Enrique's Journey
Judul : Enrique's Journey - Petualangan Seorang Anak di Atas Kereta Api Maut Demi Bersatu Kembali Dengan Ibunya
Penulis : Sonia Nazario, 2006
Penerjemah : Widi Nugroho
Penerbit : Penerbit Bentang, Agustus 2007
Tebal : 395 halaman
Buku ini memang diberi judul Enrique's Journey, Perjalanan Enrique. Tentu saja, pada awalnya, aku beranggapan, kalau ini adalah sebuah kisah tentang seorang anak bernama Enrique, yang seperti pada sub judulnya menempuh petualangan di atas kereta api untuk masuk ke Amerika Serikat, untuk menemukan ibunya yang bekerja di sana.
Ternyata, aku tak hanya menemukan kisah Enrique seorang. Dalam perjalanannya mengikuti jalur yang diceritakan oleh Enrique, Sonya menemui banyak lagi manusia-manusia yang berada di sekitar jalur tersebut, baik yang membantu para imigran seperti Enrique, maupun yang tak ragu-ragu menjadikan imigran-imigran itu sebagai objek kekerasan, bahkan pembunuhan.
Kondisi perekonomian di negara-negara Amerika Tengah yang morat-marit membuat banyak orang yang memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, meninggalkan anak-anak mereka. Meningkatnya perceraian juga memicu kenaikan jumlah ibu-ibu yang harus pergi bekerja ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat, dan meninggalkan anak-anak mereka untuk diurus oleh kakek-neneknya, atau pun saudara yang lain.
Sonia sendiri memutuskan menulis kisah ini, setelah suatu hari, pengurus rumahnya, seorang wanita yang berasal dari Guatemala bercerita tentang anaknya yang menyusul ke AS untuk menemuinya. Dari situ, Sonia mendengar kisah Kereta Api Maut, El Tren de la Muerte.
Untuk menuliskan kisah ini, yang pada awalnya merupakan artikel bersambung di LA Times. Sonia sendiri membutuhkan 5 tahun untuk menyelesaikan tulisan ini. Dimulai dari dia mencari anak yang akan dijadikan bahan tulisannya, termasuk mengikuti sendiri jalur perjalanan Enrique dari Honduras hingga bertemu ibunya, Lourdes.
Ibu Enrique ditinggal oleh suaminya, harus menghidupi Enrique dan kakaknya Belky. Setelah memutuskan pergi ke Amerika Serikat, janjinya pada Enrique untuk segera pulang tak kunjung ditepati. Enrique masih berumur 5 tahun sewaktu ibunya meninggalkannya untuk bekerja. Sejak itu dia tinggal bersama neneknya. Bertahun-tahun, hati Enrique dipenuhi kemarahan pada sang ibu, yang dianggap menelantarkannya. Kiriman uang dan hadiah-hadiah tak mampu meredam rasa kecewa pada sang ibu yang dianggap tak mencintainya.
Kemarahannya itu membuat Enrique menjadi seorang anak yang bermasalah, menjadi penghirup lem, pecandu alkohol, putus sekolah. Hingga akhirnya, di usianya yang ke enam belas, dia memutuskan untuk pergi mencari ibunya. Dia meninggalkan Honduras, berbekal nomor telepon sang ibu.
Perjalanan Enrique tak mulus sama sekali. Karena tak punya uang, Enrique tak bisa membayar penyelundup yang bisa membantunya menyeberang ke utara, masuk ke wilayah AS. Dia harus berusaha sendiri, karena itulah dia mengambil jalur Kereta Api Maut. Berkali-kali dia gagal dan dideportasi, namun Enrique tak menyerah.
Dia baru berhasil di usahanya yang ke 8. Selama perjalanan, berbagai tantangan yang mengancam nyawa harus dihadapi. Para gangster yang tak segan-segan membunuh, juga berpacu untuk naik dan memilih tempat di atap kereta api yang menuju ke Mexico. Dia juga harus mengenal cara-cara bertahan hidup. Di wilayah-wilayah mana saja para gangster yang paling berbahaya. Juga kejaran para petugas imigrasi yang kadang tak segan menggunakan senjata (walau hal ini sering tak diakui oleh mereka).
Namun, ternyata di sepanjang jalur, ada juga manusia-manusia berhati mulia yang membantu para migran tersebut. Mereka melemparkan makanan, pakaian, dan air minum ke atas kereta. Yang paling mengharukan adalah, orang-orang ini bukanlah orang-orang yang berkecukupan. Mereka juga hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan. Rasa simpati merekadilatarbelakangi oleh kesamaan situasi yang mereka alami, anggota keluarga yang harus pergi ke AS untuk bekerja untuk menolong meningkatkan kondisi ekonomi.
Selain itu, ada juga para pastor dan orang-orang lain yang mendirikan tempat-tempat penampungan bagi para migran tersebut. Kebanyakan mereka berusaha sendiri untuk menyediakan makanan dan tempat beristirahat bagi para migran. Kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya anggota tubuh juga tak jarang terjadi. Para relawan tersebut juga bahkan membantu pengobatan para migran tersebut. Kisah-kisah ketulusan hati yang sangat mengharukan.
0 comments:
Post a Comment