CHICKEN WITH PLUMS
JUDUL : AYAM DENGAN PLUM (CHICKEN WITH PLUMS)
Pengarang : Marjane Satrapi (2004)
Alih bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Agustus 2008
Tebal : 88 halaman; 16 x 23,5 cm
Novel grafis karya Marjane Satrapi kali ini berkisah tentang paman buyutnya, Nasser Ali Khan.
Nasser Ali adalah seorang musisi tar, alat musik khas Iran, dan juga salah satu yang terbaik. Sang paman meninggal di usia yang masih cukup muda, di saat anak-anaknya juga masih kecil-kecil. Dalam kisah ini, Satrapi menggambarkan delapan hari terakhir sang paman.
Cerita dibuka dengan adegan Nasser Ali berpapasan dengan seorang wanita yang tampak seperti seseorang yang pernah dikenalnya. Tapi sewaktu ditegur, wanita itu mengatakan tak mengenal Nasser Ali. Saat itu, sang musisi sedang dalam perjalanan menuju toko penjual tar, karena tar miliknya rusak.
Di situ, Nasser Ali sudah mulai tampak depresi, seolah-olah ada yang hilang dengan patahnya tar miliknya itu. Berkali-kali dia membeli tar baru, namun tak satupun yang bisa memuaskan hatinya. Bahkan dia sampai pergi ke Mashad yang cukup jauh dari Teheran, dia harus menempuh perjalanan dengan bis berhari-hari. Namun tetap saja, tar yang dibelinya itu tak dapat menjawab kekosongan jiwanya.
Sehingga akhirnya, Nasser Ali putus asa, dan merasa tak ingin lagi hidup lebih lama di dunia ini. Nasser Ali pun naik ke tempat tidurnya, dan tak mau bergerak lagi selama delapan hari sampai dia meninggal dunia. Selama delapan hari terakhir itu, berbagai peristiwa dan pikiran muncul kembali. Kisah masa mudanya, cintanya pada seorang gadis muda, putri pemilik toko jam. Cinta yang tak bisa berlanjut karena sang ayah tak menyetujui putrinya menikah dengan seorang musisi.
Patah hati, Nasser Ali kembali ke rumahnya, dan akhirnya, karena bujukan ibu dan saudara perempuannya, dia mau menikah dengan seorang gadis yang sudah dikenalnya sejak kecil, Nahid. Bersama Nahid, dia memiliki empat orang anak, tapi hanya anak perempuannya yang paling dia sayangi. Dan sungguh aneh, Nasser Ali sangat tidak menyukai anak laki-lakinya yang paling kecil.
Kehidupan pernikahan tanpa cinta itu membuat Nasser Ali tidak bahagia. Dia tidak menyadari bahwa istrinya Nahid sebenarnya telah lama mencintai dirinya. Dalam pertengkaran mereka yang terakhir, Nahid sangat kesal dan mematahkan tar milik Nasser Ali. Dan itulah yang menjadi awal kisah ini. Di hari ketiga setelah dia memutuskan untuk mati, Nasser bahkan akhirnya mengatakan kepada Nahid bahwa dia tak pernah mencintai istrinya itu.
Dan hingga di akhir cerita, sang malaikat maut datang menjemput Nahid.
Awalnya aku sendiri sempat mengira novel grafis kali ini akan mirip dengan Embroideries yang sudah lebih dahulu aku baca. Lucu, tajam, dan menyenangkan. Tapi setelah selesai, aduh, aku sempat sebal, karena merasa depresi. Tapi di sini memang kelebihan novel grafis satu ini. Dengan gambar-gambar yang tampaknya sederhana, dan latar belakang yang hanya hitam atau putih, Satrapi mampu membuat kita mampu merasakan betapa menekan hidup dirasakan oleh sang seniman.
Begitu pun, jangan takut kalau buku ini melulu isinya tentang kesedihan. Di sela-sela kesuraman pikiran Nasser Ali, kita juga akan melihat sedikit kelucuan yang walau terasa ironis, tetap akan bisa membuat kita tersenyum. Lihat saja sewaktu saudara laki-laki Nasser datang mengunjunginya, dan mengajaknya nonton film Sophia Loren, lalu sang seniman bermimpi sedikit mesum, ha ha ha! Dan juga Satrapi menceritakan saat sang paman bertemu pertama kali dengan malaikat maut, dan sang paman teringat ibunya di saat-saat menjelang kematiannya.
Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal di cerita ini. Wanita yang ditemui Nasser Ali di awal cerita, saat itu sedang bersama seorang anak kecil. Diceritakan kalau anak kecil itu memanggilnya "nenek". Tampaknya agak membingungkan kalau dia seusia dengan Nasser Ali, dan sementara pada waktu itu Nasser Ali sendiri anaknya seumuran dengan anak laki-laki yang dibawa wanita itu, tapi kenapa wanita itu sudah punya cucu yah?
1 comments:
wah cerita yang menarik
bun ada komunitas bloggersumut ni
silahkan mampir ya
bloggersumut.net
Post a Comment