The Thirteenth Tale
Judul : THE THIRTEENTH TALE (DONGENG KETIGA BELAS)
Pengarang : Diane Setterfield, 2006
Penerjemah : Chandra Novwidya Murtiana
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, November 2008
Tebal : 608 halaman ; 13,5 x 20 cm
Suatu hari, Margaret Lea menerima sepucuk surat aneh dengan tulisan cakar ayam seperti tulisan anak kecil yang baru belajar menulis. Surat itu ternyata merupakan permohonan seorang novelis terkenal untuk menuliskan biografinya. Sang novelis, Vida Winter, yang selama ini menyimpan erat-erat rahasia masa lalunya.
Margaret sendiri belum pernah membaca satu pun novel karya sang novelis tersebut, tapi dia tahu kalau novel-novel Vida Winter selalu menjadi best-seller, dicetak berulang-ulang, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Margaret sendiri lebih suka membaca buku-buku tua, terutama memoar, biografi, surat-surat bahkan buku-buku harian. Ayah Margaret punya sebuah toko buku, yang isinya sebagian besar memang buku-buku tua. Dan dari ayahnyalah Margaret terperangkap pesona buku-buku tua tersebut. Sejak masih sangat kecil, Margaret sudah terbiasa menghabiskan waktunya diantara buku-buku tersebut.
Sejak menerima surat itu, Margaret mencoba membaca buku Vida, yang salah satunya dia temukan di toko ayahnya. Sebenarnya Margaret sendiri heran mengapa ayahnya menyimpan buku tersebut, karena tak biasanya toko tersebut menjual buku yang populer. Ternyata, edisi yang disimpang sang ayah adalah edisi langka, dengan judul "Tiga Belas Dongeng Perubahan dan Keputusasaan", sebuah kumpulan cerpen yang berisi dua belas cerita. Menurut ayah Margaret, karena judulnya itulah, maka edisi yang dimilikinya dinyatakan langka. Buku tersebut sudah menjadi legenda, karena sudah ditarik dari peredaran, dan diganti judulnya menjadi "Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan", namun tetap dikenal sebagai buku "Tiga Belas Dongeng".
Akhirnya Margaret bersedia untuk pergi menemui Miss Winter di rumahnya, dan tinggal di sana untuk menuliskan kisah sebenarnya tentang masa lalu sang novelis. Dan kisah masa lalu kelam penuh misteri, keluarga yang aneh dan sedikit gila, semua terungkap perlahan-lahan dari bibir perempuan tua yang kini menyandang nama Vida Winter tersebut. Dan juga kisah yang selalu membayang-bayangi Margaret pun ikut terkuak.
Yah awalnya sih beli buku ini memang karena tampilan sampulnya yang keren itu. Selintas mirip dengan buku Book of Lost Things karya John Connoly, tapi kalau diperhatikan, detil-detilnya sih beda banget kog. Kerenlah pokoknya, hehehehe. Nah, selain sampulnya, sinopsisnya juga sih, dan judulnya apalagi, bikin penasaran. Awalnya sih aku sempat menyangka buku ini bercerita tentang dunia fantasi.
Ternyata bukan, hahahaha. Tapi yah walau bukan cerita tentang dunia peri atau sihir, ceritanya memang tak kalah luar biasa dari sebuah dongeng peri. Kita akan dibawa ke masa lalu Miss Winter, yang tinggal di sebuah rumah besar dengan ibu dan paman yang gila, anak-anak perempuan yang ditelantarkan, guru yang hilang, dan kebakaran yang mengakhiri semuanya...
Dan seperti biasa, si tokoh yang juga gila membaca, tinggal di sebuah toko buku, aduh, emang pasti bikin aku kesengsem hahahaha.
2 comments:
Kalau aku, kecewa sama buku ini. Pertama, sampulnya nggak cocok banget, sebab bikin aku juga mengira ini dongeng fantasi gara-gara sampulnya itu. Lalu ceritanya ternyata berat banget. Gelap.
selama baca ini gw bolak-balik bertanya dalam hati, "ni bukan novel horror kan?". alur ceritanya sih seru2 aja, tapi sedikit menyeramkan.
Post a Comment