Friday, June 16, 2006

Maut di Teater Varmint

Judul : Petualangan Dahsyat Hermux Tantamoq - Maut di Teater Varmint (No Time Like Show Time)
Pengarang : Michael Hoeye
Penerbit : MLC Lumos - Mizan Group (2006)
Tebal : 284 halaman

Wow, MLC ngebut nih, ini buku ketiga dari seri petualangan si tikus cerdik dari Pinchester, Hermux Tantamoq. Buku pertama Misteri di Gunung Telaubonari dilanjutkan dengan Melacak Jejak Kota Kuno keduanya terbit di tahun yang sama (silahkan klik untuk kedua buku tersebut). Tapi t-o-p deh ^.^ jadi gak perlu nunggu lama-lama buat tahu lanjutan petualangan Hermux, he he he he.

Kali ini, ternyata kepiawaian Hermux dalam memecahkan misteri menarik perhatian seorang pemilik teater paling terkenal di Pinchester. Surat ancaman misterius menjadi tugas utama Hermux, yang disamarkan di teater sebagai penata latar panggung (secara tak sengaja, karena sang penata panggung bertengkar dengan pemilik teater saat Hermux ada di sana).

Ternyata, dunia panggung teater tak seindah pertunjukannya. Banyak intrik yang terjadi di balik layar. Hermux sungguh-sungguh terkejut dengan hal-hal yang ditemuinya selama bekerja di teater. Berkedok memasang jam alarm (sesuai permintaan Mr Fluster Varmint, si pemilik teater, bahwa Hermux harus bekerja secara rahasia), Hermux menemukan fakta-fakta tak terduga. Para aktris dan aktor masa lalu pun muncul kembali ke permukaan.

Apa yang terjadi dengan Teater Varmint? apakah Tucka Merstlin, sang pengusaha kosmetik yang serakah berhasil memperoleh teater itu?

Aduh, masalah Hermux seolah tak ada habisnya. Sementara ia harus memecahkan masalah perebutan teater antara Mr Varmint dan Tucka, ada lagi masalah dalam menyatakan cinta pada Linka, sang pilot. Padahal Linka sedang pergi untuk membuat film dengan seorang produser perayu.

Tapi memang Hermux tikus cerdik dan beruntung, semuanya berakhir manis. Si jahat celaka, dan yang baik menang.

Membaca buku ketiga petualang Hermux ini rasanya lebih asik. Waktu di buku pertama yang sulit itu mengingat nama-nama tokohnya, karena pemilihan nama yang agak janggal. Di buku kedua, ada lagi tokoh baru, tapi sebagian besar tokoh lama tetap ada. Di buku ketiga, kita sudah akrab dengan penduduk Pinchester, sehingga cerita terasa lebih enak diikuti.

Buku ini juga merupakan buku seri petualangan Hermux yang terakhir sampai saat ini (diterbitkan tahun 2004), dan sampai saat ini belum kedengaran bakal ada sambungannya. Hm... kira-kira ada gak yah?

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP