Send Me Down A Miracle
Judul : Send Me Down A Miracle (Kirimi Aku Sebuah Keajaiban)
Pengarang : Han Nolan (1996)
Penerbit : Serambi (Juni 2006)
Tebal : 272 halaman; 24 cm
Kota Casper di Alabama, sebuah kota kecil yang tenang dan selalu teratur, tempat Charity Pittman, umur 14 tahun, anak seorang pendeta, tinggal bersama ayah dan adiknya.
Saat itu, ibu Charity sedang pergi untuk menghadiri konvensi kolektor sangkar burung. Charity sendiri merasa kepergian ibunya sesuatu yang tidak biasa. Saat itulah Adrienne muncul.
Adrienne, seorang pelukis yang cukup terkenal yang berasal dari kota tersebut kembali ke rumahnya. Dia mempunyai rencana yang luar biasa, ingin menjadi pertama di rumah masa kecilnya yang kini kosong. Katanya sih untuk mendapatkan inspirasi.
Keinginan itu ditentang dengan keras oleh ayah Charity, pendeta Pittman. Dia mengatakan bahwa iblis akan masuk ke pikiran yang kosong, apalagi dengan tingkah laku dan penampilan Adrienne yang eksentrik itu.
Tapi entah kenapa, Charity seperti ditarik oleh kekuatan magnetis untuk tetap berada di sekitar Adrienne. Mungkin ketertarikan Charity pada dunia seni, Adrienne sendiri yang mengatakan bahwa Charity punya mata yang mengerti seni.
Lalu, kehebohan pun menguncang kota Casper, setelah pertapaannya, Adrienne mengaku, bahwa dia melihat Yesus di kursi di ruang tamunya, tiga kali! Penduduk kota kecil itu, yang sangat taat, terbelah-belah antara yang percaya dan tidak percaya.
Benarkah kursi itu merupakan mukzijat? Ada orang tua yang menghilang dari kota itu, ada juga anak kembar jenius yang sakit-sakitan sejak kecil, Charity yang ingin ibunya kembali. Semua dibawa mereka ke depan kursi itu.
Sang Pendeta berusaha meyakinkan jemaatnya bahwa Adrienne tak lain hanya seorang penipu, penyembahan terhadap kursi itu adalah dosa. Tapi sebagian besar penduduk kota itu tak perduli dan tetap saja mengantri di depan rumah Adrienne untuk melihat dan berdoa di depan kursi itu. Akankah mukzizat benar-benar datang atau malah bencana seperti yang dikatakan pendeta Pittman?
Lagi-lagi Han Nolan bercerita tentang seorang gadis remaja yang kebingungan. Charity harus memilih apakah tetap membela ayah yang dikaguminya sejak kecil, atau mengikuti keinginan hatinya dan menentang ayahnya karena mempercayai Adrienne dan kursi ajaibnya.
Suasana kota Casper, kota khayalan Han Nolan, yang merupakan kota kecil dengan jumlah penduduk yang sedikit, dapat digambarkan oleh Han Nolan dengan sangat baik, termasuk bagaimana pengaruh gereja yang sangat kuat pada kehidupan masyarakatnya. Kegiatan piknik bersama, gosip antar tetangga, semua terasa hidup dalam kisah ini.
1 comments:
jadi secara keseluruhan, menurutmu layak beli gak bo? aku lihat buku ini kemaren di toko buku. ragu2 juga beli sih.
Post a Comment