Wednesday, June 22, 2005

Eoin Colfer

Aku baru mau baca Supernaturalist yang ditulis oleh Eoin Colfer.
Image hosted by Photobucket.com

Dalam minggu ini, aku sudah menyelesaikan buku kedua dan ketiga dari seri Artemis Fowl, The Arctic Incident (buku kedua) dan The Eternity Code (buku ketiga). Buku yang pertama, Artemis Fowl, dulu baca yang bahasa Indonesia, lalu karena kelamaan nunggu terbit edisi Indonesia nya, dan aku gak sabaran, jadi beli deh yang edisi Inggrisnya.
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

Selain seri Artemis Fowl, aku juga sudah baca T
he Wish List.

Image hosted by Photobucket.com
Kayaknya yang menjadi ciri tokoh ciptaan Eoin Colfer itu adalah para remaja dengan sisi gelap mereka. Seperti Artemis, seorang anak laki-laki yang berumur 12 tahun (di buku pertama) yang memiliki otak yang super-brilian, dan akhirnya mampu mengelabui kaum peri yang notabene memiliki teknologi dan kemampuan yang melebihi manusia (Mud Man dalam istilah mereka).Tapi dibalik kelicikannya, sebenarnya Artemis memiliki perasaan, terutama waktu dia berusaha keras untuk menyelamatkan ayahnya (buku kedua) dan bodyguardnya, Butler (buku ketiga). Jadi gak sabar untuk baca buku keempatnya.
Kalau di The Wish List, karakter utamanya, seorang anak perempuan, bernama Meg Finn yang secara tidak sengaja terbunuh dalam satu insiden perampokan yang dilakukannya bersama seorang berandal. Pada perjalanannya menuju neraka, ternyata Meg memiliki jumlah perbuatan baik dan jahat yang seimbang, sehingga dia harus kembali ke dunia untuk menyelesaikan tugasnya. Meg ternyata menjadi objek rebutan antara Beezelbub, asisten Lucifer si penjaga neraka, dengan St. Peter, penjaga gerbang Surga. Tapi memang ceritanya lucu sekali, dan seperti biasa, Eoin Colfer tetap memasukkan unsur teknologi ke dalam ceritanya, yang membuat cerita ini jadi makin lucu.

0 comments:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP