Death Du Jour
Judul : Death Du Jour
Pengarang : Kathy Reichs, 1999
Penerjemah : Vitri Mayastuti
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Januari 2008
Tebal : 526 halaman; 13 x 20,5 cm
Di sebuah lokasi makam, sesuai dengan data yang ada di arsip biara, sang ahli antropologi forensik, Temperance Brennan, sedang berusaha mencari apa pun yang tersisa dari tubuh seorang biarawati yang sudah meninggal lebih seratus tahun yang lalu. Setelah hampir merasa putus asa mencari, seorang biarawati tua akhirnya menjadi petunjuk dimana sebenarnya makam tersebut berada. Peti berisi tulang-belulang Elisabeth Nicolet pun ditemukan, sang biarawati yang akan diusulkan untuk menjadi santa.
Peristiwa ini ternyata membawa Tempe, begitu dirinya akrab dipanggil, ke berbagai peristiwa yang tak diduganya. Awalnya memang ada sebuah kebakaran mengerikan yang terjadi di sebuah rumah, di mana ditemukan sisa-sisa tubuh seorang wanita tua dalam kondisi yang mengenaskan, dan dua orang korban lainnya yang tak teridentifikasi. Namun keanehan ditemukan Tempe pada jenasah wanita tua tersebut, yang ternyata mati karena tembakan, bukan karena kebakaran.
Bukti-bukti juga menunjukkan kalau kebakaran tersebut disengaja. Dan bahkan tak lama sekeluarga muda yang punya bayi kembar pun ditemukan tewas di bagian lain rumah tersebut. Bahkan kondisi kedua bayi itu sungguh mengerikan.
Kemudian, Tempe juga harus menghadapi adiknya yang tiba-tiba menjadi aneh, setelah mengikuti pelatihan dari sebuah lembaga pengembangan diri yang diikutinya.
Dan, ternyata, dari hasil analisa tulang belulang Elisabeth Nicole, ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahu Tempe. Dia berusaha mencari tahu asal usul Elisabeth, terutama di seputar kelahirannya. Keingintahuannya membawanya berkenalan dengan seorang profesor di Universitas di Quebec.
Tempe, yang mondar-mandir antara Quebec, Montreal dan California, mengalami banyak hal lagi. Di acaranya berlibur dengan anak perempuannya, dia malah menemukan lagi mayat membusuk di pulau tempat perlindungan primata milik temannya.
Ternyata, segalanya saling berkaitan. Sebuah komunitas aneh yang sepertinya menutup diri dari masyarakat mungkin terlibat dalam semua kasus kematian mengerikan dan hilangnya beberapa orang, termasuk adik Tempe sendiri. Bahkan Tempe pun harus menghadapi ancaman terhadap nyawanya dan orang-orang terdekatnya.
Satu lagi buku yang renyah dan gurih...... (yah mirip-mirip snack hehehe)
Awalnya sih aku tertarik karena iming-iming kisah kematian seratus tahun yang lalu itu, eh ternyata semakin ke tengah, semakin berbeda, hahahaha! Ternyata ceritanya adalah kait -mengait antara satu pembunuhan ke pembunuhan lain. Sedangkan kisah sang biarawati yang sudah mati seratus tahun yang lalu itu hanya sekedar penghubung beberapa tokohnya dengan kejadian pembunuhan-pembunuhan sadis tersebut.
Ternyata diriku terkecoh!
Yah tapi begitupun, aku sih menikmati juga baca buku ini, walau di bagian pertengahan sempat merasa bosan, apalagi sewaktu sang karakter utamanya, Tempe, bercakap-cakap dan mendapat penjelasan dengan rekan-rekan akademisinya. Detail-detail seputar perkembangan serangga yang terdapat di mayat yang bisa dijadikan alat untuk menganalisa waktu kematian, huh, rasanya cukup membosankan (ups, yah aku jadinya melompati saja bagian itu, hehehe), karena terasa terlalu berlebihan.
Lalu di bagian akhir, treng treng.... seperti film ala Hollywood, si penjahat hampir diketahui, eh malah tokoh utama yang terluka dan tertangkap.... Seru lagi, hahaha! Yah tapi walau seru, aku sebenarnya sedikit merasa geli, karena bener-bener seperti film yang jeder-jedor.....
Ow yah, buku ini juga ternyata adalah buku kedua dari sekian banyak novel thriller karya Kathy Reichs yang menjadikan Tempe sebagai karakter utama, dengan kehidupannya yang menegangkan sebagai seorang ahli antropologi forensik yang sering dimintai bantuan dalam memecahkan berbagai kasus pembunuhan. Hm yah tapi bagiku sih, satu ini sudah cukuplah, aku gak kepengen baca buku yang lain lagi dari seri ini.
0 comments:
Post a Comment