Tuesday, May 10, 2011

Senyum Abadi


Judul : Senyum Abadi (The Eternal Smile)
Oleh : Gene Luen Yang & Derek Kirk Kim (c) 2009
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2010
Tebal : 176 halaman; 15 x 21.5 cm

Buku ini berisi 3 komik pendek, dan Senyum Abadi yang dijadikan judul jilid ini diambil dari komik kedua yang bercerita tentang sebuah negeri yang dihuni para kodok, dan ada satu kodok kaya nan serakah, mirip sekali dengan karakter Paman Gober di komik Donal Bebek. Luar biasa pelit, pegawainya digaji sangat kecil dan sering dipotong pula gajinya, punya tiga ekor keponakan yang selalu mendampingi ke mana pun sang paman pergi. Kodok tua nan kaya itu bernama Kakek Greenbax. Lalu suatu hari, pegawainya menunjukkan pada Kakek Greenbax sebuah bentuk di langit yang berbentuk senyuman, dan si orang kaya itu pun punya ide untuk membentuk sekte keagamaan dan menamai aliran itu dengan Senyum Abadi.

Dua cerita lagi disajikan dengan gaya yang berbeda. Komik pertama di jilid ini berjudul Kerajaan Duncan, yang bercerita tentang Duncan, seorang pemuda yang tampan. Setelah raja di tempat tinggalnya dibunuh oleh para kodok, Duncan berhasil membalaskan dendam kepada kaum kodok tersebut, dan menikahi putri kerajaan itu. Tetapi kehidupannya menjadi aneh, karena dia terobsesi pada sebuah botol yang ditemukannya sewaktu mendatangi wilayah kaum kodok.

Cerita ketiga, tentang seorang gadis yang bekerja di sebuah perusahaan yang mengelola jaringan internet. Setelah menerima sebuah surat elektronik dari seseorang yang mengaku pangeran Nigeria, hidup Janet pun berubah. Uangnya habis untuk memenuhi permintaan sang Pangeran, yang selalu mengiming-iminginya dengan janji akan memberi imbalan yang sangat menggiurkan. Tapi benarkah?

Ketiga cerita ini disajikan dengan gaya komik yang berbeda-beda. Komik pertama lebih mirip apa yah, kalau pernah lihat serial Bone, yaaa, kira-kira begitulah bentuk-bentuknya. Sementara komik kedua, lebih mirip komik Disney emang. Nah, komik ketiga, beda lagi, lebih sepi gitu, apalagi, kotak-kotak komiknya gak dibuat kayak dua komik sebelumnya, yang mengikuti format kotak-kotak komik yang sudah biasa kita lihat di komik-komik Eropa. Di komik ketiga ini, gambar-gambarnya diletakkan agak jarang-jarang, bahkan bisa dalam satu halaman hanya ada dua kotak kecil, sisanya putih kosong.

Aku sih bukan ahli komik, baca komik juga cuma sekedar menikmati cerita saja, dan gambarnya tentu (karena kalau gambarnya gak suka, aku sih malas bacanya hehehe). Nah, jadi kalau ditanya, keistimewaan kumpulan komik ini, bingung gimana jawabnya. Yang pasti, aku suka ketiga ceritanya, terutama cerita ketiga. Terus gambar yang paling aku suka sih yah gambar-gambar di cerita ketiga :)


0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP