The Invention of Hugo Cabret
Judul : The Invention of Hugo Cabret
Pengarang dan Illustrator : Brian Selznick (c) 2007
Penerbit : Scholastic Press, an imprint of Scholastic Inc.
Tebal : 533 halaman ; 14,5 x 22 cm
Hugo Cabret yang malang, ayahnya meninggal dalam sebuah kebakaran di museum tempatnya bekerja. Hugo Cabret masih berusia dua belas tahun, tapi dia punya keahlian memperbaiki jam, keahlian yang didapatnya dari sang ayah, yang juga punya toko reparasi jam. Sejak sangat kecil, Hugo sudah terbiasa mengutak-utik berbagai benda mekanis.
Sejak kematian ayahnya, Hugo tinggal dengan pamannya, yang bekerja sebagai pengurus jam-jam di stasiun kereta api di Paris. Sejak ada Hugo, hampir semua pekerjaan merawat jam-jam tersebut dikerjakan Hugo, sementara sang paman lebih sering mabuk-mabukan, hingga akhirnya suatu hari sang paman tak kembali sama sekali ke tempat tinggal mereka. Sejak itu, Hugo sendirian yang berkeliling stasiun memeriksa jam-jam tersebut. Cek gaji pamannya tetap datang, namun Hugo tak mengerti bagaimana mencairkannya. Hugo bertahan hidup dengan mencuri makanan di stasiun yang ramai itu.
Di salah satu sudut stasiun, ada sebuah toko mainan yang dijaga oleh seorang lelaki tua. Dari toko itu, Hugo juga sering mencuri mainan mekanis yang dijual pak tua itu. Suatu hari, Hugo tertangkap basah oleh pak tua itu sewaktu mau mengambil seekor tikus mainan. Dari Hugo, pak tua itu juga mendapatkan sebuah buku kecil berisi gambar-gambar. Buku yang sangat disayangi Hugo, karena itu adalah buku yang berisi gambar-gambar yang dibuat ayahnya. Isinya gambar-gambar sebuah automata yang mereka temukan di gudang di loteng museum tempat ayahnya bekerja sebelum meninggal.
Ternyata, gambar-gambar itu memiliki arti yang sama sekali tak terduga oleh Hugo. Setelah tertangkap basah, Hugo malah dipekerjakan oleh Mr Georges, sang pemilik toko mainan. Selama itu juga, buku kecil itu ditahan oleh Mr Georges. Diam-diam Hugo tetap mencuri bagian-bagian mekanis dari toko itu. Dia ternyata menyimpan automata dari museum tersebut di kamar tinggalnya di stasiun itu. Sebuah automaton yang sangat rumit, berupa seorang pria dengan posisi siap menulis. Pelan-pelan, Hugo berhasil memperbaikinya, walau tanpa bantuan buku catatan ayahnya. Hugo berharap, mungkin nanti dia bisa mendapatkan pesan dari ayahnya dari tulisan yang dihasilkan automata itu.
Sementara itu, Isabelle, seorang gadis kecil yang tinggal bersama keluarga Mr Georges, akhirnya berteman dengan Hugo, dan mencuri buku catatan itu dari Mr Georges untuk diserahkan pada Hugo. Namun, ternyata pencurian itu segera diketahui Mr Georges, yang menuduh Hugo yang melakukannya. Tapi berkat kunci yang dicuri Hugo dari Isabelle, dia berhasil juga menjalankan automata itu, yang ternyata menghasilkan sebuah gambar aneh. Gambar yang langsung mengingatkan Hugo pada cerita ayahnya tentang film pertama yang ditonton sang ayah sewaktu masih muda, tentang sebuah roket yang mendarat tepat di mata manusia bulan. Sebuah tulisan mengejutkan kedua anak itu, Georges Méliès. Itu adalah nama si pemilik toko mainan, bapak baptis Isabelle.
Dari situ mereka akhirnya mengetahui siapa orang tua aneh itu. Georges Méliès, ternyata adalah seorang sineas pionir dalam dunia perfilman di Prancis. Dia juga seorang ahli sulap, dan dia jugalah yang menciptakan automata yang ditemukan Hugo dan mendiang ayahnya di loteng museum itu. Namun kebangkrutan setelah Perang Dunia I membuat Georges Méliès patah semangat, bahkan dia disangka telah meninggal dunia. Georges Méliès yang frustrasi harus menghabiskan hari-hari membosankan dengan menjaga toko mainan di stasiun kereta itu.
Tapi akhirnya, berkat Hugo dan Isabelle, keberadaannya diketahui lagi oleh para sineas Prancis. Film-filmnya ditemukan kembali, dan Georges Méliès tak lagi harus menjaga toko mainan itu. Jasa-jasanya pada dunia perfilman kini dihargai.
Yah, ini adalah sebuah buku yang sangat menarik. Bukan hanya dari ceritanya, tapi juga ilustrasi-ilustrasi luar biasa ikut menghiasi buku ini. Setiap halaman diberi border kehitaman, dan ilustrasi-ilustrasinya memenuhi hingga lebih 240 halaman dari buku setebal 530 halaman ini. Di antara gambar-gambar tersebut, kita juga akan menemukan beberapa karya asli dari Georges Méliès sendiri. Ilustrasi karya Brian Selznick sendiri berupa gambar-gambar goresan pensil.
Cerita berjalan dalam tulisan dan gambar. Kadang cerita itu tidak disampaikan dengan kata-kata, tapi hanya berupa urut-urutan gambar, seperti mengikuti cerita komik bisu. Lalu aku juga sangat menyukai kesan yang ditimbulkan gambar-gambar tersebut. Rasanya seperti gambar-gambar itu digambar langsung oleh Brian Selznick di buku tersebut, sehingga kita seperti takut menyentuhnya, karena takut akan kelunturan pensilnya.
Satu lagi yang menarik, di bagian paling akhir buku ini, kita juga diberi informasi tentang jenis huruf cetakan yang digunakan, beserta sejarah jenis font tersebut. Very nice!
Kisah hidup Georges Méliès sendiri yang memang memberi inspirasi pada Brian Selznick untuk menulis buku ini. Kisah tentang automata karya sang sineas yang terbengkalai di loteng museum itu benar-benar ada. Demikian juga dengan masa-masa di mana Georges Méliès harus menjaga toko mainan untuk mempertahankan hidup sebelum hasil karyanya dihargai kembali. Kisah hidup Georges Méliès juga akan kita temukan dalam buku yang ditujukan bagi anak-anak ini.
Brian Selznick sendiri sudah menghasilkan beberapa novel dan selama ini juga dikenal sebagai ilustrator yang karya-karyanya juga sudah mendapatkan beberapa penghargaan.
Mau mengintip beberapa ilustrasi pembukaan buku ini? Silahkan klik saja ke website-nya :
0 comments:
Post a Comment