Showing posts with label 2010. Show all posts
Showing posts with label 2010. Show all posts

Monday, September 20, 2010

Emmy and the Incredible Shrinking Rat


Judul : Emmy and the Incredible Shrinking Rat (Emmy dan Tikus Penciut yang Menakjubkan)
Penulis : Lynne Jonell, 2007
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : Penerbit Atria, an imprint ofPT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Juni 2010
Tebal : 341 halaman, 13 x 20,5 cm

Emmy adalah seorang gadis kecil yang baik. Setidaknya , dia berusaha sangat keras untuk bersikap baik.

Begitulah buku ini dimulai. Terdengar sangat membosankan. Cerita tentang seorang gadis kecil yang baik, ih, apanya yang asik, begitu yang terlintas pada awalnya. Tapi ternyata gak seperti itu kog. Buku ini ternyata ceritanya asik banget, kocak dan penuh petualangan yang seru loh.

Jadi, ceritanya begini. Emmy itu memang gadis kecil yang baik. Nah, tapi kenapa dia mau jadi gadis kecil yang baik? Karena dia berharap, dengan begitu dia punya teman. Orangtuanya selalu bepergian, dan dia tinggal di rumahnya yang mewah dan besar hanya ditemani oleh para pelayan dan pengasuhnya yang aneh, namanya Miss Barmy. Di sekolah pun, nilai-nilainya selalu bagus sekali, dia belajar super keras untuk itu. Tujuannya sih supaya kalau orangtuanya pulang, mereka akan bangga padanya, dan ingin tinggal lebih lama di rumah, tidak cepat-cepat untuk bepergian lagi. Tapi anehnya, sebaik apa pun Emmy, sepintar apa pun dia, rasanya tak pernah ada yg memedulikan dirinya. Di sekolah, teman-temannya tak pernah mengajaknya mengobrol atau bermain. Gurunya saja sering tidak ingat bahwa Emmy ada di kelasnya, hanya psikolog sekolah yang sekali-sekali memanggilnya untuk diberi nasihat. Benar-benar aneh.

Lalu suatu hari, tikus peliharaan kelasnya mengubah segalanya. Ternyata tikus itu adalah tikus ajaib, dia bisa berbicara. Dan dengan satu gigitan, Emmy jadi punya teman. Nah, sejak kejadian itu, kehidupan Emmy yang membosankan berubah menjadi petualangan seru, membongkar rencana jahat Miss Barmy yang ternyata melibatkan hewan-hewan pengerat berkekuatan ajaib, kisah cinta lama dan perebutan harta.

Yang paling aku sukai di buku ini adalah cerita bagaimana Emmy perlahan-lahan mulai menemukan teman di tempat-tempat yang tidak diduganya. Selain itu, aku juga terkekeh-kekeh di cerita yang ada Ratty si tikus penciut dan teman Emmy, Joe, yang menciut, benar-benar kocak membayangkan seekor tikus dan seorang anak laki-laki yang mengecil bertengkar. Karakter Ratty juga lucu banget, agak sok tapi sebenarnya keahliannya itu cukup aneh.

Aku merasa senang baca buku ini, karena ceritanya itu fantasi ringan dan sangat menghibur.

Monday, June 14, 2010

Angela's Ashes


Judul : Angela's Ashes : A Memoir
Penulis : Frank McCourt (c)1996
Penerbit : Touchstone Book - Simon & Schuster New York
Paperback edition, 1999
Tebal : 363 halaman ; 14 x 21,5 cm

Memoir ini berkisah tentang masa kanak-kanak Frank McCourt yang sebagian besar dijalaninya di Limerick, sebuah kota kecil di Irlandia. Frank McCourt dilahirkan di Amerika Serikat, kedua orangtuanya menikah karena ibunya telah hamil. Ayahnya sendiri berasal dari Irlandia Utara yang melarikan diri ke Amerika Serikat. Ibunya sendiri, Angela Sheehan, baru saja tiba di Amerika, waktu bertemu dengan Malachy McCourt. Pernikahan yang dipaksakan itu berlangsung menyedihkan. Malachy McCourt seorang pemabuk, yang gemar menghabiskan semua uangnya di bar, sementara istri dan anaknya tidak memiliki cukup makanan dan pakaian. Selama beberapa lama mereka tinggal di Amerika, adik-adik Frank pun lahir. Malachy yang dinamai sama dengan nama ayahnya lahir setahun setelah Frank, lalu menyusul si kembar Oliver dan Eugene. Kemudian lahirlah adik perempuan mereka, Margaret. Kelahiran Margaret seperti membawa perubahan dalam hidup keluarga McCourt. Ayahnya tidak lagi mabuk-mabukan, dan pekerjaannya pun bertahan. Tapi kebahagiaan ini tak bertahan lama, Margaret meninggal waktu baru berusia beberapa bulan. Keluarga McCourt kembali terpuruk, bahkan sampai tahap yang mengenaskan, sampai kedua bibi Angela menulis surat kepada nenek Sheehan untuk mengirimkan uang agar keluarga McCourt bisa kembali ke Irlandia.

Setibanya di Irlandia, kehidupan mereka tidak berubah sama sekali. Sebagai pria yang berasal dari Utara, Malachy McCourt kesulitan mendapat pekerjaan. Ditambah lagi kebiasaannya mabuk dan menghabiskan uang tunjangan membuat Frank dan adik-adiknya terus kelaparan dan kedinginan. Si kembar Oliver dan Eugene pun meninggal dalam waktu yang tidak berselang terlalu lama. Bertahun-tahun keluarga itu di tempat yang lembab dan bau dari toilet. Penyakit pun silih berganti mendatangi Frank, mulai dari demam tipus yang menyebabkan dia harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit, radang mata akut yang membuat matanya terus menerus merah dan mengeluarkan cairan kekuningan. Kemiskinan itu membuat Frank bertekad untuk kembali ke Amerika, yang dibayangkannya sebagai tempat di mana kehidupan pasti akan lebih baik daripada di Limerick.

Sekilas, terlihat memoar ini terkesan menyedihkan, gelap penuh kesengsaraan. Tapi dengan gaya bercerita yang unik, memoar ini ternyata mampu membuat kita terharu tanpa perlu menguras air mata berember-ember :D Frank bercerita tentang masa kecilnya dengan gaya polos, membuat kita bisa menikmati cara pandang dan pikiran-pikiran seorang anak kecil di tengah-tengah penderitaan akibat kemiskinan yang dialaminya. Di sana sini, kepolosan pikiran Frank kecil akan membuat kita tersenyum geli sambil merasa getir mengetahui situasi yang dialami keluarga miskin di Irlandia pada masa-masa menjelang Perang Dunia II tersebut.

Satu yang sempat jadi pertanyaan adalah judul memoar ini, Angela's Ashes (abu Angela). Setelah mencari ke beberapa situs, sepertinya judul ini ada hubungannya dengan akhir hidup Angela, ibu Frank, yang dikremasikan dan abunya disimpan oleh Frank. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa judul ini adalah penggambaran saat-saat Angela menatap abu sisa pembakaran di perapian, saat mereka tak lagi punya apa-apa untuk mengusir rasa dingin dan lembab di kota Limerick.


Monday, March 22, 2010

Ink Exchange


Judul : Ink Exchange (Jalinan Yang Memikat)
Pengarang : Melissa Marr (c) 2008
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, September 2009
Tebal : 352 halaman; 13,5 x 20 cm


Di dunia peri, terjadi perubahan. Sejak Aislinn membuktikan dirinya sebagai ratu peri kerajaan musim panas, dan matinya Beira si ratu musim dingin yang lalu digantikan Donia, keseimbangan kerajaan-kerajaan para peri mulai terganggu. Kekejaman Beira selama ini membuat para peri kerajaan kegelapan tak pernah kelaparan, ketakutan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh Beira cukup untuk membuat mereka kenyang. Tapi Donia tak seperti Beira, persahabatannya dengan Keenan si raja musim panas, membuat ketakutan yang selama ini menguasai para peri berkurang. Peri-peri kerajaan kegelapan melemah. Irial sebagai raja kegelapan perlu melakukan sesuatu.

Leslie adalah teman Aislinn, sang ratu musim panas. Dan sebagai ratu, Aislinn sudah meminta agar teman-teman dekatnya, termasuk Leslie, dijaga dari gangguan peri-peri kerajaan lain. Salah satu penjaganya adalah Niall, penasihat Keenan. Diam-diam Leslie menyukai sosok Niall yang misterius itu, tapi Leslie tak mengerti mengapa Aislinn sepertinya menghalangi. Memang tak ada manusia yang tahu tentang para peri selain Seth dan nenek Aislinn.

Leslie sudah lama mengidam-idamkan membuat tato, tapi belum juga menemukan desain yang dirasanya sesuai untuk dirinya. Cukup lama dia mengamati berbagai desain yang ada di toko milik Rabbit, sang seniman tato, tapi tak ada yang cocok di hatinya. Hingga suatu hari, Rabbit mengajaknya ke bagian belakang toko, dan menunjukkan kepadanya kumpulan desain-desain tato yang istimewa, yang tidak dipajangnya seperti desain biasa. Gambar sepasang mata yang memandang dari balik sayap membuat Leslie berdebar, dan saat itu juga Leslie tahu, tato itu yang diinginkan, tato yang akan merubah hidupnya.

Tanpa disadarinya, Leslie memang memilih tato yang akan merubah hidupnya, menjalani kehidupan yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Leslie pun terseret ke dunia para peri, menjadi alat Irial untuk menyedot rasa sakit dan takut dari manusia mortal, sesuatu yang tak dapat dilakukan Irial tanpa perantara. Pembuatan tato itu ternyata merupakan pertukaran tinta dengan darah Irial, yang membuat Leslie terhubung dengan sang raja kegelapan. Leslie pun kebas terhadap rasa sakit, dan perasaan ini dinikmatinya untuk beberapa lama. Sampai dia mulai merasa gelisah, karena merasa kehilangan sesuatu. Ternyata hilangnya rasa sakit itu bukan sesuatu yang dia inginkan, seperti selama ini dikiranya. Hidupnya sebelum ini, yang penuh rasa sakit itu, ternyata dirindukannya.

Buku ini lanjutan dari buku sebelumnya yang judulnya Wicked Lovely itu. Sebenarnya yang bikin aku jadi pengen baca seri ini sih waktu lihat sinopsis buku kedua ini, karena sinopsis buku pertama terkesan lebih ke kisah cinta-cintaan hehehe, tapi ternyata yah, setelah dibaca dua-dua, aku lebih suka buku pertama sih, hihihi.

Emang buku kedua ini lebih kelam dari buku pertama, karena yah ceritanya tentang Irial dan kerajaan kegelapannya, ada sekelumit cerita-cerita sadis berdarah-darah, tapi yah gak banyak, dan gak terlalu detail. Terus banyak juga cerita kebingungan Leslie sebagai remaja korban pemerkosaan yang keluarganya juga berantakan. Dan mungkin karena Irial itu gak sekejam Beira, jadi kurang serem, he he he he.

Seri ini sih masih berlanjut, sekarang sudah terbit empat judul yah, dan katanya buku kelima juga sedang ditulis *gak jelas juga bakal jadi berapa seri, dan sedang agak malas cari tahu hahahaha*

Wicked Lovely


Judul : Wicked Lovely (Pesona Yang Menawan)
Pengarang : Melissa Marr (c) 2007
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2009
Tebal : 368 halaman ; 20 x 13,5 cm


Aislinn menyukai kehidupan di Huntsdale yang kecil, bukan karena dia tidak menyukai kehidupan kota besar yang dinamis, tapi karena hal-hal yang hanya dia yang dapat melihatnya. Terlahir dengan kondisi seperti nenek dan ibunya, Aislinn dapat melihat para peri, dan tingkah laku mereka. Kengerian melihat berbagai kekerasan yang dilakukan para peri itu, baik terhadap manusia mau pun di antara kaum peri itu membuat Aislinn ketakutan. Sang nenek telah mengajarinya dengan baik sejak dia kecil, jangan pernah memperlihatkan kalau dirinya mampu melihat mereka. Jangan pandang wajah mereka, jangan berbicara dengan mereka dan jangan menarik perhatian mereka.

Hingga remaja, Aislinn berhasil menjalankan semua ajaran neneknya itu. Sampai waktu sang raja peri kerajaan musim panas, Keenan, menemukannya. Keenan terikat perjanjian mengerikan yang dibuat ibunya yang ratu kerajaan musim dingin, dirinya tidak akan menjadi raja peri kerajaan musim panas secara penuh sampai dia menemukan ratunya. Ratunya akan berasal dari kaum manusia biasa, para mortal, dan gadis itu adalah orang yang berhasil memegang tongkat sang ratu kerajaan musim dingin tanpa terpengaruh. Selama berabad-abad, sudah banyak gadis yang jatuh cinta pada Keenan dan rela mengorbankan diri untuk mencoba memegang tongkat itu, tapi hingga gadis terakhir yang bernama Donia, semuanya gagal, dan akhirnya menjadi peri dengan hawa dingin di dalam tubuhnya, mengalami kedinginan abadi yang mengerikan. Donia, seperti juga gadis-gadis lain sebelumnya, memiliki tugas untuk menghasut para calon ratu musim panas agar tidak mau memegang tongkat ratu musim dingin.

Keenan pun menyamar sebagai seorang murid di sekolah Aislinn, berusaha sekuat tenaga untuk membuat Aislinn jatuh cinta kepadanya. Tapi sedikit janggal, karena kali ini gadis yang satu ini tak terlalu tertarik padanya, tak seperti gadis-gadis sebelumnya. Aislinn ternyata sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada seorang manusia lain, Seth, yang urakan dan tinggal di gerbong kereta api yang dimodifikasinya menjadi tempat tinggal. Bagi Aislinn, selain rumahnya yang memang sudah dirancang sehingga tidak nyaman bagi kaum peri, tempat Seth yang seluruhnya terbuat dari baja merupakan tempat kedua teraman. Memang, kecuali para bangsawan kerajaan peri seperti Keenan, tempat-tempat yang banyak besinya membuat para peri kesakitan dan tak tahan berlama-lama.

Kemampuan Aislinn melihat peri awalnya tak diketahui oleh siapa pun, sampai akhirnya dia membuka rahasianya pada Seth. Dan Aislinn pun menceritakan bahwa dia sedang dikuntit oleh Keenan dan kaumnya.

Tapi Aislinn memang ditakdirkan menjadi ratu kaum peri musim panas. Apa pun yang dilakukannya, dan apa pun yang diusahakan oleh sang ratu peri musim dingin untuk menghalangi Aislinn memegang tongkatnya, gagal.

Sebenarnya, buku ini sudah cukup lama juga dilirik-lirik waktu terlihat dipajang di toko buku, tapi entah kenapa, gak jadi-jadi diangkut dan dibawa pulang hehehehe. Tapi akhirnya kemaren pas pesan ke toko buku online kira-kira dua bulan yang lalu, tergoda juga deh untuk beli, hahhaha. Yah, ternyata emang lumayan kog, gak garing-garing banget hehehe (sebenarnya ini alasan yang membuatku gak langsung mengangkut buku ini dan buku keduanya sebelumnya, takut ceritanya garing hehehe). Ceritanya sih biasa aja, ada cinta-cintaannya juga dikit, untung gak banyak. Yang asik karena kisah si ratu peri musim dingin yang licik itu, bikin seru hehehe, kalau gak ada si ratu jahat, pasti bosen bangetlah huahahahaha.

Sunday, January 24, 2010

Magic or Madness


Judul : Magic or Madness (Rahasia Sihir)

Pengarang : Justine Larbakestier (c) 2005
Penerjemah : Meilia Kusumadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Januari 2010
Tebal : 320 halaman ; 13,5 x 20 cm


Baru dua hari Reason tiba di rumah neneknya, Esmeralda Cansino. Ibunya, Sarafina, kini harus dirawat di pusat perawatan, karena kondisi jiwanya terganggu, dengan kata lain, ibunya gila. Sejak lahir sampai berumur lima belas tahun, Reason baru sekali bertemu dengan neneknya itu. Bersama ibunya, mereka selalu berpindah-pindah, untuk menghindar dari kejaran sang nenek yang menurut ibunya adalah seorang penyihir jahat. Reason diajari berbagai hal untuk mengenali tanda-tanda dilakukannya sihir, seperti buku-bulu, atau bunga-bunga kering yang diletakkan dengan cara-cara khusus. Tapi sang ibu juga selalu menegaskan bahwa sihir tidak ada. Sihir hanya sesuatu yang sangat dipercaya oleh sang nenek, yang membuatnya menjadi perempuan yang mengerikan. Satu keistimewaan Reason adalah keahliannya dalam matematika, terutama kecintaannya terhadap angka Fibonacci, dan sebuah fosil amonite yang selalu tersimpan di sakunya.

Tapi tiba di rumah sang nenek, rumah itu tak seperti yang selalu digambarkan Sarafina. Dan Reason pun berkenalan dengan Tom, anak tetangga yang suka menjahit. Tom sangat mengagumi Mere, panggilan akrab Esmeralda. Tapi Reason masih tetap takut pada neneknya itu, sampai-sampai dia tak mau memakan apa pun yang disediakan neneknya. Dan dia terus menerus merencanakan untuk melarikan diri dari rumah itu.

Hanya saja, kali ini rencana pelariannya tak berjalan seperti biasa. Dengan sebuah kunci yang ditemukannya di kamar sang nenek, dia pun tiba di sebuah tempat tak terduga. Hanya dengan memutar anak kunci, mendorong pintu, dan Reason Cansino pun pindah dari panasnya sore hari di Sidney ke dinginnya salju yang membekukan di sore hari musim dingin di New York. Itulah yang ditemukan Reason di balik pintu belakang rumah neneknya.

Tanpa diduga olehnya, ternyata seorang remaja lain sudah menunggunya di tempat itu. Jay-tee menemuinya, karena telah ditugaskan oleh seorang laki-laki yang selama ini memberikan perlindungan pada gadis itu. Bersama Jay-Tee, pelan-pelan Reason mengetahui lebih banyak hal tentang sihir. Namun, laki-laki itu ternyata menginginkan sesuatu dari Reason, sesuatu yang selama ini sudah diberikan Jay-Tee kepadanya. Kekuatan sihirnya!

Ceritanya agak gelap yah, sihir dengan konsekuensi mengerikan. Di awal-awal sih memang belum terlalu terasa nuansa kekuatan sihir yang digunakan oleh karakter-karakternya, hanya sekilas-sekilas terselip di sana sini. Mungkin karena disampaikan dengan Reason, Tom, dan Jay-tee sebagai narator, dan di buku pertama dari trilogi Magic or Madness ini, memang lebih banyak disampaikan dari sudut pandang Reason. Digambarkan di sini, Reason sebagai seorang anak yang terlahir dengan memiliki kekuatan sihir, tetapi tidak sepenuhnya sadar akan kekuatannya itu. Sedangkan Tom dan Jay-Tee, keduanya memang sudah mengetahui kekuatan sihir mereka, dan justru merasa heran melihat kepolosan Reason.

Sihir dalam buku ini digambarkan sebagai sebuah kekuatan yang memiliki dampak negatif bagi yang menggunakannya. Jika digunakan terlalu banyak, bisa mengurangi umur sang pengguna sihir. Tapi ini pun gak secara jelas digambarkan. Dan ritual-ritual sihir itu sendiri juga gak secara gamblang diceritakan. Terus terang, di bagian pertengahan, ceritanya terasa agak lambat, lumayan bikin ngantuk, tapi sebenarnya gak membosankan. Mungkin agak sedikit sulit diikuti karena memang "rumusan" sihir yang tidak terlalu umum itu. Secara keseluruhan sih ceritanya asik kog. Dan penasaran juga sih, siapa sih yang sebenarnya penyihir yang baiknya.

Saturday, January 23, 2010

Keluarga Flood - Liburan Seru


Judul : Keluarga Flood #6 - Liburan Seru

Pengarang : Colin Thompson (c) 2008
Penerjemah : Ferry Halim
Penerbit : Penerbit Atria, an imprint of PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Desember 2009
Tebal : 193 halaman; 13 x 20 cm

Keluarga penyihir pun butuh berlibur. Keluarga Flood memilih untuk berlibur di tepi laut, bersama tetangga mereka, keluarga Hulbert yang seratus persen manusia biasa. Sayangnya, keluarga Flood belum pernah berlibur, sehingga mereka tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan waktu pergi berlibur, dan tadinya mengharapkan keluarga Hulbert bisa memberitahu mereka. Ternyata, keluarga Hulbert pun berasal dari keluarga-keluarga yang kaku dan tak pernah bersenang-senang sebelumnya. Dan kedua keluarga itu pun kebingungan, sampai akhirnya Mordonna yang mengambil keputusan, mereka akan menginap di hotel paling mahal dan paling mewah yang ada di pantai. Sebagai penyihir, tentu saja uang bukan menjadi masalah, dan kemewahan pun menjadi milik kedua keluarga itu.

Di pantai, masing-masing anggota keluarga Flood menikmati pantai dengan caranya sendiri-sendiri. Betty dan temannya Ffiona Hulbert ikut lomba membuat istana pasir. Dengan bantuan penemuan Winchflat si jenius, istana pasir yang mereka buat menjadi pemenang, sebuah istana yang sangat menakjubkan, dan tak bisa hancur. Sementara itu, Satanella mendapatkan dua teman baru, Ruby dan Rosie, di tempat penampungan anjing. Dan, anak keluarga Flood yang paling tua, Valla, akhirnya mendapatkan pasangannya di sebuah kuburan di kota itu.

Sayangnya, liburan itu dirusak oleh sebuah berita buruk. Parsnip, si burung gagak Transylvania yang menjaga rumah keluarga Flood, tiba di hotel tempat mereka berlibur dalam keadaan mengenaskan. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Dan keputusan yang berat harus diambil, keluarga Hulbert harus berpisah dari keluarga Flood, agar tak terkena akibat mengerikan dari sesuatu yang harus dihadapi oleh keluarga Flood.

Ini sudah buku keenam dari seri Keluarga Flood. Seperti biasa, ceritanya sih kacau, seenak perutnya si pengarang aja, hahaha, tapi emang beneran jadi lucu. Ilustrasinya juga keren, dan catatan-catatan kaki yang penting gak penting dari si pengarang membuat buku ini jadi tambah hancur hahahaha... Belum lagi sisipan di bagian belakang buku, tentang obat-obatan dan ramuan aneh yang digunakan oleh para penyihir itu, bikin ngakak-ngakak kalau dibaca. (entahlah emang aku yang emang seleranya doyan yang aneh-aneh begini yah? huahahahaha)

Mungkin gak semua orang bisa menikmati kelucuan cerita keluarga Flood, karena banyak yang agak menjijikkan, melibatkan berbagai serangga, lendir dan bahan-bahan memualkan lainnya, belum lagi, sentimen tak terjelaskan kepada orang Belgia. Tapi yah gak usah takut, menurut penulis, gak ada hewan yang disakiti dalam penulisan buku ini, kecuali si Parsnip mungkin yah?


Tuesday, January 12, 2010

Fairest


Judul : Fairest

Pengarang : Gail Carson Levine (c) 2006
Penerbit : Harper Trophy, 2008, paperback edition
Tebal : 326 halaman ; 13 x 19 cm


Cermin, cermin di dinding, siapa yang paling cantik di negeri ini? Begitulah kata-kata yang diucapkan sang ratu ibu tiri Snow White pada cermin ajaib dalam dongeng terkenal itu. Tapi ini bukan cerita tentang si putri yang seputih salju dan ibu tirinya yang punya cermin ajaib.

Kisah ini terjadi di negeri Ayortha, tempat di mana para penduduknya memiliki suara indah dan karenanya senang sekali bernyanyi. Hampir sepanjang waktu mereka bernyanyi, dan dengan bernyanyi jugalah mereka merayakan berbagai hal, dan memanjatkan doa-doa.

Di sebuah penginapan di wilayah negeri Ayortha, tinggal Aza yang tak cantik, tak seperti umumnya penduduk Ayortha. Perawakannya lebih besar dari rata-rata gadis-gadis Ayortha, termasuk adiknya, Areida. Tapi, Aza punya suara yang luar biasa bagus, yang membuat semua orang kagum. Dan selain itu, ternyata Aza punya kemampuan lain, bisa membuat suaranya terdengar dari tempat lain, dan menirukan suara orang lain. Hal ini hanya diketahui oleh keluarganya, pemilik penginapan Featherbed.

Namun bagi beberapa tamu yang sering menginap di Featherbed, Aza bukan sekedar gadis berwajah sederhana yang tak menarik untuk dilihat. Bagi zhamM, seorang gnome, Aza justru manusia yang tampaknya lebih menarik daripada manusia-manusia lain, dan rambut Aza memiliki warna yang luar biasa cantik, htun. Dan bagi Dame Ethele yang cerewet, Aza gadis yang mampu membuatnya sedikit melunak.

Nasib Aza berubah, saat sang raja Ayortha mengumumkan pernikahannya dengan seorang gadis dari negeri Kyrrian. Dame Ethele sedang dalam perjalanan menuju istana untuk menghadiri acara tersebut, saat dayangnya jatuh sakit. Dame Ethele meminta agar Aza menggantikan dayangnya untuk mendampinginya ke istana.

Di istana, Aza dengan kemampuannya melemparkan suara, menarik perhatian sang ratu, Ivy. Aza pun dimintanya menjadi dayang pribadi Ivy, diiming-imingi kekayaan dan berbagai fasilitas, agar Aza mau menggunakan kemampuannya mengeluarkan suara dari tempat lain untuk membuat Ivy agar tampak seolah-olah dapat menyanyi dengan baik. Dan pada saat itu, Ratu Ivy harus tampil memimpin acara menyanyi untuk kesembuhan sang raja, yang tertimpa kesialan saat menghadiri sebuah pertunjukan.

Sebagai dayang, Aza pun akhirnya menemukan cermin misterius milik sang ratu, yang dapat membuatnya menjadi cantik. Dan Aza yang sejak dulu ingin sekali menjadi cantik, akhirnya terjebak oleh kelicikan si cermin ajaib. Sang ratu akhirnya menjadi benci kepada Aza, dan nyawa Aza pun terancam. Kisah cinta yang mulai bersemi antara Aza dengan sang pangeran, keponakan raja, ikut mengalami musibah, dengan tergodanya Aza oleh sang cermin.

Seperti beberapa buku hasil karya Gail Carson Levine sebelumnya, buku ini bisa dibilang sebuah dongeng tentang gadis remaja yang bertemu dengan sang pangerannya. Mungkin memang temanya klise sekali, tapi jangan mengira ceritanya hanya sekedar kisah cinta seorang gadis yang membosankan. Cerita ini memang seperti layaknya dongeng, dengan tokoh si jahat dan si baik, tapi karakter-karakter dalam cerita ini tak bisa kita katakan hitam putih. Semua tokoh digambarkan cukup manusiawi, sang ratu yang tampaknya jahat, memiliki cinta yang tulus pada sang raja, dan sang gadis yang malang pun bukan seorang yang tak lepas dari kesalahan dan keserakahan.

Bagi yang suka cerita dongeng, yah buku ini emang pasti akan menarik untuk dibaca ;)

Saturday, January 09, 2010

Kelas Memasak Lilian


Judul : Kelas Memasak Lilian (The School of Essential Ingredients)

Pengarang : Erica Bauermeister (c)2009
Penerjemah : Word++ Translation Service
Penerbit : Bentang Pustaka, September 2009

Lillian kecil yang masih berusia empat tahun tinggal hanya bersama ibunya, ayahnya meninggalkan mereka. Sejak itu, ibunya seperti tenggelam, menghabiskan hari-harinya dengan membaca, membaca dan membaca. Lillian yang kesepian akhirnya menemukan kesenangan dalam memasak. Dan dengan memasak pula dia berhasil menarik ibunya dari dunia tempatnya menyembunyikan diri selama ini.

Lillian dewasa pun membuka restauran dan kelas memasak, yang disebutnya Sekolah Bahan-Bahan Pokok. Kelas ini diadakannya di dapur restaurannya, Senin malam, sebulan sekali. Dan saat itu restaurannya ditutup.

Cerita ini mengenai satu angkatan kelas memasak Lillian. Ada Claire, ibu rumah tangga biasa, pasangan suami istri Carl dan Helen, Antonia desainer interior yang cantik, lalu Tom, Chloe, Isabelle dan Ian, setiap orang membawa kisah masa lalu mereka masing-masing.

Di kelas Lillian, mereka berkenalan dengan bahan-bahan dan cara memasak, dan juga berkenalan satu sama lain. Masa lalu masing-masing perlahan-lahan diurai bersamaan dengan bahan-bahan yang mereka masak. Dan dengan itu pula setiap orang perlahan-lahan mulai mengenali diri mereka sendiri, kepingan-kepingan masa lalu yang mereka bawa diungkapkan diam-diam. Bahan-bahan masakan membantu mereka melihat akar permasalahan yang membayangi setiap peserta kelas memasak. Kepiting segar, rempah-rempah, pasta, oven, semua bersatu padu, membentuk masakan yang menggoda selera, seperti potongan-potongan kehidupan membentuk suatu cerita. Kisah cinta lama terungkap dan cerita cinta baru terbentuk, sampai akhirnya kelas berakhir.

Judul buku yang menyebut-nyebut kelas memasaklah yang membuatku tertarik untuk membaca buku ini. Dari dulu aku memang senang membaca buku-buku yang ada cerita tentang masak-memasak, dan sebenarnya jenis buku seperti ini berbahaya, karena sering bikin lapar, hahahaha...

Dan bener juga sih, waktu membaca buku ini, seperti biasa, lumayan bikin ngiler, karena selain cerita tentang kehidupan setiap peserta kelas memasak, acara belajar memasak di kelas yang diajar Lillian itu pun cukup detail digambarkan. Setiap kali membayangkan asap mengepul-ngepul dari masakan yang sudah jadi, warna-warni makanan yang disajikan di piring, tentu saja membuat kelenjar-kelenjar liur di dalam mulut bereaksi, hehehehe (dan akhirnya bongkar-bongkar kulkas dan lemari mencari sesuatu yang bisa dimakan, ha ha ha ha).

Secara keseluruhan, alurnya sih sederhana, di setiap bab, bercerita tentang salah seorang peserta kelas memasak, maju mundur ke kisah masa lalunya, dan kembali ke kelas memasak. Mendekati bagian akhir, Lillian juga sedikit turun tangan untuk membantu 'mengaduk' sehingga menjadikannya akhir yang menyenangkan :)

Wednesday, January 06, 2010

Rahasia Embusan Angin


Judul : Rahasia Embusan Angin (Belle Prater's Boy)

Pengarang : Ruth White (c) 1996
Penerjemah : Miriasti
Penerbit : Penerbit Kaifa, Bandung, Mei 2003
Tebal : 206 halaman; 13 x 20 cm

Di Coal Station, sebuah kota kecil di negara bagian Virginia, terjadi kehebohan. Belle Prater, ibu dari seorang anak laki-laki itu menghilang tanpa jejak dari rumahnya. Tak ada tanda-tanda terjadi kekerasan di rumahnya, dan tak ada satu pun bajunya yang hilang. Suaminya pun tak punya ide sama sekali, kemana istrinya itu pergi.

Si anak yang baru akan berusia dua belas tahun bernama Woodrow. Beberapa bulan setelah ibunya menghilang, neneknya meminta agar Woodrow tinggal bersamanya, karena sang ayah mulai sering mabuk-mabukan. Woodrow punya seorang sepupu perempuan yang sebaya dengannya, bernama Gypsi. Kedua anak ini segera menjadi akrab. Gypsy yang cantik terkenal karena keindahan rambut panjangnya. Sedari kecil Gypsy hidup tanpa kekurangan apa pun secara materi, hanya saja, dia kehilangan ayahnya saat dia masih berusia lima tahun. Belakangan, ibu Gypsy, kakak dari ibu Woodrow, menikah lagi dengan seorang wartawan, namun Gypsy tak menyukai ayah tirinya itu.

Kedatangan Woodrow ternyata membawa banyak perubahan pada Gypsy dan keluarga Prater. Keceriaan Woodrow sungguh tak disangka-sangka, anak yang datang dengan pakaian bekas yang serba kebesaran itu sungguh pandai bercerita. Dan kepergiaan ibunya tampaknya tak membuatnya menjadi anak pemurung sama sekali. Bersama Woodrow, Gypsy pun akhirnya mengetahui banyak hal mengenai masa lalu ibunya, ayahnya, dan ibu Woodrow.

Buku ini sebenarnya sudah terbit cukup lama, pertama kali aku menemukannya itu kira-kira di awal tahun 2004 kayaknya. Kemarin itu, ntah kenapa aku kog ingin membaca lagi beberapa buku lama yang sudah ada di rak buku, walau sebenarnya ada beberapa buku yang lebih baru tapi belum dibaca, hehehehe....

Nah, salah satu yang terlihat yah buku ini. Covernya sih sederhana, tapi lumayan kog, sayang kemasannya memang lusuh, kertas sampulnya juga tipis. Tapi kalau dilihat gambar cover belakangnya sih aku suka kog :) cantik hehehe

Ceritanya sih sederhana, cuma ternyata konflik yang dialami Gypsy, yang di buku ini menceritakan semuanya sebagai tokoh aku, lumayan rumit, tapi gak berlebihan kayak sinetron. Dan yang aku suka itu, cara penyampaiannya itu halus, pelan-pelan kita bisa menebak-nebak, apa yang terjadi pada ibu Woodrow, dan apa yang sebenarnya menjadi trauma bagi Gypsy sehubungan dengan kematian ayahnya.

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP