A Thousand Splendid Suns
Judul : A Thousand Splendid Suns
Pengarang : Khaled Hosseini, 2007
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita (PT Mizan Pustaka), 2007
Tebal : 516 halaman; 13,2 x 20,5 cm
Mariam, seorang perempuan yang dilahirkan sebagai seorang harami, anak yang tak diharapkan. Bersama ibunya, dia tinggal di sebuah rumah tempat mereka berdua dikucilkan. Sepanjang masa kanak-kanaknya, kedatangan ayahnya adalah saat-saat yang sangat dinantikannya. Dia selalu bersemangat menunggu hari ayahnya datang berkunjung, dan mereka pergi memancing. Tapi ibunya selalu mengatakan pada Mariam, agar dia tidak terlalu berharap pada ayahnya. Mereka berdua hanya perempuan, dan hanya mereka berdua saja yang saling memiliki. Namun bagi Mariam, tak ada yang lebih hebat dari ayahnya. Hingga saat dia hampir berusia 15 tahun, Mariam tak mau menahan diri lagi menuruti nasihat ibunya. Dia mendatangi rumah ayahnya.
Namun, ternyata tindakannya itu membuatnya patah hati berkali-kali. Sang ayah tak mau menemuinya, dan sekembalinya ke rumah, dia menemukan ibunya bunuh diri. Kini dia sebatang kara. Setelah sempat tinggal beberapa lama di rumah ayahnya, keluarga ayahnya memutuskan dia harus disingkirkan secepatnya. Mariam pun dinikahkan dengan seorang pengusaha sepatu dari Kabul.
Mariam pun ikut ke Kabul bersama suaminya, dan memulai kehidupan baru. Awalnya dia merasa kebingungan, namun sedikit demi sedikit, Mariam mulai menikmati perhatian yang kadang ditunjukkan Rasheed, sang suami, padanya. Hingga saat Mariam kehilangan bayi yang sedang dikandungnya, sikap Rasheed berubah.
Laila, gadis yang lahir di Kabul. Ayahnya seorang guru SMA, tapi kini harus bekerja di pabrik. Ibunya selalu bersedih, sejak kedua kakak laki-lakinya harus pergi meninggalkan rumah untuk bergabung dengan pasukan Mujahidin. Ayahnyalah yang banyak membimbing Laila. Lalu ada Tariq, anak lelaki tetangganya yang kakinya buntung sebelah terkena ranjau. Tarig yang jadi teman dekatnya sejak kecil. Di masa remajanya, situasi di Afganistan makin memburuk. Perang menghancurkan kota, menghilangkan begitu banyak nyawa. Laila pun harus kehilangan semua yang dicintainya.
Di saat-saat Laila terluka parah setelah rumahnya terkena bom, Rasheedlah yang menyelamatkan dari reruntuhan. Di rumah Rasheed, Mariam yang dengan sabar mengobati Laila hingga sadar. Namun ternyata Rasheed ingin memperistri Laila, dengan dalih untuk menyelamatkan gadis itu. Dengan hati terluka, Mariam terpaksa harus menerima keadaan. Laila menyimpan sebuah rahasia, yang membuatnya tampak pasrah menerima tawaran Rasheed.
Kelahiran anak Laila, yang ternyata perempuan, lagi-lagi membuat Rasheed berubah sikap. Laila yang sempat menjadi ratu di rumah itu, kini juga harus menerima perbuatan kasar Rasheed. Kedua wanita itu kini berada di posisi yang sama. Kekasaran Rasheed pada mereka tak berkurang setelah kelahiran anak lelaki dari Laila. Hingga suatu hari Mariam pun harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Setelah kesuksesan The Kite Runner, novel kedua karya Khaleed Hoseinni ini sudah ditunggu-tunggu. Yah, secara keseluruhan sih memang enak dibaca, ceritanya mengalir lancar. Tapi terus terang saja, aku merasa kurang terkesan dengan novel keduanya ini. Tema yang dipilih memang mengharukan, dengan tokoh sentral dua orang perempuan yang terpisah umur cukup jauh, dengan latar belakang yang berbeda, namun pada akhirnya dipertemukan di sebuah rumah dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Juga peperangan yang terus menerus mewarnai kehidupan di Afghanistan memang menyedihkan, membawa begitu banyak penderitaan bagi banyak orang. Namun rasanya setelah membaca The Kite Runner, novel ini kurang istimewa. Aku sendiri gak tahu yah, apa jadi sudah semakin kebal sehingga tidak terharu yah? Apa karena sudah semakin banyak yang mengangkat berbagai cerita tentang penderitaan akibat peperangan, terutama bagi para perempuan, sehingga kisah Mariam dan Laila ini terasa hanya seperti hanya satu lagi kisah sedih.
1 comments:
kobo,
saya baca buku ini dulu baru kiterunner. Menurut saya buku ini bagus sekalii.. :) Setelah buku ini terbit, baru deh bermunculan buku2 tentang nasib wanita di derah Afganistan. Two thumbs up for Khaled! Somehow, dia mengerti sekali posisi wanita pada saat itu.
Post a Comment