Celana Persaudaraan Musim Panas Kedua

Judul : Celana Persaudaraan Musim Panas Kedua
(The Second Summer of the Sisterhood)
Pengarang : Ann Brashares (c) 2004
Alih bahasa : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2004)
Tebal : 416 halaman; 20 x 13,5 cm
Buku ini adalah lanjutan kisah 4 orang remaja, Bee, Lena, Tibby dan Carmen, beserta sepotong celana jeans butut, yang dimulai di buku pertamanya "Sisterhood of the Travelling Pants" (terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul "Celana Persaudaraan").
Satu tahun sudah berlalu sejak musim panas yang lalu, saat celana jeans bekas yang ditemukan Carmen di toko pakaian bekas. Celana jeans yang dengan ajaibnya kelihatan pas dipakai keempat sahabat tersebut, dan membuat mereka semua tampak menakjubkan.
Musim panas datang lagi, liburan panjang. Berbeda dengan musim panas yang lalu, kali ini kecuali Tibby, yang akan mengikuti kursus membuat film, ketiga gadis lainnya tidak mempunyai rencana apa-apa.
Tapi, tak disangka, Bee yang menemukan surat-surat neneknya tepat pada saat liburan dimulai, membuat keputusan mendadak yang mengejutkan. Dia memutuskan untuk pergi ke kota tempat neneknya. Tinggallah Lena dan Carmen di kota itu.
Lena yang patah hati, akibat dengan sembrono memutuskan hubungannya dengan Kostos, cowok yang ditemuinya sewaktu liburan tahun lalu di Yunani. Liburan kali ini, haruskan dia lalui dengan bermuram durja?
Carmen yang pemarah, kali ini lagi-lagi membuat ulah. Setelah tahun lalu di tempat ayahnya hampir membuat kacau rumah tangga ayahnya dan ibu tirinya yang baru, kali ini melakukan lagi kesalahan yang sama. Sasarannya kali ini adalah ibunya sendiri, dengan pacar barunya.
Lalu Bee, di kota tempat tinggal neneknya, menyamar sebagai cewek yang sedang liburan dan mencari pekerjaan selama liburan. Apa nantinya yang ditemukan Bee?
Tibby, bertemu orang-orang yang keren di kursus membuat film itu. Dengan kecurigaan bahwa ibunya berusaha menyingkirkannya, Tibby juga membuat kesalahan yang menyedihkan.
Lalu, sang CELANA.... yang menyaksikan semua yang dialami keempat gadis itu.
Cerita yang manis tentang keseharian empat gadis remaja yang menjelang dewasa. Novel ini, hm, kayaknya sih masuk teenlit yah. Tapi menurutku sih, ceritanya gak dangkal. Hingga di novel kedua, ceritanya masih menarik (moga-moga di buku ketiga nanti masih tetap menarik, udah terbit sih, tapi aku belum baca, hue he he he, lah, yang ini juga belinya dah kapan gitu, baru dibaca, hi hi hi ). Masalah yang dihadapi biasa-biasa saja, seperti cemburu pada ibu yang pacaran lagi, patah hati, salah menilai orang lain. Yang membuat menarik, cara Ann Brashares bercerita, membuat kita bisa merasakan emosi yang terjadi pada keempat gadis tersebut. Emosi yang mudah kita asosiasikan dengan diri kita sendiri, yang ntah dengan satu atau lain cara, pernah juga kita alami. Mungkin ini yang membuat buku ini jadi menarik.
0 comments:
Post a Comment