Taj Mahal
Judul : TAJ MAHAL : KISAH CINTA ABADI
Diterjemahkan dari Beneath a Marble Sky: A Novel of the Taj Mahal
Pengarang : John Shors, 2004
Penerjemah : Meithya Rose
Penerbit : Penerbit Mizan, Bandung, 2006
Tebal : 457 halaman ; 20,5 x 13 cm
Taj Mahal, bangunan megah, makam sang permaisuri Agra, Muntaz Mahal, yang dibangun oleh penguasa Agra, Shah Jahan untuk mengenang istri tercintanya itu.
Kisah intrik politik, persaingan antar saudara, kisah cinta terlarang, semua ini terjadi dibalik tembok Benteng Merah, istana penguasa Agra.
Jahanara, putri kesayangan Shah Jahan menuturkan kisahnya kepada kedua cucu perempuannya. Kisah yang menjadi rahasia untuk melindungi nyawa mereka, asal usul dan keterkaitan mereka dengan sultan penguasa Agra saat itu, Alamgir, sang penguasa yang kejam.
Dari kecil, Jahanara sangat mengagumi ibunya yang cantik dan pintar. Jahanara juga menyaksikan betapa indah dan mesra hubungan cinta ayah dan ibunya, yang membuatnya bermimpi untuk menjalani kehidupan seperti kedua orangtuanya itu.
Namun sebagai seorang putri penguasa, Jahanara juga tahu bahwa dia harus berkorban, dan merelakan dirinya dinikahkan dengan seorang saudagar kaya yang mandul, yang selalu menyalahkan dirinya karena tak juga mengandung.
Bukan hanya masalah cinta, namun juga kekuasaan. Aurangzeb, sang adik yang ambisius, juga membenci Jahanara yang menjadi kesayangan Shah Jahan. Sang adik juga iri kepada Dara, putra sulung Shah, yang menjadi putra mahkota. Ambisi Aurangzeb membawa banyak penderitaan di kemudian hari.
Kematian sang permaisuri sewaktu melahirkan, membuat Shah Jahan patah hati. Untuk mengenang sang kekasih, Shah Jahan memerintahkan Ustad Isa membangun sebuah makam yang dapat mengingatkannya pada kecantikan istrinya itu. Shah Jahan meminta Jahanara untuk membantu Isa, dan antara mereka berdua, terjalin hubungan asmara yang terlarang, karena Jahanara masih berstatus sebagai istri orang lain.
Aurangzeb sendiri sangat tidak menyukai kesukaan ayah dan saudara-saudaranya pada seni, keinginannya hanya berperang dan berperang, hingga suatu saat dia berhasil menaklukkan pasukan Dara, dan menawan ayahnya di menara Benteng Merah, di sebuah ruangan yang menghadap ke Taj Mahal.
Di awal buku, aku ragu-ragu, apakah buku ini bagus, karena pada bab-bab awal, aku merasa agak bosan, dengan cerita yang rasanya terlalu muluk-muluk, Jahanara memuja ibu dan ayahnya.
Tapi ternyata, itu hanya kesan pertama, karena ternyata memang cerita kehidupan di Benteng Merah luar biasa. Ada kisah penghianatan sang anak terhadap ayahnya. Juga kisah cinta terlarang, yang aduh, gak nyangka, sang ayah malah mendukung anaknya selingkuh?
Belum lagi adegan-adegan hukuman matinya, waduh, aku sampai merinding......
Duh, jadi pengen lihat Taj Mahal (ada yang mau sponsorin gak yah? hihihihi) --> penyakit abis baca buku juga, jadi pengen jalan-jalan ha ha ha ha.
0 comments:
Post a Comment