Monday, December 03, 2007

Jungle Child

Judul : Jungle Child (Rinduku pada Rimba Papua)
Penulis : Sabine Kuegler, 2006
Penerjemah : Dian Pertiwi
Penerbit : ESENSI, divisi dari Penerbit Erlangga, 2007
Tebal : 384 halaman; 11 x 17,5 cm

Buku ini adalah memoar Sabine Kuegler, seorang perempuan berkebangsaan Jerman, yang menghabiskan masa kanak-kanak hingga remajanya di rimba Papua.

Sabine masih berusia tujuh tahun sewaktu pertama kali dia dan keluarganya tiba di Papua. Keluarga Kuegler terdiri dari sang ayah, ibu, Judith, anak tertua, Sabine, dan adiknya Christian. Sabine dan Christian sendiri lahir di sebuah desa di pinggiran Kathmandu, di Nepal. Ayahnya seorang ahli linguistik.

Mereka pindah ke Papua, mengikuti Papa yang bekerja sebagai ahli bahasa di sebuah suku pedalaman yang baru ditemukan. Suku itu adalah suku Fayu, sebuah suku yang tadinya tak dikenal, bahkan disangka sudah tidak ada. Keluarga Kuegler bahkan sampai tinggal bersama-sama suku tersebut, dimana Papa berusaha membuat banyak dokumentasi atas bahasa suku yang tak dikenal tersebut.

Salah satu yang sangat menarik dalam kisah pertemuan Papa dengan orang-orang Fayu adalah masalah bahasa tersebut. Dalam tim pencari suku tersebut, terdapat beberapa orang penerjemah, seorang penerjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia yang dilakukan oleh seorang peneliti Amerika bernama Herb, lalu seorang lagi dari suku Dani yang bisa bahasa Dou dan mengerti bahasa Indonesia, dan seorang yang berasal dari suku Fayu sendiri, Nakire, yang menjadi tawanan akibat perang suku. Nakire ini yang nantinya akan menjadi ujung lidah tim tersebut di hadapan suku Fayu. Terbayang betapa rumitnya masalah komunikasi itu karena harus melewati beberapa tahap penerjemahan.

Masuknya keluarga Kuegler ke tengah-tengah suku Fayu sendiri tidak mudah. Papa sudah tinggal terlebih dahulu bersama-sama mereka sebelum dia membawa anak istrinya untuk tinggal bersama di pedalaman rimba tersebut. Di rumah mereka di desa Fayu, Foida, juga banyak terjadi suka duka. Banjir, serangan hewan-hewan dari mulai serangga hingga ular, semua dialami oleh mereka. Juga perang suku yang menjadi kebiasaan suku Fayu sering merepotkan keluarga Kuegler.

Namun.... di pedalaman rimba Papua tersebut, Sabine merasa hidupnya tak kekurangan apa pun. Dia dengan bebas bermain-main bersama anak-anak suku Fayu. Bermain, ternyata adalah sesuatu yang tak dikenal anak-anak suku Fayu sebelum kedatangan keluarga Kuegler. Kehidupan suku tersebut yang terkungkung di dalam rimba, selalu dihantui ketakutan dan balas dendam akibat perang suku membuat mereka sejak kecil hidup dalam ketegangan.

Perlahan-lahan, kedatangan keluarga Kuegler ternyata membawa banyak hal baru dalam kehidupan suku terpencil tersebut. Ada sebuah kisah yang lucu, karena suku tersebut tidak mengenal kucing sebelumnya, maka dalam bahasa Fayu tidak ada kata untuk kucing. Kucing mereka yang bernama Timmy akhirnya mendapat kehormatan menjadi bahasa Fayu untuk menunjukkan kucing! Banyak lagi hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan Sabine dan keluarganya.

Selama tinggal di Papua, Sabine, kakak dan adiknya diajari sendiri oleh sang ibu, hingga saatnya mereka harus masuk sekolah tinggi. Di usia 17 tahun, Sabine pun harus meninggalkan Papua, dan kembali ke Eropa, di mana dia menuliskan betapa sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan modern. Baginya yang terbiasa dengan kehidupan yang sederhana di rimba, kehidupan di Eropa sangat membingungkan. Hal tersebut juga membuatnya sempat mengalami depresi, dan membuat kehidupannya cukup kacau.

Begitupun, bagi Sabine, masa kecilnya di Papua, bukan sesuatu yang bisa dilupakannya begitu saja. Karena itulah, akhirnya buku ini ditulisnya.

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP