Inkspell
Judul : Inkspell
Pengarang : Cornelia Funke - original text copyright Dressler Verlag 2005
Penerjemah dari bahasa Jerman : Anthea Bell
Penerbit : The Chicken House - First paperback edition 2006
Tebal : 635 halaman ; 19,5 x 13,4 cm
Sudah hampir setahun Mo, Meggi dan ibunya, Resa, tinggal bersama bibi Elinor. Bahkan si pembaca gagap, Darius, sekarang tinggal bersama mereka, membantu Elinor membenahi kembali perpustakaannya.
Tapi kehidupan Mo dan Meggi tak lagi sama seperti sebelumnya. Mo dan Meggi makin sering bertengkar. Mo keberatan melihat Meggi menghabiskan begitu banyak membaca buku catatannya tentang Negeri Tinta, Inkworld, yang dituliskan Meggi dari cerita ibunya tentang negeri itu.
Sementara itu, Dustfinger akhirnya berhasil menemukan seorang yang mampu membacakannya kembali ke buku Inkheart, kembali ke negeri asalnya. Orang itu bernama Orpheus. Sungguh nama yang luar biasa, mengingat Orpheus dalam mitologi Yunani adalah seorang artis luarbiasa, penulis puisi dan pemusik handal, yang lagu-lagunya dapat menenangkan bahkan binatang buas sekalipun.
Dustfinger pun berhasil kembali ke Inkworld, tapi Farid, si bocah dari cerita 1001 Malam, tertinggal sendirian di dunia ini. Farid sudah begitu lekat dengan Dustfinger, dan dia menjadi sangat marah pada Orpheus karena membohonginya. Tapi sebelum sempat membalas Orpheus, tiba-tiba Basta muncul dan Farid pun lari ketakutan.
Farid berhasil menemukan Meggi dan keluarganya, dan memberitahu tentang Basta. Namun Farid juga memberitahu mereka bahwa Dustfinger sudah berhasil kembali ke Inkworld. Diam-diam Farid berusaha membujuk Meggi untuk mencoba membacakan Farid untuk masuk ke dalam cerita Inkheart. Meggi pun akhirnya menyerah, dan ternyata percobaan itu berhasil.
Mo begitu sedih, sewaktu sadar Meggi sudah meninggalkan mereka dan masuk ke cerita Inkheart. Namun kesedihan tak bisa bertahan lama, sebab tiba-tiba Basta dan Mortola mendatangi mereka bersama Orpheus, dan akhirnya Basta, Mortola, Mo dan Resa terbawa kembali ke Inkworld. Meninggalkan Orpheus yang begitu ambisius untuk masuk ke cerita itu, dan bibi Elinor dan Darius, yang dengan segera dijadikan Orpheus tawanannya.
Di Inkworld, ternyata banyak kejadian yang tak lagi sejalan dengan cerita yang dibuat oleh Fenoglio. Fenoglio sendiri tinggal di dekat kastil Pangeran Tertawa, yang sekarang dipanggil Pangeran Pengeluh, sejak Cosimo anaknya meninggal. Fenoglio pun di situ terkenal dengan julukan Inkweaver, si Perajut Tinta, berkat kepiawaiannya merajut kata-kata yang memikat baik bangsawan maupun kaum pengelana.
Petualangan Meggi dan Farid, mempertemukan mereka kembali dengan Fenoglio, juga dengan Dustfinger, yang kini sudah kembali kepada kekasihnya, Roxane. Meggi dan Farid pun juga harus berjuang, dengan bantuan Fenoglio, untuk membebaskan Mo dan Resa, yang ditawan oleh Adderhead, si Pangeran Perak.
Seperti judulnya, Inkspell, mungkin bisa diterjemahkan jadi Mantra Tinta? Yang pasti, baca buku ini, aku juga merasa seperti dikenai mantra ajaib, gak bisa lepas, hehehehe.
Ceritanya seru, fantastis banget. Karakter-karakter fantasi di dunia Inkworld benar-benar menakjubkan. Ada si Pangeran Hitam dengan beruangnya, lalu juga diceritakan keahlian sebenarnya Dustfinger sebagai Pemikat Api, benar-benar membuat kita terpesona.
Membaca gambaran dunia Inkworld, rasanya aku jadi mengerti, mengapa Meggi begitu terpesona akan dunia itu, walaupun banyak karakter jahat dan lalim, namun pesonanya begitu kuat, membuat orang rela meninggalkan apa saja untuk mendatanginya. Pesona itu juga yang membuat Orpheus, begitu ambisius untuk dapat membaca dirinya masuk ke dalam cerita tersebut. Namun sepertinya, hanya Meggi yang punya kemampuan untuk memasukkan dirinya sendiri ke dalam cerita yang dibacanya. Bahkan Mo pun tak punya kemampuan itu.
Dalam buku ini juga, diceritakan kalau Meggi dan Farid sudah bertambah dewasa, memasuki masa pubertas, dan saling tertarik, dan menjadikan cerita tambah berwarna dengan selipan kisah cinta kedua anak tersebut.
Yang pasti, di buku kedua ini, rasa negeri fantasinya sangat terasa, dibandingkan dengan Inkheart, yang memang settingnya dibuat di dunia nyata sekarang.
Yang menarik juga, di tiap awal bab, ada kutipan dari berbagai buku dan puisi, seperti dari Abarat-nya Clive Barker, Harry Potter nya JK Rowling, dari Shakespeare juga ada, dan banyak lagi.
Terus ada satu kata-kata Mo kepada Meggi yang aku suka banget, kira-kira bunyinya, "Betapa anehnya sebuah buku, dia bertambah gemuk setelah kau membacanya berkali-kali. Sepertinya ada sesuatu yang tertinggal diantara halaman-halamannya setiap kali kau membacanya. Dan saat kau melihat buku itu kembali bertahun-tahun kemudian, kau juga akan menemukan dirimu disana, dirimu yang sedikit lebih muda, sedikit berbeda, seakan-akan buku itu telah mengawetkanmu seperti bunga kering, asing tapi akrab."
Tambahan 1 : Buku ketiganya, masih ditulis, judulnya aja belum ada, ada gosip sih Inkworld, tapi bener gak yah? gak cocok kayaknya, hehehe. Hm, cuma jadwal terbitnya masih lama banget, musim gugur 2008, huahhhh huahhh.... lama bangetttt.......! Dah penasaran nih, ama cerita yang bakal ditulis Orpheus dengan bimbingan Fenoglio, hiks.. hiks... jadi kayak apa yah? huah....
Tambahan 2 : Film Inkheart sendiri sedang casting, katanya sih Brendan Fraser sudah tanda tangan kontrak untuk main jadi Mo, terus untuk peran Meggi sudah ada Eliza Bennet, aktris Inggris berusia 13 tahun (pernah main jadi Tora di Nanny MacPhee). Diperkirakan bakal release tahun depan.
8 comments:
Cornelia Funke ternyata orang Jerman toh.. (baru tau hehehe)
Kalo ga salah dia dah nerbitin Inkheart yach? Disini namanya Tintenherz
ya, bener tuh Sherlock.
Aslinya kan memang bahasa Jerman, wekekeke
Buku Cornelia Funke dah banyak kog, yang dah mau terbit lagi Bahasa Indonesianya itu Dragon Rider (Drachenreiter)
Yang udah duluan kemaren Pangeran Pencuri (Herr der Diebe)
Kalau trilogi Inkheart ini yah Inkheart (Tintenherz) ama Inkspell (Tintenblut)
Buku ketiganya.... hiks.. nunggu lama banget, hehehe
Trus ntah apa lagi tuh, banyak juga tuh dah bukunya nyonya Funke ini
Ihikss.. ini buku blm diterjemahin ke Indo ya, Kobo?
belum tuh Indah,
dan menurut prediksi, kayaknya kita masih harus sangat sangat sangat sabar sekali menunggu terjemahannya T_T
Karena menurut informasi terakhir, bukunya mama Funke yang akan terbit dalam bahasa Indonesia berikutnya adalah Dragon Rider alias Penunggang Naga (cerita yang sangat keren! tunggu aja deh, gak bakal nyesal sama sekali!)
Setelah Dragon Rider, baru habis itu giliran Inkheart, baru setelah itu Inkspell nya.
Buku ketiga, hehehe, sama-sama nunggu, belum selesai ditulis ama mama Funke nya, hehehe
Haiyaaahhh.. lama sekalee yaa! Hehehe.. sebenernya yg bikin penasaran seeh lantaran lagi itu pernah nonton di Metro TV di acara Art21, kalo kaga salah inget.. en di situ dibilang kalo penjualan "Inkheart" (or "Inkspell"?) ini menyaingi Harry Potter 'boo!! Waahh.. makin penasaran, hehehe..
Dragon Rider yaa? Waahh.. ditunggu aahh, kira2 kapan keluarnya, Bo?
oh yah? aku sih tahu kalo Inkheart itu dah mulai populer, tapi kalo sampai penjualannya nyaingi HP? hm, baru tahu nih.
Padahal, Inkheart ini beda banget lo dengan Harry Potter. Tapi memang keren abis tuh!
Kayanya maksudnya itu penjualan di Jerman dhe, Bo, hihi.. si Cornelia ini orang Jerman khan? Bangga kalee warga Jerman ada pengarang lokal mereka yg bisa bikin cerita yg bagus en bisa 'mencuri' perhatian duniaa.. makanya berbondong2 pd beli dhee, hehehe..
Btw, ini trilogi aja ya, Bo, atau bakal terus bersambung spt Artemis?
Hahaha, kalau di Jerman sih bisa jadi (",)
Kalau baca di website nya Cornelia Funke sih memang hanya diniatkan jadi trilogi. Sedangkan Artemis Fowl, aku gak ingat apa memang dia awalnya mau dibikin jadi trilogi yah? hehehehe
Tapi aku memang suka juga sih dari dulu ngikutin cerita yang berseri-seri gini, makanya dari dulu dah suka cerita Narnia, terus ada lagi satu yang aku pengen koleksi, seri Taran nya Llyod Alexander, teringat masa lalu, wakakkakaka
Post a Comment