Sunday, September 25, 2005

Shanghai Baby




Judul : Shanghai Baby
Penulis : Wei Hui
Penerbit : Kunci Ilmu
Tebal : 338 halaman

Kualitas terjemahannya bagus, enak dibaca loooo.....
Aku tertarik beli buku ini karena ulasan di sampul belakang, yang menyebutkan bahwa buku ini cukup fenomenal karena sampai menimbulkan berbagai protes keras di negara asal penulis, Cina, bahkan sampai ada larangan (banned) dan unjuk rasa pembakaran buku ini.

Ternyata…. aduh… aku sedikit tidak senang juga awalnya, tetapi setelah selesai baca ternyata cukup lumayan juga. Gaya penyampaian cerita Wei Hui enak dibaca, ceritanya terus mengalir dan tidak membosankan.

Setelah selesai baca, sepertinya penjabaran Wei Hui tentang perasaan seorang Shanghai Baby (baobei) tentang hubungan laki-laki dan wanita yang cukup terang-terangan mungkin agak mengejutkan bagi Cina.

Ceritanya tentang Coco, yang nama aslinya Nikki, seorang wanita muda berprofesi sebagai seorang penulis. Anak tunggal (ingat kebijakan satu anak di RRC) dari pasangan professor di suatu universitas.

Coco tinggal bersama kekasihnya, Tian Tian, seorang pelukis muda yang impoten. Keimpotenan kekasihnya inilah yang akhirnya menjadi sumber permasalahan. Coco, yang sejak remajanya sudah bergonta-ganti pacar dengan berbagai kisah petualangan seksual yang cukup banyak, sebenarnya mencintai kekasihnya.

Tian Tian, tinggal sendiri di Shanghai, ayahnya sudah meninggal, dan ibunya seorang pengusaha restauran masakan cina di Spanyol, sudah menikah lagi dengan lelaki Spanyol. Si pelukis memiliki masalah dengan ibunya, karena dipengaruhi oleh sang nenek, yang membuatnya percaya bahwa ibunya membunuh ayahnya agar bisa menikah dengan pria Spanyol tersebut.

Pada kisah ini, Coco, yang awalnya bekerja sebagai seorang pelayan di kafe kecil, atas saran kekasihnya, berhenti bekerja dan mulai menulis novelnya. Sebenarnya, sebagai penulis, Coco sudah mengeluarkan buku kumpulan cerpen yang cukup fenomenal sehingga dilarang dicetak ulang. Cerita-cerita dalam buku tersebut membuat Coco banyak digandrungi oleh kaum pria, berkat tokoh-tokoh wanitanya yang cukup sensual.

Coco dan Tian Tian memiliki beberapa teman, termasuk Madonna, bekas mucikari dan kekasihnya Ah Dick, pelukis yang jauh lebih muda dari Madonna.

Kemudian ada lagi sepupu Coco, Zu Sha, yang akhirnya nanti akan berhubungan dengan Ah Dick.

Kerumitan dimulai saat Coco berkenalan dengan Mark, seorang pria berkebangsaan Jerman yang bekerja di Shanghai pada sebuah perusahaan besar dari Jerman.

Hubungan Coco dengan Mark pada awalnya murni hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual semata. Tetapi Coco sendiri sering merasa marah dan menyesali penghianatannya terhadap Tian Tian.

Ternyata, Tian Tian merasa sedih akibat tidak bisa menyenangkan Coco secara seksual, dan akhirnya jatuh ke perangkap narkoba. Dia menjadi pecandu, dan pada akhirnya, walaupun telah mencoba masuk ke rehabilitasi, meninggal akibat kecanduannya tersebut.

Wei Hui begitu indah menggambarkan saat-saat Coco menemukan bagaimana Tian Tian meninggal pada saat tidur.

Mark akhirnya meninggalkan Coco dan pindah kembali ke negaranya.

Sebelum meninggal, Tian Tian sempat berbaikan kembali dengan ibunya, yang kembali ke Shanghai dan membuka restauran Spanyol di Shanghai bersama suami Spanyolnya.

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP