Tuesday, March 20, 2007

The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)




Judul : The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)
Pengarang : Philip Pullman (c) 2000
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Februari 2007
Tebal : 624 halaman; 23 x 14,5 cm


Lyra dan Will terpisah. Lyra diculik oleh Mrs Coulter, sementara alethiometer Lyra masih ada di tangan Will. Will sendiri masih kebingungan karena baru saja bertemu dengan ayahnya, namun sudah harus dipisahkan kembali, kali ini oleh kematian.

Namun Will tak sendirian, dua orang malaikat, Baruch dan Balthamos menemaninya. Mereka ingin membawa Will ke Lord Asriel. Namun Will bertekad, dia harus menemukan Lyra terlebih dahulu.

Sementara itu, Lyra ternyata dibawa ibunya ke suatu tempat di pegunungan Himalaya di dunianya sendiri. Mrs Coulter membius Lyra dengan ramuan, agar Lyra terus tertidur. Namun dalam tidurnya, Lyra mengalami mimpi yang sangat aneh. Roger yang sudah meninggal memanggilnya minta pertolongan.

Di benteng Lord Asriel sendiri, taktik sedang disusun. Lord Asriel dan para komandannya berusaha mendapatkan Lyra dari tangan Mrs Coulter. Mata-mata sudah ditempatkan di Dewan Pengadilan Gereja dan Dewan Kedisiplinan.

Pada saat itu juga, Professor Mary Malone, yang mengikuti perintah Debu yang diterimanya dari mesin buatannya, akhirnya tiba di sebuah dunia yang aneh. Dunia di mana ada pohon-pohon besar yang mempunyai buah keras luar biasa, berbentuk roda. Dan ada mahluk-mahluk berbentuk aneh, dengan struktur tubuh seperti intan, berkaki empat, dan menggunakan biji pohon raksasa itu sebagai roda untuk bergerak. Mahluk yang ternyata memiliki kesadaran dan cerdas, para Mulefa, yang akhirnya menjadi teman Mary. Di dunia itulah, Mary akhirnya berhasil membuat penemuan luar biasa, sebuah teropong yang bisa membuatnya melihat Debu. Dan membuatnya mengerti mengapa pohon-pohon roda sekarat.

Will, sewaktu mencari Lyra, akhirnya malah bertemu dengan Iorek Byrkinson. Bersama-sama mereka akhirnya berhasil menemukan Lyra. Namun saat Will akan membawa Lyra lari, tatapan Mrs Coulter merusak konsentrasinya, dan mematahkan pisau gaib berkeping-keping. Berkat kehebatan Iorek, pisau itu berhasil diperbaiki. Setelah Lyra sadar, Lyra mengajak Will untuk mencari dunia orang mati. Tapi dua orang mata-mata Lord Asriel mengikuti mereka.

Will dan Lyra akhirnya memang berhasil tiba di dunia orang mati. Ternyata jiwa yang sudah meninggal terjebak di sebuah tempat jauh di bawah tanah, di sebuah dunia yang lain, dihantui oleh jeritan-jeritan menghina para harpy. Lyra harus berpisah dengan Pantailamon, daemonnya, yang sangat melukai Lyra. Namun Will dan Lyra juga akhirnya berhasil membawa para arwah tersebut keluar dari tempat mengerikan itu.

Peperangan tak bisa dihindari, Lord Asriel akhirnya bekerja sama dengan Mrs Coulter, berusaha menghancurkan Metatron, Regent yang ditunjuk oleh Otoritas. Bahkan hingga mengorbankan diri mereka.

Will dan Lyra juga akhirnya tiba di dunia tempat para Mulefa, dimana pohon-pohon roda sedang sekarat. Mary Malone pun akhirnya memainkan peranannya sebagai ular, walau seorang pembunuh yang dikirim oleh Dewan Disiplin berusaha menghalangi. Ternyata, timbulnya cinta antara Will dan Lyra, kesadaran mereka berdua akan perasaan itu, yang berhasil menyelamatkan dunia-dunia itu. Debu kembali bergerak seperti seharusnya.

Namun, semua harus kembali ke dunia masing-masing, karena orang tak bisa hidup lama di luar dunianya. Seperti yang sudah diperingatkan oleh ayah Will, John Parry. Namun Will dan Lyra juga mendapatkan keistimewaan, daemon mereka akan seperti daemon penyihir.

Dan... pada akhirnya, Republik Surga memang tergantung pada Lyra.

Akhirnya buku ketiganya terbit. Sampulnya yang coklat tua, dengan gambar dua ekor capung, dan dua orang anak, menggambarkan suasana di dunia arwah (kalo gak diperhatikan, kayak corak aneh, ternyata gambar orang-orang, hehehe)

Kisah yang menegangkan untuk mengakhiri trilogi tentang kesadaran manusia dan dunia yang berlapis-lapis. Aku juga suka akhir ceritanya,terasa pas banget. Walau waktu kisah cinta Will dan Lyra agak sedikit terasa menggelikan juga. Tapi diobati karena ternyata hal itu tidak merusak akhir cerita, malah membuat akhir cerita itu makin dahsyat.

Karakter Lord Asriel dan Mrs Coulter juga menimbulkan kejutan yang lumayan. Siapa yang menyangka ternyata rasa sayang Mrs Coulter kepada Lyra benar-benar datang dari lubuk hatinya, bukan karena ada sifatnya yang selalu ingin memanfaatkan segala sesuatu untuk memenuhi ambisinya saja. Bahkan penyelamatan Lyra di Svalbard ternyata dilandasai oleh kasih sayang keibuan yang tulus. Sesuatu yang baru diungkapkan di buku ketiga ini.

----

Cerita tentang Svalbard, jadi ingat, kemaren pernah baca di satu artikel, kalau di Svalbard sekarang sedang dibangun sebuah bunker raksasa, yang direncanakan untuk menyimpan semua bibit yang dianggap penting sebagai tindakan berjaga-jaga jika dunia ditimpa bencana dahsyat yang bisa menghancurkan peradaban manusia. Hm... ada apa yah di Svalbard?

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP