Showing posts with label fantasy. Show all posts
Showing posts with label fantasy. Show all posts

Sunday, February 27, 2011


Judul : Ulysses Moore #3 - Pulau Topeng
Penulis : Pierdomenico Baccalario (c) 2006
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Erlangga for Kids, Jakarta, 2010
Tebal : 213 halaman ; 14,5 x 21,5 cm

Buku tentang petualangan si kembar Jason dan Julia dan teman baru mereka, Rick sudah masuk buku ke empat.

Aduh, karena udah banyak lupa cerita-cerita sebelumnya, hihihihi, aku juga bacanya agak meraba-raba sih. Mungkin nanti kapan-kapan pengen baca lagi dari buku satu deh, wekekekekek.

Yah singkatnya yah, kali ini mereka bertiga lagi-lagi menggunakan Metis, kapal ajaib di dalam gua di bawah Argo Manor, rumah baru Jason dan Julia. Mereka pergi ke Venesia mencari Peter Dedalus (jangan tanya, aku juga lupa kenapa mereka mencari Peter Dedalus, hihihi, yang pasti tentu ada hubungannya dengan mencari tahu lebih banyak tentang Ulysses Moore, pemilik asli Argo Manor).

Ternyata di Venesia, mereka bertemu dengan sepasang suami istri, yang ternyata anggota Illuminati. Yah, ini sih di buku ini, kurang jelas juga apa hubungannya dengan cerita, apa cuma gaya-gayaan aja, atau nanti di buku berikutnya masih ada hubungannya yah?

Nah, tentu saja, dengan memecahkan berbagai teka-teki, seperti di buku-buku sebelumnya, mereka berhasil menemukan di mana Peter Dedalus bersembunyi (kalau pola ini sih aku masih ingat, hehehe, karena salah satu keasikan serial ini yah cerita tentang ketiga anak itu memecahkan berbagai potongan petunjuk yang seperti teka-teki itu).

Dan, lagi-lagi, pas ketemu, eeeeh.... ada si Oblivia yang licik itu, hahahahahhaha.....

Yah gitu deh yang bisa diceritain, soalnya karena sudah lupa dengan detil-detil cerita sebelumnya, jadi bingung juga bacanya hehehehe, bukan jenis buku yang bisa dibaca terpisah-pisah sih.

Tapi tetap aja, aku suka buku ini karena kemasannya yang cantik, covernya itu keren banget, dan karena dikemas pakai hard-cover gitu, jadi tambah bagus. Dan di dalam juga, ilustrasi-ilustrasinya bagus-bagus dan banyak. Di tiap awal bab, ada kolase-kolase cantik dari petunjuk-petunjuk atau pun hal-hal yang berhubungan dengan tempat-tempat atau benda yang diceritakan. Dan juga huruf-hurufnya yang besar, jadi biar pun 200-an halaman, bacanya jadi sebentar, hihihihi :D :D

Monday, March 22, 2010

Ink Exchange


Judul : Ink Exchange (Jalinan Yang Memikat)
Pengarang : Melissa Marr (c) 2008
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, September 2009
Tebal : 352 halaman; 13,5 x 20 cm


Di dunia peri, terjadi perubahan. Sejak Aislinn membuktikan dirinya sebagai ratu peri kerajaan musim panas, dan matinya Beira si ratu musim dingin yang lalu digantikan Donia, keseimbangan kerajaan-kerajaan para peri mulai terganggu. Kekejaman Beira selama ini membuat para peri kerajaan kegelapan tak pernah kelaparan, ketakutan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh Beira cukup untuk membuat mereka kenyang. Tapi Donia tak seperti Beira, persahabatannya dengan Keenan si raja musim panas, membuat ketakutan yang selama ini menguasai para peri berkurang. Peri-peri kerajaan kegelapan melemah. Irial sebagai raja kegelapan perlu melakukan sesuatu.

Leslie adalah teman Aislinn, sang ratu musim panas. Dan sebagai ratu, Aislinn sudah meminta agar teman-teman dekatnya, termasuk Leslie, dijaga dari gangguan peri-peri kerajaan lain. Salah satu penjaganya adalah Niall, penasihat Keenan. Diam-diam Leslie menyukai sosok Niall yang misterius itu, tapi Leslie tak mengerti mengapa Aislinn sepertinya menghalangi. Memang tak ada manusia yang tahu tentang para peri selain Seth dan nenek Aislinn.

Leslie sudah lama mengidam-idamkan membuat tato, tapi belum juga menemukan desain yang dirasanya sesuai untuk dirinya. Cukup lama dia mengamati berbagai desain yang ada di toko milik Rabbit, sang seniman tato, tapi tak ada yang cocok di hatinya. Hingga suatu hari, Rabbit mengajaknya ke bagian belakang toko, dan menunjukkan kepadanya kumpulan desain-desain tato yang istimewa, yang tidak dipajangnya seperti desain biasa. Gambar sepasang mata yang memandang dari balik sayap membuat Leslie berdebar, dan saat itu juga Leslie tahu, tato itu yang diinginkan, tato yang akan merubah hidupnya.

Tanpa disadarinya, Leslie memang memilih tato yang akan merubah hidupnya, menjalani kehidupan yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Leslie pun terseret ke dunia para peri, menjadi alat Irial untuk menyedot rasa sakit dan takut dari manusia mortal, sesuatu yang tak dapat dilakukan Irial tanpa perantara. Pembuatan tato itu ternyata merupakan pertukaran tinta dengan darah Irial, yang membuat Leslie terhubung dengan sang raja kegelapan. Leslie pun kebas terhadap rasa sakit, dan perasaan ini dinikmatinya untuk beberapa lama. Sampai dia mulai merasa gelisah, karena merasa kehilangan sesuatu. Ternyata hilangnya rasa sakit itu bukan sesuatu yang dia inginkan, seperti selama ini dikiranya. Hidupnya sebelum ini, yang penuh rasa sakit itu, ternyata dirindukannya.

Buku ini lanjutan dari buku sebelumnya yang judulnya Wicked Lovely itu. Sebenarnya yang bikin aku jadi pengen baca seri ini sih waktu lihat sinopsis buku kedua ini, karena sinopsis buku pertama terkesan lebih ke kisah cinta-cintaan hehehe, tapi ternyata yah, setelah dibaca dua-dua, aku lebih suka buku pertama sih, hihihi.

Emang buku kedua ini lebih kelam dari buku pertama, karena yah ceritanya tentang Irial dan kerajaan kegelapannya, ada sekelumit cerita-cerita sadis berdarah-darah, tapi yah gak banyak, dan gak terlalu detail. Terus banyak juga cerita kebingungan Leslie sebagai remaja korban pemerkosaan yang keluarganya juga berantakan. Dan mungkin karena Irial itu gak sekejam Beira, jadi kurang serem, he he he he.

Seri ini sih masih berlanjut, sekarang sudah terbit empat judul yah, dan katanya buku kelima juga sedang ditulis *gak jelas juga bakal jadi berapa seri, dan sedang agak malas cari tahu hahahaha*

Wicked Lovely


Judul : Wicked Lovely (Pesona Yang Menawan)
Pengarang : Melissa Marr (c) 2007
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2009
Tebal : 368 halaman ; 20 x 13,5 cm


Aislinn menyukai kehidupan di Huntsdale yang kecil, bukan karena dia tidak menyukai kehidupan kota besar yang dinamis, tapi karena hal-hal yang hanya dia yang dapat melihatnya. Terlahir dengan kondisi seperti nenek dan ibunya, Aislinn dapat melihat para peri, dan tingkah laku mereka. Kengerian melihat berbagai kekerasan yang dilakukan para peri itu, baik terhadap manusia mau pun di antara kaum peri itu membuat Aislinn ketakutan. Sang nenek telah mengajarinya dengan baik sejak dia kecil, jangan pernah memperlihatkan kalau dirinya mampu melihat mereka. Jangan pandang wajah mereka, jangan berbicara dengan mereka dan jangan menarik perhatian mereka.

Hingga remaja, Aislinn berhasil menjalankan semua ajaran neneknya itu. Sampai waktu sang raja peri kerajaan musim panas, Keenan, menemukannya. Keenan terikat perjanjian mengerikan yang dibuat ibunya yang ratu kerajaan musim dingin, dirinya tidak akan menjadi raja peri kerajaan musim panas secara penuh sampai dia menemukan ratunya. Ratunya akan berasal dari kaum manusia biasa, para mortal, dan gadis itu adalah orang yang berhasil memegang tongkat sang ratu kerajaan musim dingin tanpa terpengaruh. Selama berabad-abad, sudah banyak gadis yang jatuh cinta pada Keenan dan rela mengorbankan diri untuk mencoba memegang tongkat itu, tapi hingga gadis terakhir yang bernama Donia, semuanya gagal, dan akhirnya menjadi peri dengan hawa dingin di dalam tubuhnya, mengalami kedinginan abadi yang mengerikan. Donia, seperti juga gadis-gadis lain sebelumnya, memiliki tugas untuk menghasut para calon ratu musim panas agar tidak mau memegang tongkat ratu musim dingin.

Keenan pun menyamar sebagai seorang murid di sekolah Aislinn, berusaha sekuat tenaga untuk membuat Aislinn jatuh cinta kepadanya. Tapi sedikit janggal, karena kali ini gadis yang satu ini tak terlalu tertarik padanya, tak seperti gadis-gadis sebelumnya. Aislinn ternyata sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada seorang manusia lain, Seth, yang urakan dan tinggal di gerbong kereta api yang dimodifikasinya menjadi tempat tinggal. Bagi Aislinn, selain rumahnya yang memang sudah dirancang sehingga tidak nyaman bagi kaum peri, tempat Seth yang seluruhnya terbuat dari baja merupakan tempat kedua teraman. Memang, kecuali para bangsawan kerajaan peri seperti Keenan, tempat-tempat yang banyak besinya membuat para peri kesakitan dan tak tahan berlama-lama.

Kemampuan Aislinn melihat peri awalnya tak diketahui oleh siapa pun, sampai akhirnya dia membuka rahasianya pada Seth. Dan Aislinn pun menceritakan bahwa dia sedang dikuntit oleh Keenan dan kaumnya.

Tapi Aislinn memang ditakdirkan menjadi ratu kaum peri musim panas. Apa pun yang dilakukannya, dan apa pun yang diusahakan oleh sang ratu peri musim dingin untuk menghalangi Aislinn memegang tongkatnya, gagal.

Sebenarnya, buku ini sudah cukup lama juga dilirik-lirik waktu terlihat dipajang di toko buku, tapi entah kenapa, gak jadi-jadi diangkut dan dibawa pulang hehehehe. Tapi akhirnya kemaren pas pesan ke toko buku online kira-kira dua bulan yang lalu, tergoda juga deh untuk beli, hahhaha. Yah, ternyata emang lumayan kog, gak garing-garing banget hehehe (sebenarnya ini alasan yang membuatku gak langsung mengangkut buku ini dan buku keduanya sebelumnya, takut ceritanya garing hehehe). Ceritanya sih biasa aja, ada cinta-cintaannya juga dikit, untung gak banyak. Yang asik karena kisah si ratu peri musim dingin yang licik itu, bikin seru hehehe, kalau gak ada si ratu jahat, pasti bosen bangetlah huahahahaha.

Saturday, September 22, 2007

The Sea of Trolls


Judul : Sea of Trolls
Pengarang : Nancy Farmer, 2006
Penerjemah : Febry E.S
Penerbit : Penerbit Matahati, Juli 2007
Tebal : 543 halaman ; 13,5 x 20 cm

Di sebuah desa, tinggallah Jack bersama ayah, ibu dan adiknya Lucy. Desa kecil itu sangat sederhana. Ayah Jack kakinya cacat, selalu keras pada Jack, namum sangat memanjakan Lucy. Ayah mereka membuai Lucy dengan dongengan bahwa dirinya adalah seorang putri yang hilang. Ibu Jack sendiri wanita yang cerdas, dan diam-diam sepertinya menguasai sedikit ilmu sihir.

Di desa itu juga tinggal Bard, seorang lelaki tua yang suatu hari terdampar di dekat desa mereka. Entah mengapa, seluruh warga desa itu sangat menghormati Bard. Dia tampaknya menguasai sesuatu yang tak bisa dijelaskan mereka.

Suatu hari, sewaktu Jack mengantarkan makanan, Bard memperhatikan bahwa Jack memiliki sesuatu yang berbeda dari anak-anak lain di desa itu. Bard akhirnya mengangkat Jack menjadi anak didiknya, dan bersama Bard, Jack mempelajari banyak hal-hal baru. Jack bisa menguasai kekuatan alam, dan mampu memanggil kabut. Ternyata ada sebuah rahasia yang disimpan oleh Bard. Frith, sang Ratu para beserker, seorang wanita keturunan Troll, ingin membinasakan Bard.

Lalu, sebelum Jack selesai belajar pada Bard, sebuah serangan mengacaukan segalanya. Para Beserker menyerbu desa Jack. Para penduduk semua sempat bersembunyi, karena peringatan dari Jack dan Bard, juga seorang biarawan dari Pulau Suci yang berhasil melarikan diri dari serbuan Beserker. Tapi ternyata, saat Jack dan Lucy tanpa direncanakan keluar untuk mengintai, mereka malah ditangkap.

Dalam penangkapan itu, Jack dan Lucy akhirnya dibawa ke negeri para beserker. Lucy akan dipersembahkan kepada Ratu Frith, sedangkan kemampuan Jack sebagai 'bard' juga menarik perhatian sang pemimpin beserker, Olaf. Ternyata para beserker tak seburuk yang diduga oleh Jack. Dalam pertemuannya dengan ratu Frith, Jack tak sengaja mengeluarkan sihir yang menyebabkan Frith kehilangan rambutnya, dan sosok palsunya sebagai wanita yang sangat cantik juga rusak, menampakkan sosok aslinya yang mengerikan.

Frith mengancam akan membuat Lucy menjadi persembahan pada Freya, jika Jack tak mampu mengembalikan sosok cantiknya. Jack, ditemani Olaf dan Thorgil, seorang anak perempuan yang ingin jadi beserker, harus pergi ke negeri Troll, untuk mendapatkan penangkalnya. Lagi-lagi, Jack menemukan kenyataan yang mengejutkan di negeri Troll.

Cerita ini berlatar belakang masa Anglo-Saxon, dimana orang-orang masih tercampur aduk antara kepercayaan Kristen dan kepercayaan-kepercayaan mistis. Masa-masa dimana para Viking sering melakukan penyerbuan ke Daratan Eropa dan Kepulauan Inggris.

Kisah-kisah mitologi Eropa Utara akan sangat terasa dalam cerita ini. Legenda prajurit Valkyrie yang membawa para pejuang ke Valhalla yang memotivasi Thorgil untuk menjadi Beserker. Bahkan, dalam petualangannya untuk mencari sihir yang bisa mengembalikan sosok Frith, Jack harus bertemu para Norns, penenun nasib. Bagi yang akrab dengan kisah-kisah mitologi Norse, pasti akan sangat menikmati cerita ini.

Saturday, August 18, 2007

Soul Eater



Judul : The Chronicles of Ancient Darkness 3 - Soul Eater
Pengarang : Michelle Paver, 2006
Penerbit : Penerbit Matahati, 2007
tebal : 376 halaman ; 20 x 13 cm

Torak meninggalkan Klan Gagak, dan Renn pun mengikutinya. Serigala sudah bergabung kembali dengan Torak. Torak bertekad untuk mencari para Pemakan Arwah yang masih hidup.

Bertiga mereka mulai perjalanan, tanpa jelas arah yang akan dituju. Namun, baru mereka memulai perjalanan, Serigala hilang! Ada yang menculiknya. Renn dan Torak kehilangan jejak serigala, namun tiba-tiba mereka bertemu dengan si Pejalan, yang memberitahu mereka sebuah ramalan yang aneh.

Berdua mereka menuju ke utara, ke tempat dimana semua tertutup es. Torak mencoba melakukan klanaroh, kemampuannya yang membuatnya istimewa. Namun dia terlalu nekat, dia mencoba memasuki tubuh burung, sesuatu yang tak seharusnya dilakukan. Alam menjadi marah, dan hampir saja mereka berdua menjadi korban keganasan padang es, kalau saja tak ada seorang dari klan Rubah Putih yang kebetulan melihat dan akhirnya menolong mereka.

Di perkemahan klan Rubah Putih, Torak juga mendapatkan informasi baru, sesuatu yang menjelaskan ramalan si Pejalan. Di situ juga, Torak mengetahui bahwa sudah ada penampakan tentang dirinya, yang membuat klan tersebut gelisah melihat dirinya. Klan Rubah Putih melepaskan kedua anak itu untuk mencari Serigala, dan menunjukkan arah dimana kira-kira mereka dapat menemukan tempat yang digambarkan oleh si Pejalan.

Ternyata, di sana Torak menemukan bahwa para Pemakan Arwahlah yang telah menculik serigala, bersama dengan berbagai hewan pemburu lainnya, hewan-hewan yang harus dihormati semua klan. Sesuatu yang sangat jahat dan berbahaya sedang direncanakan oleh para Pemakan Arwah tersebut. Untuk membebaskan Serigala, Torak harus melakukan sesuatu yang sangat keji!

Ikutnya Renn bersama Torak, terbukti sangat membantu Torak melarikan diri dari para Pemakan Arwah dan membawa Serigala. Sementara itu, di antara para Pemakan Arwah sendiri, ada sebuah ramalan yang membuat mereka bingung, sehingga menunda kematian Serigala.

Tapi, walau berhasil melarikan diri dari para Pemakan Arwah, pelarian itu tak berjalan mulus. Para Pemakan Arwah akhirnya berhasil mengejar Torak, Renn dan Serigala. Pertarungan tak terelakkan. Inilah awal pertarungan yang sebenarnya. Tugas Torak kini semakin berat. Semua Pemakan Arwah harus dimusnahkan!

Ini adalah kisah ketiga dari 6 seri yang direncanakan membentuk kisah petualangan Torak dalam seri The Chronicles of Ancient Darkness. Kali ini, Torak dan Renn akan banyak berada di wilayah es, setelah di buku pertama (Wolf Brother) berkelana di hutan, dan di buku kedua (Spirit Walker) tinggal di tepi laut. Torak, Renn, dan Serigala, ketiganya sudah bertambah besar. Kemampuan Torak semakin menonjol di sini. Juga peranan Renn semakin besar, Torak sudah mulai mau mendengarkan pertimbangan Renn.

Aku juga terharu membaca tentang Serigala. Dia begitu menyayangi Torak, dan sangat menderita dalam penculikannya. Dengan bahasanya, Serigala menggambarkan keadaannya dalam penculikan oleh para Pemakan Arwah.

Di bagian akhir buku, kali ini Michelle Paver menulis sedikit tentang Serigala, dan juga kehidupan beruang es. Seperti dijelaskan di sana, dunia Torak ini adalah dunia 6000 tahun yang lalu, masa setelah jaman es, ketika Eropa barat laut masih merupakan suatu hutan yang luas. Kita akan berpetualan bersama Torak dan Serigala, melihat bagaimana dunia di masa itu.

Satu hal yang terlintas, tentang kehidupan di padang es. Baru saja tadi ada berita tentang penurunan lapisan es di kutub selatan, aku langsung teringat buku ini, dan kebayang, betapa berbedanya dunia sekarang dengan di masa itu. Dan bagaimana yah kira-kira permukaan bumi dah suhu udara di masa 20 tahun dari sekarang, dengan proses pemanasan global sekarang?

Wednesday, August 08, 2007

Harry Potter and The Deathly Hallows


Judul : Harry Potter and The Deathly Hallows
Pengarang : J.K. Rowling, 2007
Penerbit : Bloomsbury, London
Tebal : 607 halaman; 20 x 13,5 cm


Di tengah masa hibernasi, biar gak bosen, aku posting dulu deh ini ringkasan cerita Harry Potter 7. Sebelumnya, ringkasan ini sudah pernah aku pajang di blog di Multiply (klik di SINI).

Yah, ini buku terakhir seri Harry Potter. Terus terang aja, bagiku sih, ntah kenapa, yang paling berkesan itu adalah buku ke 3, The Prisoner of Azkaban, dan sampai sekarang, dari seluruh seri Harry Potter, itulah yang menjadi buku favoritku.

Begitu pun, aku tetap saja bisa menikmati kisah Harry dan teman-teman, para guru Hogwarts, bahkan keluarga Dursley. Sudah bertahun-tahun mengikuti cerita ini, dan saat dibuku terakhir ini... mau tak mau, rasanya sedih juga. Jadi gak ada lagi yang ditungguin... eits... gak ada?? banyak.... hue he he he, Kobo gitu, mana pernah habis yang ditungguin, hue he he he (sekarang sedang mengintip-intip untuk menantikan Inkdeath nya mama Funke ^.^)

******************************************************

Chapter 1 : The Dark Lord Ascending
Snape memberitahukan tanggal pasti pemindahan Harry Potter dari Privet Drive kepada voldemort.

Chapter 2 : In Memoriam
Harry Potter masih di Privet Drive, siap-siap untuk pergi. Di Daily Prophet ada artikel tentang Dumbledore yang ditulis teman dekatnya, dan ada juga berita tentang biografi Dumbledore yang ditulis Rita Skeeter.

Chapter 3 : The Dursleys Departing
Keluarga Dursleys harus pergi dari Privet Drive, karena Harry sudah hampir 17 tahun, dan tepat saat ulang tahun Harry ke 17, mantra pelindung rumah itu akan hilang, jadi keluarga Dursley harus sembunyi agar tidak ditangkap oleh Death Eaters. Ternyata akhirnya Dudley berterimakasih pada Harry karena sudah menyelamatkannya dari Dementor.

Chapter 4 : The Seven Potters
Rencana pemindahan Harry melibatkan 13 penyihir, yaitu Tonks, Lupin, Fleur, Bill, Fred, George, Hermione, Ron, Mad-Eye Moody, Mundungus Fletcher, Hagrid, Kingsley, dan Mr Weasley. Enam orang menyamar jadi Harry, dengan ramuan polyjuice, dan Harry yang asli akan ikut dengan Hagrid yang menggunakan motor Sirius. Lupin dan Tonks sudah menikah.

Chapter 5 : Fallen Warrior
Ternyata pemindahan itu sudah diketahui Voldemort (Lihat Bab I), dan mereka diserang. Dalam penyerangan, Hedwig mati terkena mantra dari Death Eater. Tapi Voldemort juga yang sempat mencoba menyerang Harry, tak berhasil, karena tongkat Harry mengeluarkan sihir aneh.
Setiba di The Burrow, ternyata Mundungus Fletcher sudah ber Disaparrate waktu diserang, dan Mad-Eye mati dalam serangan itu. George kehilangan telinganya.

Chapter 6 : The Ghoul in Pyjamas
Di The Burrow, persiapan pesta pernikahan Bill dan Fleur menyita waktu, sehingga Ron, Hermione dan Harry tak sempat merencanakan tindakan mereka untuk menjalankan perintah Dumbledore. Tapi tetap saja, persiapan sudah mereka lakukan. Hermione sudah menyihir orangtuanya supaya lupa dan pindah ke Australia, Fred sudah mempersiapkan ghoul yang dibentuk menyerupai dirinya yang kena penyakit parah untuk mengelabui pemeriksaan.

Chapter 7 : The Will of Albus Dumbledore
Di Hari Ulang Tahun Harry, perdana menteri sihir yang baru, Scrimgeour, datang tiba-tiba, dan memberikan kepada Ron, Hermione dan Harry warisan Dumbledore berupa Deluminator yang mirip pemantik yang bisa mematikan cahaya, buku kuno berisi cerita anak-anak pada Hermione, dan snitch pertama yang ditangkap Harry untuk Harry. Selain itu Harry juga menjadi pewaris pedang Gryffindor, tapi Kementerian tak mau memberikannya. Ternyata kementerian sudah menyimpan barang-barang itu untuk diselidiki, dan baru diberikan karena sudah lewat batas waktu penahanan.

Chapter 8 : The Wedding
Di Hari Pernikahan Bill dan Fleur, Harry harus menyamar, agar para tamu tak tahu dia ada di The Burrow. Krum datang, juga Luna dan ayahnya. Krum kesal pada ayah Luna karena mengenakan satu lambang yang dikenalinya sebagai lambang Grindewalds, si penyihir jahat yang dikalahkan Dumbledore. Selain itu, Harry juga sempat bercakap-cakap sebentar dengan Doge, sahabat Dumbledore, sebelum Bibi Muriel, bibi Ron, datang dan menyela pembicaraan mereka dengan gosip mengenai Dumbledore.

Chapter 9 : A Place to Hide
Ternyata, di pesta pernikahan itu, Scrimgeour, si Perdana Menteri sihir, dibunuh oleh Death Eater, tapi dia tak memberitahukan rahasia tentang Harry. Harry, Ron dan Hermione sempat melarikan diri. Hermione ternyata sudah mempersiapkan diri sehingga barang-barang yang mereka butuhkan selalu berada di dekatnya dalam tasnya yang sudah dijampi-jampi. Mereka akhirnya bersembunyi di Grimmauld Place 12.

Chapter 10 : Kreacher's Tale
Di rumah Sirius itu, akhirnya mereka mengetahui siapa R.A.B, Regulus Arcturus Black, kakak kandung Sirius, salah satu kesayangan Kreacher. Dengan memanfaatkan itu, akhirnya Harry berhasil mendekati Kreacher, dan Kreacher mau melayani Harry, Ron dan Hermione. Apalagi setelah Harry memberikan loket berinisial RAB itu pada Kreacher, yang membuat Kreacher jadi memujanya. Dari Kreacher, Harry akhirnya tahu bahwa Horcrux yang asli, yang selama ini ternyata tersimpan di rumah itu, sudah diambil oleh Mundungus Fletcher. Harry menyuruh Kreacher mencari Mundungus.

Chapter 11 : The Bribe
Berhari-hari mereka harus menunggu hingga Kreacher kembali. Sementara itu rumah itu selalu diintai oleh para Death Eater. Sewaktu Kreacher akhirnya berhasil mendapatkan Mundungus, dari Mundungus mereka mengetahui kalau loket Horcrux yang asli berada di tangan seorang pegawai kementerian, yang berdasarkan deskripsi dari Mundungus, Harry dan teman-teman langsung tahu kalau yang dimaksud adalah Umbridge.


Chapter 12 : Magic is Might
Persiapan menyusup ke Kementrian pun dilakukan. Mereka berlatih berhari-hari, dan pada hari pelaksanaan, mereka berhasil mendapatkan tiga orang anggota kementrian untuk dijadikan penyamaran, dengan ramuan Polyjuice.

Chapter 13 : The Muggle-born Registration Commission
Ron, Hermione dan Harry berhasil menyusup. Hermione terjebak bersama Umbridge, ke persidangan Darah Lumpur. Sementara itu, Harry berhasil masuk ke ruang kerja Umbridge. Di pintu Umbridge, Harry menemukan mata Mad-Eye yang dipasang Umbridge di situ. Namun Harry tak menemukan Horcrux.

Chapter 14 : The Thief
Ternyata Horcrux itu dipakai oleh Umbridge. Harry berhasil merebut dari Umbridge, dan membebaskan orang-orang yang dituduh sebagai pencuri sihir, karena bukan dilahirkan dari keluarga penyihir.Mereka melarikan diri, namun ternyata ada satu pegawai kementrian yang mengikuti ke Grimmauld Place, sehingga Ron, Hermione dan Harry harus meninggalkan tempat itu dan bersembunyi di tempat lain.

Chapter 15 : The Goblin's Revenge
Dalam pelarian, ternyata Hermione sudah membawa tenda, sehingga mereka berpindah-pindah tempat. Sambil memutuskan tindakan apa selanjutnya. Pengejaran terhadap orang-orang yang dikaitkan dengan Order, juga orang-orang yang dianggap bersahabat dengan Muggle semakin hebat. Suatu hari mereka mendengarkan sekelompok orang di dekat tenda mereka, ternyata ada Goblin yang diusir dari Gringotts, dan membahas, bahwa pedang Gryffindor yang ada di Hogwarts itu palsu.

Chapter 16 : Godric's Hollow
Hermione dan Harry bertengkar dengan Ron. Penyebabnya adalah Ron yang menjadi sangat sensitif, karena mengenakan loket Horcrux. Ron meninggalkan mereka. Setelah tinggal berdua, Harry dan Hermione memutuskan mencari petunjuk ke Godric Hollows, tempat rumah Harry, desa asal Dumbledore, dan tempat Bathilda, narasumber Rita Skeeter dalam menulis buku tentang Dumbledore, tinggal

Chapter 17 : Bathilda's Secret
Di Godric Hollow, Hermione melihat tanda segitiga yang dilihatnya juga di buku yang diwariskan Dumbledore padanya, segitiga dengan garis dan lingkaran yang terlihat seperti mata, di pekuburan. Lalu mereka juga akhirnya bertemu Bathilda, yang ternyata adalah Nagini yang meniru Bathilda, yang sudah dibunuh sebelumnya. Nagini menyerang Harry, namun Hermione dan Harry berhasil lolos.

Chapter 18 : The Life and Lies of Albus Dumbledore
Tongkat Harry patah sewaktu Hermione mencoba menolongnya. Tapi mereka berhasil mendapatkan satu copy buku Rita Skeeter. Di situ diungkapkan fakta bahwa Dumbledore ternyata pernah berteman dengan Grindewald, si penyihir hitam.

Chapter 19 : The Silver Doe
Ron akhirnya kembali. Waktu Harry berjaga, dia melihat sesosok patronus berbentuk burung merpati perak, membimbingnya ke sebuah kolam, dan di dasar kolam, ada pedang Gryffindor (bisa menghancurkan Horcrux, karena ada racun basilisk yang tertinggal di situ sewaktu Harry menggunakannya membunuh Basilisk di kamar rahasia di Hogwarts. Racun basilisk bisa menghancurkan Horcrux). Tapi Harry hampir tenggelam waktu mengambil pedang, untunglah Ron yang juga melihat patronus itu, melihatnya dan menolongnya. Satu Horcrux lagi sudah dihancurkan. (Berarti sudah ada 3 horcrux : buku harian Tom Riddle, cincin di tangan voldemort, dan kini, loket slytherin)

Chapter 20 : Xenophilus Lovegood
Harry, Ron dan Hermione memutuskan untuk pergi menemui ayah Luna, untuk menanyakan tentang lambang berbentuk segitiga yang dipakainya.

Chapter 21 : The Tale of The Three Brothers
Di rumah Luna, mereka bertemu ayah Luna dan bertanya tentang lambang segitiga. Ternyata, ada di cerita dalam buku yang diberikan Dumbledore. Tentang tiga bersaudara yang mencoba menipu Kematian. Yang pertama meminta tongkat yang cocok untuk penyihir yang sudah mengalahkan kematian. Yang kedua meminta kekuatan untuk memanggil orang yang sudah mati, dan dia diberikan sebuah batu sakti. Dan yang paling bungsu meminta sesuatu yang bisa membuatnya pergi kemana-mana tanpa diikuti oleh Kematian, dan dia mendapatkan Jubah Tak Terlihat.

Chapter 22 : The Deathly Hallows
Jadi itulah arti lambang segitiga itu : The Deathly Hallows, tiga benda ajaib : garis itu melambangkan tongkat kayu Elder, bulatan adalah batu pembangkit orang mati, dan segitiga adalah Jubah Ajaib.
Ternyata ayah Luna menipu mereka, memanggil Death Eater, karena para Death Eater menyandera Luna. Tapi Harry dan kawan-kawan berhasil juga meloloskan diri. Tapi tak berumur lama. Sewaktu tiba di tenda, mereka berdiskusi, Harry tak sengaja mengucapkan nama Voldemort, yang sudah dimantrai untuk melacak orang-orang Ordo Phoenix.

Chapter 23 : Malfoy Manor
Akibatnya, keberadaan mereka terlacak, dan walaupun sudah mencoba menyamar, tetap saja ketahuan. Mereka dibawa ke Malfoy Manor, dan di sana bertemu dengan Bellatrix, dan keluarga Malfoy. Namun voldemort masih di luar negeri. Lalu Bellatrix mencoba menyiksa Hermione untuk mendapatkan informasi.Sementara itu, Harry dan Ron, yang tertangkap bersama-sama dengan Dean dan si goblin Griphook, dimasukkan ke penjara. Di sana ternyata sudah ada Luna dan Mr Ollivander. Harry lalu melihat potongan cermin Sirius, dan melihat mata biru Dumbledore di situ, lalu dia meminta tolong. Yang muncul adalah Dobby, yang membantu mereka berdisaparrate ke rumah Bill. Pertama dia membawa Luna, Dean dan Mr Olivander, sementara Harry dan Ron berusaha membebaskan Hermione. Peter Pettigrew mencoba menyerang Harry, tapi justru gagal karena tangan palsu pemberian Voldemort malah berbalik menyerang dirinya sendiri sewaktu dia mencoba menyerang Harry.

Chapter 24 : The Wandmaker
Mereka berhasil melarikan diri dari Malfoy Manor berkat bantuan Dobby, namun ternyata Dobby terkena lemparan pisau Bellatrix dan tak terselamatkan. Harry pun menguburkan Dobby di dekat rumah Bill. Lalu Harry mencoba menanyai Griphook tentang ruang penyimpanan harta keluarga Bellatrix Lestrange, karena menduga Bellatrix menyembunyikan satu Horcrux di situ, cangkir Hupplepuff. Lalu setelah itu dia menanyai Ollivander tentang tongkat kayu elder yang legendaris itu. Di situ, Harry mengetahui, bahwa itu adalah tongkat Dumbledore, dan saat itu juga, Voldemort sedang dalam perjalanan mencari tongkat itu.

Chapter 25 : Shell Cottage
Tiga sekawan itu membahas tentang semua ini. Mereka menyimpulkan, kalau Voldemort tak mengetahui tentang Deathly Hallows, tiga benda sakti yang bisa mengalahkan kematian itu. Dia hanya menyimpulkan kalau tongkat kayu elder itu akan bisa mengalahkan Harry, karena tongkatnya sendiri menolak menyerang Harry dan bahkan tongkat pinjaman dari ayah Malfoy pun tak bisa mengalahkan tongkat Harry. Mereka juga menyusun rencana menyusup ke Gringotts. Griphook mau membantu dengan imbalan pedang Gryffindor.

Chapter 26 : Gringotts
Anak Lupin lahir. Ted namanya. Harry dan kawan-kawan menyusup ke Gringotts. Hermione menyamar jadi Bellatrix, lalu berhasil masuk ke ruang penyimpanan, dan berhasil juga dapat cangkir Hupplepuff itu. Walau ketahuan, mereka berhasil melarikan diri dengan menggunakan naga penjaga Gringotts. Namun kini pedang Gryffindor tak ada, untuk menghancurkan Horcrux keempat ini.

Chapter 27 : The Final Hiding Place
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi ke Hogwarts, karena yakin bahwa Horcrux terakhir, selain Nagini, disimpan di situ. Sampai saat itu, Voldemort belum tahu kalau Horcrux-Horcrux nya sudah separuh dihancurkan.,

Chapter 28 : The Missing Mirror
Ternyata di desa Hogsmeade, si penjaga Hog's Head adalah adik Dumbledore, Aberforth. Dialah yang dilihat Harry di cermin ajaib, yang mengirimkan Dobby membantu mereka. Dari Aberforth, mereka mengetahui kebenaran tentang kisah masa lalu keluarga Dumbledore. Lalu Aberforth juga menunjukkan jalan masuk ke Hogwarts, satu-satunya jalan yang tak dijaga karena tak ada yang tahu. Lalu disini, ternyata Neville sudah menunggu, dan demikian juga puluhan murid Hogwarts lainnya, ada di Ruang Perlengkapan, yang menjadi markas mereka. Semua menyambut kedatangan Harry.

Chapter 29 : The Lost Diadem
Harry akhirnya tahu, Horcrux yang digunakan Voldemort dari Ravenclkaw, tiara yang digunakan Rowena Ravenclaw. Namun tiba-tiba di diserang oleh salah satu guru baru yang Death Eater, Alecto Carrow.

Chapter 30 : The Sacking of Severus Snape
Tapi ternyata serangan itu mengundang keributan, dan akhirnya para guru datang, termasuk Professor McGonagall. Dan guru-guru itu pun merencanakan menjatuhkan Snape. McGonagall berhasil mengalahkan Snape dalam duel, dan Snape melarikan diri. Harry akhirnya berhasil mendapatkan sumber informasi di mana tiara itu berada. Dari hantu Grey Lady yang ternyata mati dibunuh oleh Baron Berdarah, kekasihnya, yang diutus ibunya, Rowena Ravenclaw untuk mengejarnya karena dia mencuri tiara Rowena.
Persiapan perang pun dilakukan. Para anggota Order, dan simpatisan lain berdatangan ke Hogwarts.

Chapter 31 : The Battle of Hogwarts
Sementara itu, ternyata Ron dan Hermione pergi ke ruang rahasia, dan mengambil taring basilisk, dan menghancurkan Horcrux yang mereka pegang. Ron yang membuka pintunya, karena dia belajar sedikit parseltongue sehingga bisa membuka pintu di kamar mandi itu.
Lalu mereka bertiga menuju ruang perengkapan, untuk mencari horcrux tiara Ravenclaw. Ternyata Malfoy, Crabbe dan Goyle sudah ada di situ. Harry berhasil memnemukan tiara tua itu, tapi serangan Crabbe, mengeluarkan mantra Fiendfyre untuk menyerang, namun akhirnya malah mencelakakan dirinya sendiri. Crabbe tewas, namun ternyata mantra terlarang itu berhasil menghancurkan tiara Horcrux. Harry malah menyelamatkan Draco Malfoy dan Goyle.
Sementara itu, Voldemort sudah mengetahui bahwa Horcruxnya sudah pada dihancurkan. Dia sudah tiba di luar Hogwarts, demikian juga para Death Eater. Perang dimulai. Ternyata Percy pun bergabung kembali. Tapi dalam perang ini, Fred terkena serangan dan mati.

Chapter 32 : The Elder Wand
Di Hogwarts, mereka sudah mengumpulkan para korban. Tonks dan Lupin pun berada di antara yang tewas.
Sementara itu, Voldemort sedang berbicara dengan Snape. Dan Harry yang berhasil mengetahui kalau Voldemort ada di Shrieking Shack, menyusup lewat jalur rahasia. Di situ dia melihat bagaimana akhirnya Voldemort menyerang Snape, karena merasa bahwa tongkat yang diambilnya dari kuburan Dumbledore tidak seistimewa seharusnya. Snape dibunuh oleh Voldemort. Namun di akhir hidupnya, Snape berhasil mengeluarkan cairan Pensieve, yang diambil oleh Harry.

Chapter 33 : The Prince's Tale
Kisah Severus Snape. Dari kecil ternyata sudah suka pada Lily. Membelot dari Voldermort setelah Dark Lord itu mengincar Lily. Pada Dumbledore, Snape berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungi Lily, dan setelah Lily mati, dia harus melindungi Harry. Ternyata kematian Dumbledore juga atas permintaan Dumbledore, jadi dia minta agar Snape yang membunuhnya, karena ternyata memang Dumbledore saat itu sudah sekarat, akibat Horcrux cincin yang dipakainya.
Selain itu, kini Harry tahu, kalau dirinya adalah Horcrux ketujuh Voldemort. Dan dia harus mati untuk bisa menghancurkan Horcrux itu. Di situlah dia memutuskan untuk mendatangi Voldemort

Chapter 34 : The Forest Again
Harry datang ke Hutan Terlarang. Sebelumnya, dia sempat memberi pesan terakhir pada Neville, untuk membunuh Nagini. Harry juga akhirnya berhasil membuka Snitch yang diberikan Dumbledore, dan menemukan batu pemanggil orang mati itu. Dia menghadapi Voldemort, didampingi oleh Sirius, Ayah dan Ibunya, dan juga Lupin. Voldemort pun membunuh Harry

Chapter 35 : King's Cross
Harry tiba di suatu tempat yang aneh. Dia bertemu Dumbledore, yang menjelaskan tentang banyak hal. Dumbledore mengatakan, kalau Harry belum mati.

Chapter 36 : The Flaw in the Plan
Harry sadar kembali. Tapi Voldemort dan para Death Eater belum tahu. Sewaktu membunuh Harry, Voldemort kesakitan. Mengira Harry mati, dia menyuruh Hagrid, yang ditawannya, untuk menggendong Harry untuk ditunjukkan pada orang-orang di Hogwarts. Sempat terjadi kepanikan, sewaktu mereka melihat Hagrid berjalan menggendong tubuh Harry. Namun ternyata, Neville masih ingat pesan Harry. Dia mencoba menyerang Nagini yang berada di dekat voldemort, tapi Voldemort menangkapnya, dan mencoba menyuruh Topi Seleksi untuk menyeleksi Neville, namun ternyata yang muncul adalah pedang Gryffindor, yang akhirnya digunakan Neville untuk menghancurkan Nagini. Harry berhasil merebut tongkat Elder, dan mengalahkan Voldemort.
Setelah Voldemort kalah, akhirnya Harry, Hermione dan Ron masuk ke kamar kepala sekolah, bercakap-cakap dengan lukisan Dumbledore. Harry memutuskan tidak menggunakan tongkat Elder, hanya digunakannya untuk memperbaiki tongkat bulu phoenixnya. Dan batu pemanggil orang mati juga sudah dibuangnya di tepi hutan terlarang. Hanya Jubah Ajaib saja yang masih disimpannya.

Nineteen Years Later :

Harry menikah dengan Ginny. Punya 3 anak, James, Albus Severus, dan Lily. Hermione dan Ron juga menikah dan punya dua anak, Rose dan Hugo. Anak Lupin, Ted, pacaran dengan anak Bill & Fleur, Victoire. Draco juga sudah punya anak, Scorpius.

Tuesday, July 31, 2007

Century


Judul : Century
Pengarang : Sarah Singleton, 2005
Penerjemah : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal : 248 halaman; 20 x 13,5 cm

Keluarga Verga adalah pendatang di Inggris. Mereka sebenarnya berasal dari Italia. Namun sekarang yang tinggal adalah Mercy dan adiknya, Charity, bersama ayahnya, Trajan, dan dua orang pembantu, yang juga keluarga Verga, Galatea dan Aurelia. Ibu mereka sudah meninggal.

Kehidupan kedua gadis itu agak tak lazim. Mereka baru bangun setelah hari gelap, dan begitu pagi menjelang, mereka pun jatuh tertidur. Mercy sendiri punya keunikan, dia bisa melihat hantu. Hantu-hantu tersebut tak menakutkannya. Ada hantu seorang anak kecil seumur dirinya, lalu ada juga hantu kucing kuning yang sering ditemukan di dapur. Tak satu pun yang membuatnya takut. Keluarganya tahu kemampuan Mercy, dan tak seorang pun di antara mereka yang bisa melihat apa yang dilihat Mercy.

Suatu hari, Mercy berjalan-jalan sampai ke kolam di ujung Padang Penyulingan. Dari balik es yang menutupi kolam, dia melihat hantu seorang wanita. Hantu yang ini belum pernah dilihatnya. Dan sepertinya hantu itu ingin mengatakan sesuatu, tapi Mercy tak dapat mendengarnya.

Lalu tak lama kemudian, Mercy bertemu seorang laki-laki misterius, yang mengaku bernama Claudius. Mercy belum pernah bertemu dengannya, dan dia tahu, kalau laki-laki itu bukan hantu. Claudius mengatakan sesuatu yang meresahkan dirinya. Kata Claudius, Mercy tak bisa mempercayai Trajan dan Galatea. Ada rahasia mengenai kematian ibu Mercy, Thecla.

Sejak itu, Mercy mulai bertanya-tanya, mengapa dia tak ingat masa-masa bersama ibunya, dan kapan ibunya meninggal, di mana makamnya. Karena pertanyaan-pertanyaan, dan keanehan sikap Mercy, kehadiran Claudius akhirnya diketahui juga oleh sang ayah. Begitu pun, Trajan tak mau mengungkapkan kepada Mercy dan Charity apa yang sebenarnya terjadi. Mercy dan Charity pun mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hidup mereka.

Hantu anak kecil yang sering dilihat Mercy, akhirnya membawa Mercy ke sebuah pintu yang mengungkapkan awal dari misteri yang menyelimuti rumah mereka, Century. Yah, Century adalah nama rumah tempat keluarga Verga tinggal. Ada lapisan-lapisan kejadian yang saling menyelubungi satu sama lain. Tugas Mercy adalah masuk ke tiap lapisan hari-hari itu, untuk sampai pada hari yang terdapat pada lapisan paling dalam, dan menemukan rahasia yang disembunyikan Trajan. Mantra harus dipatahkan.

Terdengar menakutkan? Bukan, ini bukan cerita hantu. Bukan juga cerita yang menyeramkan, meneggangkan memang, tapi menurutku sih tidak seram.

Keluarga Verga diceritakan mempunyai keistimewaan yang akan mengingatkan kita pada manusia-manusia istimewa, para Highlander, manusia yang tak pernah menjadi tua dan mati. Mereka bisa mati, tapi bukan karena tua atau sakit, hanya kalau terluka parah.

Di bagian awal buku ini, kita masih akan bertanya-tanya apa sebenarnya yang akan diceritakan, lalu perlahan-lahan, semakin jauh, satu persatu misteri yang menyelimuti Century akan terkuak. Rasa penasaran akan membuat kita tak bisa berhenti mengikuti Mercy membawa kita ke pusat lingkaran, awal segala misteri.

Sarah Singleton sendiri sudah menulis beberapa novel remaja dan satu novel dewasa, novella, cerita pendek, yang semua bertema dark-fantasy. Buku lain dari Sarah Singleton, Heretic, juga kabarnya akan segera terbit.

Tuesday, July 17, 2007

The Bartimaeus Trilogy : The Golem's Eye


Judul : Bartimaeus Trilogy - Buku Dua : Mata Golem (The Golem's Eye)
Pengarang : Jonathan Stroud, 2004
Penerjemah : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal : 624 halaman; 20 x 13,5 cm

Di Praha, tahun 1868, pasukan Inggris yang dipimpin oleh Gladstone menyerang Ceko. Bartimaeus ditugaskan oleh masternya, penyihir kerajaan, untuk melindungi Raja dan burung-burung nurinya. Di situlah Bartimaeus menyaksikan kedahsyatan kekuatan yang dimiliki Gladstone, kibasan tongkatnya mampu meluluhlantakkan tembok-tembok kota.

London, 150 tahun kemudian. Nathaniel, si penyihir muda kini sudah berusia 14 tahun. Sudah dua tahun berlalu sejak peristiwa percobaan pengkhianatan oleh Lovelace yang berhasil digagalkannya. Kini Nathaniel tinggal bersama masternya yang baru, Mrs Whitwell, kepala Departemen Pertahanan. Dia juga kini bekerja di Departemen Urusan Dalam Negeri, dan karirnya sungguh luar biasa. Bukan hanya karena perhatian khusus dari Mrs Whitwell dan Perdana Menteri Deveraux, namun juga memang Nathaniel sendiri sangat maju dalam ilmu sihirnya.

Keberhasilannya mengundang rasa iri juga dari banyak pihak. Dia yang begitu muda sudah berhasil mendapatkan begitu banyak perhatian, bahkan atasannya sendiri, dan juga masternya, semua menyimpan rasa tak suka padanya.

Sementara itu, Resistance, sekelompok Commoner yang berusaha menjatuhkan para penyihir, sedang melakukan berbagai aksi mereka. Pencurian benda-benda sihir, grafiti yang menghina pemerintahan penyihir, itulah aksi mereka.

Kitty, seorang gadis remaja yang tergabung dengan Resistance, pada awalnya hanyalah seorang gadis commoner biasa. Namun ternyata dia punya keistimewaan, yang suatu hari dikenali oleh Mr Pennyfeather, sang pemilik toko seni yang menjadi pemimpin Resistance.

Saat itu, ditengah berbagai aksi Resistance, tiba-tiba muncul suatu aksi pengerusakan yang cukup luar biasa. Para Menteri menyalahkan Resistance, namun Nathaniel tak yakin itu dilakukan oleh mereka.

Kecurigaaannya akhirnya dibuktikan oleh Bartimaeus, yang dipanggilnya untuk membantu. Ada golem, mahkluk ciptaan penyihir, yang sudah tak pernah ada lagi sejak penyerbuan Inggris ke Praha. Banyak yang tak percaya dan mencemooh analisa Nathaniel. Bahkan kunjungannya ke Praha pun tak mampu meyakinkan mereka. Malah dia dituduh berkhianat.

Kisah Nathaniel dan si jin super sombong dan tinggi hati, Bartimaeus berlanjut kembali. Dua tahun sudah berlalu sejak Nathaniel membebaskan Bartimaeus sebelum dia memanggilnya kembali. Banyak perubahan terjadi, termasuk karakter Nathaniel.

Di sini juga kita akan mengenal lebih jauh pihak Resistance. Beberapa tokoh kecil di buku pertama juga akan muncul disini. Walau latar belakang beberapa tokoh kecil di buku pertama sudah diungkapkan disini, hingga akhir, masih akan kita temui beberapa misteri yang mungkin baru akan kita dapatkan jawabannya di buku ketiga (walau sebenarnya sih.... aku sudah bisa menduga-duga... hehehehe).

Bartimaeus sendiri, tetap memiliki karakter yang sangat tinggi hati, selalu menganggap rendah jenis demon lain dari tingkat yang lebih rendah, dan juga hubungan penyihir-demon, dan penyihir-manusia. Tapi sebenarnya, walau dia berusaha menyangkalnya, dia tertarik sekali pada beberapa penyihir dan manusia, seperti Nathaniel dan Kitty. Lucu banget kog, membaca bagaimana si Bartimaeus berusaha meyakinkan dirinya kalau dia tak perduli sama sekali pada masternya. Namun tak urung dia tak bisa menahan diri untuk menasihati Kitty.

Satu adegan yang paling aku suka adalah sewaktu Bartimaeus harus mengejar afrid penjaga kuburan Gladstone. Waktu dia mendatangi dua imp ketakutan, dan kedua imp itu berusaha sembunyi di balik yang lain, aduh, benar-benar lucu. Komentar-komentar Bartimaeus, ditambah percakapan dengan para imp dan si afrid, benar-benar akan membuat kita terpingkal-pingkal.

Selain kocak, jangan salah! Di sini kita juga akan diajak berpacu mengikuti intrik-intrik politis yang terjadi di baik di dalam pemerintahan Inggris versi penyihir maupun intrik-intrik hubungan internasional. Juga kisah-kisah pembalasan dendam yang berakhir dengan kematian. Juga ada kisah ketidakadilan, si lemah melawan si kuat, walau yang kuat yang bersalah, namun yang lemah tetap kalah. Yah, ramuan fantasi yang sangat meriah!

Wednesday, July 04, 2007

ABARAT : Days of Magic, Nights of War


Judul : Abarat - Siang-Siang Magis, Malam-Malam Peperangan (Days of Magic, Nights of War)
Pengarang : Clive Barker, 2004
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal : 508 halaman; 23 x 14,5 cm

Setelah berhasil melarikan diri dari penyihir Wolfswinkel di pulau Ninnyhammer, Candy dan Malingo kini berjalan-jalan di kepulauan Abarat, berusaha melarikan diri dari kejaran anak buah sang penguasa tengah malam, Christopher Carrion.

Di pulau Huffaker, pulau jam 9 malam, Criss-cross Man beserta beberapa pasukan lumpur milik Carrion, berhasil menemukan Candy dan Malingo, namun keduanya berhasil juga meloloskan diri dan terjun ke laut Izabella. Di laut mereka ditolong oleh sebuah perahu penangkap ikan dari Effret.

Dalam perjalanan, mereka diserang sekelompok Zethek yang ingin mencuri ikan tangkapan para nelayan itu, dan disinilah Candy entah dari mana bisa mengeluarkan sihir yang akhirnya berhasil menolong mereka.

Dari situ, mereka ke pulau Babilonium, pulau jam enam sore yang selalu terang benderang karena karnaval yang berlangsung terus-menerus. Di sini, Candy dan Malingo menyaksikan sebuah pertunjukan komedi, yang bercerita tentang pelarian mereka dari si penyihir Wolfswinkel, yang entah bagaimana bisa tersiar ke seluruh Abarat.

Tapi, ternyata Criss-cross Man berhasil menemukan Candy, dan akhirnya membuatnya terpisah dari Malingo. Candy malah terbawa ke pulau jam tujuh sore, Scoriae. Di sini, dia menemukan bekas istana senja milik Raja Claus dari Pulau Siang. Dan disini juga, Candy berhasil mengalahkan Criss-cross Man dengan sihir yang lagi-lagi tak pernah dia tahu dimilikinya.

Sementara itu, Christopher Carrion sendiri juga punya rencana untuk menguasai kepulauan Abarat dengan kegelapan. Rencana kelam, yang hanya diganggu oleh bayang-bayang Candy yang entah bagaimana membuatnya resah. Sesuatu mengingatkannya pada kisah cinta lamanya pada Putri Boa, yang tak membalas cinta Christopher. Putri Boa yang sudah mati dimakan naga utusan Christopher Carrion pada hari pernikahannya dengan Finnegan, kekasihnya.

Keresahan Christopher ini diketahui juga oleh neneknya, Mater Motley, wanita tua yang jahat luar biasa, si pencipta pasukan lumpur. Mater Motley mencari cara sendiri untuk mengenyahkan Candy.

Malingo, setelah terpisah dari Candy, akhirnya bertemu dengan John Mischief, yang tak sengaja tergabung dengan kelompok yang sedang mencari Finnegan.

Akhirnya mereka semua dipertemukan dalam suatu pertempuran, yang membawa Laut Izabella kembali ke Hereafter, dunia nyata tempat asal Candy. Kota Chickentown diserbu gelombang pasang!

Pertempuran antara kelompok Candy dan kelompok Carrion, akhirnya dimenangkan oleh Candy, walau dia akhirnya harus meninggalkan keluarganya, dan kembali ke Abarat. Namun Mater Motley belum kalah, walau Christopher Carrion sudah berhasil dilenyapkan, namun benarkah?

Setelah menunggu cukup lama dan sabar (3 tahun), dengan perjuangan menahan godaan untuk beli edisi bahasa inggrisnya, hehehe, akhirnya terbit juga buku kedua ini. Di buku kedua ini, kita mulai mengetahui, apa yang membawa Candy ke Abarat. Juga lebih banyak cerita tentang keluarga Candy, ibunya, ayah, dan adik-adiknya.

Juga di sini kita akan mengetahui dari mana asalnya Candy bisa memiliki kekuatan sihir, dan mengapa penduduk Chickentown memang pernah mencium aroma laut, walaupun berlokasi ratusan mil dari pinggir pantai.

Seperti di buku pertama, kita juga masih akan menemukan banyak ilustrasi berwarna yang dibuat oleh Clive Barker, yang membawa kita semakin masuk ke dunia Abarat yang eksotis dan misterius.

Monday, July 02, 2007

ABARAT



Judul : Abarat
Pengarang : Clive Barker, 2002
Penerjemah : Sutanty Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2003
Tebal : 440 halaman; 23 x 14,5 cm

Candy Quackenbush tinggal Di sebuah kota kecil di negara bagian Minnesota, kota bernama Chickentown. Kota yang sangat membosankan, yang dihuni oleh lebih banyak ayam daripada manusia. Ayahnya seorang pengangguran pemabuk, hidup sungguh membosankan bagi Candy.

Suatu hari, gurunya memberi tugas untuk menulis 10 fakta tentang kota tempat tinggalnya itu. Mencoba mencari di perpustakaan, yang ditemukan Candy hanya data-data membosankan tentang jumlah penduduk dan industri peternakan ayamnya. Candy memutuskan bertanya pada ibunya, yang memberinya ide untuk bertanya lagi pada Norma, yang bekerja di sebuah hotel di kota itu.

Dari Norma, dia mengetahui ada sejarah yang tak diungkapkan, kota itu bernama kota Murkitt, dari nama pendirinya, namun beberapa puluh tahun yang lalu nama itu diganti, dan keturunan terakhir sang pendiri mati bunuh diri di hotel tersebut.

Karya tulis Candy membuat gurunya marah, dan Candy dihukum ke ruangan kepala sekolah, namun Candy malah melarikan diri dan akhirnya berjalan hingga ke sebuah padang rumput di batas kota.

Di sinilah petualangan Candy dimulai, tiba-tiba saja dia bertemu John Mischief dan ketujuh saudaranya yang tinggal di kepalanya. John Mischief sedang dikejar-kejar oleh Shape, dan minta bantuan Candy untuk menyalakan lampu suar. Candy berhasil! Walau dia sendiri terheran-heran, bagaimana dia bisa merasa begitu familiar dengan semua ini. Dan LAUT! Laut tiba-tiba muncul di padang rumput itu.

Itulah Laut Izabella, yang membawanya ke kepulauan Abarat. Kepulauan di mana setiap jam memiliki pulaunya sendiri, atau kebalikannya, setiap pulau memiliki jamnya masing-masing.

Berawal dari Pulau Yebba Dim Day, pulau Jam Delapan Malam. Sang penguasa tengah malam, Christopher Carrion, yang mengutus Shape untuk mengejar John Mischief dan saudara-saudaranya, mengetahui tentang keberadaan Candy. Dia mulai menyuruh orang-orangnya mengejar dan mengangkap Candy.

Candy pun harus melarikan diri. Selalu saja ada pertolongan menyelamatkan Candy. Hingga akhirnya dia tiba di pulau Ninnyhammer, tempat si penyihir Wolfswinker, dan bertemu Malingo, budak si penyihir yang dibantu Candy melarikan diri.

Buku ini mengawali kisah di kepulauan Abarat, yang direncanakan akan menjadi 4 buku oleh penulis. Hingga sekarang, baru buku kedua yang sudah terbit.

Di buku pertama ini, kita diajak berkenalan dengan kepulauan ajaib tersebut. Dunia di mana bahkan konstelasi bintang-bintangnya pun berbeda dengan di dunia nyata. Setiap pulau punya jam masing-masing, yang tak pernah berubah. Lalu ada lagi satu pulau istimewa, pulau jam ke dua puluh lima, pulau misterius yang selalu diselubungi kabut, tempat aneh, yang konon orang yang ke sana, kalaupun berhasil kembali, tak lagi cukup waras untuk bisa menceritakan seperti apa di sana. Berbagai jenis makhluk yang tak bisa disebutkan jenisnya menjadi penghuni kepulauan tersebut.

Pertama kali sih, memang tertarik karena gambar sampul yang begitu mencolok, yang juga akan kita temukan di dalam buku ini. Sepanjang cerita, kita akan ditemani oleh ilustrasi-ilustrasi yang dilukis sendiri oleh Clive Barker. Menurutnya, dia sudah membuat 300 ilustrasi untuk melengkapi cerita Abarat, dan 100-an lukisan tersebut akan kita nikmati dalam buku pertama ini.

Bagi yang suka cerita fantasi, buku ini tentu saja sayang sekali untuk dilewatkan.

Tuesday, June 12, 2007

Peter Dan Penangkap Bintang



Judul : PETER DAN PENANGKAP BINTANG (Peter and the Starcatchers)
Pengarang : Dave Barry & Ridley Pearson (2004)
Penerjemah : Maria Masniari Lubis
Penerbit : Qanita, April 2007
Tebal : 492 halaman; 19,5 x 13,5 cm

Buku ini bercerita tentang seorang anak yatim piatu, Peter (tanpa nama belakang), dan beberapa orang yatim piatu lainnya akan berangkat ke suatu negeri jauh, Rundoon, tanpa tahu mengapa mereka dikirim kesana dan untuk apa. Mereka ikut dengan kapal bobrok bernama Neverland.

Di kapal itu, Peter berkenalan dengan seorang gadis cilik bernama Molly. Perjalanan itu ternyata tak semulus yang disangka. Ternyata kapal itu memuat sebuah peti misterius. Peter akhirnya mengetahui rahasia hebat yang tak pernah diketahui banyak orang sebenarnya. Peti itu ternyata berisi bongkahan batu bintang yang sangat besar. Peter akhirnya mengetahui keberadaan kaum Starcatchers yang berjuang mengumpulkan serbuk bintang, agar jangan sampai dikuasai Pihak Yang Lain (The Other). Serbuk itu sangat berbahaya jika digunakan tidak berhati-hati. Banyak keganjilan yang ditimbulkannya, tetapi, serbuk itu juga bisa membuat pemakainya dapat terbang, seperti yang dialami Peter.

Sekelompok bajak laut pimpinan Kapten Black Stache ternyata mengincar peti tersebut, yang semula disangka dibawa oleh kapal mewah yang berangkat bersamaan dengan Neverland. Tapi Kapten Stache akhirnya mengetahui, setelah meninggalkan ayah Molly di tengah laut, bahwa peti itu ada di Never Land.

Kapal Never Land pun diserang Black Stache, tetapi badai mengacaukan semua, peti itu. Peter dan Molly, yang berkat serbuk bintang, berhasil melarikan diri. Tak disangka, keempat teman Peter dan seorang kelasi yang baik berhasil selamat juga dari badai. Demikian juga Black Stache, yang menggunakan kapal curian. Tetapi Neverland hancur berantakan.

Mereka pun terdampar di pulau terpencil, tempat ada sekelompok penduduk asli akhirnya menangkap Peter dan teman-temannya. Molly sendiri berhasil selamat dan berusaha mencari peti tersebut.

Peti itu ternyata terdampar di sebuah laguna, dan kebocoran peti membuat beberapa ekor ikan dekat peti itu berubah menjadi putri duyung.

Peter dan teman-temannya diumpankan oleh para penduduk asli ke buaya raksasa, tetapi berhasil selamat karena kedatangan Molly. Sementara itu, para bajak laut juga sudah tiba di pulau itu. Selain itu ada juga orang yang menguasai kapal Neverland (karena kapten kapal aslinya tukang mabuk, sehingga tidak bisa menjalankan kapal tersebut) yang bermaksud untuk mendapatkan juga peti tersebut.

Ini sinopsis cerita Peter dan The Starcatcher yang dulu pernah aku komen di blog ini, kira-kira setahun yang lalu di sini. Waktu itu aku belum tahu deh kalau buku ini bakal diterjemahin.

Dan sekarang.... menjadi book of the month Club Baca Online Qanita (eh kog sepi yah?)

Setelah kubaca kembali, aku tetap pada kesimpulan awalku : buku ini asik banget! Kisah-kisah Peter Pan dan para bocah yang hilang (the lost boys) terasa sangat segar, disajikan dengan sudut pandang yang baru. Cerita klasik, yang dijadikan inspirasi kisah ini, membuatnya terasa dekat, karena kita sudah akrab dengan tokoh-tokohnya, terutama Peter vs si bajak laut.

(Walau di edisi terjemahan, sampulnya sedikit mengecewakan, tapi bagus juga gambar bintang-bintang berkilauan itu)

Monday, June 04, 2007

Bartimaeus Trilogy : The Amulet of Samarkand



Judul : The Bartimaeus Trilogy - The Amulet of Samarkand
Pengarang : Jonathan Stroud (2003)
Penerjemah : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Mei 2007
Tebal : 512 halaman; 20 x 13,5 cm


Di London, seorang anak lelaki berusia 12 tahun mengadakan ritual pemanggilan demon, suatu hal yang tak lazim mampu dilakukan anak seumurnya. Yang dipanggilnya pun bukan demon kelas rendah, tapi Jin Bartimaeus, jenis demon yang punya kekuatan yang tak bisa dianggap remeh. Bartimaeus adalah jin yang punya reputasi cukup mengagumkan.

Itulah sebabnya, Bartimaeus cukup terkejut melihat penyihir yang memanggilnya, dan mengikatnya dengan mantra pengikat yang cukup rumit. Apalagi mendengar perintah yang harus dilaksanakannya, mencuri Amulet Samarkand dari Simon Lovelace, seorang penyihir terkemuka, sama sekali bukan tandingan anak kecil itu.

Begitupun, terikat dengan mantra itu, Bartimaeus melaksanakan perintah itu, dan berhasil, walaupun harus melalui rintangan yang sulit.

Pencurian amulet itu menyeret Nathaniel, si penyihir kecil, ke serangkaian peristiwa mengerikan yang tak pernah terbayangkan olehnya. Pembunuhan, kebakaran, dikejar-kejar sebagai buronan, semua terjadi hanya dalam waktu seminggu, sejak dia memanggil Bartimaeus.

Dan tak itu saja, ternyata sebuah konspirasi jahat sedang berlangsung. Nathaniel, dengan bantuan Bartimaeus, harus berjuang untuk menyelamatkan Inggris dari nafsu jahat untuk berkuasa sekelompok penyihir tamak.

Akhirnya terbit juga deh terjemahan buku ini. Sebenarnya aku dah kepengen beli sejak lama, cuma... karena harganya, hem hem.. lumayan mahal, jadi ditunda-tunda terus, apalagi pas dengar bakal diterbitkan terjemahannya, maka kuputuskan untuk menunggu saja.

Ceritanya lucu. Bartimaeus itu kocak banget, sombong tapi memang hebat sih dia. Nathaniel sendiri bukan tokoh anak baik-baik. Dia itu bandel juga, dan punya kesombongan yang hampir sama sebenarnya dengan Bartimaeus. Memang Nathaniel itu pintar sekali, dia juga suka membaca, dan cepat menangkap pelajaran sihir. Aku geli banget bacanya, terutama kalau di bagian Bartimeus yang menjadi narator, pakai catatan kaki segala, yang isinya, aduh, benar-benar lucu.

Tokoh Nathaniel, terus terang mengingatkan aku pada tokoh Artemis Fowl, si anak jenius yang berhasil menculik Peri (ups, jadi nge-cek ke site nya Artemis Fowl, dan... wow.. mau ada Graphic Novel-nya, weks weks weks... mauuu!!!!!). Oke, cukup dulu ngelanturnya.

Salah satu bagian favoritku adalah sewaktu Bartimaeus menangkap pembawa pesan Simon Lovelace, dan si imp pembawa pesan itu memohon-mohon dengan sangat, sampai mengeluarkan segala bentuk pujian kepada Bartimaeus agar dikasihani, lucu banget...!!

Tokoh Nathaniel, terus terang mengingatkan aku pada tokoh Artemis Fowl, si anak jenius yang berhasil menculik Peri (ups, jadi nge-cek ke site nya Artemis Fowl, dan... wow.. mau ada Graphic Novel-nya, weks weks weks... mauuu!!!!!). Oke, cukup dulu ngelanturnya. Sekarang kembali ke London dan Nathaniel.

Buku ini adalah buku pertama dari seri trilogi si jin sombong Bartimaeus. Buku keduanya berjudul Golemn's Eye dan buku ketiga berjudl Ptolemy's Gate. Trilogi ini sendiri mendapat banyak penghargaan, dan untuk buku pertama ini adalah : 2004 ALA Notable Book, 2004 Best Books for Young Adults Top Ten Pick, Bank Street 2004 Best Book of the Year, Booklist Top 10 Fantasy Book for Youth 2004.

Sunday, May 27, 2007

Trilogi Merlin Kecil


Judul : Passager
Pengarang : Jane Yolen (1986)
Penerjemah : Rita Agustina
Penerbit : Little Serambi, Maret 2007
Tebal : 127 halaman; 15 x 15,5 cm

Anak laki-laki itu masih kecil, ditinggalkan sendirian di hutan. Setahun lamanya dia sudah berkeliaran di hutan itu, hingga suatu hari, di usianya yang kedelapan, dia melihat seorang laki-laki dan elangnya, berburu di hutannya.

Entah apa yang membuatnya mengikuti pria asing itu diam-diam hingga ke rumahnya. Selama itu, kilasan-kilasan dari masa lalu muncul kembali di benaknya. Kata-kata yang selama ini sudah dilupakannya kini teringat kembali.

Anak laki-laki itu akhirnya ditangkap sang penakluk elang. Dan entah darimana asalnya, dia teringat kembali namanya, Merlin. Nama itu yang digunakan Mr Robin untuk memanggilnya. Merlin, seperti Passager, elang muda yang ditangkap dan dijinakkan oleh penjinak elang. Merlin liar, yang dijinakkan oleh Mr Robin, sang penjinak elang.

Inilah kisah awal Merlin, sang penyihir legendaris, yang namanya selalu erat dengan legenda Raja Arthur dan para ksatria meja bundar. Kisah yang mengawali trilogi kisah masa kecil Merlin, kisah yang dirajut oleh Jane Yolen dengan sangat memikat, dari berbagai legenda yang beredar tentang sang penyihir.





Judul : Hobby
Pengarang : Jane Yolen (1986)
Penerjemah : Yvonne C.J. Wotula
Penerbit : Little Serambi, Maret 2007
Tebal : 127 halaman; 15 x 15,5 cm

Buku kedua dari Trilogi Merlin Kecil ini melanjutkan kisah masa kecil sang penyihir.

Merlin yang malang, terlambat menyadari arti mimpinya, dan harus kehilangan keluarganya, Mr Robin dan para wanita yang merawatnya. Juga anjing-anjing dan elang-elang, hanya kuda tua Mr Robin dan sapi kurusnya yang tertinggal. Merlin kini sebatang kara kembali.

Setelah menguburkan keluarganya, Merlin meninggalkan rumah pertanian itu, berjalan menuju ke kota yang pernah dikunjunginya bersama Mr Robin. Namun di perjalanan, dia bertemu seorang penipu, yang merampas kuda dan sapinya. Tapi keberuntungan memihak pada Merlin, yang kini berganti nama menjadi Hawk, si penipu terjatuh dari kuda, sehingga Merlin berhasil lepas.

Setelah itu dia bertemu seorang pesulap dengan kereta, yang mirip dengan istana dalam mimpinya. Sekarang Merlin berganti nama menjadi Hobby, sama seperti burung elang kecil, karena itu yang lebih cocok menurut Ambrosius, si pesulap. Bersama mereka ada Viviane yang cantik, yang pintar menyanyi. Bersama kedua orang itu, Hobby belajar banyak hal baru lagi, menambah pengetahuannya yang didapat bersama Mr Robin di rumah pertanian.

Mimpi Hobby menjadi bahan dagangan Ambrosius, dibawanya Hobby ke Duke dan mengartikan mimpi Hobby dengan sangat cemerlang. Namun Ambrosius pun meninggalkannya, dan kini Hobby harus melarikan diri dari Fowler, si penipu yang ternyata adalah mata-mata sang Duke.




Judul : Merlin
Pengarang : Jane Yolen (1986)
Penerjemah : Yvonne C.J. Wotula
Penerbit : Little Serambi, Maret 2007
Tebal : 127 halaman; 15 x 15,5 cm

Setelah melarikan diri dari istana Duke, Hobby Hawk akhirnya kembali ke hutan, tempat dia kemudian bertemu dengan sosok misterius, yaitu seorang wodewose, manusia penghuni hutan.

Hobby Hawk akhirnya bergabung dengan mereka, namun baru sebentar, dia sudah melakukan kesalahan, yang membuatnya kini dikurung di sebuah sangkar dan digantungkan di pohon. Seorang anak kecil entah bagaimana terpikat padanya, dan memberikan bonekanya untuk melindungi Hobby-Hawk.

Kini Hobby Hawk menjadi pemimpi untuk para wodewose. Mereka memberinya makanan dan minuman yang dicampur ramuan, yang membuatnya terus menerus tidur dan bermimpi. Mereka memintanya untuk menceritakan mimpinya, hingga suatu mimpi penuh darah membuat mereka ketakutan. Namun mimpi itu diartikan berbeda oleh para wodewose, bukan arti yang sebenarnya diketahui oleh Hobby Hawk.

Anak kecil itu, Cub, akhirnya membantunya melarikan diri. Dalam pelarian itu, mereka melihat rombongan prajurit. Hingga akhirnya Hobby Hawk menyadari bahwa mimpi penuh darah itu menjadi kenyataan. Perkampungan para wodewose kini tiada, dan Cub pun sebatang kara, sama seperti Hobby Hawk. Kini mereka berdua harus berkelana, dan disinilah, Hobby Hawk, yang kini kembali menjadi Merlin, memberi nama baru pada Cub, Artus, artinya Beruang, seperti beruang bermahkota yang ada dalam mimpi Merlin.

Demikianlah buku ketiga ini berakhir, dan kita tahu, Artus akan menjadi raja Arthur, sang pemimpin para ksatria Meja Bundar.

Jane Yolen menyajikan sebuah kisah masa kecil sang penyihir Merlin. Dari berbagai cerita yang beredar tentang asal usul sang penyihir, Jane Yolen merangkai cerita yang sangat menarik. Legenda tentang anak yang ditinggalkan di hutan, dan juga asal muasal pertemuannya dengan raja Arthur.

Ketiga buku ini disajikan dengan format yang imut, dan cocok untuk anak-anak. Kecil, dan tidak tebal, dengan huruf-huruf yang besar sehingga gampang dibaca. (Itulah sebabnya, buku ini sangat berjasa menemani Kobo di masa-masa 'susah' waktu Kobo sulit konsentrasi untuk membaca, hehehehe. Untung deh ada buku ini, jadi tiap malam mau tidur, bacanya yah trilogi Merlin ini, satu buku baru bisa selesai 2 hari. Kobo udah coba baca yang lain, gak bisa lebih dari 2 paragraf, udah puyeng, tapi kalo Merlin, paling gak bisa selesai setengah buku pas mau tidur).

Trilogi ini juga mendapatkan penghargaan Mythopoeic Fantasy Award for Children's Literature di tahun 1988. Jane Yolen sendiri sudah menulis lebih dari 150 buku untuk anak-anak maupun untuk dewasa, fiksi dan non-fiksi.

Satu komentar lagi : aku suka covernya! Bagus banget..... apalagi dibandingkan cover aslinya, yang gak terlalu menarik. Yang paling aku suka itu cover buku pertama, aku suka tampang anak laki-laki yang berkeliaran di hutan itu... dan ada gambar elangnya di belakang. Keren! Trilogi yang cantik sekali.

Thursday, April 19, 2007

American Gods


Judul : American Gods
Pengarang : Neil Gaiman, 2002
Penerbit : William Morrow (Hardcover 1st edition)
Tebal : 480 halaman; 23,8 x 16 cm
(detail from Amazon.com for hardcover edition, karena Kobo baca versi e-book, hehehe)


Shadow, seorang ex-narapidana. Dua hari lagi masa hukumannya akan berakhir, dua hari lagi dia akan meninggalkan penjara, naik bis ke airport, naik ke pesawat, dan akan bertemu lagi dengan istri yang dicintainya, Laura.

Namun itu hanya angan-angan belaka. Dua hari lagi, tapi tiba-tiba dia dibebaskan sebelum waktunya. Shadow yang suka melakukan trik dengan koin logam untuk menghabiskan waktu, keluar dari penjara. Laura meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Dalam perjalanan itu, Shadow bertemu seorang pria, Mr Wednesday, begitu pria itu menyebut dirinya. Mr Wednesday menawarkan pekerjaan pada Shadow. Pekerjaan yang ternyata membawa Shadow ke dunia yang tak pernah disadarinya sebelumnya.

Para dewa masih hidup di dunia, bahkan di daratan Amerika, tanah asing yang tak mengenal dewa sebelumnya. Semua dewa itu datang bersama para imigran. Dewa dari Yunani, India, Irlandia, Norwegia, Cina.

Para dewa itu berbaur dengan manusia biasa, haus akan puja-puji manusia yang mempercayai mereka. Hal yang tak lagi mudah didapatkan. Para dewa semakin lemah. Kau akan menemukan dewa menjadi supir taksi, menjadi tukang ramal penipu, bahkan pelacur.

Badai sedang mendekat. Para dewa kuno harus berhadapan dengan dewa-dewa baru manusia : teknologi, internet, televisi, telepon.....

Benarkah?

Dan siapakah Shadow sebenarnya? Dan mungkinkah menghidupkan Laura kembali, Laura yang bahkan dalam kematiannya tetap mencintai Shadow, membantu Shadow, memusnahkan semua musuh-musuhnya.

Setelah Coraline, Stardust dan Neverwhere, aku akhirnya baca juga American Gods ini. Dan buku ini bahkan lebih 'sakit' lagi dari ketiga buku sebelumnya. Sebelumnya, ketiga buku itu aku baca dalam edisi terjemahan. Baru kali ini aku baca Neil Gaiman dalam bahasa Inggris, dan ternyata, memang bikin puyeng. Tapi entah mengapa bukan puyeng yang bikin mogok, tapi malah penasaran.

Novel ini juga cukup berdarah-darah, dengan hiasan adegan seks yang lumayan vulgar, termasuk adegan seks gay. (Komentar bunda Arwen tentang novel-novel Gaiman : Twisted, benar-benar pas untuk menggambarkan novel ini). Kalau Neverwhere sudah lumayan gelap, maka American Gods ini malah lebih gelap lagi.

Segala sosok mitologi bermunculan di sepanjang cerita, dengan berbagai karakter mereka yang unik namun dengan mulus berhasil menyatu dengan dunia modern. Dan terutama di bagian-bagian akhir, kita akan menemukan banyak sekali kejutan, yang membuat aku sampai akhirnya tertawa terbahak-bahak..... bukan karena lucu, tapi karena aku tertipu!!!!!

Sunday, April 01, 2007

Neverwhere


Judul : Neverwhere (Kota Antah Berantah)
Pengarang : Neil Gaiman (c) 1997
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Maret 2007
Tebal : 440 halaman; 20 x 13,5 cm

Richard Mayhew, seorang yang biasa-biasa saja, tinggal di London, punya kehidupan yang baik, agak membosankan, namun cukup menyenangkan. Tunangan yang cantik dan cerdas, pekerjaan yang lumayan....

Hingga suatu hari semua itu berubah, waktu di suatu malam, dalam perjalanan menuju restoran bersama Jessica, tunangannya, dia bertemu seorang gadis yang terluka.

Entah apa yang mendorongnya menolong anak malang itu, yang akhirnya memporak-porandakan kehidupannya. Ternyata gadis itu seorang dari dunia Bawah, dunia yang selama ini tak disadari keberadaannya oleh orang-orang dunia Atas seperti Richard.

Pertemuan itu menyeret Richard dari London Atas memasuki dunia London Bawah yang sangat mencekam. Orang-orang terbuang, para rat-speaker, penipu, pasar yang berpindah-pindah, bahkan pernah diadakan di Harrod's.

Door ternyata seorang gadis yang punya kemampuan luar biasa, dirinya bisa membuka pintu dengan kekuatannya. Keluarganya mati dibunuh, dan dia pun sedang dikejar-kejar oleh seseorang yang misterius, yang menggunakan dua orang pembunuh kejam, Mr Croup dan Mr Vandermar. Namun Door tidak sendirian, dia ditemani oleh seorang penipu, Marquis de Carabas, seorang pengawal bernama Hunter, dan Richard sendiri.

Bersama Richard dan Door, kita diajak berkelana mengelilingi London dengan cara yang tak biasa, melewati saluran-saluran air bawah tanah, stasiun-stasiun kereta bawah tanah, baik yang masih berfungsi maupun yang sudah lama dilupakan orang. Masuk ke Harrods, hingga ke British Museum, dengan cara yang tidak biasa. Juga ada malaikat yang jatuh, monster mengerikan dalam labirin, manusia yang bisa hidup kembali, para wanita penghisap kehidupan, novel ini lagi-lagi seperti sebuah buku dongeng yang sangat memikat, sebuah dongeng yang bukan untuk anak-anak...

Lagi-lagi Neil Gaiman mampu memesona pembaca yang menyukai cerita-cerita fantasi. Dan lagi, dalam buku ini, ada sisipan pembatas buku yang cantik juga ^.^

Tuesday, March 20, 2007

The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)




Judul : The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)
Pengarang : Philip Pullman (c) 2000
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Februari 2007
Tebal : 624 halaman; 23 x 14,5 cm


Lyra dan Will terpisah. Lyra diculik oleh Mrs Coulter, sementara alethiometer Lyra masih ada di tangan Will. Will sendiri masih kebingungan karena baru saja bertemu dengan ayahnya, namun sudah harus dipisahkan kembali, kali ini oleh kematian.

Namun Will tak sendirian, dua orang malaikat, Baruch dan Balthamos menemaninya. Mereka ingin membawa Will ke Lord Asriel. Namun Will bertekad, dia harus menemukan Lyra terlebih dahulu.

Sementara itu, Lyra ternyata dibawa ibunya ke suatu tempat di pegunungan Himalaya di dunianya sendiri. Mrs Coulter membius Lyra dengan ramuan, agar Lyra terus tertidur. Namun dalam tidurnya, Lyra mengalami mimpi yang sangat aneh. Roger yang sudah meninggal memanggilnya minta pertolongan.

Di benteng Lord Asriel sendiri, taktik sedang disusun. Lord Asriel dan para komandannya berusaha mendapatkan Lyra dari tangan Mrs Coulter. Mata-mata sudah ditempatkan di Dewan Pengadilan Gereja dan Dewan Kedisiplinan.

Pada saat itu juga, Professor Mary Malone, yang mengikuti perintah Debu yang diterimanya dari mesin buatannya, akhirnya tiba di sebuah dunia yang aneh. Dunia di mana ada pohon-pohon besar yang mempunyai buah keras luar biasa, berbentuk roda. Dan ada mahluk-mahluk berbentuk aneh, dengan struktur tubuh seperti intan, berkaki empat, dan menggunakan biji pohon raksasa itu sebagai roda untuk bergerak. Mahluk yang ternyata memiliki kesadaran dan cerdas, para Mulefa, yang akhirnya menjadi teman Mary. Di dunia itulah, Mary akhirnya berhasil membuat penemuan luar biasa, sebuah teropong yang bisa membuatnya melihat Debu. Dan membuatnya mengerti mengapa pohon-pohon roda sekarat.

Will, sewaktu mencari Lyra, akhirnya malah bertemu dengan Iorek Byrkinson. Bersama-sama mereka akhirnya berhasil menemukan Lyra. Namun saat Will akan membawa Lyra lari, tatapan Mrs Coulter merusak konsentrasinya, dan mematahkan pisau gaib berkeping-keping. Berkat kehebatan Iorek, pisau itu berhasil diperbaiki. Setelah Lyra sadar, Lyra mengajak Will untuk mencari dunia orang mati. Tapi dua orang mata-mata Lord Asriel mengikuti mereka.

Will dan Lyra akhirnya memang berhasil tiba di dunia orang mati. Ternyata jiwa yang sudah meninggal terjebak di sebuah tempat jauh di bawah tanah, di sebuah dunia yang lain, dihantui oleh jeritan-jeritan menghina para harpy. Lyra harus berpisah dengan Pantailamon, daemonnya, yang sangat melukai Lyra. Namun Will dan Lyra juga akhirnya berhasil membawa para arwah tersebut keluar dari tempat mengerikan itu.

Peperangan tak bisa dihindari, Lord Asriel akhirnya bekerja sama dengan Mrs Coulter, berusaha menghancurkan Metatron, Regent yang ditunjuk oleh Otoritas. Bahkan hingga mengorbankan diri mereka.

Will dan Lyra juga akhirnya tiba di dunia tempat para Mulefa, dimana pohon-pohon roda sedang sekarat. Mary Malone pun akhirnya memainkan peranannya sebagai ular, walau seorang pembunuh yang dikirim oleh Dewan Disiplin berusaha menghalangi. Ternyata, timbulnya cinta antara Will dan Lyra, kesadaran mereka berdua akan perasaan itu, yang berhasil menyelamatkan dunia-dunia itu. Debu kembali bergerak seperti seharusnya.

Namun, semua harus kembali ke dunia masing-masing, karena orang tak bisa hidup lama di luar dunianya. Seperti yang sudah diperingatkan oleh ayah Will, John Parry. Namun Will dan Lyra juga mendapatkan keistimewaan, daemon mereka akan seperti daemon penyihir.

Dan... pada akhirnya, Republik Surga memang tergantung pada Lyra.

Akhirnya buku ketiganya terbit. Sampulnya yang coklat tua, dengan gambar dua ekor capung, dan dua orang anak, menggambarkan suasana di dunia arwah (kalo gak diperhatikan, kayak corak aneh, ternyata gambar orang-orang, hehehe)

Kisah yang menegangkan untuk mengakhiri trilogi tentang kesadaran manusia dan dunia yang berlapis-lapis. Aku juga suka akhir ceritanya,terasa pas banget. Walau waktu kisah cinta Will dan Lyra agak sedikit terasa menggelikan juga. Tapi diobati karena ternyata hal itu tidak merusak akhir cerita, malah membuat akhir cerita itu makin dahsyat.

Karakter Lord Asriel dan Mrs Coulter juga menimbulkan kejutan yang lumayan. Siapa yang menyangka ternyata rasa sayang Mrs Coulter kepada Lyra benar-benar datang dari lubuk hatinya, bukan karena ada sifatnya yang selalu ingin memanfaatkan segala sesuatu untuk memenuhi ambisinya saja. Bahkan penyelamatan Lyra di Svalbard ternyata dilandasai oleh kasih sayang keibuan yang tulus. Sesuatu yang baru diungkapkan di buku ketiga ini.

----

Cerita tentang Svalbard, jadi ingat, kemaren pernah baca di satu artikel, kalau di Svalbard sekarang sedang dibangun sebuah bunker raksasa, yang direncanakan untuk menyimpan semua bibit yang dianggap penting sebagai tindakan berjaga-jaga jika dunia ditimpa bencana dahsyat yang bisa menghancurkan peradaban manusia. Hm... ada apa yah di Svalbard?

Monday, March 12, 2007

The Land of Elyon : Lembah Berduri



Judul : Land of Elyon - Lembah Berduri (Beyond the Valley of Thorns)
Pengarang : Patrick Carman, 2005
Penerjemah : Widati Utami
Penerbit : Little K (Mizan Group), Juli 2006
Tebal : 308 halaman; 19 x 12,5 cm

Setahun sudah berlalu sejak kematian Walvord. Tahun ini, seperti biasa, Alexa ikut dengan ayahnya ke Bridewell. Kini tembok-tembok sudah dihancurkan, namun anehnya, sekarang Alexa merasa kehilangan rasa aman dalam perlindungan tembok. Perasaan yang benar-benar berbeda dengan setahun yang lalu, waktu itu dia merasa dipenjara oleh tembok-tembok itu.

Alexa tak lagi bisa berbicara dengan hewan. Jocastanya kini sudah redup. Tiba di Bridewell, Alexa langsung ke perpustakaan. Dan ternyata, dia sudah ditunggu oleh Yipes, yang membawa sepucuk surat. Surat dari Walvord.

Kejutan yang luar biasa. Ternyata Walvord sudah menitipkan surat itu kepada Yipes sebelum dia meninggal, dengan pesan untuk disampaikan kepada Alexa setahun setelah kematiannya. Pesan itu menyuruh Alexa segera meninggalkan Bridewell, ke sebuah gua rahasia, dimana ada pesan lain yang ditinggalkan oleh Walvord.

Alexa pun memulai lagi petualangannya. Ternyata di gua itu sudah menunggu John Christopher, seorang bekas narapidana. John ternyata menyimpan pesan juga dari Walvord, ada sebuah batu Jocasta terakhir, yang ditujukan untuk Alexa. Berkat Jocasta itu, kini Alexa bisa lagi berbicara dengan para hewan.

Namun ternyata mereka ditugaskan untuk melakukan sesuatu yang sangat tak terduga. Rombongan yang aneh, yang terdiri dari Alexa, John Christopher, Yipes dan Squire elangnya, Odessa istri Darius si serigala, dan Murphy si tupai hiperaktif. Alexa awalnya bingung, karena mereka hanya tahu kalau setelah menemukan Jocasta terakhir itu, mereka harus pergi, tapi tak tahu harus kemana. Namun sewaktu mereka berlindung, mereka menemukan surat dari Walvord, berisi cerita aneh tentang kota Castalia, para raksasa, Grindall anak buah Abaddon si iblis penguasa pikiran, dan dua orang gadis, Catherine dan Laura.

Sekarang mereka tahu, kalau mereka harus membebaskan Catherine, yang ternyata adalah Renny Walvord, istri Walvord, si pengukir Jocasta. Catherine yang kini ditawan oleh Grindall di ruang bawah tanah di kastilnya di Castalia. Perjalanan yang sangat berbahaya harus ditempuh rombongan itu. Di dekat Lembah Berduri, mereka bertemu Armon, raksasa terakhir yang masih belum dicuci otak oleh kawanan hitam, gerombolan kelelawar.

Bersama-sama Armon, juga para anjing liar penghuni kota Anjing, dan penduduk Castilia yang sangat membenci Grindall, Alexa dan rombongannya, berjuang menghadapi para raksasa. Kecerdikan mereka akhirnya berhasil mengalahkan sebagian besar raksasa yang sudah menjadi jahat itu. Namun bagaiman dengan Grindall, dan di mana Catherine.

Ini buku kedua dari seri Land of Elyon. Masih menyambung kisah petualangan Alexa dan para hewan. Cerita petualangannya makin seru. Fantasinya juga tetapi asik. Ada karakter-karakter baru yang ditemui dalam buku ini.

Sebenarnya ada lanjutannya lagi di buku ketiga, Kota Kesepuluh. Karena Alexa masih harus menghadapi Abaddon si iblis, dan apakah Elyon akan kembali ke negeri Elyon. Tapi kayaknya sampai sekarang belum ada yah? hehehehe

Buku ini juga aku sudah lama sekali simpan di lemari, karena waktu beli, gak punya buku pertamanya, jadi disimpan dulu sampai ketemu buku pertamanya. Tapi waktu udah dapat buku pertamanya, karena waktu itu juga punya banyak banget buku baru, jadi ketinggalan deh, hehehe. Tapi ternyata waktu baca, aduh, aku nyesal, kenapa gak dari kemaren-kemaren bacanya. Ternyata ceritanya bagus.

Patrick Carman sendiri awalnya membuat cerita ini sebagai cerita mingguan untuk anak-anaknya.

The Land of Elyon : Bukit-Bukit Kelam




Judul : The Land of Elyon - Bukit-Bukit Kelam (The Dark Hills Divide)
Pengarang : Patrick Carman (c) 2005
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Little K (Mizan Group) - Maret 2006
Tebal : 328 halaman; 19 x 12,5 cm

Di Negeri Elyon, ada empat kota yang terhubung oleh tembok-tembok pelindung, Turlock, Lathbury, Lunenburg, dan Bridewell yang terletak ditengah-tengah ketiga kota lainnya.

Keempat kota itu juga terlindung oleh tembok pembatas, yang memisahkan wilayah kota dengan hutan dan sungai. Tembok itu awalnya dibangun oleh Thomas Warvold, salah seorang petinggi di Bridewell.

Alexa Daley bersama ayahnya, pemimpin kota Lathbury datang ke Bridewell, seperti yang biasa mereka lakukan setiap musim panas. Namun kunjungan kali itu ternyata tidak seperti biasa, pada hari itu, Alexa diajak Walvord berjalan-jalan, yang ternyata menjadi awal petualangan aneh yang akan dialami Alexa. Dalam perjalanan mereka, tiba-tiba Walvord meninggal. Sebelum meninggal, Walvord sempat menceritakan sebuah cerita tentang orang buta dan gajah, dan tentang kunci. Alexa dalam kebingungannya, mengambil kunci kecil yang disimpan Walvord.

Kunci itu ternyata membuka jalan rahasia, di ruang perpustakaan, tepat di belakang kursi di sudut favorit Alexa. Alexa pun memasuki lorong itu, dan ternyata berujung ke luar tembok yang mengelilingi Bridewell.

Di ujung lorong, seorang lelaki bertubuh sangat mungil sudah menunggunya, dan akhirnya membawa Alexa ke sebuah tempat, dimana dia mendapatkan sebuah batu istimewa, salah satu Jocasta, yang membuatnya bisa berbicara dengan para hewan.

Setelah itu, Yipes, lelaki kecil itu, membawa Alexa bertemu Darius, yang kemudian membawanya ke tempat Alexa bisa masuk ke salah satu terowongan. Di ujungnya, ternyata ada sebuah ruangan, dan Alexa melihat seorang lelaki dengan cap N, Narapidana di keningnya, dan mendengar potongan-potongan percakapan tentang penyerbuan ke Bridewell.

Setelah itu, Alexa dibawa ke pertemuan dewan hutan, yang dipimpin sang beruang Ander. Di situ Alexa mengetahui bagaimana tembok yang dibangun Warvold untuk melindungi kota ternyata membawa akibat yang menyedihkan bagi para hewan. Banyak diantara mereka yang terpisah dari keluarganya, karena tembok dibangun sewaktu mereka pergi berburu, sehingga mereka tak bisa kembali ke tempat asalnya. Di situ juga Alexa diperingatkan tentang adanya pengkhianat di dalam Bridewell, yang dipanggil Sebastian, yang sedang mengorganisir para narapidana di Bukit-Bukit Kelam untuk menyerbu Bridewell.

Cerita fantasi yang menarik. Tokohnya seorang gadis kecil berusia duabelas tahun, kutubuku, dan suka menghabiskan waktunya di perpustakaan. Alexa juga seorang gadis yang penuh rasa ingin tahu, cerdas, dan kadang sering tak perduli dengan peraturan.

Lalu ada lagi tokoh Grayson, sang penanggung jawab perpustakaan yang ahli memperbaiki buku (jadi teringat pada Mo, ayah Meggi di cerita Inkheart/Inkspell, yang kerjanya memperbaiki buku-buku tua). Lalu ada juga buku tua yang ternyata menyimpan rahasia.

Jenis buku yang aku suka, karena ada fantasinya, ada misteri, terus ada kutubukunya, perpustakaan....

Cerita disampaikan oleh Alexa sebagai narator. Semua kejadian dipandang melalui mata Alexa. Ada sedikit cerita tentang permainan catur, tapi karena aku gak ngerti catur sama sekali, jadinya aku lewatin aja, hahahaha,

Lalu tokoh-tokohnya juga menarik, bahkan sedikit mengejutkan, karena hingga di akhir cerita agak sulit menebak siapa sebenarnya Sebastian. Dan juga asik juga mengikuti Alexa berusaha memecahkan misteri melalui petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan Walvord dengan ceritanya dan ukiran-ukiran istri Walvord pada Jocasta-Jocasta.

[Sebenarnya buku ini sudah cukup lama pengen aku baca, cuma sebel, karena buku pertamanya (buku ini) gak pernah ada di toko buku di Medan, terus pernah coba pesan online, pas gak ada stock, hiks.. hiks.. Namun akhirnya kemaren waktu jalan-jalan, berhasil juga beli, hehehe, malah gratisan, dibeliin ama Umay sih, hehehehe]

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP