Jatuhnya Sang Imam

(Edisi Bahasa Inggris)
Judul Asli : Sukuth el Imam (Fiksi)
Pengarang : Nawal el Saadawi
Penterjemah : Ahmad Qomaruddin
Edisi Indonesia diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Terbitan pertama Mei 2003.
Buku ini bercerita tentang seorang perempuan yang lahir dari seorang wanita penghibur (WTS). Karena dilahirkan tanpa ayah, maka sang tokoh, yang diberi nama oleh penulis Bintullah (daughter of God), dinyatakan sebagai orang terkutuk oleh Sang Imam, yang notabene ternyata adalah ayah biologis Bintullah. Bintullah dibesarkan di rumah yatim piatu dan bertemu dengan anak-anak senasib yang dilahirkan tanpa ayah dan dicap sebagai pendosa. Bintullah pada akhirnya menemui ajalnya terbunuh oleh kaki tangan sang Imam, pada saat dia dibebaskan dari penjara. Ibunya dihukum rajam sampai mati karena menjadi pelacur, dan Bintullah pun dihukum karena terlahir sebagai anak haram.
Di sini, sang narator dalam tiap bab berganti-ganti, sehingga membutuhkan cukup konsentrasi untuk tetap dapat mengikuti dan mendalami masing-masing karakter dalam cerita ini. Yang menarik dari buku ini adalah pertanyaan tentang siapakah Tuhan yang diajukan oleh Bintullah.
Perjalanan hidup Bintullah juga cukup mengenaskan, bagaimana dia mengalami pahitnya kehidupan di rumah yatim piatu, kemudian saat dia mengikuti pendidikan keperawatan dan kehilangan teman terbaiknya dari rumah yatim dan pada akhirnya Bintullah dituduh melakukan hubungan terlarang (zinah) karena dekat dengan seorang pria yang sudah dianggapnya sebagai adik lelakinya, karena mereka dibesarkan bersama-sama di rumah yatim tersebut.
Disini, Nawal mempertanyakan, bagaimana dunia yang patriaki seringkali mempersalahkan perempuan untuk kesalahan yang bahkan tidak mereka lakukan, tentang kemunafikan seorang yang dijadikan panutan oleh masyarakat, dan bagaimana sebenarnya ketakutan Sang Imam akan kejatuhannya, yang pada akhirnya terjadi juga. Bagaimana orang-orang disekelilingnya membencinya sekaligus mencintainya.
Perjalanan hidup Bintullah juga cukup mengenaskan, bagaimana dia mengalami pahitnya kehidupan di rumah yatim piatu, kemudian saat dia mengikuti pendidikan keperawatan dan kehilangan teman terbaiknya dari rumah yatim dan pada akhirnya Bintullah dituduh melakukan hubungan terlarang (zinah) karena dekat dengan seorang pria yang sudah dianggapnya sebagai adik lelakinya, karena mereka dibesarkan bersama-sama di rumah yatim tersebut.
Disini, Nawal mempertanyakan, bagaimana dunia yang patriaki seringkali mempersalahkan perempuan untuk kesalahan yang bahkan tidak mereka lakukan, tentang kemunafikan seorang yang dijadikan panutan oleh masyarakat, dan bagaimana sebenarnya ketakutan Sang Imam akan kejatuhannya, yang pada akhirnya terjadi juga. Bagaimana orang-orang disekelilingnya membencinya sekaligus mencintainya.
0 comments:
Post a Comment