Goran - Sembilan Bintang Biru
Judul : Goran - Sembilan Bintang Biru
Pengarang : Imelda A. Sanjaya
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, 2007
Tebal : 336 halaman ; 13 x 20,5 cm
Aniki, seorang remaja di Jepang. Xin Ai, seorang putri bangsawan dari masa Dinasti Ching. Orphann, seorang remaja anggota geng pencuri di planet Vida. Ketiganya memiliki persamaan, sebuah bintang biru, perlambang mereka orang-orang yang disinari.
Ketiga remaja tersebut punya kehidupan sendiri-sendiri. Aniki yang pendiam dan sering tertidur di sekolah, tinggal berdua saja dengan ibunya. Xin Ai sendiri sedang siap-siap untuk dinikahkan dengan seorang pangeran dari sebuah propinsi di Cina. Dan Orphann, yah, dia disebut orang nomor dua di gerombolan Theft Ryder yang sering mencuri di planet Vida.
Dari ketiga remaja tersebut, hanya Xin Ai yang menyadari kekuatannya sejak kecil. Aniki dan Orphann baru menyadari kekuatan istimewa mereka sebelum kejadian yang akan menyatukan mereka bertiga.
Xin Ai sendiri dikejar-kejar oleh pasukan Mongol utusan Kubilai Khan, yang dipimpin oleh Panglima Sam. Panglima Sam mendapat tugas untuk menangkap para pemilik bintang biru, yang menurut Kubilai Khan bisa membuatnya lebih kuat dan berkuasa.
Tak lama setelah Aniki menyadari kalau ada kekuatan aneh yang dimilikinya, sesosok misterius, yang ternyata ayah kandung Aniki, tiba-tiba muncul, lalu membawanya ke planet Vida. Ternyata Aniki juga punya tugas untuk membantu Orphann menyelamatkan orang-orang yang akan dieksekusi oleh penguasa planet Vida. Tapi dalam mimpinya, Aniki melihat kalau mereka memerlukan bantuan seorang anak perempuan.
Kemudian, tiba-tiba sebuah lorong waktu membawa Aniki dan Orphann ke tempat Xin Ai, dan mereka juga membawa Xin Ai ke planet Vida. Persiapan pertempuran pun dimulai. Orphann yang ternyata adalah pangeran pewaris tahta kerajaan planet Vida, diharapkan bisa memimpin pemberontakan.
Sebuah cerita fantasi karya pengarang lokal ini mengambil setting di tiga tempat, Jepang di masa sekarang, Cina di masa dinasti Ching, dan planet Vida yang punya 3 matahari.
Di awal cerita, aku sudah mulai merasa gak suka, karena tokohnya remaja Jepang, dan tinggal di Jepang. Diawali dengan : "Banguuun! Siang!" duh, kok aku dah gak suka. Si tokoh bermimpi, lalu dibangunkan, rasanya seperti adegan awal yang yang terlalu biasa. Lalu makin ke belakang aku makin gak semangat bacanya. Karena kejadian melulu hanya di Jepang, Cina dan planet Vida.
Pemilihan salah satu karakter utamanya yang berasal dari Jepang juga membuatku bingung, karena kenapa harus Jepang? Kenapa bukan remaja dari negeri sendiri saja. Terus terang saja, karakter yang semuanya berasal dari tempat yang jauh membuatku merasa gak nyaman, terutama mengingat ini karya pengarang lokal. Yah, mungkin pengarang punya alasan sendiri yah?
Lalu yang membuat aku juga gak suka adalah planet Vida. Pemilihan nama-nama dan istilah yang menggunakan bahasa Inggris terasa ganjil dan membuatku tidak nyaman. Aku merasa seperti membaca alur cerita sebuah permainan di komputer. Kadang-kadang di sana sini juga terasa berusaha memasukkan unsur humor untuk penyegar cerita yang serius, tapi kog malah jadi aneh, aku gak bisa jelaskan kenapa, tapi yah itu aja komenku, gak enak.
2 comments:
aku suka komentar Kobo dlm tulisan ini.
silakan baca review saya di:
fikfanindo.blogspot.com
Salam
Post a Comment