Thursday, October 27, 2005

Pinissi - Petualangan Orang-orang Setinggi Lutut



Pengarang : Mama Piyo
Penerbit : Liliput
Tebal : 430 halaman

Pinissi, seorang bocah laki-laki berumur 9 tahun, pada suatu hari dimana terjadi badai hebat, dilemparkan ke laut dari kapal tempat ayahnya bekerja sebagai awak kapal, padahal itu adalah kali pertamanya berlayar bersama ayahnya.
Kisah sedih ini mengawali petualangan Pinissi.
Pada saat ia menyangka akan mati tenggelam di laut, tiba-tiba datanglah pertolongan yang tak pernah diduganya, sesosok makhluk ajaib berbentuk ular laut raksasa, yang mengantarkannya ke tepi pantai, dimana dia akhirnya ditemukan oleh kelompok Orang-Orang Setinggi Lutut.
Pinissi kemudian tinggal dan belajar bersama para pemuda di kampung Orang-Orang Setinggi Lutut, hingga pada suatu hari, kejadian aneh terjadi pada saat Pinissi sedang belajar untuk melalui gua rahasia. Seekor burung raksasa menyeretnya dan melukainya, dan hampir saja membunuhnya kalau saja si ular raksasa tidak datang memberikan pertolongan.
Akibat kejadian itu dan kejadian penyelamatan sang ular yang dijebak oleh burung tersebut, Pinissi harus mulai perjalanannya, dengan hanya ditemani oleh Junta, salah seorang temannya dari kaum Orang-Orang Setinggi Lutut.
Mereka berdua kemudian sampai ke sebuah desa, dan tinggal bersama Dampu Awan, orangtua yang berprofesi sebagai pande besi, dengan merahasiakan identitas mereka.
Hingga suatu hari, pada suatu pasar malam, mereka bertemu Baba, si peramal, yang memberitahu Dampu Awan bahwa ada bahaya mendekati kampung mereka.
Dampu Awan, mengetahui hal tersebut, bukannya berusaha menyelamatkan diri, tetapi malah bercerita tentang asal usul Pinissi, yang ternyata merupakan anak dari salah satu penduduk desa tersebut, Argon dan Lili. Dampu Awan mengetahui identitas Pinissi dari bola kristal yang dibawa Pinissi, yang ternyata merupakan bola ajaib dimana Roh Lepe yang ajaib tersimpan.
Roh Lepe adalah roh yang memiliki kekuatan istimewa, yang kehadirannya akan mengundang banyak orang untuk memperebutkannya.
Ternyata, ibu Pinissi adalah salah seorang dari kaum Perempuan Jelita, yang memiliki kekuatan Roh Lepe, sehingga mereka tetap muda dan cantik dan juga perkasa.
Buku ini berakhir dengan kisah dimana Pinissi akhirnya bertemu dengan kaum Perempuan Jelita, dan mengetahui kisah hidup ibunya.
Tetapi, petualangan belum berakhir, sebab, kini Roh Lepe dan Perempuan Jelita sudah diketahui keberadaannya, demikian juga dengan kaum-kaum yang selama ini menghilang dan dikira sudah tidak ada lagi. Dan juga, Pinissi ingin kembali ke Tanah Loka, tempat orang yang selama ini membesarkannya, yang dikiranya sebagai ayahnya-- tetapi malah membiarkannya waktu dia dibuang oleh kapten kapal sebagai tumbal pada waktu badai --, dan ingin mencari tahu tentang bagaimana dia bisa sampai ke Tanah Loka.
Cerita fantasi ini ditulis oleh Mama Piyo (siapa ya nama aslinya, hehehe), yang pasti kayaknya sih, orang Indonesia nih. Ilustrasinya dikerjakan oleh Bendung Wijaya. Aku sih tertarik karena lihat ilustrasinya, hehehe...
Ceritanya sih menarik, aku terutama suka dengan nama-nama yang dibuat oleh Mama Piyo; Orang-orang Setinggi Lutut, Perempuan Jelita, Kora si Ular Laut, Manusia Bongkok, si Mata Merah, Dampu Awan, Baba, Tanah Loka, Kampung Halimun... khas Indonesia sekali kan, enak dengarnya, akrab di telinga, tetapi tetap berkesan eksotis. Tapi kenapa nama ayah dan ibunya Pinissi itu Lili dan Argon ya? Jadi terkesan mirip ama LOTR ama Harry Potter nih, hehehe
Cuma, sayangnya diakhir cerita, ada kisah-kisah yang terkesan dipaksakan, tiap bab bercerita tentang asal usul karakter-karakter yang menonjol di cerita ini. Sayang juga tuh, padahal coba dibaurkan dengan keseluruhan cerita, atau bisa saja kan dibiarkan dulu menjadi misteri, dan di buku-buku berikutnya (katanya sih mau dibikin jadi trilogi nih) dibeberkan pelan-pelan... hehehe, biar penasaran.... hihihihihi.
Tapi paling tidak, buku ini lumayan deh, semoga lanjutannya nanti makin lancar dan halus ceritanya ya Mama Piyo...

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP