Mio Anakku

Judul : Mio Anakku (Mio, Min Mio)
Pengarang : Astrid Lindgren (1960)
Penerbit : Gramedia (2005)
Tebal : 192 halaman
Bo Vilhelm Olsson, seorang anak yatim piatu tinggal bersama orangtua angkatnya yang tidak terlalu menyayanginya. Bo sendiri merasa bahwa ada yang salah dengan tempat tinggalnya, seolah-olah dia tidak seharusnya berada di Stockholm. Di kota itu, Bo hanya punya seorang teman baik dan ada seekor kuda tua penarik kereta bir yang disukainya serta seorang tante pemilik toko kelontong yang baik padanya.
Hingga suatu hari, segalanya berubah. Sewaktu ibu angkatnya menyuruhnya ke toko kelontong membeli roti, tante pemilik toko itu malah menyuruhnya mengirimkan selembar kartu pos yang ditujukan kepada Raja Negeri Nun Jauh dan memberikannya sebutir apel.
Setelah menjatuhkan kartu pos aneh tersebut di kotak pos, Bo duduk di sebuah bangku di taman, dan dia menemukan sebuah botol bir di dekat bangku tersebut, lalu saat dibukanya, ternyata ada Jin di dalam botol bir dan Jin tersebut bercerita tentang Negeri Nun Jauh, Bo merasa sangat tertarik dan minta diajak. Pada awalnya Jin menolak karena dia tak diperbolehkan melakukan hal tersebut, tetapi sewaktu melihat apel yang dibawa Bo, tahulah sang Jin bahwa Bo lah anak yang harus dijemputnya ke Negeri Nun Jauh.
Setibanya di Negeri Nun Jauh, tahulah Bo, bahwa dia ternyata adalah anak Raja Negeri Nun Jauh, negeri yang sangat berbeda dari kota Stockholm tempatnya tinggal. Ternyata namanya bukanlah Bo, tetapi Mio.
Mio hidup sangat bahagia di Negeri Nun Jauh, dia mendapatkan teman baru yang sangat menyenangkan, ayahnya sangat baik dan memperhatikannya, bersedia meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk bermain bersama Bo, sungguh kehidupan yang luar biasa.
Bahkan Mio mendapatkan seekor kuda putih bersurai emas yang sangat indah.
Tetapi ternyata, Negeri Nun Jauh tidaklah sebahagia kelihatannya. Ksatria Kato yang jahat sudah menculik banyak anak dari Negeri Nun Jauh, dan bahkan mencuri bayi kuda putih, sehingga para kuda putih di Hutan Kemilau Bulan menangis darah setiap kali nama Ksatria Kato disebutkan.
Mio pun berangkat untuk menaklukkan Ksatria Kato bersama teman dan kudanya. Sebelum berangkat, jubah Mio terkoyak, dan seorang ibu penenun menambal jubah mio dengan tenunan ajaib, dan ternyata tenunannya itu membuat jubah Mio jika dibalik dapat menjadi Jubah Gaib yang membuat pemakainya tidak terlihat (jadi ingat Jubah Gaibnya Harry Potter kan *wink-wink*).
Setibanya di wilayah Ksatria Kato, Mio melihat bahwa anak-anak yang diculik ternyata diubah menjadi burung-burung yang terbang berteriak-teriak sedih diatas danau di sekitar Kastil Ksatria Kato.
Lalu Mio bertemu pembuat pedang Ksatria Kato yang memberikan kepadanya Pedang Ajaib yang tidak bisa melukai orang baik tapi mampu menembus batu. Ksatria Kato ternyata memiliki hati batu, demikian juga dengan para mata-mata Ksatria Kato yang mengerikan.
Akhirnya, Mio dapat mengalahkan Ksatria Kato, dan mengembalikan burung-burung ke wujud mereka sebagai anak-anak dari Negeri Nun Jauh dan juga menemukan bayi kuda putih yang diculik. Tetapi seekor burung terluka parah dan mati sewaktu membantu Mio dari serangan para mata-mata.
Ternyata burung itu adalah anak dari ibu penenun yang menenun jubah gaib Mio, lalu Mio pun menyelimuti anak itu dengan jubah tenunan ibunya, dan ajaib, anak itu hidup kembali.
Lalu mereka beramai-ramai kembali ke Negeri Nun Jauh, Kastil Ksatria Kato pun runtuh ke dalam danau, wilayah kekuasaan Ksatria Kato yang selama ini diliputi kegelapan menjadi cerah dan terang dengan matinya Ksatria Kato.
Semuanya berakhir bahagia, ayah Mio, sang Raja sangat gembira dengan kepulangan Mio, karena memang Mio sudah diramalkan sebagai orang yang dapat membasmi Ksatria Kato.
0 comments:
Post a Comment