Stardust (Serbuk Bintang)

Judul : Stardust (Serbuk Bintang)
Pengarang : Neil Gaiman (c) 1999
Penerjemah : Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, January 2007
Tebal : 254 halaman; 20 x 13,5 cm
Di bagian timur Desa Tembok, terdapat sebuah tembok yang memisahkan Desa dengan padang rumput yang luas dan hijau, namun terlarang. Hanya ada sebuah celah kecil di tembok itu, celah yang selalu dijaga ketat berganti-ganti oleh para penduduk desa. Celah yang tak pernah dilewati siapa pun.
Kecuali. . .
Setiap sembilan tahun sekali, pada perayaan musim semi, diadakan Pekan Raya Padang. Orang-orang akan berdatangan, dari berbagai tempat, untuk mengunjungi pekan raya. Para peri juga akan ada di sana. Dari sinilah kisah luar biasa ini dimulai.
Dunstant Thorn yang praktis, bertemu seorang gadis penjaga kios bunga kristal. Pertemuan sekali, ternyata menghasilkan seorang bayi laki-laki yang setahun kemudian ditinggalkan di dekat tembok, dengan sebuah kertas bertuliskan namanya, Tristan Thorn.
Tristan tumbuh dewasa, remaja yang jatuh cinta pada gadis tercantik di Desa Tembok, Victoria Forrester. Cinta membutakannya, membuatnya nekad pergi ke padang rumput hijau, mengejar sebuah bintang jatuh.
Bintang ditemukan... namun bukan hanya Tristan yang mengejarnya. Seorang nenek penyihir, yang diutus oleh saudari-saudarinya, mengincar jantung sang bintang. Sang bintang juga membawa sebuah batu, penanda penguasa Stormhold. Batu yang dilemparkan penguasa Stormhold ke 81, membuat sang bintang terjatuh dari langit.
Seperti dikatakan di sampul belakangnya "Ini dongeng untuk orang dewasa"
Kata-kata itu tepat sekali. Membaca buku ini, aku langsung teringat dongeng-dongeng yang aku baca waktu kecil. Nenek sihirnya mirip tokoh-tokoh nenek sihir dalam dongeng-dongeng Rusia, tua, kejam dan sanggup melakukan apa saja. Tak bisa dipungkiri, banyak hal-hal sadis dan ironis dalam cerita ini. Pembunuhan antar saudara untuk merebut tahta maupun hewan-hewan. Belum lagi manusia-manusia yang dikutuk, yang tak bernasib mujur, harus mati dalam kutukannya. Si miskin tak menjadi kaya, malah harus dikutuk menjadi kambing dan akhirnya mati sia-sia. Namun semua itu justru membuat ceritanya semakin menawan, seperti malam gelap yang ditaburi serbuk bintang...
* Sampulnya juga cantikkk.... ada sparkle nya, hehehehe*
14 comments:
Kemaren sempet liat nih bukuu.. and bener, Bo, covernya itu menarik yaa ;) Btw, ampe dibahas di sini berarti nih buku recommended buat dibaca donkss?! :D
ya, Indah...
kayaknya Indah pasti suka (sok teuuu, hihihihi, kog jadi kayak si Ida aku ya, hahaha - sambil ngelirik, ah, tapi biasanya Ida gak mampir sampai ke komen kog, jadi aman.... wekekeke)
Aku suka banget deh Indah, asik bacanya, bener-bener kayak negeri dongeng gitu.
Benar.... Stardust memang asik bacanya seperti kata Kobo.
Terjemahannya juga asik. Makanya semakin enak dibaca.
Nggak heran. Yang mengerjakan terjemahannya kan Mbak Femmy Syahrani. Dan kali ini sama suaminya.... :)
Tapi, di majalah Cita Cinta, dibilang, "seandainya terjemahannya lebih baik lagi, pasti akan lebih bagus..." emang kenapa ya, dgn terjemahannya?
Bener kog, terjemahannya asik....
Pas banget dengan gaya Neil Gaiman.
Cerita jadi terasa banget kesuraman dunia para peri itu. Di situ menurutku keasikannya, karena kan biasanya cerita tentang peri-peri dan dunia dongeng itu indah, tapi ini malah suram, namun fantastis.
Yah, waktu lihat nama penerjemahnya, eh... ternyata pasutri, hihihi
*dah komen kog ke mbak femmy, ucapin selamat, I love her work!*
Mungkin yg nulis di Cita Cinta seleranya lain, Fe. Wajar kan kalo ada yg punya pendapat berbeda.
Tapi terjemahan Stardust menurut sy OK.
Dan sama seperti Kobo, sy suka terjemahan Mbak Femmy. Kenalan sy yg kebetulan seorang editor juga berpendapat sama.
Mungkin yg nulis di Cita Cinta seleranya beda. Wajar aja. Persepsi kan bisa beda.....
Menurut sy, terjemahan Stardust sudah OK koq.
Teman sy seorang editor jg berpendapat sama.
Dan seperti Kobo, sy jg suka hasil terjemahan Mbak Femmy.
huehehehe
dobel post, tapi gak papa, biar kesannya rame, ahahahaha
Sekarang aku mau baca Neverwhere, Tapi yang ini yang terjemahin Donna tuh.
Tengsin nih baca posting kembar2 kaya gitu......
Sudah liat Neverwhere di toko buku, cuma pengen baca review Kobo dulu..... Cepat ya, bacanya, sy tunggu......
Neverwhere baru bab 1, hehehe, baru dimulai tadi malam ^.^
"Atmosfir" nya sepertinya sudah berbeda dengan Stardust. Tokohnya bukan lagi remaja, tapi udah dewasa. Cuma tetap saja di seputar dunia fantasi. Sejauh ini sudah ada seorang gadis yang bernama Door (pintu) yang bisa membuka semua pintu di mana saja dengan kekuatannya.
*posting kembar-kembar? kenapa malu? hihihi, itu kan menandakan bukunya asik, banyak yang baca, hehehe*
Baru baca buku ini beberapa minggu yang lalu, pas baca ketawa-tawa, soalnya ngga nyangka ceritanya dongeng ceria sekali... (berhubung Neil Gaiman yg dibaca sebelumnya seri Sandman). Eh, buku Neil Gaiman yang lain, Anansi Boys, itu lucu juga loh (hehehe, yg itu baru selesai dibaca siang tadi)!
ya tuh Indres, yang Stardust kalau dibandingkan Neverwhere sih memang ceria... tapi agak suram sebenarnya..
Tapi diingat-ingat lagi yang coraline malah lebih suram, padahal tokohnya lebih muda, masih anak2 kan?
Dari tiga bukunya Neil Gaiman yang udah aku baca, hm, kog tiga-tiganya tentang dunia lain tapi berada dekat sebenarnya.
*Neverwhere udah mau kelar... hehehe, abis ini mau baca American Gods nya Neil Gaiman, arhggghhh... kenapa jadi GAiman-mania?? hihihi*
Akhirnya kemaren baca nih buku jugaa, and emang baguss :D Seru ngikutin ceritanya, and bisa aja kepikiran kalo bintang itu wujudnya cewek, huehehe..
Yg Neverwhere itu ngga nyambung ma "Stardust" ini khan ya, Bo?
yah, dan ide memakan jantung bintang untuk bisa awet muda... huehhhh kerennn.....
Neverwhere gak ada hubungannya sama sekali kog. Buku-bukunya Neil Gaiman gak berseri-seri kog ^.^
Post a Comment