Thursday, November 30, 2006

The Glass Palace

Judul : The Glass Palace
Pengarang : Amitav Ghosh (c) 2000
Penerbit : HarperCollins Publishers, paperback edition 2001
Tebal : 552 halaman ; 20 x 12,8 cm

Bruk! Buku yang tebal dan lumayan besar ukurannya, dengan tulisan yang imut-imut banget... Perlu 5 hari untuk menghabiskannya, hehehe.

Cerita tentang seorang anak yatim piatu keturunan India, yang tak sengaja akhirnya menetap di Burma, pada akhir abad ke 19.

Saat itu, di Burma terjadi pergeseran kekuasaan. Raja Thebaw disingkirkan dari tahtanya, dan bersama sang ratu yang sedang hamil dan kedua putrinya, keluarga kerajaan itu diasingkan di Indragiri, sebuah tempat di India. Selain keluarganya, para dayang-dayang istana juga ikut mengiringi ke pengasingan, termasuk Dolly, seorang yatim piatu yang dipungut permaisuri untuk menjaga anak-anaknya.

Sewaktu iring-iringan keluarga kerajaan digiring meninggalkan Mandalay, pusat kerajaan Burma waktu itu, Rajkumar melihat kembali Dolly, yang sebelumnya dilihatnya di istana Mandalay, yang dijuluki Istana Kaca, The Glass Palace, sewaktu rakyat Burma menyerbu dan menjarah istana setelah pasukan Inggris mengalahkan tentara kerajaan.

Cerita terus mengalir, tentang kisah kerja keras Rajkumar membangun usaha kayu baloknya, dan juga usahanya mengejar Dolly hingga ke Indragiri. Lalu cerita berlanjut dengan berkembangnya keluarga tersebut. Rajkumar dan Dolly punya dua orang anak lelaki. Rajutan nasib mempertemukan mereka dengan keturunan para kerabat kedua orangtuanya.

Buku ini bercerita tentang banyak tempat, mulai dari Burma, India, sampai ke Malaysia.

Yang aku suka dari buku ini, banyak sekali hal-hal baru bagiku, terutama tentang Burma, yang kini disebut Myanmar. Baru tahu aku kalau dulunya Burma merupakan kerajaan yang makmur, dimana penduduknya hidup cukup baik, dan berbeda dengan tipikal masyarakat Asia pada umumnya, di Burma, kaum wanitanya cukup dihargai dalam masyarakat. Selain itu menarik sekali membaca tentang kisah usaha perkayuan di awal abad ke 20, bagaimana para pekerja didatangkan dari India, yang mengingatkanku akan taktik yang digunakan para pencari buruh kebun untuk menarik penduduk desa dari Jawa untuk bekerja di Sumatera.

Ada juga kisah tentang awal pembangunan kebun karet di Malaysia, lalu masakan-masakan khas semenanjung Malaysia.

Aku suka sekali membaca tentang penggunaan gajah oleh para pengusaha kayu tersebut. Ternyata dalam mengendalikan para gajah tersebut, ada tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuan para pawangnya.

Kisah Raja Thebaw di pembuangannya di Indragiri sendiri dibahas dengan sangat memikat. Membayangkan sang raja yang harus tinggal di sebuah desa terpencil, menghabiskan hari-harinya memandangi laut dengan teleskopnya, dan kesedihan sewaktu sang raja mati dan dikuburkan di Indragiri, tanpa boleh dibawa kembali ke kampung halamannya.

Di bagian akhir, ada sedikit dibahas tentang situasi di Myanmar saat ini, tentang Aung Sang Suu Kyi yang masih menjadi tahanan di rumahnya, dan juga betapa sulit akses informasi.

Kejayaan masa lalu Burma hanya tinggal kenangan.

Amitav Ghosh lahir di Kolkata, tahun 1956. Besar di Bangladesh (sekarang Pakistan Timur), Sri Lanka, Iran dan India. Setelah lulus dari Universitas Delhi, dia melanjutkan studi ke Oxford di bidang Antropologi Sosial dan mendapat gelar Master of Philosophy dan Ph.d di tahun 1982. Saat ini dia tinggal di New York dan mengajar di Columbia University. Saat ini dia sudah menulis beberapa novel dan mendapat penghargaan atas novel-novelnya tersebut. Selain menulis novel, Amitav Ghosh juga sering menulis berbagai artikel dan essay.

Novelnya Glass Palace sendiri memenangkan Grand Prize for Fiction dari Frankfurt e-book Award tahun 2001, dan dipilih sebagai Notable Book oleh LA Times dan Chicago Tribune pada tahun yang sama.

4 comments:

Anonymous 11/30/2006 03:44:00 PM  

covernya keren ya......

Duma 11/30/2006 04:37:00 PM  

yup, betul!
Salah satu faktor yg buat aku beli bukunya, selain baca sinopsis di cover belakangnya, hehehe

Waktu beli, sebenarnya ada faktor diskonan juga, pas mau beli Kafka on The Shore, kan ada promo buy 2 get 3, jadi untuk nemenin si Kafka lah, beli buku ini ama Soul Mountain. Hehehe

Anonymous 6/20/2007 09:27:00 PM  

Hai kebetulan aku juga udah baca buku ini, dan suka.. Penulisnya sangat detil dan deskriptif menceritakan tempat, keadaan, situasi orang-orang di istana, termasuk saat istana dikepung dan para putri terpaksa melarikan diri. It's really a great book:)

Duma 6/20/2007 10:04:00 PM  

hore....

ada juga yang baca buku ini, hehehehe

Memang bagus deh, hm, apa kira-kira ada yang mau terbitkan gak yah di Indonesia?

*lirik ke kiri dan ke kanan....*

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP