Pope Joan
Judul: Pope Joan
Pengarang: Donna Woolfolk Cross, 1996
Penerjemah: FX Dono Sunardi
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Januari 2007
Tebal : 736 halaman; 23 x 15 cm
Di abad ke sembilan, abad yang biasa dicap sebagai abad kegelapan. Masa-masa yang cukup suram bagi kehidupan manusia, terutama di benua Eropa. Pada masa itu Eropa diperintah oleh Kaisar Frank, yang menguasai hampir seluruh benua Eropa. Persaingan kekuasaan dengan Kepausan Roma juga menjadi bagian sejarah.
Masa itu, ilmu pengetahuan hanya dikuasai oleh segelintir orang. Bahkan para petinggi gereja, tak bisa dipastikan benar-benar memiliki kemampuan untuk duduk di posisinya. Banyak yang mendapatkan posisi karena pengaruh kekerabatan dan tentu saja, uang.
Perempuan tak memiliki suara apa-apa, hanya menjadi objek penghasil anak dan juga selalu dicap sebagai sumber dosa, anak-anak Hawa si pembawa dosa ke dunia. Itulah yang selalu ditanamkan kepada seluruh umat kristen masa itu. Dan pemikiran itu mendarah daging, membuat perempuan selalu menjadi korban kekerasan, selalu dalam posisi yang sangat lemah.
Pada hari meninggalnya Charlemagne, sang kaisar yang agung, di sebuah desa di wilayah Frank, seorang bayi perempuan lahir di keluarga seorang Kanon desa. Kelahirannya sebagai perempuan saja sudah membuat ayahnya kesal, padahal dia sudah mempunyai dua orang anak laki-laki. Joan, Johanna, begitulah ibunya menamai si bayi. Anak yang akan mengalami jalan hidup yang luar biasa.
Dalam usia yang sangat muda, Joan melihat kakak tertuanya, Matthew, belajar bahasa latin, menulis, dan membaca Alkitab. Itu memancing rasa penasaran Joan, yang diam-diam meminta Matthew mengajarinya. Tanpa sepengetahuan sang ayah, Matthew yang dipaksa Joan akhirnya mengajarinya. Dan ternyata memang Joan dikaruniai kemampuan yang luar biasa. Namun, penyakit merenggut nyawa Matthew muda.
Seorang kepala Schola yang berasal dari Yunani, menemukan kecerdasan Joan, dan dengan menggunakan kekuasaannya akhirnya berhasil memaksa ayah Joan yang sangat konservatif mau mengijinkan Joan belajar. Berkat pelajaran itulah Joan berhasil menguasai bahasa Latin, bahkan Yunani, suatu kemampuan yang sangat langka bahkan di kalangan akademisi gereja. Kemampuan logika Joan juga sangat mengagumkan.
Perjalanan hidup Joan tak mudah. Berbagai hambatan ditemuinya. Ayahnya terus menentang keinginan Joan untuk mencari ilmu. Belum lagi hinaan dan tekanan dari guru-guru dan teman-teman yang tak menyukai seorang perempuan yang jauh lebih cerdas dari kebanyakan laki-laki.
Penyamaran sebagai laki-laki akhirnya dijalani Joan setelah suatu kejadian mengerikan. Di biara Fulda Joan menyamar menjadi John Anglicus, identitas yang terus dipergunakannya hingga dia tiba di Roma.
Dan berbagai hal terus terjadi. Sakitnya sang Paus membawa Joan, yang waktu itu mulai dikenal sebagai rahib penyembuh, masuk ke istana kepausan. Terlibat dalam intrik-intrik politik dalam istana di Roma, dan akhirnya berhasil mencapai posisi sebagai pewaris tahta Pangeran Para Rasul itu.
Paus Joan, seorang perempuan yang menyamar menjadi laki-laki. Keberadaannya hingga kini diingkari.
Namun yang sangat menarik di sini bukan apakah fakta sejarah ini benar atau hanya sekedar legenda. Bagiku sih, yang membuat cerita ini memikat adalah kisah perjuangan Joan menghadapi semua tantangan berat. Bukan hanya sekedar hinaan dan tekanan mental, tapi juga hukuman fisik harus ditanggungnya.
Lalu kita juga diingatkan pada ketertindasan kaum perempuan di masa itu, dan juga betapa para tokoh gereja kebanyakan masih percaya pada tahyul, dan tak mau menerima penjelasan-penjelasan logis pada berbagai kejadian. Mencap semua yang berasal dari budaya pagan, termasuk ilmu-ilmu kedokteran, filsafat, dan teknik dari Yunani, sebagai dosa. Itu semua harus dihadapi Joan yang sangat memuja pengetahuan.
Novel yang menarik, yang memang didasari riset yang cukup lama oleh sang penulis (disebutkan untuk menulis buku ini dia membutuhkan waktu 7 tahun). Beberapa fakta sejarah memang sengaja disesuaikan untuk menyesuaikan dengan cerita, namun semua itu juga dijelaskan oleh penulis di bagian akhir novel.
0 comments:
Post a Comment