Thursday, February 14, 2008

BORDIR


Judul : Bordir (Embroideries)
Pengarang & gambar : Marjane Satrapi, 2003
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Maret 2006
Tebal : 136 halaman ; 14 x 19 cm


"Lezat sekali! Terima kasih."
"Istriku yang mestinya diberi ucapan terima kasih. Dia gourmet sejati."
"Satrapi terlalu memujiku."
Nenekku memanggil kakekku Satrapi, tidak pernah menyebutkan nama depannya. Katanya, istri harus menghormati suami.

Ini adalah dialog dalam pembukaan novel grafis ini, dimana Marjane, yang akrab dipanggil Marji, menceritakan tentang apa yang terjadi pada acara minum teh.

"Marji, cucuku, tolong urus Samovarnya" Itu yang selalu dikatakan neneknya. Samovar itu menjadi tanggung jawab Marji, pagi, siang dan malam. Samovar pagi berbeda dengan samovar siang dan malam. Yang pagi disiapkan Marji khusus untuk sang nenek, dengan sedikit campuran bubuk opium, yang mamp membuat suasana hati neneknya membaik. Di sini biasanya sang nenek memberi nasihat pada Marji. Di sini Marji menceritakan bahwa neneknya menyuruh untuk membuat matanya tampak sendu, agar gampang dapat pacar.

Lalu ada acara minum teh siang dan malam. Di acara ini, para perempuan akan berkumpul dan bergunjing.

"Membicarakan orang di belakang punggung berguna untuk melepaskan unek-unek"

Itu yang dikatakan nenek Marji. Dan memang itu yang sering mereka lakukan di acara minum teh siang dan malam. Namun, ternyata mereka tidak hanya bergunjing. Para wanita itu juga membicarakan diri mereka, dan juga berbagai rahasia pun terbuka. Berbagai kisah cinta masa lalu, petualangan asmara, trik-trik yang dilakukan para perempuan itu untuk menyiasati perkawinan yang tidak bahagia, perselingkuhan, semua dikeluarkan dalam acara minum teh.

Para wanita yang lebih senior akan mengeluarkan berbagai nasihat untuk yang lebih muda. Nasihat-nasihat yang terutama berkaitan dengan kehidupan perkawinan dan bagaimana menyiasati kaum laki-laki.

Disampaikan dalam bentuk dialog bergambar, membuat kita sangat santai menikmati acara minum teh para perempuan Iran tersebut. Gambar-gambarnya hitam putih dengan garis-garis yang tebal. Wajah-wajah para perempuan tersebut digambarkan dengan garis-garis sederhana, namun mampu menunjukkan karakter dan emosi mereka.

Ow yah, satu hal lagi, Bordir, judul yang dipilih Marjane Satrapi untuk buku ini, ternyata memiliki arti tersendiri bagi para wanita peserta acara minum teh di rumah Satrapi. Bordir, bukan hanya menghiasi pakaian para wanita tersebut, tapi.....

Yah, sebuah karya grafis yang cukup pantas dikoleksi.

1 comments:

Aleetha 2/17/2008 07:09:00 PM  

kemarin sempat nyuri baca di gramedia..
ternyata lucu yah bo..
kapan kapan beli ah...

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP