mengharukan tapi tenang.... gak sampe bikin bercucuran air mata kog, hehehehehhee
Posted by Duma at 8:35 PM 0 comments
Labels: 2008
JUDUL : THE LAST CONCUBINE
Pengarang : Lesley Downer (c) 2008
Diterbitkan oleh Penerbit Matahati, November 2008
Penerjemah : Yusliani Zendrato
Tebal : 658 halaman ; 14 x 21 cm
Di sebuah desa, tinggal seorang anak perempuan yang penampilannya berbeda dari teman-temannya. Kulitnya putih bening, matanya juga hijau tua, dan dia selalu tampak kurus dan ringkih, tak seperti anak-anak lain di desa itu, yang berkulit gelap dan mata coklat. Sachi, begitu dia dipanggil, memang anak angkat. Ayah dan ibu angkatnya adalah pemilik penginapan termewah di desa itu, dan sering dijadikan tempat menginap para bangsawan yang lewat dari tempat tersebut.
Suatu hari, desa tersebut dihebohkan sebuah berita. Rombongan putri Kazu, saudari dari sang kaisar, putra dewa matahari, akan lewat dari tempat itu, dalam perjalanannya menuju Edo. Sang putri akan menikah dengan Shogun yang berkuasa saat itu, shogun keduabelas. Dan saat itulah, kehidupan Sachi berubah. Saat rombongan sang putri lewat, dan menginap di penginapan milik ayah Sachi, dia terlihat oleh sang putri, yang kemudian membawanya ke Edo, menjadi salah seorang dayang. Sachi yang saat itu masih anak-anak, baru berusia 11 tahun, tak mengerti sama sekali mengapa dia diajak ke ibukota.
Sejak itu, Sachi memasuki kehidupan istana Shogun yang tertutup rapat. Dalam istana dalam tersebut tinggal para perempuan, mulai dari ibu suri, para selir shogun terdahulu, dayang-dayang mereka, para pelayan. Tak ada laki-laki yang diijinkan memasuki wilayah tersebut, kecuali sang Shogun. Sachi yang masih kecil sering bermain-main, tanpa menyadari apa maksudnya dia dibawa ke tempat itu.
Seiring waktu, Sachi tumbuh jadi gadis remaja, hingga tiba saatnya dia cukup tua untuk melayani lelaki. Saat berumur lima belas tahun, Sachi dibawa ke depan sang shogun, dan ternyata laki-laki itu menyukainya. Sachi pun dipilih menjadi selir satu-satunya sang shogun, karena hingga saat itu, shogun tersebut hanya punya satu istri, Putri Kazu, dan belum punya selir seperti layaknya shogun-shogun sebelum dirinya. Sachi terkejut waktu mengetahui bahwa shogun masih sangat muda, dan sangat lembut.
Tetapi kisah indah Sachi hanya sampai di situ. Tak lama sang shogun meninggal sewaktu dalam perjalanan, dan kekaisaran Jepang mengalami masa kekacauan. Orang Selatan semakin kuat, dan kota Edo pun tak luput dari serangan mereka. Tugas Sachi adalah menjadi pengalih perhatian, agar putri Kazu bisa selamat. Dan sejak itu, Sachi, bersama dayang setianya, Taki, harus mengalami kehidupan yang tak lagi dipenuhi segala kemewahan.
Namun, dalam perjalanannya tersebut, Sachi pun menemukan cinta yang sebenarnya, dan mempelajari siapa dirinya sebenarnya, siapa orangtuanya sebenarnya...
Cerita tentang sang selir terakhir ini memang dilatarbelakangi sejarah Jepang di akhir masa kejayaan klan Tokugawa. Menurut keterangan sang pengarang di bagian belakang buku ini, hampir seluruh tokoh penting dalam kisah ini, terutama yang berkaitan langsung dengan sang Shogun seperti putri Kazu, ibu suri, dan para bangsawan benar-benar ada, demikian juga kejadian-kejadian penting seputar masa-masa akhir berkuasanya klan Tokugawa (sori yah, tapi aku lagi malas untuk jalan-jalan riset juga, hehehehehe).
Sebenarnya sih menarik yah, karena buku ini cukup tebal juga, lebih dari 600 halaman. Banyak sekali hal-hal detil yang diangkat oleh sang pengarang, seperti struktur istana dalam tempat para perempuan itu tinggal. Demikian juga kehidupan para putri, selir, dayang, dan bahkan lokasi-lokasi dimana para perempuan itu tinggal, karena di dalam tempat tertutup itu, terjadi persaingan untuk mendapatkan tempat paling penting di mata sang Shogun. Pakaian dan tatanan rambut para tokoh utamanya juga merupakah hasil riset sang pengarang, sehingga mampu menggambarkan dengan sangat rinci.
Hal lain yang menarik dalam buku ini adalah bagaimana sudut pandang Sachi sebagai seorang anak perempuan yang dibesarkan di desa, dan masuk ke lingkungan perempuan yang termasuk golongan paling penting dalam tatanan masyarakat Jepang saat itu. Cara Sachi memandang cinta, dan kedudukan laki-laki dalam hidupnya kadang bikin aku merasa gemas. Tapi asik juga waktu Sachi merasa tergoda oleh sikap Edwards, seorang pria Inggris yang memujanya. Saat itu pertama kali Sachi mengenal kata "rabu" atau "love", yang diperkenalkan Edwards padanya. Dan juga perdebatan dalam diri Sachi sendiri, saat dia harus memilih antara Edwards dan Shinzaemon si ronin.
Untuk buku yang berlatar belakang sejarah sih, buku ini asik dan tidak berat, karena memang sepertinya yang menjadi kisah utama di sini adalah kisah hidup Sachi, sang selir terakhir. Fakta-fakta sejarah yang disajikan di sini cukup menambah indah kisah ini, dan juga membuat kita tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang masa-masa akhir Klan Tokugawa dan kejatuhannya.
Hm, yang agak menyebalkan sih kisah akhirnya yang ada hubungannya dengan harta karun Tokugawa, terasa agak dipaksakan dan penyelesaiannya juga gak asik, hehehehehe
Posted by Duma at 7:29 PM 2 comments
Labels: 2008
Judul : THE THIRTEENTH TALE (DONGENG KETIGA BELAS)
Pengarang : Diane Setterfield, 2006
Penerjemah : Chandra Novwidya Murtiana
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, November 2008
Tebal : 608 halaman ; 13,5 x 20 cm
Suatu hari, Margaret Lea menerima sepucuk surat aneh dengan tulisan cakar ayam seperti tulisan anak kecil yang baru belajar menulis. Surat itu ternyata merupakan permohonan seorang novelis terkenal untuk menuliskan biografinya. Sang novelis, Vida Winter, yang selama ini menyimpan erat-erat rahasia masa lalunya.
Margaret sendiri belum pernah membaca satu pun novel karya sang novelis tersebut, tapi dia tahu kalau novel-novel Vida Winter selalu menjadi best-seller, dicetak berulang-ulang, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Margaret sendiri lebih suka membaca buku-buku tua, terutama memoar, biografi, surat-surat bahkan buku-buku harian. Ayah Margaret punya sebuah toko buku, yang isinya sebagian besar memang buku-buku tua. Dan dari ayahnyalah Margaret terperangkap pesona buku-buku tua tersebut. Sejak masih sangat kecil, Margaret sudah terbiasa menghabiskan waktunya diantara buku-buku tersebut.
Sejak menerima surat itu, Margaret mencoba membaca buku Vida, yang salah satunya dia temukan di toko ayahnya. Sebenarnya Margaret sendiri heran mengapa ayahnya menyimpan buku tersebut, karena tak biasanya toko tersebut menjual buku yang populer. Ternyata, edisi yang disimpang sang ayah adalah edisi langka, dengan judul "Tiga Belas Dongeng Perubahan dan Keputusasaan", sebuah kumpulan cerpen yang berisi dua belas cerita. Menurut ayah Margaret, karena judulnya itulah, maka edisi yang dimilikinya dinyatakan langka. Buku tersebut sudah menjadi legenda, karena sudah ditarik dari peredaran, dan diganti judulnya menjadi "Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan", namun tetap dikenal sebagai buku "Tiga Belas Dongeng".
Akhirnya Margaret bersedia untuk pergi menemui Miss Winter di rumahnya, dan tinggal di sana untuk menuliskan kisah sebenarnya tentang masa lalu sang novelis. Dan kisah masa lalu kelam penuh misteri, keluarga yang aneh dan sedikit gila, semua terungkap perlahan-lahan dari bibir perempuan tua yang kini menyandang nama Vida Winter tersebut. Dan juga kisah yang selalu membayang-bayangi Margaret pun ikut terkuak.
Yah awalnya sih beli buku ini memang karena tampilan sampulnya yang keren itu. Selintas mirip dengan buku Book of Lost Things karya John Connoly, tapi kalau diperhatikan, detil-detilnya sih beda banget kog. Kerenlah pokoknya, hehehehe. Nah, selain sampulnya, sinopsisnya juga sih, dan judulnya apalagi, bikin penasaran. Awalnya sih aku sempat menyangka buku ini bercerita tentang dunia fantasi.
Ternyata bukan, hahahaha. Tapi yah walau bukan cerita tentang dunia peri atau sihir, ceritanya memang tak kalah luar biasa dari sebuah dongeng peri. Kita akan dibawa ke masa lalu Miss Winter, yang tinggal di sebuah rumah besar dengan ibu dan paman yang gila, anak-anak perempuan yang ditelantarkan, guru yang hilang, dan kebakaran yang mengakhiri semuanya...
Dan seperti biasa, si tokoh yang juga gila membaca, tinggal di sebuah toko buku, aduh, emang pasti bikin aku kesengsem hahahaha.
Posted by Duma at 9:36 PM 2 comments
Labels: 2008
Judul : Cringe! (Ih, Capek Deh!)
Pengarang : Caroline Plaisted, 2003
Illustrator : Cherry Whytock
Penerjemah : Weny Jessica Orvalo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, September 2008
Tebal : 224 halaman ; 13,5 x 20 cm
Amaryllis merasa dirinya satu-satunya orang normal di rumahnya. Abangnya sudah drop-out dari SMA dan sekarang tinggal di ruang bawah tanah rumah mereka, tempatnya berkumpul dan latihan dengan bandnya. Ibunya juga bekerja di rumah, sebagai seorang konsultan untuk orang-orang yang punya masalah kepribadian. Ayahnya seharian menjaga toko makanan sehat miliknya, dan pada waktu luangnya menghabiskan waktu dengan melukis. Lalu ada Hugo, adiknya yang selalu menjilat orang dewasa dengan tampil sebagai anak manis dan penurut.
Amaryllis ingin sekali punya orangtua seperti ayah dan ibu teman akrabnya, Xanthe yang cantik. Ibunya langsing, cantik dan berpakaian sangat menarik, sehari-harinya bekerja sebagai perancang asesoris etnik. Dan ayah Xanthe seorang pengacara sukses yang selalu tampil keren dengan pakaian kerjanya. Dan rumah Xanthe juga sangat rapi dan bersih, diisi dengan barang-barang yang seharusnya mengisi sebuah rumah. Bukan seperti rumah Amaryllis, yang dindingnya dilukisi oleh ayahnya dengan sebuah mural seorang perempuan dengan tubuh bergelombang dan tampak mirip ibunya.
Tapi tak seluruh fakta tentang rumahnya jelek. Salah seorang teman abangnya, Jake, sangat keren! Dan Amaryllis sangat berharap kalau diam-diam Jake jatuh cinta padanya. Dan ada juga Nono, neneknya. Nono tidak tinggal bersama mereka. Karena itu, rumah Nono adalah tempat pelarian Amaryllis sepulang sekolah. Di rumah Nono, selalu ada makanan enak, dan anjing Nono, Brian, juga keren, tidak seperti Giggles, anjing rumah Amaryllis yang punya masalah dengan bau badannya.
Amaryllis juga mungkin satu-satunya anak disekolahnya yang tidak punya ponsel, dan bahkan tidak punya televisi di rumah. Sungguh hidup yang aneh, begitulah menurut Amaryllis.
Lalu keanehan itu pun bertambah, saat lukisan ayah Amaryllis dipajang di sebuah pameran dan mendapat perhatian besar. Sepertinya ayahnya akan jadi terkenal. Bahkan diundang ke Amerika! Dan tak hanya itu, ayahnya diminta untuk membuat lukisan presiden Amerika. Wah, semua orang tampaknya mengira Amaryllis menyukai itu.
Tapi Amaryllis tetap mengira keluarganya aneh. Hingga akhirnya dia mengetahui apa yang terjadi pada ayah dan ibu Xanthe.
Buku ini lucu banget. Amaryllis adalah narator cerita ini, yang menceritakan tentang keluarga dan temannya dari sudut pandangnya, seorang anak remaja tanggung. Kayaknya sih gak ada yang terlalu spesial, karena memang yah yang diceritakan juga tentang seorang anak dengan keluarga yang sebenarnya baik-baik saja, hanya sedikit eksentrik. Mungkin sebagai seorang remaja, apalagi dia anak perempuan, dia ingin bisa tampil sama dengan teman-temannya, sehingga merasa keluarganya cukup memalukan.
Yang bikin buku ini jadi menarik sih bagiku adalah ilustrasi di dalamnya. Hampir di setiap halaman ada gambar-gambar yang menunjukkan tokoh-tokoh cerita, dan juga komentar-komentar Amaryllis terhadap para tokoh ataupun kejadian tersebut. Lucu-lucu, kayak waktu dia mengomentari pakaian fotografer yang meliput acara pernikahan bibinya, dan juga gambar dia dalam pakaian yang dirancang bibinya untuk dipakai pada saat pesta tersebut. Kocak banget!
Oh yah, ada satu yang lucu banget, waktu dia gak menyadari kalau bibinya itu sedang hamil, aduh aku ketawa ngakak, karena lama banget dia baru sadar kalau bibinya bukan gemuk, tapi sedang hamil, hi hi hi hi hi
Yah buku ini emang asik kog dibaca buat hiburan, ringan dan lucu ^.^
Posted by Duma at 8:40 PM 0 comments
Labels: 2008, Novel Anak/Remaja
Judul : THE WORRY TREE (Pohon Cemas)
Pengarang : Marianne Musgrove, 2007
Penerjemah : Dini Andarnuswari
Penerbit : Penerbit Atria, an imprint of PT Serambi Ilmu Semesta, November 2008
Tebal : 110 halaman ; 13 x 20,5 cm
Juliet Jennifer Jones punya inisial JJJ, seperti tiga kail ikan berjajar. Hobinya mengoleksi berbagai benda. Sudah banyak koleksinya, dari mulai koleksi penghapus berbagai bentuk, kulit jangkring yang dikeringkan, tiket bis bekas, sampai sebuah tanaman Venus Flytrap yang makan serangga, yang diberi nama Piranha.
Adiknya, Oaf, nama lengkap : Ophelia. Oaf anak yang sangat jahil, dan sering membuat Juliet jengkel dengan ulahnya. Setelah bertengkar berkali-kali, ibu mereka memutuskan, Juliet dan Ophelia harus pisah kamar. Wow, ini berita hebat bagi Juliet, tapi tidak bagi ayahnya. Karena Juliet akan menggunakan kamar yang selama ini dijadikan ayahnya sebagai tempat 'riset', kegiatan yang artinya di sini menggunakan segala alat untuk menjadikan sesuatu yang aneh dan tak jelas fungsinya.
Selain ayah, ibu dan adiknya, ada juga Nana, nenek Juliet, tinggal di sebuah bangunan khusus di kebun belakang. Nana dulunya seorang kepala jurusan kimia di universitas, namun sekarang hanya pergi ke perkumpulan orang tua.
Saat pindah kamar, Juliet menemukan sesuatu. Sewaktu membuka kertas pelapis dinding, ternyata ada sebuah lukisan besar ditemukan terlukis di dinding. Sebuah pohon dengan enam ekor binatang. Nana yang melihat lukisan itu langsung teringat masa kecilnya. Menurut Nana, pohon itu digambar oleh ibu Nana, untuk menghibur Nana. Keenam binatang itu punya nama, dan setiap malam, masing-masing binatang akan mengurus semua jenis kecemasan Nana, mulai kecemasan akan teman-teman, sekolah, keluarga, kesehatan, perubahan dan bahkan barang-barang yang hilang. Karena itulah, pohon itu dinamai Pohon Cemas. Dan ada sebuah lubang di pohon itu, tempat meletakkan kecemasan yang tak dimengerti.
Sejak itu, setiap malam, Juliet menggantungkan kecemasannya di pohon itu. Mulai dari kecemasannya menghadapi seorang anak laki-laki yang selalu mengganggunya di sekolah, lalu teman baiknya yang merasa perlu memperebutkan dirinya dengan seorang teman baru. Dan juga kesehatan Nana yang membuat Juliet selalu khawatir. Lalu ditambah lagi, pertengkaran antara ayah dan ibunya, yang sering terjadi sejak Juliet pindah kamar.
Ceritanya sederhana dan singkat. Buku ini tadinya aku minta karena gambar sampulnya yang bener-bener imut. Dan ceritanya juga imut. Tidak terlalu berbelit-belit, pas banget buat anak-anak. Aku berusaha mengingat waktu kecil, apa dulu aku sampai segitu khawatir yah? Kayaknya sih gak, hahahaha. Mungkin aku lebih mirip adiknya, Oaf, yang lebih mikirin main dan mengusilin adik-adik, hehehehe.
Terasanya sih, buku ini emang bawa pesan, terutama buat orang tua, karena di bagian-bagian akhir, diceritakan kalau Juliet khawatir dengan pertengkaran orangtuanya, dan merasa dia menjadi penyebab pertengkaran itu. Yah, pesannya mungkin kalau orangtua itu harus ingat, kalau bertengkar, anak-anak pasti memperhatikan juga. Dan juga harus memikirkan bagaimana sih perasaan si anak.
Yah, yang paling aku suka di buku ini sih gambar-gambarnya hehehehe, emang imut banget...
Posted by Duma at 7:54 PM 1 comments
Labels: 2008, Novel Anak/Remaja
JUDUL : AYAM DENGAN PLUM (CHICKEN WITH PLUMS)
Pengarang : Marjane Satrapi (2004)
Alih bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Agustus 2008
Tebal : 88 halaman; 16 x 23,5 cm
Novel grafis karya Marjane Satrapi kali ini berkisah tentang paman buyutnya, Nasser Ali Khan.
Nasser Ali adalah seorang musisi tar, alat musik khas Iran, dan juga salah satu yang terbaik. Sang paman meninggal di usia yang masih cukup muda, di saat anak-anaknya juga masih kecil-kecil. Dalam kisah ini, Satrapi menggambarkan delapan hari terakhir sang paman.
Cerita dibuka dengan adegan Nasser Ali berpapasan dengan seorang wanita yang tampak seperti seseorang yang pernah dikenalnya. Tapi sewaktu ditegur, wanita itu mengatakan tak mengenal Nasser Ali. Saat itu, sang musisi sedang dalam perjalanan menuju toko penjual tar, karena tar miliknya rusak.
Di situ, Nasser Ali sudah mulai tampak depresi, seolah-olah ada yang hilang dengan patahnya tar miliknya itu. Berkali-kali dia membeli tar baru, namun tak satupun yang bisa memuaskan hatinya. Bahkan dia sampai pergi ke Mashad yang cukup jauh dari Teheran, dia harus menempuh perjalanan dengan bis berhari-hari. Namun tetap saja, tar yang dibelinya itu tak dapat menjawab kekosongan jiwanya.
Sehingga akhirnya, Nasser Ali putus asa, dan merasa tak ingin lagi hidup lebih lama di dunia ini. Nasser Ali pun naik ke tempat tidurnya, dan tak mau bergerak lagi selama delapan hari sampai dia meninggal dunia. Selama delapan hari terakhir itu, berbagai peristiwa dan pikiran muncul kembali. Kisah masa mudanya, cintanya pada seorang gadis muda, putri pemilik toko jam. Cinta yang tak bisa berlanjut karena sang ayah tak menyetujui putrinya menikah dengan seorang musisi.
Patah hati, Nasser Ali kembali ke rumahnya, dan akhirnya, karena bujukan ibu dan saudara perempuannya, dia mau menikah dengan seorang gadis yang sudah dikenalnya sejak kecil, Nahid. Bersama Nahid, dia memiliki empat orang anak, tapi hanya anak perempuannya yang paling dia sayangi. Dan sungguh aneh, Nasser Ali sangat tidak menyukai anak laki-lakinya yang paling kecil.
Kehidupan pernikahan tanpa cinta itu membuat Nasser Ali tidak bahagia. Dia tidak menyadari bahwa istrinya Nahid sebenarnya telah lama mencintai dirinya. Dalam pertengkaran mereka yang terakhir, Nahid sangat kesal dan mematahkan tar milik Nasser Ali. Dan itulah yang menjadi awal kisah ini. Di hari ketiga setelah dia memutuskan untuk mati, Nasser bahkan akhirnya mengatakan kepada Nahid bahwa dia tak pernah mencintai istrinya itu.
Dan hingga di akhir cerita, sang malaikat maut datang menjemput Nahid.
Awalnya aku sendiri sempat mengira novel grafis kali ini akan mirip dengan Embroideries yang sudah lebih dahulu aku baca. Lucu, tajam, dan menyenangkan. Tapi setelah selesai, aduh, aku sempat sebal, karena merasa depresi. Tapi di sini memang kelebihan novel grafis satu ini. Dengan gambar-gambar yang tampaknya sederhana, dan latar belakang yang hanya hitam atau putih, Satrapi mampu membuat kita mampu merasakan betapa menekan hidup dirasakan oleh sang seniman.
Begitu pun, jangan takut kalau buku ini melulu isinya tentang kesedihan. Di sela-sela kesuraman pikiran Nasser Ali, kita juga akan melihat sedikit kelucuan yang walau terasa ironis, tetap akan bisa membuat kita tersenyum. Lihat saja sewaktu saudara laki-laki Nasser datang mengunjunginya, dan mengajaknya nonton film Sophia Loren, lalu sang seniman bermimpi sedikit mesum, ha ha ha! Dan juga Satrapi menceritakan saat sang paman bertemu pertama kali dengan malaikat maut, dan sang paman teringat ibunya di saat-saat menjelang kematiannya.
Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal di cerita ini. Wanita yang ditemui Nasser Ali di awal cerita, saat itu sedang bersama seorang anak kecil. Diceritakan kalau anak kecil itu memanggilnya "nenek". Tampaknya agak membingungkan kalau dia seusia dengan Nasser Ali, dan sementara pada waktu itu Nasser Ali sendiri anaknya seumuran dengan anak laki-laki yang dibawa wanita itu, tapi kenapa wanita itu sudah punya cucu yah?
Posted by Duma at 9:26 AM 1 comments
Labels: 2008
Judul : The House of The Spirits (La Casa des los Espiritus)
Pengarang : Isabel Allende
Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh : Magda Bogin
Terbitan : Bantam Books, 1993 (Paperback Edition)
Tebal : 433 halaman ; 10,5 x 17,5 cm
Keluarga del Valle memiliki beberapa orang anak, dari Rosa yang cantik seperti peri dengan rambut kehijauannya, dan yang paling kecil, Clara yang memiliki kemampuan supranatural, mampu memindahkan benda-benda tanpa menyentuhnya dan bisa meramal, dan tentu saja, bisa berbicara dengan roh-roh yang berada di rumahnya.
Rosa si cantik ternyata tak berumur panjang. Saat dia sedang sakit, dia diberi minuman keras untuk menghangatkan tubuhnya. Minuman yang ternyata dicampur racun, karena minuman itu tadinya ditujukan kepada ayahnya yang mulai sukses dalam dunia politik. Kematian Rosa membuat hancur hati tunangannya, Esteban Trueba, yang saat itu sedang bekerja keras di tambang emas miliknya.
Patah hati akibat kematian Rosa, Esteban memutuskan meninggalkan tambangnya, dan pindah ke rumah perkebunan warisan ayahnya, Tres Marias. Di sana, tempat yang sudah lama terbengkalai itu, dalam waktu singkat dan dengan tangan besi, diubahnya dari reruntuhan menjadi hacienda yang sangat berhasil. Sementara itu, kakak perempuannya, Ferula, tinggal di rumah mereka yang kecil di ibukota, merawat ibu mereka yang sakit parah.
Sementara itu, sembilan tahun berlalu. Clara, yang saat kematian Rosa tiba-tiba memutuskan untuk tidak berbicara selama bertahun-tahun, tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya, hanya untuk mengatakan bahwa dia tahu dia akan segera menikah dengan tunangan kakaknya itu, Esteban Garcia. Dan hal itu tak lama kemudian jadi kenyataan. Saat ibu Esteban meninggal dunia, Esteban kembali ke ibukota. Dan disana, dia pun memutuskan untuk menikah, dan mendatangi rumah keluarga del Valle, untuk menanyakan apakah mereka masih punya anak perempuan yang bisa dinikahinya. Clara pun menikah dengan Esteban Garcia, dan dari pernikahan itu lahirlah tiga orang anak, Blanca, dan si kembar Jaime dan Nicolas.
Blanca ternyata diam-diam menjalin hubungan dengan anak mandor di perkebunan ayahnya, Pedro Tercero Garcia. Dan dari hubungan gelap mereka, lahir seorang anak perempuan berambut kehijauan, Alba, yang menurut neneknya, Clara, akan hidup penuh keberuntungan. Tapi benarkah demikian?
Hueh, kebingungan untuk membuat sedikit sinopsisnya, karena cerita dari awal sampai akhir, banyak sekali hal-hal detail yang rasanya penting untuk keutuhan cerita. Kisah keluarga Garcia tiga keturunan ini lumayan panjang. Buku setebal 433 halaman ini dicetak dengan huruf yang kecil-kecil seperti semut, bikin capek mata sebenarnya (tapi yah namanya juga edisi ekonomis yah? hihihihi). Tapi begitu pun, kekuatan ceritanya membuat kita bisa melupakan kecilnya font yang digunakan, dan baru menyadarinya setelah selesai baca, karena kepala akan terasa sakit berdenyut-denyut, terutama di bagian alis, hihihihi
Selain cerita tentang keluarga Esteban Garcia, kita juga akan membaca tentang paman Marcos yang eksentrik, sang penjelajah. Lalu ada lagi Barabas, anjing raksasa kesayangan Clara yang datang bersama mayat paman Marcos. Dan Transito Soto, si pelacur yang diberi uang 50 pesos oleh Esteban, sebagai modalnya untuk pergi dari Red Lantern, rumah pelacuran di dekat Tres Maria. Dan jangan lupa, Ferula, kakak perempuan Esteban, yang dianggap Esteban sebagai saingannya dalam memperebutkan cinta Clara istrinya, perempuan aneh yang seperti hidup di dunianya sendiri.
Selain itu, rumah keluarga Garcia di ibukota juga digambarkan sebagai sebuah rumah yang sangat aneh. Rumah besar yang awalnya dibangun Esteban Garcia dengan perencanaan yang teliti, lama-kelamaan, karena keeksentrikan Clara yang mengundang begitu banyak manusia datang ke rumah itu, berubah menjadi rumah aneh yang penuh kamar-kamar tambahan, dan lorong-lorong yang membuatnya seperti labirin. Tapi kerumitan itu pula, di saat pergolakan politik memporak-porandakan negeri itu, yang menyelamatkan nyawa banyak orang.
Perseteruan antara Esteban Garcia dan Pedro Tercero Garcia juga diceritakan dengan sangat apik. Dikisahkan dari awal, bagaimana sebagai seorang anak mandor, Pedro Tercero berontak kepada patron-nya dan menyebarkan kampanye untuk menuntut hak yang lebih pantas bagi para pekerja di hacienda tersebut. Kebencian Esteban Garcia kepada Pedro Tercero semakin memuncak, saat Blanca diketahuinya hamil, dan akhirnya dia mengetahui kalo ayah sang bayi adalah Pedro Tercero. Namun pergolakan politik jugalah yang akhirnya membuat kedua orang ini saling berbalas jasa, saling membebaskan saat mereka berada pada posisi yang sulit.
Ow yah, kalo covernya itu, astaga.... mengerikan sekali hihihihi. Aku serem melihat tampang perempuan yang jadi covernya. Tapi ya, memang di dalam buku ini sih banyak diceritakan tentang cenayang, karena Clara sendiri kan punya kemampuan itu, dan juga para perempuan di cerita ini memang rata-rata punya kemampuan mistis (tapi bukan sihir atau nujum kog). Mereka memang jadi terlibat dalam komunitas yang sangat eksentrik, dan terdiri dari berbagai kalangan seperti seniman, kaum new-age, bahkan seorang penulis puisi yang sangat terkenal, dikisahkan sering berada di rumah tersebut.
Yang paling aku sukai sih, sepanjang cerita, kita gak pernah merasa bosan. Gimana mau bosan, kalau ceritanya tentang satu keluarga yang isinya orang yang rada-rada gila semua. Salah satu kata-kata yang pernah diucapkan oleh Blanca pada Alba adalah hampir semua keluarga mempunyai anggota yang gila, tetapi keluarga mereka tidak memilikinya, karena di keluarga mereka, kegilaan itu tersebar merata, dan tidak terkumpul di satu orang. Yah, baca tentang yang kacau-kacau itu memang selalu asik kog!
Aku cuma bisa bilang : aku suka banget buku ini...!
Posted by Duma at 9:24 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : THE DIET
Pengarang : Edita Kaye, 2005
Penerjemah : Cahya Wiratama
Penerbit : C| Publishing (PT Bentang Pustaka), Yogyakarta, Februari 2007
Tebal : x + 256 halaman ; 13 x 20,5 cm
Cate yang baru berusia dua belas tahun menyaksikan tubuh ibunya yang tergeletak tak bernyawa diantara remah-remah makanan yang bertebaran. Tubuh sang ibu yang luar biasa gemuk, dan menjadi bahan tertawaan para lelaki yang datang bersama ambulans untuk membawa ibunya itu. Berdua dengan adiknya Sam yang masih berumur lima tahun, mereka bertekad : Aku tidak akan pernah gemuk.
Kedua anak yatim piatu itu hidup berpindah-pindah panti asuhan dan orang tua asuh, hingga di usia remajanya, Cate bertemu Charles, anak yatim piatu lain, dan menikah dalam usia muda. Charles yang ternyata seorang lelaki yang entah bagaimana, selalu gagal dalam segala hal yang dilakukannya. Kehidupan pasangan muda itu awalnya terasa sangat berat, ditambah lagi Cate yang selalu menjadi ibu bagi adiknya Sam.
Hingga suatu hari Cate bertemu Josh, pemilik The River Hills Record, yang kemudian menjadi bos-nya, dan menjadi teman terbaiknya. Josh juga yang awalnya menyadari bakat Cate yang luar biasa dalam memasak, dan membantunya membangun Cate Cookery, tempat kursus masak. Cate kini punya segalanya, karir yang bagus, tubuh yang langsing, suami yang dicintainya, yang saat itu juga punya pekerjaan yang lumayan. Lalu kabar bahagia datang, dia hamil, tapi saat itu segalanya berubah. Tiba-tiba Charlie lagi-lagi pulang dengan membawa kegagalan, dan pertengkaran membuat Cate mencicipi kue yang dibuatnya, sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilakukannya.
Sejak itulah, Cate mulai kecanduan makanan, menjadi semakin gemuk hari demi hari. Hingga dia harus kehilangan bayi laki-laki yang dikandungnya, dan bayi perempuan kembarannya juga dilahirkan dalam kondisi kritis. Semua akibat kegemukan. Charlie pun meninggalkannya, membawa serta bayi perempuannya.
Kini Cate sendirian, dan saat tak tahan lagi, dia memutuskan untuk bunuh diri dengan cara makan sampai mati kekenyangan. Tapi disaat itu, Cate menemukan pula The Diet. Cara menurunkan berat badan paling efektif yang pernah ada. Dia mulai menjalani The Diet, yang membuatnya bisa tetap makan sepanjang hari, tapi berat badannya turun drastis.
Buku ini sudah lumayan lama aku beli, tapi masih tergeletak tak dibaca, hingga saat aku sudah hampir menghabiskan semua buku yang diperoleh tahun ini. Ingin baca yang ringan, aku memutuskan untuk mulai melirik buku ini.
Secara keseluruhan, lumayanlah buat hiburan, ringan dan tak membuat kening berkerut. Bagi yang suka makan-makan, tentu senang melihat berbagai makanan digambarkan lembar demi lembar. Setiap bab pasti ada menyebutkan makanan, bahkan pada saat Cate sudah menemukan The Diet itu, isinya juga makanan melulu.
Seru juga waktu di bagian Cate mulai menyusun rencana untuk mengatur dietnya, sayangnya ada yang membuat aku merasa agak kurang sreg juga, apa ya orang bisa turun berat badannya 3 setengah kilo dalam satu malam? rasanya dilebih-lebihkan sih. Terus yah, karakter suaminya itu menyebalkan sih, hehehehe, gak bantu apa-apa, trus taunya cuma marah-marah waktu istrinya makan banyak.
Yang bikin buku ini gampang dibaca mungkin karena banyak bab-bab pendek, yang kadang hanya 1-2 halaman saja. Jadi alurnya terasa kencang. Hm tapi duh, kog banyak tapinya yah? hehehe, waktu di bagian akhir, rasanya kog garing banget, hihihihihi.
Posted by Duma at 7:08 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : The Book of Lost Things (Buku Tentang Yang Hilang)
Pengarang : John Connolly (c) 2006
Penerjemah : Tanti Lesmana
Ilustrasi sampul : Rob Ryan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2008
Tebal : 472 halaman ; 13,5 x 20 cm
David berusaha melakukan berbagai ritual, sentuhan pada keran air tak boleh berjumlah ganjil, turun dari tempat tidur harus kaki kiri duluan, dan hal-hal seperti itu. Semua itu dilakukannya dengan harapan, ibunya akan bisa sembuh kembali. Tapi ternyata itu semua tak menolong, ibunya tak tertolong juga. Suatu hari di tengah-tengah pelajaran bahasa Inggris di sekolah, berita itu disampaikan kepadanya.
Beberapa bulan sejak kematian ibunya, ayah David menikah lagi dengan seorang wanita bernama Rose. David pun harus pindah ke rumah Rose yang besar dan terletak di pinggiran London, bukan di tengah kota seperti rumah mereka yang lama. Bagi ayah David, ini sesuatu yang baik. London yang saat itu sedang dalam masa darurat, banyak anak-anak yang dikirimkan ke luar kota, ke daerah pertanian, karena situasi tidak aman. Dengan pindah ke rumah Rose, David tak perlu dikirim ke luar kota, dan mereka bisa tetap bersama. Namun bagi David hal tersebut tidak membuatnya senang.
David tidak menyukai Rose, yang dianggapnya mencuri ayahnya. Apalagi setelah kelahiran bayi Georgie, membuat David semakin marah. Di kamarnya yang baru, David sering mendengar bisikan-bisikan dari buku-buku di ruangannya. Bisikan-bisikan itu bukan baru kali itu didengarnya. David, yang setelah kematian ibunya sering pingsan, dibawa oleh ayahnya untuk berkonsultasi dengan psikiater, dan di ruangan psikiater itu pun, suara-suara itu sering didengarnya.
Di rumah Rose, selain buku-buku milik David, di kamarnya itu juga banyak buku-buku lain, dan salah satu buku itu ditulis dengan tangan, berisi dongeng-dongeng yang tampaknya familiar, seperti kisah si Tudung Merah, atau Putri Salju, tapi dengan variasi yang sedikit berbeda, dan cenderung lebih mengerikan. Lalu belakangan, seorang laki-laki bungkuk tampak di kamarnya, sewaktu David sedang berada di taman.
Hingga suatu malam, David yang habis bertengkar hebat dengan Rose dan ayahnya, turun ke taman, dan akhirnya di tengah serangan pesawat pembom Jerman, David menemukan jalan masuk ke dunia lain. Dan petualangannya pun dimulai.
Di tempat itu, David pertama kali bertemu dengan Tukang Kayu, laki-laki yang menyelamatkannya dari serangan segerombolan serigala setengah manusia, kelompok Loup. Kisah yang diceritakan Tukang Kayu pada David terasa sangat aneh, dan sulit dipercaya. Tukang Kayu ingin membawa David ke hadapan Raja, dan merasa Raja akan bisa membawa David kembali ke dunianya.
Tapi perjuangan David untuk sampai di kastil Raja tidaklah gampang. Di jembatan yang dijaga oleh troll, dia harus berpisah dengan Tukang Kayu, yang mengorbankan dirinya untuk menghalangi kelompok serigala yang mengejar mereka. Lalu David bertemu dengan seorang ksatria, Roland, yang sedang dalam perjalanan untuk mencari temannya. Dan bersama Roland juga, David berhasil menyelamatkan satu desa dari serangan Binatang yang mengerikan.
Hingga pada akhirnya David tiba juga di kastil Raja, dan mengetahui siapa Raja itu sebenarnya, menemukan juga buku sakti yang disebut-sebut membuat Raja mampu mengetahui apa pun yang terjadi, Buku Tentang Yang Telah Hilang.
Di sinopsis pada bagian belakang sampul buku ini tertulis, cerita ini adalah dongeng yang ditujukan bagi orang dewasa. Yah gak salah memang diberi label Novel Dewasa juga, mengingat banyaknya adegan berdarah-darah di dalam buku ini. Pembunuhan-pembunuhan yang sadis dan berdarah dingin terjadi dimana-mana. Penyihir yang tak ragu-ragu memotong kepala anak-anak dan mengawetkannya digambarkan sangat gamblang. Dan dimana-mana akan ditemui para serigala yang tak ragu mengoyak-ngoyak tubuh mangsa, Pria Bungkuk yang juga sangat sadis memperlakukan korban-korbannya....
Tapi asik juga, membaca dongeng-dongeng yang familiar, dicampur aduk dan dibumbui dengan berbagai hal yang tak biasa. Si Putri Salju yang sudah menjadi sangat gemuk ternyata sangat kejam, sampai-sampai para kurcaci yang ternyata menjadi penganut aliran komunis, ingin meracuninya. Lalu juga si Tudung Merah yang ternyata mengejar-ngejar si serigala, Putri Tidur yang ternyata menghabisi semua ksatria yang datang untuk menyelamatkannya....
Jadi baca aja sendiri, heheheh!
Posted by Duma at 5:15 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : A Year in Provence
Pengarang : Peter Mayle
Penerbit : Vintage Books, a division of Random House, Inc., NY
Tebal : 207 halaman ; 13,5 x 20 cm
Tinggal di Provence, sebelumnya hanya merupakan kegiatan liburan musim panas bagi Peter Mayle dan istrinya. Namun sebuah rumah pertanian yang terbuat dari batu di kaki pegunungan Luberon berhasil memikat hati mereka, dan akhirnya memutuskan untuk pindah dari London yang lembab dan dingin ke Provence yang selalu disinari matahari.
Tapi benarkah kehidupan akan menjadi seperti liburan sepanjang tahun? Awal tahun, bulan Januari yang cerah memberi kesan positif pada keluarga Mayle. Namun ternyata tak diduga, angin mistral dan badai salju juga menghiasi bulan-bulan awal tahun di daerah tenggara Prancis tersebut.
Banyak hal yang terjadi dalam setahun pertama mereka tingal di Luberon. Perbaikan rumah yang terjadi sepanjang tahun, dengan kebiasaan para pekerja di sana yang tak terlalu memperhatikan ketepatan waktu. Belum lagi membeli meja batu yang beratnya lebih dari 300 kilogram dan memikirkan bagaimana cara untuk menggesernya 15 yard. Lalu ada tetangga aneh yang benci orang Jerman.
Tapi mereka juga menemukan betapa makanan menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat di Provence. Bagaimana menghadapi teman-teman yang mengira mereka hidup dalam liburan sepanjang tahun. Belum lagi serbuan turis, dan yang tak kalah heboh adalah serangan hujan badai yang merusak halaman. Tapi panen anggur di musim gugur memberikan hasil yang tak bisa diremehkan.
Begitu sekilas hal-hal yang diceritakan oleh Peter Mayle dalam buku kroniknya tentang tahun pertamanya tinggal di tenggara Prancis, bukan sebagai turis, tetapi mejadi salah seorang penduduk. Perubahan kehidupan yang terbiasa dengan ketepatan waktu, menjadi orang yang tak lagi melihat sesuatu dengan jam tapi lebih merujuk kepada musim menjadi sesuatu yang pada akhirnya disadari oleh Mayle dalam kisahnya ini.
Selain itu, detil-detil kebiasaan makan, dan juga makanan-makanan yang begitu beragam menghiasi keseluruhan buku ini. Jenis-jenis makanan yang berbeda dimakan dalam musim yang berbeda. Juga tak luput menjadi perhatian Mayle bahwa orang Provence punya penghargaan yang luar biasa terhadap makanan, sampai rela berkendaraan hingga berjam-jam untuk mendatangi restoran atau pun kafe yang disukai. Yah... apa yang bisa diharapkan dari sebuah buku yang kalimat pertamanya adalah: Tahun itu dimulai dengan makan siang.
Posted by Duma at 11:15 AM 0 comments
Labels: 2008, non-fiction
Judul : Wicked - The Life and Times of The Wicked Witch of the West
Pengarang : Gregory Maguire (c) 1995
Penerbit : HarperCollins, Harper paperback printing : October 2007
Tebal : 519 halaman ; 10, 5 x 17,5 cm
Seorang bayi perempuan dilahirkan berwarna hijau, dan gigi-giginya tajam seperti pisau. Siapa yang tidak takut punya bayi seperti itu. Dialah Elphaba, yang ayahnya seorang pendeta Unionist dan ibunya putri penguasa Munchkinland. Sang ibu sebenarnya merasa kesepian, karena suaminya sering bepergian, meninggalkannya sendiri. Terkadang, ibu yang dulunya seorang putri orang penting itu, berselingkuh dengan tamu-tamu yang datang ke tempat mereka. Itulah sebabnya, siapa sebenarnya ayah Elphaba tidak terlalu jelas. Mungkin karena itulah dia lahir berwarna hijau.
Dari bayi, Elphaba sudah menunjukkan keanehan. Dia sangat takut pada air, dan akan menjerit-jerit tersiksa kalau didekatkan ke air. Ibunya sampai memanggil Nanny, perempuan yang dulu merawatnya, untuk membantu merawat Elphaba.
Setelah remaja, Elphaba pergi ke Shiz untuk bersekolah di sekolah asrama khusus anak perempuan. Saat itu, Ibu Elphaba sudah meninggal waktu melahirkan adik laki-lakinya. Selain itu dia juga punya adik perempuan, Nessarose, yang terlahir cacat. Sebuah kisah aneh juga melatarbelakangi kelahiran Nessarose. Tapi sebuah ramalan mengatakan kalau kedua kakak beradik ini akan punya peranan sangat penting di Oz. Di Shiz ini juga, Elphaba bertemu dengan Glinda, teman sekamarnya, yang nantinya akan menjadi penyihir baik.
Tapi saat itu, Sang Penyihir melakukan kudeta, menyingkirkan penguasa Ozma dari puncak kekuasaan di Emerald City. Sejak Sang Penyihir menguasai Oz, banyak terjadi hal yang membuat keadaan memburuk. Para Hewan ditindas, pembunuhan terjadi. Elphaba tak senang dengan itu semua. Pembunuhan seorang pengajar di Shiz membuat kemarahan Elphaba memuncak, dan pertemuannya dengan Sang Penyihir malah meyakinkan Elphaba kalau dia harus melawan.
Elphaba lari dari sekolah, dan melakukan pergerakan bawah tanah. Tapi setelah beberapa tahun, dia bertemu dengan Fiyero, pangeran Arjiki, yang dulu dikenalnya waktu masih bersekolah di Shiz. Di antara mereka terjalin hubungan cinta, tapi berakhir dengan kematian Fiyero di sebuah pemberontakan terhadap Sang Penyihir, yang gagal. Elphaba sendiri sempat mengalami masa-masa koma dan akhirnya tinggal di biara Saint Glinda, sebelum akhirnya dia pergi ke Kiamo Ko, rumah Fiyero.
Di Kiamo Ko, Elphaba akhirnya tinggal bersama istri dan anak-anak Fiyero, bersama seorang anak laki-laki yang dia bawa dari biara. Dan di sini jugalah, Elphaba akhirnya menemui ajalnya, saat seorang anak perempuan bernama Dorothy, yang datang dari dunia lain, menyiramnya dengan air!
Yah, ini adalah kisah tentang Elphaba si penyihir jahat dari barat, yang kita temui di kisah The Wizard of Oz karya Frank L. Baum. Di sini, Gregory Maguire berhasil memikat kita dengan kisah hidup sang penyihir yang disebut jahat. Benarkah Elphaba itu jahat? Atau bahkan, benarkah dia seorang penyihir? Dari mana datangnya sepatu merah yang dipakai Dorothy itu?
Berbagai hal akan kita temui yang membuat kita teringat pada kisah Dorothy dan ketiga temannya, Tin Man, Scarecrow dan sang Singa yang penakut itu. Kita juga akan semakin akrab dengan dunia Oz, berbagai wilayah Oz yang ajaib itu. Liku-liku politik Oz juga akan mewarnai buku ini. Selain itu, kalimat-kalimat njelimet namun sangat keren menjadi ciri khas Gregory Maguire. Dan jangan lupa, walau ini kisah tentang Oz, tapi sebenarnya buku ini novel fantasi yang sangat dewasa, har har har!
Memang, buku ini lebih asik kalau dinikmati perlahan-lahan, dan pada akhirnya kita akan jatuh cinta pada Oz.
Posted by Duma at 8:27 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : I Am The Messenger
Pengarang : Markus Zusak
Penerbit : Borzoi Book Published by Alfred A. Knopf, 2006
Tebal : 357 halaman ; 13 x 20,5 cm
Suatu siang di sebuah bank, Ed Kennedy yang selalu sial, terjebak dalam peristiwa perampokan. Tapi si perampok bernasib sial juga. Saat berusaha melarikan diri, ternyata dia sudah ditinggalkan temannya yang membawa mobil. Lalu dia berusaha kabur dengan menggunakan mobil butut milik teman Ed, Marv, yang diparkir di depan bank. Waktu hendak masuk ke mobil, pistolnya terjatuh.
Entah apa yang mendorong Ed melakukan perbuatan itu. Saat si perampok berusaha menghidupkan mobil jelek itu, Ed bangkit keluar dari bank menuju si perampok, mengambil pistol yang terjatuh di trotoar, dan menodongkannya ke perampok itu. Lalu polisi datang, dan selesailah drama perampokan itu.
Tapi bagi Ed, peristiwa itu ternyata adalah awal dari perubahan atas kehidupannya yang selama ini sangat datar dan membosankan. Ed seorang supir taxi yang sebenarnya belum cukup umur untuk pekerjaan itu, yang didapatkannya dengan memalsukan tahun kelahirannya. Di keluarganya, Ed seperti kambing hitam. Adiknya Tommy seorang calon pengacara. Kedua saudara perempuannya hidup baik-baik saja. Ayahnya baru meninggal enam bulan yang lalu, dan itu membuatnya mendapatkan The Doorman, anjing tua milik keluarga mereka.
Saat ini Ed tinggal sendiri di rumah petak kecil, sekarang bersama The Doorman yang selalu berbau busuk tak peduli seberapa sering dia dimandikan. The Doorman juga seekor anjing pecandu kopi, dan tak pernah mau bergerak dari tempatnya tidur seharian di depan pintu, yang membuatnya mendapatkan namanya.
Itulah Ed selama ini, hingga hari perampokan itu terjadi.
Tak lama setelah hari aneh itu, di kotak posnya, Ed menemukan selembar kartu remi, bergambar As Wajik, berisi tiga alamat, dan tiga waktu di tiap alamat. Entah apa maksudnya. Itu adalah kartu pertama yang diterimanya. Apa maksudnya kartu itu dikirimkan kepadanya. Tak jelas siapa pengirimnya. Mulanya dia mengira salah seorang rekannya sedang menggodanya. Tapi tak mungkin, tak seorang pun diantara mereka cukup cerdas untuk melakukan sesuatu seperti itu. Yang paling cerdas, juga tak punya modus untuk melakukannya, dan dia adalah seorang wanita, yang diam-diam dicintai oleh Ed.
Beberapa hari Ed bingung memandangi kartu tersebut, namun sesuatu membuatnya yakin, ada yang harus dia lakukan. Mulailah dia mendatangi alamat-alamat tersebut pada waktu-waktu yang dituliskan di kartu itu. Apa yang ditemukannya ternyata membuatnya memahami, apa yang diinginkan oleh si pengirim kartu. Ada pesan yang harus dia sampaikan kepada orang-orang di rumah itu. Dia adalah si pembawa pesan, The Messenger.
Kartu-kartu berikutnya datang, setelah ntah bagaimana, si pengirim pesan berhasil mengetahui bahwa tugas Ed sudah berhasil dilaksanakan, pesan sudah disampaikan.
Siapa sebenarnya pengirim kartu itu, dan mengapa Ed yang dipilih?
Terus terang, buku ini aku pilih waktu membelinya, karena si pengarang Markus Zusak. The Book Thief yang berhasil membuatku merasa ikut depresi selama membacanya itu membuatku terkesan, dan waktu melihat buku I Am The Messenger ini, yah aku jadi pengen tahu.
Untungnya, buku ini tak membuat kita depresi, walau kali ini tokohnya adalah seorang laki-laki yang sedang beranjak dewasa, di usia 18 tahun, seorang pecundang. Tapi ternyata, seiring cerita berjalan, Ed bukanlah seorang pecundang. Dia menjadi seperti itu karena berbagai hal, yang ternyata masih bisa diperbaiki. Perlahan-lahan, kita ikut bersama Ed, menyadari, banyak hal kecil yang sebenarnya membuatnya menjadi orang yang lebih baik, orang yang berguna, dan orang yang layak mencintai dan dicintai.
Hal-hal kecil juga akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri, geli, terutama saat Ed menggambarkan kehidupannya yang sederhana, anjingnya yang konyol, dan kelakuan teman-temannya yang tampaknya aneh. Tapi di balik semua itu, masing-masing menyimpan rahasia, dan Ed harus membawa pesan kepada mereka, sama seperti kepada orang-orang yang tak dikenalnya.
Posted by Duma at 10:05 PM 0 comments
Judul : Count Karlstein
Pengarang : Philip Pullman, 1982
Penerbit : Yearling, an imprint of Random House Children's Books (2001)
Tebal : 243 halaman ; 13 x 19 cm
Desa Karlstein adalah sebuah desa kecil yang tenang. Sekali-sekali ada saja orang asing yang lewat dan menginap di tempat tersebut, membuat penginapan Frau Kelmar, ibu dari Peter dan Hildi, tetap saja dikunjungi tamu.
Di desa itu juga ada Kastil Karlstein, tempat tinggal Count Karlstein, gelar yang sekarang dipegang seorang pria aneh pewaris kastil tersebut. Bersama sang Count, tinggal juga dua orang keponakannya, Lucy dan Charlotte, yang sudah yatim piatu. Hildi, anak sang pemilik penginapan juga bekerja sebagai pelayan di kastil itu.
Count Karlstein ternyata memiliki rahasia-rahasia aneh. Diam-diam dia mengadakan perjanjian dengan setan, Zamiel, si Pemburu. Zamiel yang melakukan perburuannya setiap All Soul Eve, mencari mangsa. Zamiel memberi kepada sang Count kedudukan dan harta, tapi dia juga menuntut bayaran. Dan sang Count sudah merencanakan, akan memberikan kedua keponakannya yang malang itu sebagai korban untuk menyenangkan Zamiel.
Untungnya, saat merencanakan kejahatannya itu, Hildi tak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Dan Hildi yang menyayangi kedua anak kecil itu pun membawa lari mereka, agar tak dijadikan mangsa. Sayangnya pelarian itu tak berhasil. Tak tahan bersembunyi, Charlotte pun tertangkap.
Tapi Lucy masih berhasil bersembunyi. Dan sang Count pun masih berusaha mencarinya. Cerita licik dikarangnya untuk mengelabui orang-orang dari rencananya yang sebenarnya. Tapi Lucy beruntung. Berbagai bantuan datang menolong dia dan adiknya. Rencana pun disusun untuk menghindari Zamiel, dan membuat sang Count mendapat pelajaran.
Dongeng ini berakhir bahagia bagi Lucy dan Charlotte, dan tentu Hildi yang pemberani, tapi sang Count yang ternyata palsu itu mendapat ganjaran yang sangat tragis. Dia harus kehilangan nyawa!
Para tokoh dalam cerita ini berganti-ganti menceritakan kejadian selama hari-hari menjelang malam mengerikan itu, tapi yang paling dominan adalah Hildi sang pelayan. Aku sih baru saja ketemu buku ini waktu iseng mengubek-ubek rak toko buku waktu transit pesawat, har har har... Ternyata ini buku yang udah cukup lama kog, jauh sebelum trilogi His Dark Materialnya yang sangat populer itu. Tapi, yah ciri Pullman itu yang suka cerita-cerita sedikit 'gelap' terasa sekali di sini. Akhir yang tragis sah-sah saja baginya, untuk menyeimbangkan kebahagian tokoh-tokoh protagonisnya.
Lalu yang aku suka di sini adalah salah satu tokoh yang muncul belakangan dalam cerita, mantan guru kedua anak tersebut, Miss Davenport. Wah, dia ini keren banget, petualang gitu, dan ingin mengajarkan pada anak-anak perempuan kalau mereka juga perlu belajar banyak hal selain sekedar mengikuti fashion.
Dan ada satu bagian, yang isinya adalah laporan polisi desa Karlstein, yang pasti akan bikin kita ngakak-ngakak ngebayangin si polisi berusaha menjelaskan peristiwa konyol yang terjadi saat penangkapan buronan.
Yah, pokoknya aku sih sukaaaaaa buku ini........
Posted by Duma at 7:00 PM 1 comments
Labels: 2008, Novel Anak/Remaja

Judul : Mencari Masa Silam - Kisah Cinta Swann Jilid 1
Judul asli : A la recherche du temps perdu - Un amour de Swann volume 1
(c)2006 Guy Delcourt Production
Pengarang : Marcel Proust, Saduran dan Gambar oleh Stephane Heuet
Penerjemah : Rahayu Surtiati Hidayat
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2008
Tebal : 48 halaman ; 22 x 31 cm (komik)
Pasangan suami-istri Verdurin selalu menyelenggarakan pesta kecil di rumah mereka. Pasangan ini sebenarnya berasal dari kelas menengah saja, tapi mereka merasa diri mereka itu cukup terhormat, dan membentuk 'kelompok'nya sendiri. Orang-orang yang hadir adalah orang-orang yang menurut mereka 'keren', dan yang tidak hadir, tentu saja tidak 'keren'. Salah satu tamu yang selalu hadir di acara kumpul-kumpul tersebut adalah seorang wanita muda bernama Odette De Crecy.
Suatu kali, Odette mengajak seorang laki-laki yang sangat dikaguminya, Charles Swann. M. Swann sendiri sebenarnya adalah seorang pria yang mempunyai jaringan koneksi dari kalangan atas, namun saat di rumah Verdurin, dia tak pernah menyebut-nyebut teman-temannya itu, karena bagi pasangan Verdurin, orang-orang itu membosankan. Swann adalah seorang pecinta seni dan sastra. Rumahnya dipenuhi berbagai benda seni bermutu tinggi dan buku-buku memenuhi perpustakaanya.
Odette mati-matian mengejar Swann, berpura-pura tertarik pada seni, dengan menggunakan taktik keluguannya. Swann pada awalnya tidaklah terlalu tertarik pada Odette yang penampilannya sebenarnya lumayan itu. Dia lebih menyukai tipe wanita pelayan, dengan wajah sederhana dan tubuh montok yang menggairahkan.
Odette sendiri juga menyimpan rahasia, karena pertemuannya dengan Swann sebenarnya hanya terjadi di rumah Verdurin, pada malam hari, dan pada siang hari, kadang-kadang Odette berkunjung ke rumah Swann. Apa yang dilakukan Odette pada sisa waktunya itu, tak banyak orang yang tahu.
Lalu, suatu kejadian membuat Swann tersadar, setelah kebersamaan mereka yang begitu sering, bahwa ternyata dia memiliki perasaan merindukan Odette. Tapi tak lama, ternyata Odette membawa pria lain lagi ke pertemuan di rumah Verdurin.
Komik ini merupakan adaptasi dari novel terkenal karya Marcel Proust, A La Recherce du Temps Perdu. Novel itu sendiri termasuk novel kelas berat, yang mungkin hanya bisa dinikmati segelintir orang. Terdiri dari 7 volume, yang konon merupakan novel terpanjang di dunia, ditulis dalam 9,6 juta huruf... (hitung aja sendiri :P). Kalau dari edisi aslinya, sebenarnya komik Kisah Cinta Swann ini adalah bagian ketiga dari seri A La Recherce du Temps Perdu.
Stephane Heuet sendiri dulunya bekerja selama bertahun-tahun di angkatan laut, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berkarir di bidang seni. Dia memulai dengan bekerja di sebuah perusahaan periklanan selama 15 tahun. Ketertarikannya pada karya Proust itu membuatnya terinspirasi untuk menceritakan kembali novel tersebut dalam bentuk komik. Jilid pertama komik ini, Combray, diterbitkan pada tahun 1998.
Satu hal yang cukup menggangguku menikmati komik ini sebenarnya adalah terjemahannya. Ntah kenapa kog kalimat-kalimat di dalam komik ini sulit dimengerti. Kalau memang novel itu sulit, yah wajar, tapi kayaknya tujuannya dibuat komik kan supaya bisa dimengerti lebih mudah. Sayang sih, karena sebenarnya komik ini keren gambar-gambarnya. Suasana Paris di abad ke 19 itu disajikan dengan cukup detail, termasuk kostum para tokohnya.
Posted by Duma at 11:41 AM 0 comments
Labels: 2008, graphic novel
Judul : Death Du Jour
Pengarang : Kathy Reichs, 1999
Penerjemah : Vitri Mayastuti
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Januari 2008
Tebal : 526 halaman; 13 x 20,5 cm
Di sebuah lokasi makam, sesuai dengan data yang ada di arsip biara, sang ahli antropologi forensik, Temperance Brennan, sedang berusaha mencari apa pun yang tersisa dari tubuh seorang biarawati yang sudah meninggal lebih seratus tahun yang lalu. Setelah hampir merasa putus asa mencari, seorang biarawati tua akhirnya menjadi petunjuk dimana sebenarnya makam tersebut berada. Peti berisi tulang-belulang Elisabeth Nicolet pun ditemukan, sang biarawati yang akan diusulkan untuk menjadi santa.
Peristiwa ini ternyata membawa Tempe, begitu dirinya akrab dipanggil, ke berbagai peristiwa yang tak diduganya. Awalnya memang ada sebuah kebakaran mengerikan yang terjadi di sebuah rumah, di mana ditemukan sisa-sisa tubuh seorang wanita tua dalam kondisi yang mengenaskan, dan dua orang korban lainnya yang tak teridentifikasi. Namun keanehan ditemukan Tempe pada jenasah wanita tua tersebut, yang ternyata mati karena tembakan, bukan karena kebakaran.
Bukti-bukti juga menunjukkan kalau kebakaran tersebut disengaja. Dan bahkan tak lama sekeluarga muda yang punya bayi kembar pun ditemukan tewas di bagian lain rumah tersebut. Bahkan kondisi kedua bayi itu sungguh mengerikan.
Kemudian, Tempe juga harus menghadapi adiknya yang tiba-tiba menjadi aneh, setelah mengikuti pelatihan dari sebuah lembaga pengembangan diri yang diikutinya.
Dan, ternyata, dari hasil analisa tulang belulang Elisabeth Nicole, ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahu Tempe. Dia berusaha mencari tahu asal usul Elisabeth, terutama di seputar kelahirannya. Keingintahuannya membawanya berkenalan dengan seorang profesor di Universitas di Quebec.
Tempe, yang mondar-mandir antara Quebec, Montreal dan California, mengalami banyak hal lagi. Di acaranya berlibur dengan anak perempuannya, dia malah menemukan lagi mayat membusuk di pulau tempat perlindungan primata milik temannya.
Ternyata, segalanya saling berkaitan. Sebuah komunitas aneh yang sepertinya menutup diri dari masyarakat mungkin terlibat dalam semua kasus kematian mengerikan dan hilangnya beberapa orang, termasuk adik Tempe sendiri. Bahkan Tempe pun harus menghadapi ancaman terhadap nyawanya dan orang-orang terdekatnya.
Satu lagi buku yang renyah dan gurih...... (yah mirip-mirip snack hehehe)
Awalnya sih aku tertarik karena iming-iming kisah kematian seratus tahun yang lalu itu, eh ternyata semakin ke tengah, semakin berbeda, hahahaha! Ternyata ceritanya adalah kait -mengait antara satu pembunuhan ke pembunuhan lain. Sedangkan kisah sang biarawati yang sudah mati seratus tahun yang lalu itu hanya sekedar penghubung beberapa tokohnya dengan kejadian pembunuhan-pembunuhan sadis tersebut.
Ternyata diriku terkecoh!
Yah tapi begitupun, aku sih menikmati juga baca buku ini, walau di bagian pertengahan sempat merasa bosan, apalagi sewaktu sang karakter utamanya, Tempe, bercakap-cakap dan mendapat penjelasan dengan rekan-rekan akademisinya. Detail-detail seputar perkembangan serangga yang terdapat di mayat yang bisa dijadikan alat untuk menganalisa waktu kematian, huh, rasanya cukup membosankan (ups, yah aku jadinya melompati saja bagian itu, hehehe), karena terasa terlalu berlebihan.
Lalu di bagian akhir, treng treng.... seperti film ala Hollywood, si penjahat hampir diketahui, eh malah tokoh utama yang terluka dan tertangkap.... Seru lagi, hahaha! Yah tapi walau seru, aku sebenarnya sedikit merasa geli, karena bener-bener seperti film yang jeder-jedor.....
Ow yah, buku ini juga ternyata adalah buku kedua dari sekian banyak novel thriller karya Kathy Reichs yang menjadikan Tempe sebagai karakter utama, dengan kehidupannya yang menegangkan sebagai seorang ahli antropologi forensik yang sering dimintai bantuan dalam memecahkan berbagai kasus pembunuhan. Hm yah tapi bagiku sih, satu ini sudah cukuplah, aku gak kepengen baca buku yang lain lagi dari seri ini.
Posted by Duma at 5:15 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : Trust - Harga Sebuah Kepercayaan
Pengarang : Charles Epping, 2006
Penerjemah: Vitri Mayastuti
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Januari 2008
Tebal : 526 halaman; 13 x 20,5 cm
Seorang Yahudi kaya di Eropa, di masa Perang Dunia, pasti akan panik. Hitler dan Nazi-nya sudah menimbulkan berbagai kesulitan bagi kaum Yahudi. Segala usaha dilakukan orang-orang Yahudi itu untuk mempertahankan kekayaannya. Siapa sih yang ingin jatuh miskin?
Salah satu usaha itu adalah dengan menyimpan semua kekayaan itu di tempat paling aman di dunia. Di perut brankas-brankas bank di Swiss. Yah, kerahasiaan bank Swiss, sesuatu yang sangat istimewa.
Seorang pengusaha Yahudi dari Budapest, Hongaria, bernama Aladar, bersusah payah menyuap pegawai kedutaan, sehingga hartanya bisa dibawa sampai ke Swiss, dan dengan hati tak keruan sepanjang perjalanan, dia pergi ke Zurich, menemui Rudolph Tobler, pengurus keuangannya. Di sinilah, akhirnya Aladar mempelajari adanya rekening perwalian, yang digunakan untuk melindungi identitas pemilik rekening bank sebenarnya. Tak seorang pun yang tahu siapa sebenarnya pemilik asli rekening tersebut, selain dirinya dan pengurus keuangannya tersebut.
Lalu, puluhan tahun berlalu sejak saat itu. Seorang gadis muda yang baru bekerja di sebuah perusahaan konsultan, sedang mengamati kode-kode yang tiba-tiba ditemukannya. Kode yang ganjil yang berasal dari tahun 1987. Kode itu menyuruh sebuah transaksi dibatalkan pada sebuah tanggal yang ternyata merupakan tanggal dimana harga saham anjlok dan membuat banyak orang frustrasi bahkan jatuh miskin, kecuali dia memiliki harta lain yg bisa dijadikan jaminan saat itu, dan menyelamatkan kekayaan mereka, hari yang dikenal sebagai Black Monday.
Alex Payton, yang muda dan sangat gigih bekerja untuk melunasi pinjaman studi yang diambilnya untuk membiayai kuliahnya, entah mengapa tergelitik melihat kode itu, ditambah lagi reaksi atasannya yang aneh. Keisengannya untuk mengetahui siapa pemilik rekening tersebut akhirnya menjerumuskannya ke sebuah petualangan yang mengerikan, yang akan mengakibatkan beberapa orang bahkan kehilangan nyawa....
Dari Swiss, Alex bahkan harus pergi ke Amsterdam, kembali ke Swiss untuk pergi lagi ke Budapest, dan akhirnya sampai di New York untuk kemudian malah berkelana ke Brazil. Sebuah petualangan yang tak terbayangkan akan dialaminya. Uang jutaan dolar menjadi imbalannya!
Sebuah kisah thriller yang cukup seru, walau kadang aku sih sedikit merasa tidak terlalu terkesan, justru merasa beberapa bagian seperti dilebih-lebihkan. Tapi yah, ceritanya cukup asik sih, lancar, dan alurnya berjalan cepat. Dalam hitungan hari, sangat banyak yang terjadi. Lalu di sana-sini juga ada detil-detil perbankan (yah, dilewatkan kalo gak ngerti, har har!) dan juga selipan kisah Anne Frank yang rasanya terlalu dipaksakan....
Yah, tapi kalau memang sedang capek dan butuh sesuatu yang seru, buku ini cukup menarik dan tidak akan membuat bosan pembaca.
Posted by Duma at 4:48 PM 0 comments
Labels: 2008
Judul : The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)
Pengarang : Lisa Lutz , 2007
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Penerbit Atria (PT Serambi Ilmu Semesta), Jakarta, Maret 2008
Tebal : 550 halaman; 13 x 21 cm
Bayangkan saja seandainya kau lahir di sebuah keluarga yang semuanya adalah detektif, pasti hidupmu tidak akan normal.
Itu yang dialami Lizzie Spellman. Ayah dan ibunya, bahkan pamannya, adalah detektif. Mereka bahkan berkantor di rumah keluarga Spellman. Sejak masih berusia kanak-kanak, Lizzie sudah akrab dengan kegiatan mengendap-endap dan mengintip kegiatan orang lain. Menguntit sepertinya sudah mendarah daging bagi keluarga Spellman.
Lizzie sendiri adalah seorang wanita muda, yang seumur hidupnya bekerja di Spellman Investigations. Seorang wanita yang lumayan berantakan, tak pernah berpakaian rapi, dan sering berganti-ganti pacar, yang diakuinya dengan menyusun daftar mantan pacarnya, yang sampai saat ini sudah mencapai nomor 9.
Kakaknya, David, dilahirkan sebagai seorang anak yang sempurna. Sejak kecil, segala yang dikerjakan David selalu bagus. Di sekolah David juga seorang siswa yang cemerlang. Kesempurnaan David adalah kebalikan dari apa yang ada pada Lizzie. Lizzie yang tak pernah dewasa....
Lalu, ada lagi si kecil Rae, yang lahir tak sengaja, saat Lizzie sudah berusia empat belas tahun. Kehadiran Rae bagi Lizzie tak dapat diterima dengan mudah. Semakin besar, Rae juga tumbuh jadi gadis kecil yang aneh. Di usia yang masih sangat muda, bahkan saat dia belum lancar membaca, Rae sudah ikut menjadi detektif.
Dan jangan lupa Paman Raymond, yang saat sekarat karena kanker pada saat dia selalu hidup sehat, lalu malah sembuh secara ajaib, dan malah hidup seenaknya setelah itu. Sejak ditinggal istrinya, Paman Raymond semakin kacau. Kisah-kisah yang terjadi di akhir pekan yang hilang satu persatu diceritakan Lizzie.
Kehidupan tak mudah bagi Lizzie, apalagi di tengah-tengah keluarga yang begitu aneh. Ibunya selalu ingin ikut campur dalam kisah cinta Lizzie, berusaha mati-matian menjodoh-jodohkannya dengan pengacara, yang entah kenapa sangat disukai oleh Mrs Spellman. Tapi sang ibu sangat anti pada dokter gigi! Hingga si mantan pacar nomor 9 pun sempat mengalami berbagai kejadian tidak enak, bukan hanya karena terjebak pada kehidupan Lizzie yang aneh, tapi juga karena prasangka keluarga tersebut.
Yah, begitulah Lizzie.....
Hm, novel ini mungkin bisa digolongkan ke jenis bacaan 'chicklit', yah karena tokohnya seorang wanita muda, dan alur cerita yang berkisar di kehidupan sehari-harinya, kisah cinta, pekerjaan, keluarga. Dengan kalimat-kalimat ringan, kita akan merasa santai mengikuti hiruk-pikuk aktivitas Lizzie dan permasalahan-permasalahan yang dialaminya. Yah, sebuah buku ringan yang menghibur.
Posted by Duma at 11:28 PM 3 comments
Labels: 2008
Judul : Sebelas Menit (Eleven Minutes)
Pengarang : Paulo Coelho, 2003
Penerjemah : Tanti Lesmana dan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama,
Tebal : 360 halaman ; 13,5 x 20 cm
Sebelas menit, apa yang dapat dilakukan dalam waktu yang singkat itu?
Maria, seorang gadis biasa menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di sebuah kota kecil di Brazil. Kehidupannya sangat biasa, sekolah, berteman, pacaran, dan akhirnya bekerja di sebuah toko, yang majikannya sepertinya tertarik padanya.
Cinta pertama Maria terjadi waktu dia masih berusia sembilan tahun. Seorang anak laki-laki yang sering kebetulan berjalan dengannya ke sekolah. Tapi mereka tak pernah saling menegur, hingga suatu hari anak tersebut menyapanya untuk meminjam pensil. Sayangnya Maria begitu terkejut sampai tak bisa mengatakan apa-apa, dan setelah itu mereka kembali ke ritual berjalan bersama ke sekolah dalam diam. Lalu tiba-tiba si anak tersebut pindah dan tak ada yang tahu kemana. Sejak itu, Maria merasa kalau dia sudah melakukan suatu kesalahan, melewatkan sebuah kesempatan tanpa berbuat apa-apa.
Waktu berlalu, Maria semakin dewasa, dan mempelajari banyak hal dalam kehidupan. Kisah cinta tak sampainya di masa kecil itu terus membayanginya setiap kali dia harus mengambil keputusan dalam hidupnya.
Di usianya yang menjelang dua puluh dua tahun, Maria membuat keputusan penting yang akan mengubah hidupnya. Dia mau pergi berlibur sendirian ke Rio De Janeiro, ke kota besar, tempat para bintang telenovela dan para model, orang-orang kaya, turis, semua orang yang belum pernah dilihatnya secara langsung sepanjang hidupnya. Ditinggalkannya si pemilik toko yang menyatakan cintanya pada hari menjelang kepergian Maria, namun dengan tetap memberi harapan bahwa dia akan kembali.
Naik bis selama empat puluh delapan jam, Maria pun tiba di Rio. Dan niat berliburnya akhirnya membawanya ke Swiss. Di Rio, Maria bertemu seorang pria Swiss, yang akhirnya membawanya ke Swiss dengan tawaran untuk menjadi penari di klub milik pria tersebut. Bayaran yang ditawarkan membuat Maria hampir tak percaya. Tapi ternyata dia kurang teliti membaca kontrak.
Di Swiss, kehidupannya tak seperti yang dibayangkan. Dia berangan-angan akan berpetualang di negeri yang bersalju, tapi malah menghabiskan waktunya di sebuah klub malam yang bahkan tak memperbolehkannya merayu tamunya. Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan suami dengan cara hidup yang seperti itu. Maria mulai mencoba melatih dirinya, dia belajar bahasa Prancis, agar bisa berkomunikasi di negeri asing tersebut. Dengan modal kata-kata 'pengacara', akhirnya Maria berhasil keluar dari klub membosankan tersebut dan membawa uang yang cukup untuk ongkosnya kembali ke Brasil.
Tapi lagi-lagi nasib membawanya ke petualangan baru. Setelah bertemu dengan seorang pria Arab yang berani membayarnya dengan bayaran yang tak mampu ditolaknya, akhirnya Maria memilih untuk menjalani hidupnya sebagai seorang pelacur di Rue de Berne, daerah lampu merah di Jenewa. Beruntung dia masuk ke klub yang cukup berkelas, sehingga dia bisa mendapatkan bayaran yang juga cukup lumayan.
Untuk menjalani hidupnya sebagai seorang pelacur profesional, Maria merasa dia juga perlu mempelajari dunia yang dia pilih tersebut. Maria mulai membaca buku. Dia berkenalan memlilih perpustakaan, karena berprinsip tidak mau membeli buku yang setelah dibaca tidak akan digunakannya lagi. Di perpustakaan itu dia juga berkenalan dengan si penjaga perpustakaan, yang mulanya mempertanyakan mengapa Maria mencari buku-buku tentang seks. Setelah beberapa lama menjalani profesinya sebagai pelacur, Maria menyadari kalau dia perlu sesuatu yang membuatnya istimewa. Dia mulai belajar, membaca buku-buku lain yang bisa menambah pengetahuannya, membuatnya menjadi teman yang menyenangkan untuk bercakap-cakap dengan 'klien'nya.
Suatu hari, sewaktu berjalan-jalan saat dia sedang tidak bertugas, dia menemukan sebuah kafe kecil karena tertarik pada sebuah papan petunjuk jalan. Di Kafe itu dia bertemu si pelukis, yang nantinya akan menjadi seseorang yang sangat penting bagi Maria. Seseorang yang akhirnya akan membuat Maria berpikir kembali tentang jalan hidupnya sebagai pelacur, yang membuat Maria akhirnya berani mengambil keputusan, meninggalkan Rue de Berne, dan kembali ke Brasil.
Yah, buku ini adalah sebuah kisah tentang seks, demikian diakui sendiri oleh Coelho dalam penutup ceritanya. Tokoh utamanya, Maria, yang menjalani profesi sebagai seorang pelacur, tentu saja tak mungkin lepas dari seks yang menjadi barang dagangannya. Sebelas Menit. Itulah waktu, yang menurut referensi yang dibaca Maria, yang dibutuhkan oleh manusia untuk seks, terlepas dari segala pernak pernik rayuan dan cumbuan. Tapi benarkah, hanya untuk yang sebelas menit itu manusia hidup? Lalu bagaimana dengan Cinta? Semua itu membuat Maria bertanya-tanya, berusaha mencari jawabannya.
Buku ini lumayan juga, kalimat-kalimat terjemahannya enak dibaca. Juga ada beberapa hal yang menarik yang akan kita temui di sini, seperti sejarah pelacuran, yang konon merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Kisah kuno tentang pelacuran yang dulunya sakral, juga pembahasan mengenai alat kelamin perempuan yang sangat jarang menjadi perhatian sebelum abad ke duapuluh.
Tapi selain itu, ada juga beberapa hal yang membuatku agak gak senang, yah, pertama tokoh Maria terasa sangat idealis, seorang pelacur, mencerdaskan dirinya sendiri. Lalu, kebiasaannya menulis dalam buku harian, hm, yah menurutku pribadi sih, hal-hal yang ditulis Maria terasa terlalu kompleks bagi seorang gadis sederhana yang berasal dari kota kecil. Dan ada satu bagian yang terasa mengganggu, yaitu di bagian awal diceritakan kalau Maria setelah selesai SMA, mulai bekerja, tapi di satu bagian lagi setelah Maria bertemu dengan si pelukis, dia menyebut dirinya tidak tamat sekolah menengah pertama. Aku sih gak tahu yah apa ini kesalahan penerjemahan, atau memang ada maksud lain?
Buku ini juga diberi label : Novel Dewasa di bagian belakang, yah, mungkin sebabnya karena, salah satu hal yang terasa sangat menonjol dalam buku ini adalah deskripsi hubungan seksual yang dilakukan oleh Maria dengan sangat terinci, lalu juga ada penjelasan mengenai alat-alat kelamin wanita dan hubungannya dengan kemampuan mencapai orgasme, dan juga proses cumbu rayu yang cukup panjang dijelaskan.
Secara keseluruhan sih, yah, lumayan... Not too good, tapi juga gak jelek.
Posted by Duma at 11:22 PM 1 comments
Labels: 2008
© Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP