Monday, April 03, 2006

My Forbidden Face

Judul : My Forbidden Face
Penulis : Latifa (2002)
Penerbit : Fresh Books (2005)
Tebal : 246 halaman

Latifa masih berumur 16 tahun pada saat penguasa Taliban menguasai kota Kabul. Saat itu, tiba-tiba saja kehidupan Latifa yang tadinya begitu ceria dan penuh cita-cita, tercabik-cabik begitu saja.

Sebelum Taliban menguasai segala aspek kehidupan di Afganistan, keluarga Latifa termasuk keluarga yang cukup menikmati kebebasan dalam keseharian mereka. Kakak tertuanya yang sudah menikah tadinya bekerja sebagai jurnalis di salah satu harian di kota Kabul. Kakaknya yang lain lagi bekerja di Air Ariana, perusahaan penerbangan Afganistan, sebagai seorang pramugari, yang bebas bepergian keluar negeri dan berpakaian modis. Ibu mereka seorang dokter ahli ginekolog, sedangkan ayahnya mempunyai toko.

Hari-hari mereka yang diwarnai dengan musik, pesta, sastra, diskusi dengan teman, belajar untuk ujian jurnalistik, hobi mengumpulkan kartu pos, koleksi lukisan, semua itu tinggal kenangan. Tak ada lagi yang dapat dilakukan sejak Taliban mengeluarkan berbagai dekrit yang mencabut hak perempuan untuk eksis di dunia luar. Semua perempuan harus tinggal di rumah.

Ibu Latifa pun jatuh sakit akibat depresi karena tak dapat mengabdikan ilmunya menolong sesama wanita yang cukup menderita akibat tekanan kaum mullah Taliban. Berbagai hal disaksikan sendiri oleh Latifa, para wanita yang dikejar-kejar hanya karena memakai sepatu putih. Cita-cita Latifa untuk mengikuti ujian jurnalistik pun kandas, dan tanpa buku-buku untuk dibaca, musik untuk dinikmati, keadaan ini makin menekan kondisi mentalnya, hingga dia pun jatuh sakit yang cukup berat.

Latifa sendiri sebenarnya termasuk yang cukup beruntung, karena kondisi ekonomi mereka yang cukup lumayan, sehingga dia masih bisa tinggal di rumah, dan sembunyi-sembunyi menonton film india yang dibawa abangnya. Latifa pun mulai berpikir bagaimana supaya dia dapat membantu anak-anak di lingkungannya, dan bersama temannya dia membuka sekolah bawah tanah.

Buku ini sebenarnya sudah cukup lama nangkring di lemari buku ku, tadi malam, ntah angin apa yang bertiup ke kepala ku, kog tiba-tiba aku kepikiran untuk beresin lemari yang udah gak keruan bentuknya itu, hehehehe. Pas ngumpulin, huaaaa.... kaget... kaget... gile juga, ternyata ada kira-kira 35 buku yang belum selesai dibaca, maupun yang belum dibaca sama sekali. (huah, penuh dengan perasaan bersalah nih). Jadi waktu ngebongkar-bongkar itu, hehehe, ketemu deh buku ini.

Tadinya aku pikir, cuma buat pengantar tidur, eh, tak tahunya, jadi bergadang deh, habisnya kog jadi aku tercekam juga tuh bacanya. Waktu baca, aku merasa sesak dan terhimpit, seperti yang dirasa Latifa. Yang sedih itu, waktu mereka harus membuang anjing kesayangan mereka, Bingo (aduh, apalagi nama anjing nya sama lagi dengan nama anjingku, hiks.. hiks.. aku jadi mau nangis, kebayang kalo disuruh menyingkirkan Bingo.... hua... hua... bisa nangis 5 hari 5 malam tuh...).

Cuma saja, gak tahu yah, di bagian akhir rasanya buku ini gak pas banget, karena kayaknya terburu-buru kali yah? Bagian akhir hanya menceritakan sekilas peristiwa-peristiwa yang mengakhiri pendudukan Taliban, setelah pemboman gedung WTC tanggal 11 September 2001.

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP