Wednesday, January 10, 2007

Sputnik Sweetheart



Judul : Sputnik Sweetheart (Supuutoniko no koibito)
Pengarang : Haruki Murakami (c) 1991
Diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Phillip Gabriel (2001)
Penerbit : Vintage International, USA
Tebal : 210 halaman; 13 x 20 cm


Kisah cinta segitiga yang lumayan aneh. Seorang lelaki mencintai seorang gadis, namun sang gadis malah jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah menikah dan berumur 17 tahun lebih tua.

Sputnik Sweetheart, adalah julukan yang diberikan Sumire kepada Miu, wanita yang dicintainya. Julukan itu berasal dari kata Sputnik, kata yang salah disebutkan Miu untuk mengatakan Beatnik. Waktu itu Sumire bercerita tentang novel Jack Kerouac.Anehnya, Sputnik sendiri ternyata berarti teman seperjalanan (travelling companion).

Sang narator sendiri adalah sahabat baik Sumire, seorang laki-laki yang sebenarnya sangat mencintai Sumire, namun tak mendapat balasan. Sumire seenaknya saja menelepon sang narator di jam-jam yang sangat tidak wajar, untuk bercerita tentang berbagai hal, Sumire yang eksentrik, seorang drop out dari sekolah sastra, dan masih berjuang untuk menulis novel pertamanya. Sang narator sendiri adalah seorang guru sekolah dasar.

Sumire si eksentrik, tinggal sendirian di apartemen kecil dan berantakan. Seorang pengangguran. Hidup dari sedikit tunjangan dari ayahnya, seorang dokter gigi yang tampan, dan pekerjaan kasar paruh waktu yang kadang-kadang dilakoninya.

Namun, pertemuan dengan Miu mengubah segalanya. Sumire si eksentrik merubah penampilannya, tak lagi mengenakan kaos kaki yang berlainan, kini mengenakan pakaian resmi, sejak Miu menawarinya untuk bekerja membantunya. Sumire yang sedang jatuh cinta pada Miu langsung menyetujui agar bisa tetap dekat dengan Miu.

Sumire sendiri tak pernah absen menceritakan segalanya pada si narator, bahkan memintanya untuk membantu sewaktu Sumire pindah ke apartemen baru yang lebih bagus. Atas bantuannya, Sumire menawari sang narator untuk kencan makan malam, sesuatu yang tak pernah bisa ditepatinya.

Karena setelah itu, Sumire tiba-tiba sudah mengirim surat dari Italia, mengatakan bahwa Miu mengajaknya ke sana untuk urusan bisnis. Tetapi ternyata perjalanan berlanjut, dari Italia, Sumire dan Miu berakhir menghabiskan beberapa hari untuk berlibur di sebuah pulau di Yunani.

Tak lama, sebuah panggilan telepon membangunkan sang narator dari tidurnya. Telepon dari Miu, memintanya untuk datang segera ke Yunani, ada sesuatu yang terjadi pada Sumire. Sang narator tak berpikir panjang, keesokan paginya langsung mulai melakukan perjalanan ke tempat itu. Dan disanalah dia pertama kali bertemu langsung dengan Miu. Berita yang diterima sangat mengejutkan. Sumire menghilang bagai ditelan asap.

Segala usaha sudah dilakukan, namun tak kunjung menunjukkan hasil.

Dalam pencariannya, sang narator akhirnya menemukan dua disket berisi tulisan terkakhir Sumire sebelum dia menghilang. Menulis, sesuatu yang tak pernah bisa lagi dilakukan oleh Sumire sejak dia bertemu Miu. Dalam tulisannya itu, Sumire menceritakan tentang mimpinya mengenai ibunya yang sudah meninggal, dan juga tentang kisah Miu yang sangat aneh, yang menyebabkan rambut Miu menjadi putih tiba-tiba dan menghilangkan gairah seksual Miu.

Namun, tak ada petunjuk sedikitpun tentang keberadaan Sumire, hanya alunan musik misterius di tengah malam yang didengar oleh sang narator. Suara musik yang juga tak diketahui siapa pemainnya.

Cerita yang aneh, tentang orang-orang yang aneh, tapi untungnya tidak membuat yang baca ikut-ikutan aneh, hehehehe.

Komentar? wah, susah yah, yang pasti aku sih suka ceritanya. Tokohnya hanya 3 orang, sang narator, Sumire dan Miu.
Karakter-karakter yang juga sangat menarik. Miu seorang wanita pengusaha, bekas pemain piano yang sangat berbakat, namun harus meninggalkan hasratnya pada musik untuk bekerja mengurus bisnis ayahnya, suatu alasan yang selalu dibuatnya, untuk menutupi alasan yang sebenarnya, sebuah kejadian yang ganjil 14 tahun sebelum dia bertemu Sumire.
Sumire dan sang narator sendiri berbagi kesukaan yang sama, kecintaan luar biasa pada sastra.

Kali ini, hm, lagunya apa yah? Oh, lagu klasik. Kayaknya sih Murakami suka lagu klasik kali yah (hm, search lagi deh, hehehe). Disini yang cukup menonjol adalah lagu Violet, lagu yang menjadi asal muasal nama Sumire, yang berarti Violet. Violet, lagu gubahan Mozart yang dinyanyikan oleh Elisabeth Schwarkopf dengan iringan piano Walter Gieseking, lagu kesukaan ibu Sumire. Lagu yang dikira Sumire tentang pujaan terhadap keindahan bunga violet, namun ternyata berisi cerita tentang seorang gadis anak gembala yang terjatuh ke serumpun bunga violet di sebuah padang rumput.

Gak terlalu tebal, cuma 210 halaman, tulisannya juga cukup besar-besar, tapi aku perlu waktu sekitar 4 hari untuk menyelesaikannya, tapi yang 100 halaman terakhir itu selesai waktu nunggu di airport dan setengah perjalanan di pesawat, hehehe.

2 comments:

Anonymous 1/12/2007 09:37:00 AM  

Hmm review yang aneh hahaha...ga dink, sip banget..tambah ngiler buat nyari...hmm jadi sumire dan miu itu sama-sama cewek ya..??.
waah emang Murakami jagonya bikin cerita yang aneh tapi bikin kita betah baca.

Duma 1/12/2007 09:50:00 AM  

Ho oh banget...
bersabarlah, mungkin suatu saat, bisa terbit di indonesia, wekekekekke

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP