Friday, August 25, 2006

The Known World


Judul : DUNIA YANG KUKENAL
Penulis : Edward P. Jones (c) 2003
Diterjemahkan dari : The Known World
Penerjemah : Meda Satria
Penebit : PT SERAMBI ILMU SEMESTA (Cetakan I : Juli 2006)
Tebal : 653 halaman : 21,5 x 13 cm

Di suatu tempat di Virgina, saat itu perbudakan masih merupakan hal yang legal. Suatu hal yang sebelumnya tak lazim kita dengar, ternyata saat itu, ada juga orang kulit hitam yang mempunyai budak. Mereka adalah para bekas budak yang sudah memperoleh surat kebebasan mereka dan cukup beruntung untuk bisa mendapatkan uang berkat keterampilan mereka, sehingga mereka mampu untuk membeli budak. Sebaliknya, ada juga terdapat orang-orang kulit putih yang walaupun bukan bangsa budak, namun lebih miskin dari para kulit hitam yang menjadi orang bebas tadi, sehingga sering terjadi, mereka merasa iri pada para kulit hitam yang beruntung itu.

Henry Townsend, sudah menjadi orang bebas sejak usia remaja, berkat kerja keras ayahnya, yang sangat ahli dalam mengukir dan membuat perabot, sehingga cukup mampu untuk membelinya dari William Robbins, seorang kulit putih yang cukup berkuasa di daerah itu. Entah kenapa, antara Henry Townsend dan William Robbins terjalin suatu hubungan batin yang cukup erat. Sejak kecil, tanpa disadari, William menganggap Henry berbeda dari budak lainnya, bahkan mungkin perlakuannya terhadap Henry bisa dianggap istimewa, hampir sama dengan anaknya. Henry pun memuja William, yang bahkan setelah kebebasannya, masih terus menolong Henry mendapatkan budak. Bisa dibilang, William mendidik Henry menjadi tuan atas para budak tersebut.

Setelah kematian Henry, dalam usia yang masih sangat muda, istrinya, dalam kesedihannya, jatuh ke dalam jerat perselingkuhan dengan salah seorang budaknya sendiri, Moses, yang sudah beristri dan mempunyai seorang anak. Moses yang berambisi untuk mempergunakan hubungan asmaranya dengan Caldonia, majikannya itu, tak segan-segan melakukan hal yang tak diduga terhadap anak dan istrinya.

Di sini juga diceritakan, betapa kebencian beberapa orang kulit putih, yang diwarnai juga oleh rasa iri melihat kesejahteraan para kulit hitam yang merdeka itu, membuat mereka gelap mata. Betapa kebebasan para mantan budak itu sebenarnya sangatlah rapuh, hanya bergantung pada selembar kertas yang dengan gampang dapat dimusnahkan. Kertas yang berisi keterangan bahwa dirinya adalah manusia merdeka.

Aku sih merasa, waktu di bagian awal-awal agak kelabakan juga bacanya, malah hampir frustrasi, kog lama banget, karena sepertinya ceritanya agak lambat majunya, jadi bacanya juga gak semangat, he he he. Tapi ternyata, di 200 halaman terakhir, aku selesaikan dalam 1 malam saja, karena disitu konflik-konfliknya mulai semakin memanas. Mulai terlihat bagaimana hal-hal yang pada bagian awal terasa membosankan, sepele, ternyata pada akhirnya tertimbun dan meledak.

Yang pasti, aku sih baru kali ini baca tentang adanya kehidupan orang kulit hitam yang mempekerjakan budak, padahal dirinya sendiri adalah mantan budak. Sebaik apapun seorang tuan, rasanya tak pantas kita menjadikan manusia lainnya menjadi budak, seolah-olah manusia lain itu tak sederajat dengan diri kita.

1 comments:

Anonymous 9/13/2006 07:49:00 PM  

Waahhh.. daku bener2 ketinggalan dhe aww.. ternyata nih buku udah diterjemahin ke Indo toohh? Hehehe.. spt biasa, tau nih buku pas nonton Oprah :D

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP