Maya
Judul : Maya - Misteri Dunia dan Cinta
Pengarang : Jostein Gaarder, 1999
Penerjemah : Winny Prasetyowati
Penerbit : Penerbit Mizan, Januari 2008
Tebal : 458 halaman ; 13 x 20,5 cm
Di sebuah pulau di samudra Pasifik, garis bujur 180 derajat melewati tempat tersebut. Pulau itu bernama Taveuni, salah satu pulau yang berada di wilayah negara Fiji. Di tempat itu, jika kita berdiri di monumen yang didirikan untuk menandai garis bujur 180 derajat itu, kita akan bisa berdiri dengan separuh badan di hari ini, dan separuh lagi di hari kemarin. Garis bujur 180 derajat, yang disebut sebagai Garis Tanggal Internasional (di buku ini disebut sebagai date line).
Di pulau itu juga, dua tahun sebelum milenium ketiga, beberapa orang bertemu di Maravu Plantation Resort. Pertemuan yang akan menjadi awal kisah yang cukup ajaib. Frank si ahli biologi evolusioner dari Norwegia, mengunjungi pulau itu untuk menyelesaikan ekspedisinya. Lalu pasangan Ana dan Jose yang sering mengucapkan kalimat-kalimat aneh. Ada juga Laura si aktivis lingkungan yang bermata biru hijau, dan Bill, lelaki yang tampaknya sangat mengganggu Laura. Kemudian John Spooke, sang penulis dari Inggris, yang menuliskan kisah ini.
Diceritakan, sewaktu melihat Ana, Frank merasa dia sudah pernah mengenal wanita itu sebelumnya, hanya dia tak bisa ingat kapan dan dimana dia melihat Ana. Keanehan pasangan Jose dan Ana yang selalu mengucapkan kalimat-kalimat puitis dalam bahasa Spanyol juga menarik perhatian Frank. Dengan berpura-pura tidak mengerti bahasa Spanyol, Frank mendekati pasangan itu. Setiap ada kesempatan mencuri dengar apa yang saling diucapkan kedua orang itu, Frank diam-diam mencatat kalimat-kalimat aneh.
Namun, Frank juga menghabiskan malamnya dengan berdebat dengan seekor tokek, membicarakan sejarah mahkluk hidup, yang berasal dari ikan duri berongga. Siapa sebenarnya yang seharusnya berkuasa di bumi. Apa yang terjadi seandainya dulu tidak ada meteor menghantam bumi dan memusnahkan dinosaurus yang jadi nenek moyang para reptil? Apakah Frank dan Gordon si tokek akan bertukar tempat? Bayangkan saja kalau para tokek itu mabuk-mabukan, sementara manusia menghabiskan usianya mencoba menangkap nyamuk, kalau saja meteor itu tidak ada.
Sekembalinya dari Pulau Taveuni, Frank menghadiri seminar di Salamanca, di mana dia bertemu dengan mantan istrinya, dan juga pertemuan mengejutkan dengan pasangan Ana dan Jose. Sebelum meninggalkan pulau, John berpesan pada Frank, untuk singgah di museum Prado di Madrid, dan melihat kembali karya Goya dan para seniman lain di sana. Sebuah pesan yang aneh. Hingga pertemuan kembali dengan Ana dan Jose, membuat Frank akhirnya datang ke tempat itu. Dan di sana, dia menemukan MAYA.
Kisah ini disampaikan dalam bentuk surat. Sebuah pengantar dari sang novelis Inggris, John Spooke menceritakan pertemuan awalnya dengan Frank, yang menunjukkan sebuah kartu pos padanya. Lalu John juga menceritakan bagaimana dia bertemu kembali dengan Frank di Madrid, dan Frank menyerahkan surat yang ditulisnya untuk istrinya, Vera, yang sedang berpisah dengannya setelah mereka kehilangan putri mereka dalam kecelakaan. Surat yang ditulis oleh Frank setelah pertemuan mereka di Salamanca itu dikerjakan dalam dua hari, penuh berisi berbagai kejadian di pulau, kejadian di Salamanca, dan percakapan dengan Jose, saat mereka bertemu di Madrid.
Yah, terus terang, buku ini lumayan bikin capek... Banyak pembahasan-pembahasan mengenai berbagai hal, terutama berhubungan dengan evolusi dan penciptaan bumi. Puyeng deh... hehehe, tapi, ntah kenapa yah, aku sih suka. Walau bikin otak mumet dan kening berkerut, yah kalo dah gak ngerti, dibaca aja tanpa niat untuk mengerti, hi hi hi.
Di awal buku, memang setengah mati, yah karena berat sih topiknya. Tapi di tengah-tengah cerita, ada kisah tentang misteri wajah Ana yang ternyata sama persis dengan wajah yang menjadi model lukisan karya Francis Goya yang dipamerkan di museum Prado, La Maja Desnuda, Maya yang telanjang. Berbagai kisah menarik muncul di sini, termasuk dugaan kisah cinta sang pelukis.
Lalu ada juga kisah-kisah kaum gipsi yang menjadi nenek moyang Ana, yang ternyata melibatkan seorang tokoh yang sebelumnya pernah tampil dalam novel Gaarder yang lain. Yah, dialah si Joker yang pernah hidup di novel Misteri Soliter. Joker yang ternyata sering hadir di setiap kejadian dalam cerita yang akhirnya berhubungan dengan kisah misterius lukisan Maya yang telanjang tersebut.
Yah secara keseluruhan, menurutku sih buku ini bikin aku ngos-ngosan... tapi gak kapok kog, hehehe, dan tidak mogok!
0 comments:
Post a Comment